Yah, itu kata awal yang
kujumpai pada kelembutan awan.
Ia yang menjaga bumi
dari terik cahaya siang, terkadang ia pula yang menutupi keindahan bintang di
kala malam kehadirannya. Ia juga yang terkadang dengan lembut mengantarkan
tetesan air yang dirindukan oleh rerumputan.
Namun apakah ia tulus?
Entahlah...
Yang kutahu ia begitu
bersahabat. Bumi pun menyambutnya dengan riang kehadirannya.
Memaksa kita
berimajinasi berbaring di atasnya. Memanja dengan putih yang nampak suci, bagai
anak yang bersandar pada ibunya yang telah lama tak ia jumpai.
Begitu dekat dan begitu
jelas dari angkasa raya.
Dan pada masanya angin
mengabarkan rahasia itu.
Di balik kelembutan yang
terjalin, ia menyimpan mutiara-mutiara dari lautan lepas.
Hingga saat pepohonan
dan ladang mengikis hatinya dengan kekhilafan, ia akan hempaskan semuanya dalam
wujud halilintar dan badai, dengan ucapan murka, dan cacian dengki.
Menumbangkan pepohonan
yang telah lama ia rawat, menakuti setiap mahkluk kerdil yang biasa menyanyikan
kedatangannya, menenggelamkan apapun yang ia ingat, dan menghanyutkannya pada
ngarai gelap yang tak ada lagi di sana cahaya yang bisa menerangi hatinya.
Matahari yang
menyaksikannya mengabarkan pada bulan, dan bulan pun mengabarkannya pada
bintang:
“Aku pun tak mengerti apa
yang sebenarnya terjadi. Begitu mudahkah suatu jalinan digadaikan dengan
kepuasan arogan bangsa setan? Kukira dengan keanggunannya ia adalah benar sang
putih?”
“Wahai bintang, bukankah
hati laksana sebuah kertas. Bilamana lecak, sukar menjadikannya semula?”
“Alangkah bersyukurnya
kita adalah ciptaan sang Maha Kuasa. Mungkinkah sebuah ciptaan Pemilik alam
semesta begitu mudah rusak? Tak ada alasan kecuali kau sendiri yang
mengada-ada. Apakah kau hendak menyalahkan Tuhan?”
“Jika begitu, apa
gerangan yang menyebabkan awan murka kepada bumi?”
“Katakanlah sendiri pada
dirimu. Apa kau menjadikan hati tempat menyimpan dendam dan kebencian semata?
Atau kau cepat membuangnya dan menggantikannya dengan ucapan cinta dan kasih
sayang yang menyejukanmu? Hakikatnya Tuhan hanya menciptakan terang dan tak
menciptakan gelap. Gelap hanyalah saat keadaan tidak diselimuti sifat terang.
Begitu pun dengan cinta dan dengki.”
“Aku pernah mendengar
mahkluk bernama manusia. Persis seperti yang kau ucapkan. Alangkah naasnya
sifat mereka. Mereka begitu sulit untuk menyayangi, tapi begitu mudah dalam
membenci. Saat mereka telah dirangkul oleh sayap-sayap kebencian, mereka akan
mudah membunuh dan menebarkan keburukan-keburukan yang sebelumnya bisa mereka
jaga dengan baik. Layaknya awan yang begitu lepas menghancurkan bumi, seakan
bumi adalah musuh masa lalunya. Padahal sedetik yang lalu mereka masih
mengasihi.”
“Kabarkanlah jika kau
menghampiri bumi kembali, Wahai bumi, kami sampaikan rasa belasungkawa sedalam-dalamnya
atas perlakuan saudaramu. Jangan pula kau tergoda oleh dendam dan benci.
Sesungguhnya ia murka karena kekhilafanmu. Dan jika nanti ia sadar, ia akan
pula mengatakan kekhilafan perbuatannya atas apa yang ia perbuat terhadapmu.
Itulah saatnya kau melenyapkan benci dan marah dengan sentuhan memaafkan.”
“Bagaimana dengan pesan
untuk sang awan?”
“Katakanlah padanya,
untuk bercermin pada perbuatan dan menjadikannya pelajaran. Jika kau hendak
membenci sesuatu. Bencilah kepada rasa benci itu sendiri.”

Tidak ada komentar
Posting Komentar
Nama :
Usia :
Pekerjaan :
Lokasi :
Komentar :