Jumat, 06 April 2018

Gaya Hedonis VS Gaya Investasi Generasi Milenial

Generasi milenial merupakan generasi yang selalu dielu-elukan sebagai generasi yang cerdas sejak usianya yang masih terhitung b... thumbnail 1 summary





Generasi milenial merupakan generasi yang selalu dielu-elukan sebagai generasi yang cerdas sejak usianya yang masih terhitung belia. Di balik fakta jika mereka adalah aktor utama dari peristiwa bonus demografi di Indonesia, generasi ini adalah generasi yang terbilang sangat tidak pandai dalam mengelola keuangan, apalagi soal menabung. Hal ini karena gerenasi milenial adalah generasi yang sangat mementingkan eksistensi, dan untuk memenuhi hal tersebut biaya yang dibutuhkan tidaklah sedikit.
Mereka sangat tertarik dalam mencoba hal-hal baru, baik itu menjajal makanan atau mengunjungi tempat wisata. Belum lagi dengan gaya hidup mereka yang lebih suka makan di luar daripada makan di rumah yang mengakibatkan uang mereka habis tak tersisa tanpa ada yang bisa ditabung. Hal ini sebagaimana survei yang dipaparkan Bankrate.com jika generasi milenial menghabiskan uang makan lebih banyak di luar rumah. Survei tersebut juga menyebutkan jika 29 persen generasi milenial membeli kopi setidaknya tiga kali dalam minggu. Sisanya, 51 persen pergi ke bar seminggu sekali, dan 54 persen makan di luar setidaknya tiga kali seminggu dan lebih.


Hal ini merupakan sesuatu yang lumrah karena mereka hidup di tengah-tengah zaman yang dimana informasi sangat cepat untuk terdistribusi, sehingga sesuatu hal baru atau trend baru dapat pula dengan cepat menggiring mereka. Ditambah lagi dengan fakta yang menyatakan jika milenial adalah generasi yang sangat tidak ingin dibilang ketinggalan zaman, yang semakin memperkuat simpulan jika generasi milenial adalah generasi yang boros soal pengeluaran dalam hal gaya hidup. Namun faktanya, kondisi seperti ini jika terus-terusan dibiarkan akan menyebabkan milenial terancam tidak bisa membeli rumah di kota-kota besar seperti Jakarta. Karena, dengan penghasilan mereka yang sekisar Rp 4-7 juta/bulan, mereka akan kesulitan untuk membeli rumah di Jakarta yang pasalnya didominasi dengan harga sekitar Rp 480 juta ke atas.


Belum lagi jika menelisik hasil riset yang dilakukan Rumah123.com bekerjasama dengan Karir.com pada tahun 2016 yang menyimpulkan jika generasi milenial pada tahun 2021 dikhawatirkan tidak dapat membeli rumah. Hal ini dapat diketahui dengan melihat harga rumah termurah di Jakarta dengan harga Rp 300 juta memiliki cicilan per bulannya sebesar Rp. 2.500.000. Cicilan tersebut dapat terpenuhi jika pendapatan minimal Rp 7,5 juta per bulan. Padahal, gaji generasi milenial yang diketahui pada tahun 2016 adalah Rp. 6.072.111 per bulan dengan kenaikan gaji normal—di luar promosi—rata-rata sebesar 10 persen, sedangkan lonjakan harga rumah minimal 20 persen. Hal ini belum ditambah dengan peningkatan harga rumah dalam lima tahun mendatang sekitar 150 persen, sementara kenaikan pendapatan hanya 60 persen dalam periode yang sama. Dengan estimasi kenaikan minimal 20 persen per tahun, harga rumah yang saat ini dipatok Rp 300 juta akan menjadi Rp 750 juta, sedangkan penghasilan generasi milenial saat tahun 2021 nanti hanya sekisar Rp 12 juta. Dengan penghasilan tersebut, generasi milenial diprediksikan tidak lagi akan mampu membeli rumah.



Maka dari itu, para milenials jangan melulu mengikuti keinginan kesenangan semata, tapi juga mulai cerdik menelisik masa depan. Mulai konsisten setiap tahunnya menyisihkan uang untuk ditabungkan dan mengubah gaya hidup hemat dengan konsisten. Selain itu, mulailah mencari penghasilan sampingan dan investasikan uang—seperti berupa emas, bisnis, atau lain sebagainya—agar hal tersebut dapat mempercepat akselerasi kesanggupan membeli rumah yang diidamkan. 

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Nama :
Usia :
Pekerjaan :
Lokasi :
Komentar :