Kamis, 16 Oktober 2014

Mengapa Membela dan Menolong Palestina?

 “Siapa saja yang bangun di pagi hari, sementara perhatiannya lebih banyak tertuju pada kepentingan dunia, maka ia tidak berurusan den... thumbnail 1 summary
 “Siapa saja yang bangun di pagi hari, sementara perhatiannya lebih banyak tertuju pada kepentingan dunia, maka ia tidak berurusan dengan Allah. Siapa saja yang memperhatikan urusan kaum Muslim maka ia termasuk golongan mereka (kaum Muslim).”
(HR. al-Hakim dan al-Khatib dari Hudzaifah ra.).
Pada keadaannya sekarang,  kaum Muslim di seluruh dunia telah terpisah-pisah dan terkotak-kotak pada bagian teritorialnya masing-masing. Bangsa Arab menyatukan dirinya dalam kerajaan-kerajaan kecil seperti Saudi Arabia. Bangsa Mesir menyatukan dirinya dalam Republik Mesir. Bangsa Indonesia menyatukan dirinya pada Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Kita disatukan oleh penderitaan dan cita-cita”, slogan tersebutlah yang mencerminkan konsensus suatu bangsa untuk menyatukan dirinya dalam suatu wadah kenegaraan meskipun di dalamnya memiliki berbagai keanekaragaman dalam segi ras, budaya, ataupun agama. Dalam hal ini, ikatan emosional untuk mencintai Negeri (Nasionalisme) dan mempertahankan tanah air (Patriotisme) pun lahir dalam suatu bangsa yang telah merdeka. Secara bersama dan bergotong-royong rakyat pun bersama-sama memajukan dan mengharumkan nama bangsa. Begitu pun yang terjadi di Indonesia kala ini.
Tidak ada yang salah mengenai Nasionalime dan Patriotime. Namun kondisi kekinian yang terjadi, setiap kaum Muslim di setiap Negara selalu bertindak dan berbuat semata atas kepentingan Negaranya saja, tanpa pernah mementingkan saudara-saudara se-iman-nya—yang sedang memerlukan bantuan—yang berada pada Negara-Negara lainnya. Semata kita seakan adalah agama yang menjadi apatis kepada sesama penganut karena telah terkotak-kotak pada garis teritorial masing-masing. Alasan yang biasa tercetus untuk tidak membela mereka (kaum Muslim di Negeri lain) adalah ‘kepentingan masing-masing Negara’. Saat terjadi pembantaian kaum Muslim di Thailand contohnya, pemerintah kita berkata, “Itu kepentingan masing-masing Negara.”
Padahal pada Hadist di atas menegaskan, kita sebagai Muslim diharuskan untuk saling memperhatikan urusan sesama. Dapat diartikan pula harus hidup dalam keadaan harmonis, gotong-royong dan saling tolong menolong bagi sesama Muslim. Mudah bagi kita terbangun di pagi hari dan menjalankan aktifitas dengan normal dan ‘aman’. Namun bagaimana halnya dengan saudara-saudara kita yang berada pada kezaliman dan kebrutalan yang sedang terjadi di Negara lain?
Sering pula terdengar di telinga kita berita mengenai pembatasan hak dan pembantaian kaum Muslim—baik berupa penindasan, diskriminasi ataupun penjajahan—yang terjadi di Negara-Negara lain, terutama yang sekarang sedang panas terjadi di dunia ialah penajajahan Israel atas Palestina. Tidak hanya berupa urusan agama semata, Israel juga menindas Palestina atas dasar perebutan batas wilayah—yang sebelumnya telah disepakati untuk berdamai oleh kedua kubu (Kesepakatan Damai Oslo pada tahun 1993).
Salah satu tempat Suci dan bersejarah kaum Muslim—Masjidil Aqsa’ (Masjid dimana Nabi melakukan Miraj)—kini berada pada ambang keruntuhannya. Hal ini dikarenakan Israel terus mengeruk tanah pondasi Masjidil Aqsa’ yang mengakibatkan ketidaksetabilan tanah dan runtuhnya bangunan demi bangunan Masjid. Israel melakukan hal tersebut dengan beralasan pencarian harta karun Nabi Sulaiman AS. atau mereka biasa menyebutnya Salomo. Lebih dari hal itu, mereka sebenarnya memiliki Visi untuk memiliki Yerusalem secara sepihak. Entah apa yang menyebabkan PBB tidak mengambil tindakan akan hal ini.
Jika kita tidak bisa membelanya atas nama agama, cobalah berfikir mengenai rasa kemanusiaan. Lebih dari 64 tahun Israel menyerang Paletina; baik siang hari atau pun ketika mereka tidur. Tidak hanya pejuang Hamas—yang mereka (Israel) anggap teroris—yang mereka bantai; anak-anak, wanita serta warga sipil pun turut ‘ambil bagian’ dalam kebengisan mereka.
Hak mereka untuk beribadah dibatasi—hanya 45 menit/hari (sekitar 3 detik/rokaat). Perempuan-perempuan mereka diperkosa dimana-mana. Bantuan makanan hanya boleh dikirim 3 kali dalam sebulan. Rumah sakit, sekolah dan tempat ibadah mereka dihancurkan.


Tidakkah kita memiliki rasa keperimanusiaan melihat potret-potret penderitaan Palestina yang marak tersebar di Internet? Setidaknya jadilah bangsa yang berbalas budi. 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya secara de facto. Namun untuk berdiri (de jure) sebagai Negara yang berdaulat, Indonesia membutuhkan pengakuan dari bangsa-bangsa lain. Para bangsa dari timur tengahlah—dimulai dari Mesir dan Palestina—yang pertama kali memberi pengakuan kemerdekaan Indonesia sehingga bisa menjadi Negara yang berdaulat sampai saat ini.
Bukan atas dasar agama semata kita membela dan wajib menolong Palestina, melainkan rasa keadilan, kedamaian dan kesejahteraan atas nama sesama manusia.
“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan prikeadilan.”

Semoga kita masih tergolong manusia yang masih memiliki rasa cinta, rasa mengasihi dan melindungi. Dan semoga kita bukanlah tergolong orang-orang yang berdosa. Aamiin.


Tidak ada komentar

Posting Komentar

Nama :
Usia :
Pekerjaan :
Lokasi :
Komentar :