Kamis, 16 Oktober 2014

Aneh...

Aneh… Yah, itu kata awal yang kujumpai pada kelembutan awan. Ia yang menjaga bumi dari terik cahaya siang, terkadang ia pula yang me... thumbnail 1 summary
Aneh…
Yah, itu kata awal yang kujumpai pada kelembutan awan.
Ia yang menjaga bumi dari terik cahaya siang, terkadang ia pula yang menutupi keindahan bintang di kala malam kehadirannya. Ia juga yang terkadang dengan lembut mengantarkan tetesan air yang dirindukan oleh rerumputan.
Namun apakah ia tulus?
Entahlah...

Yang kutahu ia begitu bersahabat. Bumi pun menyambutnya dengan riang kehadirannya.
Memaksa kita berimajinasi berbaring di atasnya. Memanja dengan putih yang nampak suci, bagai anak yang bersandar pada ibunya yang telah lama tak ia jumpai.
Begitu dekat dan begitu jelas dari angkasa raya.

Dan pada masanya angin mengabarkan rahasia itu.
Di balik kelembutan yang terjalin, ia menyimpan mutiara-mutiara dari lautan lepas.
Hingga saat pepohonan dan ladang mengikis hatinya dengan kekhilafan, ia akan hempaskan semuanya dalam wujud halilintar dan badai, dengan ucapan murka, dan cacian dengki.
Menumbangkan pepohonan yang telah lama ia rawat, menakuti setiap mahkluk kerdil yang biasa menyanyikan kedatangannya, menenggelamkan apapun yang ia ingat, dan menghanyutkannya pada ngarai gelap yang tak ada lagi di sana cahaya yang bisa menerangi hatinya.

Matahari yang menyaksikannya mengabarkan pada bulan, dan bulan pun mengabarkannya pada bintang:
“Aku pun tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Begitu mudahkah suatu jalinan digadaikan dengan kepuasan arogan bangsa setan? Kukira dengan keanggunannya ia adalah benar sang putih?”
“Wahai bintang, bukankah hati laksana sebuah kertas. Bilamana lecak, sukar menjadikannya semula?”
“Alangkah bersyukurnya kita adalah ciptaan sang Maha Kuasa. Mungkinkah sebuah ciptaan Pemilik alam semesta begitu mudah rusak? Tak ada alasan kecuali kau sendiri yang mengada-ada. Apakah kau hendak menyalahkan Tuhan?”
“Jika begitu, apa gerangan yang menyebabkan awan murka kepada bumi?”
“Katakanlah sendiri pada dirimu. Apa kau menjadikan hati tempat menyimpan dendam dan kebencian semata? Atau kau cepat membuangnya dan menggantikannya dengan ucapan cinta dan kasih sayang yang menyejukanmu? Hakikatnya Tuhan hanya menciptakan terang dan tak menciptakan gelap. Gelap hanyalah saat keadaan tidak diselimuti sifat terang. Begitu pun dengan cinta dan dengki.”
“Aku pernah mendengar mahkluk bernama manusia. Persis seperti yang kau ucapkan. Alangkah naasnya sifat mereka. Mereka begitu sulit untuk menyayangi, tapi begitu mudah dalam membenci. Saat mereka telah dirangkul oleh sayap-sayap kebencian, mereka akan mudah membunuh dan menebarkan keburukan-keburukan yang sebelumnya bisa mereka jaga dengan baik. Layaknya awan yang begitu lepas menghancurkan bumi, seakan bumi adalah musuh masa lalunya. Padahal sedetik yang lalu mereka masih mengasihi.”
“Kabarkanlah jika kau menghampiri bumi kembali, Wahai bumi, kami sampaikan rasa belasungkawa sedalam-dalamnya atas perlakuan saudaramu. Jangan pula kau tergoda oleh dendam dan benci. Sesungguhnya ia murka karena kekhilafanmu. Dan jika nanti ia sadar, ia akan pula mengatakan kekhilafan perbuatannya atas apa yang ia perbuat terhadapmu. Itulah saatnya kau melenyapkan benci dan marah dengan sentuhan memaafkan.”
“Bagaimana dengan pesan untuk sang awan?”

“Katakanlah padanya, untuk bercermin pada perbuatan dan menjadikannya pelajaran. Jika kau hendak membenci sesuatu. Bencilah kepada rasa benci itu sendiri.”

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Nama :
Usia :
Pekerjaan :
Lokasi :
Komentar :