Mungkin benar Tuhan itu tiada.
Seraya manusia telah menenggelamkan diri pada akal masing-masing.
Atau mungkin Tuhan telah malu dan meninggalkan kita.
Seraya kita duduk bersimpuh dan menafsirkan semua terjadi tanpa sangkut paut dariNya.
Saat logika ini terhauskan akan keabadian dan ribuan nama sakral yang kini terdengar hanya sekadar dongeng belaka.
Saat nama Jibril diumbar dan diselewengkan oleh manusia yang diapit oleh tanduk-tanduk makhluk api.
Saat itu seakan kebenaran adalah hal skeptis dan berada pada zona abu-abu.
Mulai kita bertanya dan memperdebatkan tentang akar kebenaran yang nyata.
Ribuan, jutaan, atau bahkan milyaran argumentasi menjadi dogma dan memaksa kita bersikap netral di antara semuanya.
Tentang benar yang mudah disalahkan. tentang salah yang sulit untuk dikatakan menyimpang.
Antara agama dan Tuhan, mana yang terlebih dulu terlahir?
Tuhan yang melahirkan agama?
Atau agama yang membuat Tuhan?
Sebagian insan mencoba menganggap semua benar. Mencoba menganggap kitalah kebenaran itu. Kitalah yang menentukan kebenaran itu.
Lalu masih pentingkah Tuhan di mata kita?
Tuhan seakan teman khayalan manusia untuk mencari ketenangan dan untuk menetramkan diri.
Peperangan hati untuk menentukan satu fundamental untuk meyakini tentang pencipta ujung langit satu hingga kayangan, bagai perang memperebutkan konstatinopel dan negeri yerusalem.
Mulai kita menghunuskan pedang dan saling membunuh sikap humanisme dengan teologi masing-masing.
Tentang benar di mata Tuhan, dan benar di mata manusia.
Tentang sang pencipta dan yang dicipta.
Apakah keduanya sama?
Apakah kita yang membuat Tuhan?
Lalu apa yang membuat kita ada?
Mampukah setetes air di ujung jari mengimbangi 7 samudera yang terjaga biru sepanjang masa?
Mampukah satu asteroid mengimbangi jutaan tata surya yang bertebaran di antara lubang hitam dan ledakan para bintang?
Pantaskah kita berdalil untuk menyempurnakan dan membuktikan Tuhan itu ada?
Kita tak berbicara ilmu logika, tapi keyakinan serta iman yang selalu menggandrungi kita.
Yah, mungkin Tuhan telah mati.
Namun tidak di sini, tidak di hati, namun pada akal.

Tidak ada komentar
Posting Komentar
Nama :
Usia :
Pekerjaan :
Lokasi :
Komentar :