Generasi milenial
merupakan generasi yang selalu dielu-elukan sebagai generasi yang cerdas sejak
usianya yang masih terhitung belia. Di balik fakta jika mereka adalah aktor
utama dari peristiwa bonus demografi di Indonesia, generasi ini adalah generasi
yang terbilang sangat tidak pandai dalam mengelola keuangan, apalagi soal menabung.
Hal ini karena gerenasi milenial adalah generasi yang sangat mementingkan
eksistensi, dan untuk memenuhi hal tersebut
biaya yang dibutuhkan tidaklah sedikit.
Mereka sangat tertarik dalam mencoba hal-hal
baru, baik itu menjajal makanan atau mengunjungi tempat wisata. Belum lagi
dengan gaya hidup mereka yang lebih suka makan di luar daripada makan di rumah
yang mengakibatkan uang mereka habis tak tersisa tanpa ada yang bisa ditabung.
Hal ini sebagaimana survei yang dipaparkan Bankrate.com jika generasi milenial
menghabiskan uang makan lebih banyak di luar rumah. Survei tersebut juga
menyebutkan jika 29 persen generasi milenial membeli kopi setidaknya tiga kali dalam
minggu. Sisanya, 51 persen pergi ke bar seminggu sekali, dan 54 persen makan di
luar setidaknya tiga kali seminggu dan lebih.
Hal ini merupakan
sesuatu yang lumrah karena mereka hidup di tengah-tengah zaman yang dimana
informasi sangat cepat untuk terdistribusi, sehingga sesuatu hal baru atau trend baru dapat pula dengan cepat menggiring
mereka. Ditambah lagi dengan fakta yang menyatakan jika milenial adalah
generasi yang sangat tidak ingin dibilang ketinggalan zaman, yang semakin
memperkuat simpulan jika generasi milenial adalah generasi yang boros soal
pengeluaran dalam hal gaya hidup. Namun faktanya, kondisi seperti ini jika
terus-terusan dibiarkan akan menyebabkan milenial terancam tidak bisa membeli rumah di kota-kota besar seperti Jakarta. Karena, dengan penghasilan mereka
yang sekisar Rp 4-7 juta/bulan, mereka akan kesulitan untuk membeli rumah di Jakarta
yang pasalnya didominasi dengan harga sekitar Rp 480 juta ke atas.
Belum lagi jika
menelisik hasil riset yang dilakukan Rumah123.com bekerjasama dengan Karir.com pada
tahun 2016 yang menyimpulkan jika generasi milenial pada tahun 2021 dikhawatirkan
tidak dapat membeli rumah. Hal ini dapat diketahui dengan melihat harga rumah
termurah di Jakarta dengan harga Rp 300 juta memiliki cicilan per bulannya
sebesar Rp. 2.500.000. Cicilan tersebut dapat terpenuhi jika pendapatan minimal
Rp 7,5 juta per bulan. Padahal, gaji generasi milenial yang diketahui pada
tahun 2016 adalah Rp. 6.072.111 per bulan dengan kenaikan gaji normal—di luar
promosi—rata-rata sebesar 10 persen, sedangkan lonjakan harga rumah minimal 20
persen. Hal ini belum ditambah dengan peningkatan harga rumah dalam lima tahun
mendatang sekitar 150 persen, sementara kenaikan pendapatan hanya 60 persen
dalam periode yang sama. Dengan estimasi kenaikan minimal 20 persen per tahun,
harga rumah yang saat ini dipatok Rp 300 juta akan menjadi Rp 750 juta,
sedangkan penghasilan generasi milenial saat tahun 2021 nanti hanya sekisar Rp
12 juta. Dengan penghasilan tersebut, generasi milenial diprediksikan tidak
lagi akan mampu membeli rumah.
Maka dari itu, para milenials jangan melulu mengikuti keinginan
kesenangan semata, tapi juga mulai cerdik menelisik masa depan. Mulai konsisten
setiap tahunnya menyisihkan uang untuk ditabungkan dan mengubah gaya hidup hemat
dengan konsisten. Selain itu, mulailah mencari penghasilan sampingan dan
investasikan uang—seperti berupa emas, bisnis, atau lain sebagainya—agar hal
tersebut dapat mempercepat akselerasi kesanggupan membeli rumah yang diidamkan.

Tidak ada komentar
Posting Komentar
Nama :
Usia :
Pekerjaan :
Lokasi :
Komentar :