Apakah Enstein
berjasa karena temuan Atom-nya?
Atom bisa
dijadikan energi pembangkit listrik bagi masyarakat
Tapi atom juga
bisa dijadikan bom yang meratakan Hiroshima dan Nagasaki dengan sesaat.
Pada akhir abad ke-20, perspektif manusia dalam
memandang berbagai fenomena telah mengalami interpretasi skeptis secara
memuncak. Pandangan ini disebut dengan Post-modernisme (post-mo) yang dimana
manusia meyakini jika segala sesuatu tidak bisa ditafsirkan dengan penilaian
baik-buruk, benar-salah, atau indah-jelek begitu saja. Dalam hal yang lebih
rumit, manusia mulai mendalami penalaahan kritis yang kemudian menjadi acuan
dalam penolakan generalasi yang
diberikan oleh sebuah teori. Sebagai contoh: ketika para pakar politik Amerika
Serikat mengatakan jika demokrasi adalah sistem yang paling pas untuk
diterapkan oleh suatu negara, hal ini tidak kemudian menyatakan jika sistem
feodal yang diterapkan Inggris adalah salah. Pasalnya, memang demokrasi adalah
sistem yang paling sesuai di Amerika, namun belum tentu sesuai bagi Inggris.
Begitu juga sebaliknya, sistem feodal yang baik menurut Inggris belum tentu
baik bagi Amerika. Hal ini karena dalam sudut pandang Post-mo, kebenaran selalu
dikerucutkan sesuai dengan kondisi, alasan, dan kebutuhan yang ada pada suatu
fenomena yang hendak dinilai. Dalam artian sederhana, post-mo berkesimpulan
jika kebenaran selalu bersifat relatif.
Awal kemunculan post-mo diwarnai dengan radikalisasi
terhadap modernisme yang mematikan dirinya sendirinya. Jika dikatakan post-mo
hanya mempersulit manusia dalam menilai segala fenomena atau peristiwa saja, justru
kenyatannya post-mo lahir karena kondisi dimana manusia sudah sangat kesulitan
dalam menyeragamkan pelbagai teori. Jadi, post-mo tidak bisa dikatakan sebagai
penyebab kegagalan bagi paham sebelumnya (red: modernisme), melainkan adalah
bentuk intepretasi manusia yang meyakini bahwa tidak ada kebenaran dalam
pengertian objektif karena kebenaran bukanlah sesuatu yang ditemukan, tapi diciptakan.
Berpikir Post-Mo
Jika mengkaji post-mo, penulis selalu teringat dengan
novel Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh karya Dee yang dengan sengaja mengajak
kita untuk lebih menyelami lautan post-mo dengan sangat dalam. Salah satunya,
dalam novel tersebut Dee mencoba mengajak kita menakar profesi seorang pelacur
dengan seseorang pejabat dan tokoh pendidik yang dimana—jika kita bisa berpikir
adil—sama-sama menjual kehormatannya. Banyak pejabat yang ‘menjual’
idealismenya hanya untuk mempertahankan kariernya, begitu juga dengan banyaknya
tenaga pendidik yang menjual integritasnya dengan melakukan praktek ‘transaksi
nilai’ kepada peserta didiknya. Penulis berasumsi, Dee mengingatkan kita jika
sebenarnya banyak praktek jahat di sekitar kita yang rela menjual apapun demi
mendapat uang, namun dalam pandangan kultural masyarakat kenapa hanya pelacur
saja yang terkesan hina?
Cara berpandangan di atas merupakan satu contoh dari
paham post-mo yang memiliki ciri berpikir bebas dengan mengkaji suatu hal dari
berbagai sudut perspektif berbeda-beda, yang tak jarangnya menolak tunduk pada
satu aturan dogma saja. Cara pandang tersebut memiliki kesamaan dengan karakter
Milenials yang juga selalu ingin merdeka
dan kritis dalam memandang suatu perkara. Tak jarang juga, Milenials selalu berpikir dan bertindak ‘melawan’ tradisi yang
sudah turun temurun diterapkan di lingkungannya. Jika dikaji dari sudut pandang
post-mo, hal ini karena kesadaran akan anggapan jika kebenaran selalu berpusat
pada kondisi yang ada, hingga akhirnya sesuatu yang dimaknai tabu bisa dengan
sangat mudahnya dipatahkan dengan argumentasi yang kritis.
Pada tahap berikutnya, ketika cara berpikir post-mo
mulai mendekontruksi segala dogma kebenaran yang bersifat universal (totalism) menjadi kebenaran yang lebih
parsial, Milenials perlu berhati-hati
dalam membenarkan sesuatu hal. Mengingat dalam pandangan post-mo jika kebenaran
adalah relatif, Milenials bisa dengan
mudahnya terjebak pada sesat berpikir. Maka itu, Milenials dalam hal ini perlu lebih cerdas dalam memilah berbagai
ide-ide yang ada dengan berbagai nilai dan kepentingan manusia. Jangan sampai
hanya karena alasan perkembangan zaman menjadi alasan untuk mendekonstruksi
nilai-nilai pada agama atau ideologi bangsa.
Efek Post-mo
Dari pembahasan di
atas, efek positif post-mo dapat diketahui adalah untuk mencegah kita
terperangkap pada teori, aturan, atau dogma yang terkadang dipergunakan untuk
menindas manusia. Selain itu, post-mo juga memiliki manfaat untuk keterbukaan menciptakan
masyarakat yang plural dan toleran, perlawanan
terhadap monopoli yang pastinya menguntungkan demokrasi. Sedangkan efek negatif
dari post-mo adalah sangat menjebak manusia bersikap reaktif terlalu dini dalam
menolak suatu ‘kebenaran’ yang dianggapnya skepstis. Selain itu, post-mo juga
memiliki kelemahan yang dimana memberi peluang manusia untuk mencampur-adukan
suatu kebenaran yang seharusnya bisa terjaga murni (red: seperti agama atau
ideologi) karena jika hal tersebut dicampurkan justru hanya akan menciptakan
kekacauan yang makin lebih.
Namun, antara efek positif atau negatif di atas, semua
kembali lagi kepada pembaca untuk menyikapinya. Mengingat kita sedang membahas
post-mo yang selalu mengajarkan relatif
dan skeptis, berbagai efek yang penulis sajikan di atas tergantung kondisi dan
situasi pembaca dalam menakar positif-negatifnya.

Tidak ada komentar
Posting Komentar
Nama :
Usia :
Pekerjaan :
Lokasi :
Komentar :