Kamis, 07 Mei 2015

Persoalan Para Pewaris Sumpah Pemuda

Sumpah Pemuda seharusnya bukan hanya sekedar peringatan rutin di setiap tanggal 28 oktober. Semangat sumpah pemuda seharusnya dijadika... thumbnail 1 summary
Sumpah Pemuda seharusnya bukan hanya sekedar peringatan rutin di setiap tanggal 28 oktober. Semangat sumpah pemuda seharusnya dijadikan momentum untuk membakar gelora kaum muda untuk bersama-sama mewujudkan kebangkitan bangsa Indonesia. Sumpah pemuda yang kita peringati setiap tahunnya bukanlah sekedar upacara peringatan belaka. Sumpah itu merupakan energi batin yang menjadi ruh nasionalisme bagi Indonesia. Ikrar kaum muda sekaligus penegasan kecintaan terhadap tanah air, bangsa dan bahasa merupakan modal dasar yang dapat mempersatukan gagasan, tujuan dan perjuangan kaum muda dalam mewujudkan kejayaan Indonesia. Dalam proses melahirkan ikrar ini pun tidaklah muda. Para pemuda pada awalnya terpisah-pisah oleh sekat organisasi masing-masing. Pemuda jawa menyatukan diri dan menamai peguyuban mereka dengan nama Jong Java, begitu juga yang dilakukan oleh pemuda-pemuda di berbagai daerah di Indonesia. Dalam kurun beberapa waktu, kesadaran untuk bersatu dan membulatkan vokal dalam meneriakkan kemerdekaan pun mulai tumbuh di antara mereka. Selain demi memperkuat barisan, ini juga sebagai penghindaran agar tidak terciptanya sukuisme dan primordialisme di antara para pemuda Indonesia. Singkat cerita mereka berasimilasi dan menamai diri mereka Indonesia Muda. Suatu perhimpunan yang melahirkan Sumpah Pemudagasasan yang menekankan kecintaan terhadap tanah air, bangsa, dan bahasa dalam satu harmoni—Indonesia.
Pada dasarnya Sumpah Pemuda juga adalah cita-cita para perintis kemerdekaan agar seluruh pemuda Indonesia dapat bersatu dalam membangun Negaranya bersama, sebagai harapan agar tertatanya kerukunan, toleransi, dan kekeluargaan dalam bersuku, beragama, dan bernegara. Peristiwa Sumpah Pemuda juga mencerminkan dan mengajari kita jika pemuda patutnya harus turut aktif dan tidak bersikap ‘diam’ dalam menghadapi perpecahan dan kemerosotan kualitas bangsanya. Pemuda adalah generasi di mana bangsa nantinya akan dipimpin olehnya. Kualitas pemuda pada masanya adalah penentu nasib bangsa di kedepannya. Namun sedikit disayangkan mereka (pemuda) yang tidak paham akan esensi Sumpah Pemuda—bahkan lupa akan hari bersejarah ini.
Esensi jiwa seorang pelopor yang dimiliki pemuda ’28 sepertinya sudah semakin krisis dimiliki pemuda masa kini. Bahkan pemuda sekarang berpotensi menimbulkan perpecahan dan kehancuran. Sekarang dapat kita lihat banyak terbentuknya organisasi kepemudaan yang hanya memperjuangkan segelintir golongan, dan kepentingan pribadi saja. Organisasi-organisasi oportunis semacam inilah yang pada nantinya akan menimbulkan virus-virus sukuisme dan primordialisme kembali, begitu juga yang terjadi oleh mahasiswa. Banyak pula dari mereka yang juga terlalu asik bersaing mencari pamornya sendiri-sendiri. Bahkan tak jarangnya di antara mereka ada yang saling bergesekan atau terjadi clash antar sesama pemuda. Sekarang sudah sedikit yang sadar atau mau untuk berbicara atas nama Indonesia—bukan atas nama golongan, agama, atau suku tertentu. Mungkin sudah menjadi tontonan baku jika para partai-partai politik hanya mementingkan pribadi masing-masing saja dan mereka yang di ‘atas’ sana sudah lupa akan yang di ‘bawah’, lalu bagaimana jika para pemuda yang melakukan itu? Naas sekali jika terus demikian.

Sekarang permasalahan-permasalahan bangsa mulai memuncak. Mulai dari persoalan pendidikan, budaya, politik, bahkan sampai globalisasi. Akhir-akhir ini KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) sibuk mencekal berbagai kartun-kartun animasi yang dinilainya tidak mendidik. Lalu bagaimana halnya dengan serial sinetron percintaan yang disiarkan secara vulgar dengan penikmat yang mayoritas adalah anak-anak di bangku sekolah menengah pertama, bahkan dasar? Mana yang seharusnya layak menjadi sorotan?
Persoalan klasik berupa fakirnya kecintaan terhadap budaya bangsa pun masih menjadi ‘PR’ bagi bangsa ini. Kawula muda semakin jauh dari jati diri sebagai bangsa Indonesia. Mulai dari moral dan etika, gaya hidup, hingga pola pikir. Peran pemerintah sebagai pengontrol unsur asing yang sudah menjamur sepertinya belum optimal. ‘Keran’ arus budaya asing yang masuk ke Indonesia melalui per-film-an, liberalisasi pendidikan, dan perekonomian sangatlah terbuka lebar. Tidak lain yang menjadi sasaran utama adalah kaum muda. Sudah banyak contoh yang dapat kita lihat dan tak bisa kita pungkiri. Seks bebas, narkoba, tawuran bahkan sekarang seakan adalah hal lumrah—bahkan wajib bagi remaja—di Indonesia.
Bila kita menengok ke sebulan lalu, saat pergulatan politik tengah berkecamuk di Indonesia terjadi pula pertikaian antar pendukung sisi kiri dengan sisi kanan. Lagi-lagi pemudalah yang turut memenuhi pertikaian tersebut. Mungkin dulu Soekarno, Hatta, Syahrir dan para faunding fathers lainnya berdebat adalah untuk mencari dan menetapkan jati diri bangsa ini. Dari segala bentuk adu argumentasi tersebutlah terlahir apa itu Pancasila, Tatanan Negara Indonesia, UUD, Sumpah Pemuda dan peristiwa bersejarah lainnya. Namun apa yang menjadi pergulatan antar sesama pemuda di masa kini? Kita sudah berada pada payung yang sama, lalu apa lagi yang dipermasalahkan? Yang paling mengkhawatirkan jika para pemuda sengaja diadu domba sebagai pewarna dalam pesta demokrasi. Siapa yang tahu? Toh, nyatanya semakin dikit pemuda yang masih memiliki jiwa nasionalis, yang akhirnya sedikit pula pemuda yang mau memahami dinamika politik yang sedang terjadi di Negaranya. Pada akhirnya mereka hanya menjadi pengikut dan boneka orang-orang tua yang kafir.
Terakhir adalah persoalan globalisasi. 2015 nanti kita akan memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN—sebagai tindak lanjut kerjasama yang dibangun oleh para anggota Negara yang tergabung di dalamnya. Jika mau menganalisa dan mengoreksi, pada keadaan seperti ini saja kaum kapitalis tak hentinya puas untuk terus ‘mengunyah’, tak jarang pelaku adalah rakyat Indonesia itu sendiri. Pemerintah pun sepertinya tidak merasa terancam dengan pola pikir kapitalis yang mulai banyak dianut oleh rakyat. Padahal sistem kapitalis sangat tidak mencerminkan ciri khas Indonesia itu sendiri dalam membangun perekonomian bangsa secara bersama. Sebagaimana yang di amanahkan dalam Undang-Undang Dasar Bab XIV mengenai Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial—sepertinya hanya utopia.
Seharusnya kaum intelektual bereaksi dan siap bertindak di saat-saat seperti ini, karena sangat dibutuhkan rakyat. Tugas seorang pemuda adalah berfikir dan mencipta yang baru. Dilain sisi mereka tidak bisa lepas dari fungsi sosialnya—yaitu bertindak atas nama kesadaran, dengan begitulah Negara ini dapat memenuhi cita-citanya. Kaum intelektual yang terus diam dan hanya pandai berkicau di dalam persoalan-persoalan bangsa yang semakin memuncak, telah melunturkan sebuah arti pemuda. Siklusnya sangat jelas terbaca, awalnya mereka menuntut dengan idealismenya; mereka melepas idealismenya karena alasan zaman dan keadaan; mereka mengikuti arus orang tua yang salah; menjadi orang tua yang dahulu mereka kritik. Belum lagi mereka para priayi dan para ‘anak-anak raja’ di masa kini hanya sibuk menggemukan perut mereka sendiri. Keuangan yang maha Esa sepertinya yang lebih berlaku sekarang.

Semua tinggal bagaimana pemuda menentukan dan melakukan. Arah pergerakan bangsa tak lain ada di tangan para pemudanya.


Tidak ada komentar

Posting Komentar

Nama :
Usia :
Pekerjaan :
Lokasi :
Komentar :