Jumat, 06 April 2018

Jebakan Anti kaya

Perkembangan teknologi dan jaringan internet yang tengah kita hadapi memiliki perbandingan lurus dengan gaya hidup baru manusia yang ... thumbnail 1 summary


Perkembangan teknologi dan jaringan internet yang tengah kita hadapi memiliki perbandingan lurus dengan gaya hidup baru manusia yang selalu ingin men-share kesehariannya di media sosial. Kecenderungan perilaku seperti ini bisa dikatakan karena influence televisi yang selalu menampilkan wawancara ekslusif artis/aktor yang kemudian pada benak setiap orang yang melihat terbesit keinginan untuk juga melakukan hal tersebut karena dinilai memiliki kesenang tersendiri. Ketika media sosial sudah bisa menjadi fasilitas pelampiasan untuk melakukan hal tersebut, setiap orang berbondong-bondong menjadi ‘artis dadakan’. Perilaku seperti ini secara sederhana biasa kita sebut dengan narsis atau eksis.

Efek lebih lanjut, akibat ‘atmosfer’ kehidupan baru ini, segala perubahan gaya hidup atau gaya berbusana bisa sangat cepat menjadi trend dan dengan cepatnya juga berganti. Jika sudah seperti ini, manusia yang sudah terjebak dengan kehidupan eksis atau narsis akan mencoba mengikuti segala hal yang sedang trend agar tetap bisa mempertahankan keeskisannya atau agar tidak dibilang ‘ketinggalan zaman’.

Inilah titik awal kecenderungan manusia mulai hidup boros atau mengeluarkan uang lebih besar daripada pemasukan yang didapat. Jika tidak percaya, coba sama-sama kita evaluasi pengeluaran kita sebulan terakhir ini. Apakah setiap uang yang kita keluarkan merupakan sebuah kebutuhan utama atau hanya keinginan semata? Atau, berapa banyak uang yang bisa anda saving sebagai tabungan, investasi, atau bisnis selama beberapa bulan terakhir ini?

Jika anda merasa pengeluaran anda tidak jelas arahnya atau hanya sekadar sia-sia, berarti anda sudah terjebak pada ‘atmosfer’ perilaku konsumtif di zaman ini. Selamat!

Sadar atau tidak, keseharian kita kini sudah diatur sedemikian rupa agar kita lebih banyak mengeluarkan uang. Salah contoh adalah menurut survey yang dilakukan para ahli menyatakan bahwa orang yang mempunyai kartu ATM (Debit/Kredit) akan lebih banyak mengeluarkan uang dibandingkan mereka yang hanya menggunakan uang kas. Belum lagi ditambah dengan sistem layanan e-banking yang membuat kita jadi ‘sangat mudah’ melakukan transaksi. Selain itu, sistem perdagangan elektronik (e-commerce) atau online shop juga sudah banyak diterapkan oleh pelaku bisnis agar lebih mudah menjaring para konsumennya. Efeknya, banyak orang bisa dengan mudah membeli suatu barang meskipun sedang tidur-tiduran di rumah. Segala fasilitas di atas jika tidak diterapkan secara bijak, maka akan mengakibatkan pengeluaran yang sangat membeludak.

Di sisi lain, ketika kita tidak memiliki uang lebih untuk membeli sesuatu, maka kini sudah banyak ‘fasilitas’ lembaga keuangan yang siap memberikan pinjaman atau kredit terhadap barang tertentu. Jika dahulu kredit barang identik dengan rumah, motor, atau mobil, kini kredit juga bisa mulai dari handphone, fashion, hingga paket travel! Bukan tanpa alasan jika kekinian lembaga pinjaman atau kredit menjamur. Faktanya, memang pola pikir manusialah yang sekarang terlalu memaksa diri untuk membeli sesuatu yang semestinya belum saatnya dibutuhkan atau disanggupkan. Mereka dapat dibilang, sudah menciptakan masa depannya dengan lilitan hutang.

Dari itu semua, yang menurut penulis paling merisaukan adalah Sistem Peminjaman Uang secara online. Sistem ini sekarang tengah booming di tengah-tengah masyarakat. Dengan cara pengiklanan: “hanya dengan KTP, dalam hitungan detik dapatkan pinjaman hingga 20jt,”: mereka (red: lembaga pinjaman online) dianggap sebagai ‘malaikat’ bagi mereka yang sudah terjebak pada gaya hidup boros. Jika sudah demikian, dapat diramalkan kemungkinan besar masa depannya akan dihantui oleh penagih hutang yang entah sampai kapan akan lunas.

Meminjam pemikiran Robert T. Kiyosaki, kondisi di atas dinamakan dengan istilah ‘terjebak pada perlombaan tikus’. Menurut Robert, kondisi semacam ini dikarenakan manusia tidak dapat memilah-milah mana yang harus menjadi asset dan mana yang liabilitas (kewajiban). Seperti halnya ketika seseorang membeli rumah dengan alasan rumah tersebut sebagai aset, padahal pada kenyataannya rumah tersebut adalah sebuat liabilitas karena ke depannya orang tersebut akan mengeluarkan uang lebih untuk biaya listrik, air, cicilan, pajak, dan tentunya perawatan. Begitu juga kesalahan manusia dalam mengartikan motor, mobil, atau semacamnya sebagai aset. Belum lagi ditambah dengan teori psikologi yang mengatakan jika semakin banyak pendapatan seseorang, maka orang tersebut akan cenderung mengeluarkan uang lebih. Jika sudah demikian, mau tidak mau kita benar-benar tidak diizinkan untuk berhenti bekerja, karena sedikit saja kita tidak bekerja, maka kita akan tergerus oleh biaya-biaya luar biasa yang kita ciptakan sendiri, dan juga ditambah dengan biaya sekolah anak, kesehatan, dan harga bahan baku yang naik. Mental seperti inilah yang oleh Robert dikatakan sebagai ‘miskin sejak dari berpikir’ dan hanya memperbanyak anjing koorporasi yang miskin waktu.

Lalu apa yang dimaksud dengan aset?


Aset yang dimaksud Robert adalah sesuatu yang kita beli untuk menghasilkan uang lebih dari apa yang telah kita bayarkan. Secara sederhana dapat diartikan adalah membangun bisnis. Namun lebih dari itu, sebenarnya semua di sekeliling kita dapat dikatakan sebagai aset asalkan kita mampu memanfaatkannya untuk menjadikannya mesin uang, seperti rumah untuk disewakan/kontrakan, motor untuk mengojek, dan sebagainya. Sekarang pertanyaannya: apakah barang yang selama ini adalah aset atau liabilitas? Jika lebih banyak liabilitas, berarti kita perlu merubah mindset kita ketika ingin mengeluarkan uang.

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Nama :
Usia :
Pekerjaan :
Lokasi :
Komentar :