Jumat, 06 April 2018

Jebakan Post-Modernisme

Apakah Enstein berjasa karena temuan Atom-nya? Atom bisa dijadikan energi pembangkit listrik bagi masyarakat Tapi atom juga... thumbnail 1 summary





Apakah Enstein berjasa karena temuan Atom-nya?
Atom bisa dijadikan energi pembangkit listrik bagi masyarakat
Tapi atom juga bisa dijadikan bom yang meratakan Hiroshima dan Nagasaki dengan sesaat.

Pada akhir abad ke-20, perspektif manusia dalam memandang berbagai fenomena telah mengalami interpretasi skeptis secara memuncak. Pandangan ini disebut dengan Post-modernisme (post-mo) yang dimana manusia meyakini jika segala sesuatu tidak bisa ditafsirkan dengan penilaian baik-buruk, benar-salah, atau indah-jelek begitu saja. Dalam hal yang lebih rumit, manusia mulai mendalami penalaahan kritis yang kemudian menjadi acuan dalam penolakan generalasi yang diberikan oleh sebuah teori. Sebagai contoh: ketika para pakar politik Amerika Serikat mengatakan jika demokrasi adalah sistem yang paling pas untuk diterapkan oleh suatu negara, hal ini tidak kemudian menyatakan jika sistem feodal yang diterapkan Inggris adalah salah. Pasalnya, memang demokrasi adalah sistem yang paling sesuai di Amerika, namun belum tentu sesuai bagi Inggris. Begitu juga sebaliknya, sistem feodal yang baik menurut Inggris belum tentu baik bagi Amerika. Hal ini karena dalam sudut pandang Post-mo, kebenaran selalu dikerucutkan sesuai dengan kondisi, alasan, dan kebutuhan yang ada pada suatu fenomena yang hendak dinilai. Dalam artian sederhana, post-mo berkesimpulan jika kebenaran selalu bersifat relatif.
Awal kemunculan post-mo diwarnai dengan radikalisasi terhadap modernisme yang mematikan dirinya sendirinya. Jika dikatakan post-mo hanya mempersulit manusia dalam menilai segala fenomena atau peristiwa saja, justru kenyatannya post-mo lahir karena kondisi dimana manusia sudah sangat kesulitan dalam menyeragamkan pelbagai teori. Jadi, post-mo tidak bisa dikatakan sebagai penyebab kegagalan bagi paham sebelumnya (red: modernisme), melainkan adalah bentuk intepretasi manusia yang meyakini bahwa tidak ada kebenaran dalam pengertian objektif karena kebenaran bukanlah sesuatu yang ditemukan, tapi diciptakan.

Berpikir Post-Mo
Jika mengkaji post-mo, penulis selalu teringat dengan novel Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh karya Dee yang dengan sengaja mengajak kita untuk lebih menyelami lautan post-mo dengan sangat dalam. Salah satunya, dalam novel tersebut Dee mencoba mengajak kita menakar profesi seorang pelacur dengan seseorang pejabat dan tokoh pendidik yang dimana—jika kita bisa berpikir adil—sama-sama menjual kehormatannya. Banyak pejabat yang ‘menjual’ idealismenya hanya untuk mempertahankan kariernya, begitu juga dengan banyaknya tenaga pendidik yang menjual integritasnya dengan melakukan praktek ‘transaksi nilai’ kepada peserta didiknya. Penulis berasumsi, Dee mengingatkan kita jika sebenarnya banyak praktek jahat di sekitar kita yang rela menjual apapun demi mendapat uang, namun dalam pandangan kultural masyarakat kenapa hanya pelacur saja yang terkesan hina?
Cara berpandangan di atas merupakan satu contoh dari paham post-mo yang memiliki ciri berpikir bebas dengan mengkaji suatu hal dari berbagai sudut perspektif berbeda-beda, yang tak jarangnya menolak tunduk pada satu aturan dogma saja. Cara pandang tersebut memiliki kesamaan dengan karakter Milenials yang juga selalu ingin merdeka dan kritis dalam memandang suatu perkara. Tak jarang juga, Milenials selalu berpikir dan bertindak ‘melawan’ tradisi yang sudah turun temurun diterapkan di lingkungannya. Jika dikaji dari sudut pandang post-mo, hal ini karena kesadaran akan anggapan jika kebenaran selalu berpusat pada kondisi yang ada, hingga akhirnya sesuatu yang dimaknai tabu bisa dengan sangat mudahnya dipatahkan dengan argumentasi yang kritis.
Pada tahap berikutnya, ketika cara berpikir post-mo mulai mendekontruksi segala dogma kebenaran yang bersifat universal (totalism) menjadi kebenaran yang lebih parsial, Milenials perlu berhati-hati dalam membenarkan sesuatu hal. Mengingat dalam pandangan post-mo jika kebenaran adalah relatif, Milenials bisa dengan mudahnya terjebak pada sesat berpikir. Maka itu, Milenials dalam hal ini perlu lebih cerdas dalam memilah berbagai ide-ide yang ada dengan berbagai nilai dan kepentingan manusia. Jangan sampai hanya karena alasan perkembangan zaman menjadi alasan untuk mendekonstruksi nilai-nilai pada agama atau ideologi bangsa.

Efek Post-mo
Dari pembahasan di  atas, efek positif post-mo dapat diketahui adalah untuk mencegah kita terperangkap pada teori, aturan, atau dogma yang terkadang dipergunakan untuk menindas manusia. Selain itu, post-mo juga memiliki manfaat untuk keterbukaan menciptakan masyarakat yang plural dan toleran, perlawanan terhadap monopoli yang pastinya menguntungkan demokrasi. Sedangkan efek negatif dari post-mo adalah sangat menjebak manusia bersikap reaktif terlalu dini dalam menolak suatu ‘kebenaran’ yang dianggapnya skepstis. Selain itu, post-mo juga memiliki kelemahan yang dimana memberi peluang manusia untuk mencampur-adukan suatu kebenaran yang seharusnya bisa terjaga murni (red: seperti agama atau ideologi) karena jika hal tersebut dicampurkan justru hanya akan menciptakan kekacauan yang makin lebih.

Namun, antara efek positif atau negatif di atas, semua kembali lagi kepada pembaca untuk menyikapinya. Mengingat kita sedang membahas post-mo yang  selalu mengajarkan relatif dan skeptis, berbagai efek yang penulis sajikan di atas tergantung kondisi dan situasi pembaca dalam menakar positif-negatifnya.

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Nama :
Usia :
Pekerjaan :
Lokasi :
Komentar :