Kamis, 23 Oktober 2014

Jiwa Pemuda Tua

Aku selalu bertanya; apa makna kita berada di sini? Jiwa kita bahkan sudah ciut oleh ketakutan Kita sudah tunduk dan terangkul ol... thumbnail 1 summary
Aku selalu bertanya; apa makna kita berada di sini?
Jiwa kita bahkan sudah ciut oleh ketakutan
Kita sudah tunduk dan terangkul oleh sifat individual dan saling menindas
Mereka yang menindas dan sedang asik menikmati dosa-dosanya
Aku dan kalian yang mendiamkan semuanya
Tak jarang pula dari kita malah mengikutinya
Lalu masih pentingkah jiwa kita?

Masih pentingkah kita berada pada masa ini?
Mengapa Tuhan tak langsung menciptakan kita pada usia tua saja?
Atau yang terparah, kenapa kita dihidupkan?
Aku sering takut memikirkan ini; ada pula yang berbisik ini tanggung jawab

Aku terkadang pula kecewa melihat mereka yang dulunya muda dan menjadi panutanku, kini tak lagi memegang Idealismenya
Mereka juga menjadi contoh yang buruk untuk ditiru
Mereka yang hanya bisa berdongeng tentang masa mudanya
Berdongeng? Sesuatu yang hanya fiktif

Aku coba menarik kesimpulan
Apa Idealisme itu hanya fase yang wajib dan hanya dimiliki oleh pemuda?
Setelah tak muda, kembalilah ia lepas semuanya?
Lalu siapa yang akan membenarkan tradisi yang salah ini?
Membenarkan budaya carut-marut ulah tangan busuk tak bertanggung jawab

Siklusnya sangat jelas terbaca
Awalnya mereka menuntut dengan idealismenya; mereka melepas idealismenya karena alasan zaman dan keadaan; mereka mengikuti arus orang tua yang salah; menjadi orang tua yang dahulu mereka kritik

Aku juga terkadang bimbang
Apakah yang sekarang aku perjuangkan adalah kesia-siaan?
Toh, mereka sekarang tak lagi seperti ceritanya dulu
Kata yang paling pantas dalam kondisi seperti ini mungkin munafik
Atau mereka amnesia?

Sering juga aku muak melihat para sarjana-sarjana dan calon-calonnya yang tidak mencerminkan sisi cendekiawannya
Tidak pada akademika, tapi pada moral dan etika
Entah siapa yang salah
Pendidik, atau yang dididik

Sumpah! aku semakin panik saat masa mudaku tak lama lagi
Aku tak ingin seperti mereka

Beruntunglah mereka yang mati muda
Beruntunglah mereka yang tak pernah dilahirkan

Aku tak mau jadi orang tua yang mengacau
Orang tua yang egois
Orang tua yang serakah
Bahkan orang tua yang kafir

Sekarang aku dan kawan-kawan mahasiswa tiap harinya berdiskusi
Tak lain adalah membicarakan persoalan bangsa
Aku hanya berdo’a; agar generasiku dan adik-adikku kelak tak seperti pendahuluku

aamiin

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Nama :
Usia :
Pekerjaan :
Lokasi :
Komentar :