Perkembangan
teknologi dan jaringan internet yang tengah kita hadapi memiliki perbandingan
lurus dengan gaya hidup baru manusia yang selalu ingin men-share kesehariannya di media sosial. Kecenderungan perilaku seperti
ini bisa dikatakan karena influence televisi
yang selalu menampilkan wawancara ekslusif artis/aktor yang kemudian pada benak
setiap orang yang melihat terbesit keinginan untuk juga melakukan hal tersebut
karena dinilai memiliki kesenang tersendiri. Ketika media sosial sudah bisa
menjadi fasilitas pelampiasan untuk melakukan hal tersebut, setiap orang
berbondong-bondong menjadi ‘artis dadakan’. Perilaku seperti ini secara
sederhana biasa kita sebut dengan narsis atau
eksis.
Efek
lebih lanjut, akibat ‘atmosfer’ kehidupan baru ini, segala perubahan gaya hidup
atau gaya berbusana bisa sangat cepat menjadi trend dan dengan cepatnya juga berganti. Jika sudah seperti ini,
manusia yang sudah terjebak dengan kehidupan eksis atau narsis akan
mencoba mengikuti segala hal yang sedang trend
agar tetap bisa mempertahankan keeskisannya atau agar tidak dibilang
‘ketinggalan zaman’.
Inilah
titik awal kecenderungan manusia mulai hidup boros atau mengeluarkan uang lebih
besar daripada pemasukan yang didapat. Jika tidak percaya, coba sama-sama kita
evaluasi pengeluaran kita sebulan terakhir ini. Apakah setiap uang yang kita
keluarkan merupakan sebuah kebutuhan utama atau hanya keinginan semata? Atau,
berapa banyak uang yang bisa anda saving
sebagai tabungan, investasi, atau bisnis selama beberapa bulan terakhir ini?
Jika
anda merasa pengeluaran anda tidak jelas arahnya atau hanya sekadar sia-sia,
berarti anda sudah terjebak pada ‘atmosfer’ perilaku konsumtif di zaman ini.
Selamat!
Sadar
atau tidak, keseharian kita kini sudah diatur sedemikian rupa agar kita lebih
banyak mengeluarkan uang. Salah contoh adalah menurut survey yang dilakukan
para ahli menyatakan bahwa orang yang mempunyai kartu ATM (Debit/Kredit) akan
lebih banyak mengeluarkan uang dibandingkan mereka yang hanya menggunakan uang
kas. Belum lagi ditambah dengan sistem layanan e-banking yang membuat kita jadi ‘sangat mudah’ melakukan
transaksi. Selain itu, sistem perdagangan elektronik (e-commerce) atau online shop
juga sudah banyak diterapkan oleh pelaku bisnis agar lebih mudah menjaring para
konsumennya. Efeknya, banyak orang bisa dengan mudah membeli suatu barang
meskipun sedang tidur-tiduran di rumah. Segala fasilitas di atas jika tidak
diterapkan secara bijak, maka akan mengakibatkan pengeluaran yang sangat membeludak.
Di
sisi lain, ketika kita tidak memiliki uang lebih untuk membeli sesuatu, maka
kini sudah banyak ‘fasilitas’ lembaga keuangan yang siap memberikan pinjaman
atau kredit terhadap barang tertentu. Jika dahulu kredit barang identik dengan
rumah, motor, atau mobil, kini kredit juga bisa mulai dari handphone, fashion,
hingga paket travel! Bukan tanpa
alasan jika kekinian lembaga pinjaman atau kredit menjamur. Faktanya, memang
pola pikir manusialah yang sekarang terlalu memaksa diri untuk membeli sesuatu
yang semestinya belum saatnya dibutuhkan atau disanggupkan. Mereka dapat
dibilang, sudah menciptakan masa depannya dengan lilitan hutang.
Dari
itu semua, yang menurut penulis paling merisaukan adalah Sistem Peminjaman Uang
secara online. Sistem ini sekarang
tengah booming di tengah-tengah
masyarakat. Dengan cara pengiklanan: “hanya dengan KTP, dalam hitungan detik
dapatkan pinjaman hingga 20jt,”: mereka (red: lembaga pinjaman online) dianggap sebagai ‘malaikat’ bagi
mereka yang sudah terjebak pada gaya hidup boros. Jika sudah demikian, dapat
diramalkan kemungkinan besar masa depannya akan dihantui oleh penagih hutang
yang entah sampai kapan akan lunas.
Meminjam
pemikiran Robert T. Kiyosaki, kondisi di atas dinamakan dengan istilah
‘terjebak pada perlombaan tikus’. Menurut Robert, kondisi semacam ini
dikarenakan manusia tidak dapat memilah-milah mana yang harus menjadi asset dan mana yang liabilitas (kewajiban). Seperti halnya ketika seseorang membeli rumah
dengan alasan rumah tersebut sebagai aset, padahal pada kenyataannya rumah
tersebut adalah sebuat liabilitas
karena ke depannya orang tersebut akan mengeluarkan uang lebih untuk biaya
listrik, air, cicilan, pajak, dan tentunya perawatan. Begitu juga kesalahan
manusia dalam mengartikan motor, mobil, atau semacamnya sebagai aset. Belum
lagi ditambah dengan teori psikologi yang mengatakan jika semakin banyak
pendapatan seseorang, maka orang tersebut akan cenderung mengeluarkan uang
lebih. Jika sudah demikian, mau tidak mau kita benar-benar tidak diizinkan
untuk berhenti bekerja, karena sedikit saja kita tidak bekerja, maka kita akan
tergerus oleh biaya-biaya luar biasa yang kita ciptakan sendiri, dan juga
ditambah dengan biaya sekolah anak, kesehatan, dan harga bahan baku yang naik.
Mental seperti inilah yang oleh Robert dikatakan sebagai ‘miskin sejak dari
berpikir’ dan hanya memperbanyak anjing koorporasi yang miskin waktu.
Lalu
apa yang dimaksud dengan aset?
Aset
yang dimaksud Robert adalah sesuatu yang kita beli untuk menghasilkan uang
lebih dari apa yang telah kita bayarkan. Secara sederhana dapat diartikan
adalah membangun bisnis. Namun lebih dari itu, sebenarnya semua di sekeliling
kita dapat dikatakan sebagai aset asalkan kita mampu memanfaatkannya untuk
menjadikannya mesin uang, seperti rumah untuk disewakan/kontrakan, motor untuk
mengojek, dan sebagainya. Sekarang pertanyaannya: apakah barang yang selama ini
adalah aset atau liabilitas? Jika lebih banyak liabilitas, berarti kita perlu
merubah mindset kita ketika ingin
mengeluarkan uang.

Tidak ada komentar
Posting Komentar
Nama :
Usia :
Pekerjaan :
Lokasi :
Komentar :