Mampukan kau menjunjung
apa yang benar meskipun temanmu hanya keterasingan?
Mampukah kau bertahan
dari perjuangan hingga Tuhan sendiri yang kelak akan menumpaskan segala gujirat
pada jubahmu?
Mampukah kau menahan
haus beribu tahun hanya untuk meminum air dari altar bahtera pemersatu
samudera?
Bagaimana pikiranku?
Inginku, cita-cita
pahlawan bangsa tak hanya hal tabu yang mengawang-ngawang tanpa kepastian
Inginku, negeri ini tak
hanya pandai menyalahkan, tak hanya pandai membela segelintir sukunya, tak
hanya pandai membela kelompoknya, tak hanya pandai membela barisannya: aku
hanya ingin bangsa yang membela bangsa. Membela semuanya seperti dulu.
Bagaimana pikiranku?
Apa mungkin kau sudah
lelah berpikir?
Apa mungkin kau sudah
malas untuk mencari pembenaran jalan kebenaran?
Bahkan kau sudah enggan
bangun untuk membangun
Kau hanya tergerak
ketika itu menguntungkanmu, dapat mengisi perutmu, atau memuaskan nafsumu saja
Hei, pikiranku?
Apakah kini kau tengah
asyik memenuhi nafsu di hutan yang penuh dengan kesesatan?
Apakah kini kau adalah
binatang yang tengah sibuk bunuh-membunuh, makan-memakan?
Hei, pikiranku?
Sekiranya api dapat
menghangatkanmu juga melelehkanmu
Sekiranya cahaya dapat
dengan ajaib menyeruak masuk menerangimu juga menelanjangimu
Sekiranya alam dapat
ikut berdo’a untukmu juga menyumpahkanmu
Apa kau sudah amnesia?
Hei pikiranku…!
Sekiranya kau tidak tahu
semua, sekiranya kau sudah melupakan semua, namun setidaknya aku yakin jika kau
akan tahu dan masih akan ingat mengenai betapa kayanya bangsa ini
Akan indah dan suburnya
Negeri ini
Akan gandrung dan
permainya Tanah air ini
Hei, pikrianku…!
Harus berapa lagi
kehancuran di Negeri ini agar kau tersadar?
Harus berapa lagi yang
mati karena kelaparan agar kau tersadar?
Harus berapa lagi yang
menjerit kesakitan karena ketidakadilan agar kau tersadar?
Harus berapa lagi aku
berbicara denganmu, Hei pikiranku?!
Apa kau bingung
pikiranku?
Atau, apa kau sudah mati
sebelum waktunya?!
Hei, pikiranku?!
Jika kau benar-benar
masih hidup
Bisakah tubuh ini terus
kesakitan, namun jiwa ini terus melawan?!
Bisakah jiwa ini sudah
lelah, namun keyakinan ini terus berkoar?!
Bisakah mulut ini
berhenti berdo’a, namun hati ini tetap berdo’a?!
Jika sekiranya bisa,
kupastikan bangsa ini akan kembali jaya dan melanjutkan apa yang sudah
diperjuangan oleh pahlawan-pahlawan kita dulu

Tidak ada komentar
Posting Komentar
Nama :
Usia :
Pekerjaan :
Lokasi :
Komentar :