“Aku...”
Terbitan
Petama
Penulis :
Wangsa
Desain Sampul :
M. Khoirul
Adib
Diterbitkan Melalui:
Diandra Kreatif
(Kelompok Penerbit Diandra)
Anggota IKAPI
Jl. Kenanga No. 164
Sambilegi Baru Kidul, Maguwharjo,
Depok, Sleman Yogyakarta Telp. (0274) 4332233,
Fax. (0274) 485222
E-mail: diandracreative@gmail.com
Fb. DiandraCreative SelfPublishing dan Percetakan
twitter. @bikinbuku
twitter. @bikinbuku
www.diandracreative.com
Cetakan 29, Januari 2016
Yogyakarta, Diandra Krreatif, 2016
310;
14 x 21 cm
ISBN: 978-602-336-187-8
Hak Cipta dilindungi Undang-undang
All
right reserved
“Aku
menceritakannya dalam huruf demi huruf yang terangkai menjadi kata.
Kata
demi kata yang terangkai menjadi sebuah kalimat.
Kalimat
demi kalimat yang terangkai menjadi sebuah paragraf.
Paragraf
demi paragraf yang terangkai menjadi sebuah cerita.
Aku
menceritakannya dalam cerita!”
(Wangsa – 28 Desember
2014)
Ucapan Terima Kasih
TERIMA KASIH KEPADA:
Ф
Tuhan
Pencipta alam semesta dan Manusia semesta.
Ф
Kedua
orang tua yang kupanggil Papah dan Mamah. Yang sudah mengenalkanku dengan dunia
dan membesarkanku di dalamnya.
Ф
Kawan-kawan
semasa sekolah (lulusan 2011 SMA N 73 Jakarta) yang sudah memberi ukiran memori
berharga. Terkhusus Alif, Erwin, Rayhan, Reza, Ari, Aria, dan semua yang tak
bisa kusebutkan satu persatu.
Ф
Kin
di Anyer, Banten. Pemilik nama asli Lastri sebagai pengkritik dan pemberi saran
setia. Adib sebagai pembuat cover novel ini. Sungguh kalian berharga.
Ф
Keluarga
besar ‘Basecamp Sejuk Satu’.
Ф
Keluarga
Forkmap STIAMI (Forum Komunikasi Mahasiswa & Pelajar). Atas waktu-waktu
diskusi yang kalian berikan.
Ф
Semua
yang selalu bertanya ‘kapan (novelnya) terbit?’ setiap kali bertemu. Terutama
Lidia.
Ф
Kum-kum
SF-nya Sugi yang sudah mendanai di awal. Meskipun agak maksa. -___-
Ф
Penerbit
Diandra Creative.
Ф
Serta
semua kerabat yang berkontribusi, memotivasi, memberi inspirasi, dan pernah
kurepotkan selama prosesi pembuatan novel ini. Terima kasih untuk semuanya. Terlebih lagi kepada semua pembaca.
Daftar Isi
Daftar Isi..........
5
Chapter 0 (Maha Awal)..........
6
Chapter 1 (Mimpi Aneh)..........
8
Chapter 2 (Atita, Wartamana, Nagata)..........
26
Chapter 3 (Aku, Matahari, dan
Bayang-bayang).......... 41
Chapter 4 (Jahal Al-Kafirun)..........
57
Chapter 5 (Dalil Bintang)..........
80
Chapter 6 (Marvuat vanua Criwijaya
siddhayatra subhiksa')..........
99
Chapter 7 (Sihir dan Warna)..........
113
Chapter 8 (Kuncup Sakura)..........
132
Chapter 9 (Deja’ vu)..........
149
Chapter 10 (Ethikos Sophia)..........
163
Chapter 11 (Black Hole)..........
179
Chapter 12 (Faith)..........
192
Chapter 13 (Metafora)..........
207
Chapter 14 (Casebook #1)..........
230
Chapter 15 (Casebook #2)..........
240
Chapter 16 (…)..........
253
Chapter 17 (Kembali ke Titik Nol)..........
284
Chapter
18 (Butterfly).......... 300
Hingga akhirnya aku berhasil menceritakan dan
mencurahkan kekhawatiranku kepada diriku sendiri. Ada semacam aurora yang
indah. Alur cerita masa depanku. Aku dapat terbang dengan sayap-sayap
melintasinya hingga ujung. Sebuah petunjuk dari catatanku sendiri. Dan cerita
ini pun dimulai…[]
Chapter
0
Maha Awal
NAMAKU Wangsa. Aku tahu
nama itu terdengar sangat aneh. Begitulah yang biasa kawan-kawanku bilang. Aku
terlahir, besar, dan sampai saat ini masih setia tinggal di Jakarta. Aku anak
pertama dari 4 bersaudara. Keseluruhan anak dari kedua orangtuaku adalah
laki-laki, kecuali yang terkecil. Aku pun juga mempunyai kakak laki-laki. Yah,
terdengar aneh; aku anak pertama, tapi aku memiliki kakak. Sebenarnya bukan
kakak kandung, melainkan kakak sepupu, namun sudah dari kecil tinggal bersama
keluargaku.
Aku… adalah cerita
saat aku mati nanti.
Kalimat
itu yang selalu memotivasiku agar dapat mengukir cerita indah sebelum mati
nanti. Segala hal aku buat seindah mungkin. Seindah cita-cita dan harapanku.
Meskipun semua hanyalah misteri, tapi aku berusaha untuk bisa menyukai kejutan.
Aku menstigma diriku adalah seorang
pecundang. Seorang pecundang yang takut akan masa depan. Masa yang sangat
membuatku berpikir buruk akan kenyataannya. Menurutku, syarat utama masa depan
adalah ketidak-pastian. Jangankan melewatinya, memikirkannya saja aku tidak
bisa. Atas hal itulah aku takut. Dengan kepesimisan yang begitu besar,
terkadang aku berpikir ingin selalu hidup di masa ini saja tanpa harus
menjangkau masa depan. Bahkan, cita-cita pun aku tidak punya. Aku sama sekali
tidak memiliki deskripsi sedikit pun mengenai masa itu. Masa yang masih
tertutup kabut. Jika diperkenankan memilih, aku lebih memilih berenang kembali
ke masa lalu―dunia yang sudah pasti―daripada harus berenang ke masa depan―dunia
yang belum pasti. Aku sering berharap, kelak aku akan dapat menjadi kepompong.
Saat aku terbungkus dan memperbaharui diri. Hingga pada akhirnya
bermetamorfosis menjadi kupu-kupu.
Tulisan ini dimulai pada saat itu. Pada
suatu hari, saat aku bermimpi berpetualang dengan fantasi, keanehan, dan
tentunya misteri. Sejatinya pada mimpi itu aku terjebak, namun aku
menikmatinya. Hingga akhirnya aku tahu, jika, ada dunia yang sebenarnya yang
harus kulalui, hidup yang sesungguhnya yang harus kuwarnai, dan cerita yang
semestinya harus kurangkai. Sesuatu yang ada di benakku pada saat itu adalah
ketidaktahuanku akan kenyataan dunia―sebuah tanda tanya besar.
Sering sekali aku memikirkannya, namun,
tidak lebih hanya akan menjadi kebingungan semata. Di atas kebi-ngunganku itu,
aku tidak tahu kalau semua ini akan menjadi nyata. Ketika aku sedang membaca…[]
Chapter
1
Mimpi Aneh
UKURLAH apa yang dapat diukur dan buatlah agar dapat diukur
sesuatu yang tidak dapat diukur. Begitulah kutipan kata aneh dari sebuah
novel filsafat yang tengah menceritakan tentang ilmuwan dan pakar matematika
pada abad ke-17
asal Italia, Galileo Galilei. Novel yang kubeli saat acara book fair di senayan beberapa bulan lalu ini selalu setia menemani
hari-hariku di kala suntuk. Aku meraih ponselku dan segera mengecek jam.
“Sudah larut malam sekali―pukul satu lewat. Berarti sudah 6 jam lebih aku
membaca,” ucapku saat melihat angka yang tertera dan menghentikan aktivitas
membacaku.
Aku bergegas bangkit dan menuju kamar
mandi. Seusai aku menggosok gigi dan mencuci muka, aku kembali mere-bahkan
tubuh di atas kasur dan meraih buku catatan harianku. Sebelum hendak menulis,
aku membaca terlebih dahulu catatan-catatanku di hari-hari
sebelumnya―saat li-buran pasca
UTS (Ujian Tengah Semester):
21 Nov 2014 – 10.11 WIB
Pagi sekali aku terbangun. Hari ini rencanaku dan kawan-kawan akan
mengadakan bakti alam di gunung gede, jawa barat. Menikmati pemandangan
Indonesia dan mencintainya secara sehat dengan menatapnya langsung. Indonesia
yang bukan sekadar gedung, asap knalpot, atau kesibukan egoisme.
Penanaman cinta tanah air menurutku sangat penting bagi para pemuda. Tak
mungkin jika cinta itu berkhianat.
Beberapa detik aku terbayang kembali saat
perjalanan ke tempat itu. Teringat akan hijaunya
pepohonan yang melam-bai kepada langit biru nan
luas,
aroma tanah lembab berbaur dengan suhu yang sejuk, serta suara gemercik air
yang berlantun dalam tempo kicauan burung yang beriring dengan
lepasnya. Sesaat kemudian, aku segera sadar dan langsung
menulis cacatan harianku untuk hari ini. Hampir seperti ini rutinitasku setiap
harinya―membaca atau ber-main notebook hingga larut malam, bangun kesiangan, sarapan pukul dua
belas siang, membaca buku yang tidak ada kaitannya dengan pelajaran saat di
kelas, mende-ngarkan lagu melalui ponsel saat
suntuk, atau pergi ke tempat biasa aku dan kawan-kawanku berkumpul. Catatan
hari ini aku tulis 3 lembar, sekaligus
menghabiskan
halaman yang ada pada buku catatan yang kubeli beberapa
bulan lalu―satu hari setelah
kemerdekaan RI. ‘Akhirnya habis juga, semoga aku tidak lupa
untuk membelinya lagi besok’, kalimat terakhir,
dan juga sebagai kalimat penutup. Aku meletakkan buku catatanku di samping
bantal bertumpuk dengan buku-buku lainnya. Setelah itu, aku meraih ponsel dan memutar lagu yang akan menemaniku
menuju alam mimpi―atau mungkin
sampai sepanjang malam.
Saat aku merebahkan tubuh, aku merasakan
ada sesuatu yang mengganjal di punggungku, sepertinya ada benda kecil dan keras
yang sangat membuat tidak nyaman. Aku duduk dan mengeceknya, ternyata hanya
kartu perdana provider yang
kelihatan sudah tua. Aku menyingkirkannya ke samping kasur dan mulai mencoba
tidur kembali. Perlahan, aku mulai kehilangan kesadaran dan
terhanyut oleh lantunan nada-nada lagu yang kuputar. Lirik-lirik lagu tersebut
seperti menghipnotisku―tervisualisasi
seolah nyata dan sedang kualami sekarang. Tak lama, akhirnya ruh mim-piku
terlepas dari jasadku.
[
Kemudian,
Aku berdiri di depan kelas sembari menatap
ke arah seberang gedung sekolah (gedung sekolahku berbentuk huruf-“U”) yang
kelasnya masih terlihat kosong. Aku melangkahkan kaki ke sisi koridor dan
menyandarkan siku ke atas tembok pembatas dengan posisi tubuh sedikit
membungkuk malas. Untungnya kelasku berada di lantai paling atas dan berada di
ujung, jadi aku bisa leluasa memandang alam pagi dari ketinggian tanpa ada
gangguan dari siswa-siswa yang berlalu-lalang. Kicauan burung melantun
mengiringi awan yang bergerak dengan lambat. Atap gedung sekolah yang baru
dicat tampak terlihat sedikit basah akibat embun semalam. Burung-burung yang berjejer
di atas atap gedung, matahari yang masih malu-malu memunculkan dirinya dari
balik awan, penampakan gu-nung salak yang berbaur dengan kabut dari kejauhan,
se-muanya menjadi lukisan indah di mataku yang penuh dengan maha karya. Aku
memalingkan pandangan ke bawah dan menyusuri lapangan sekolah dengan penge-lihatanku.
“Sepertinya sudah banyak yang mulai
datang,” komen-tarku saat melihat para ‘gerombolan putih-abu-abu’ berlalu-lalang
melintasi lapangan basket sekolah. Sesekali aku melihat kawan-kawanku dari
dalam kerumunan. beberapa dari mereka menoleh ke arahku dan kubalas dengan
lambaian tangan malas. Begitu asyiknya aku dengan duniaku sendiri, aku sampai
tidak menyadari kehadiran kawanku yang sudah berdiri di sebelah kiriku.
“Hei, Sa.
Pagi-pagi jangan melamun,” ucapnya tiba-tiba.
“Oh. Eh, iya. Kukira siapa,” balasku dengan
nada terkejut di awal.
Hanya itu percakapan yang terjadi di antara
kita, dan akhirnya aku kembali menelusuri duniaku lagi. Aku me-narik napas
panjang untuk menikmati udara pagi yang masih segar, namun sepertinya sudah
terkontaminasi de-ngan parfum yang dikenakan oleh kawanku ini. Seketika
tanganku jail memetik-metikkan daun tanaman yang berada di dalam pot yang
digantungkan di tembok pembatas. Pot itu berada di sebelah kiriku, sekaligus sebagai
pembatas antara aku dan dia.
“Jangan dipetik. Kamu sama saja tidak
menghargai makhluk hidup,” ucapnya yang melihat ulahku.
Aku hanya menghentikan kejailanku dan diam
tanpa membalas kata apa pun saat dia tersenyum sebelum kembali lagi menatap ke
arah depan.
Tiba-tiba bel berbunyi,
menandakan kegiatan belajar me-ngajar akan segera dimulai. Pelajaran di dalam
ruang kelas berjalan seperti biasa. Guru menerangkan, sebagian mem-perhatikan,
sebagian sibuk bercanda, dan aku membaca komik Detective Conan yang dibawa oleh temanku. Sesekali aku
memperhatikan gerak-gerik kawan-kawanku satu per satu. Dari situ aku dapat
mengklasifikasikan mereka ke dalam kategori yang berdasarkan apa yang sedang
mereka rasakan dan pikirkan sekarang. Kategori pertama,
adalah mereka yang memang benar mencintai pelajaran ini. Mereka sangat antusias
dan menikmati detik tiap detik pelajaran dengan suka cita. Yang ada di otak
mereka kini adalah ilmu, bukan nilai. Kategori kedua, adalah mereka yang
terpaksa. Mereka sebenarnya sama sekali tidak tertarik dengan pelajaran ini,
namun,
karena takut akan nilai jelek saat pembagian raport nanti, akhirnya mereka mau tidak mau harus mau. Kategori
ketiga, adalah mereka yang suka mencari muka. Mereka sama sekali tidak cinta
dan tidak paham dengan pelajaran yang sedang diterangkan guru. Tapi mereka
hanya sok-sok terlihat antusias
dengan mema-sang muka penuh simpatik agar terlihat berkesan di mata guru. Tak
jarangnya mereka seperti ‘menjilat sepatu guru’. Bukan karena menghormati guru,
tapi karena menghormati nilai. Kategori ke-empat,
adalah mereka yang tidak suka dengan pelajaran dan mencoba jadi apa adanya.
Entah karena mereka benar tidak suka atau karena malas untuk mengenal yang
akhirnya tidak pernah suka. Yang terpenting mereka sangat mudah dicirikan. Di
mata guru mereka adalah ‘gerombolan berandal’.
Pelajaran pertama baru saja usai, guru
merapikan buku-bukunya dan berpamitan meninggalkan kelas. Sesaat kelas menjadi
gaduh dengan celotehan-celotehan yang lebih didominasi oleh murid perempuan.
Tak lama setelah itu, seorang pria berusia 50-an dengan wajah yang selalu
nampak terlihat datar memasuki ruang kelas. Kacamata bergagang emas yang sangat
mencolok dan terkesan berlebihan adalah ciri utama guru ini. Dia mengawali
pelajaran dengan salam sebelum memulai kegiatan menga-jarnya. Suasana kelas tak
jauh berbeda
dengan mata pela-jaran sebelumnya, kini aku juga masih sibuk dengan kasus yang
tengah dihadapi Conan. saat aku sedang asyik membaca, tanpa aku sadari, guru
lulusan fakultas sejarah itu sudah berada
di depanku dan merampas komik yang sebelumnya berusaha aku sembunyikan di
kolong meja. Seisi kelas pun langsung menatapku.
“Sedang apa kamu? Dari tadi kamu tidak
memper-hatikan saya menerangkan?” ucap guru tersebut dengan wajah tak suka
dengan perilakuku.
“…memperhatikan, Pak,” jawabku berbohong.
“Coba jelaskan apa yang kamu ketahui
tentang evolusi manusia?” Guru itu mencoba mengetesku.
Seisi kelas yang dari tadi memperhatikan
guru pun, aku yakin tidak ada yang dapat menjawab pertanyaan tersebut, apa lagi
aku yang tidak memperhatikan.
“Maaf, Pak. Saya kurang tertarik dengan
teori yang dicetuskan oleh Darwin tersebut. Darwin adalah orang yang tidak
percaya terhadap agama, bahkan menantang kebe-naran Injil, kenapa kita harus
memercayainya?” ucapku. “Meskipun teorinya sangat logis, tapi saya tidak bisa menerima jika manusia dikatakan
bernenek moyang monyet.”
“Saya tidak minta kamu mengkritik
teorinya―” responnya dengan nada yang mulai kesal.
“Mengkritik…?” aku memotong ucapannya.
“Darwin saja mengkritik dan menentang kebenaran Injil. Padahal ilmu
pengetahuan dapat berkembang, yah, karena
saling mengkritik.” Begitu saja perkataan itu terlontar dari mu-lutku.
“Cepat ke depan kelas!” Matanya menyalak
dengan penuh amarah.
Aku yang memang sadar akan posisiku yang salah,
hanya bisa menuruti perintahnya. Aku berjalan ke depan kelas diiringi dengan
gelak tawa yang tertahan dari kawan-kawanku. Dari depan sini aku bisa melihat
mereka semua meledekiku.
“Kalau tidak tahu, tuh, mengaku saja.
Jangan ngeles mulu kaya bajaj,” ledek
guru tersebut dan disambut dengan ledakan tawa seisi kelas.
Aku menundukkan kepala dengan sikap tangan
di belakang badan. Kegiatan belajar pun dimulai kembali. Kali ini membahas
tentang penjajahan yang terjadi di Indonesia. Dimulai dari kedatangan belanda
di Nusantara,
dan dilanjutkan hingga pembahasan mengenai pergerakan-per-gerakan pemuda yang
membawa Indonesia menuju kemer-dekaannya. Guru menerangkan selama 45 menit dan
di-akhiri dengan sesi tanya-jawab. Seisi kelas diam dan tak satu pun mengajukan
pertanyaan.
“Ada yang mau bertanya?” guru
itu menanyakan sekali lagi sambil duduk di bangkunya.
“Saya, Pak.”
Aku kembali menjadi sorotan lagi. Seisi kelas ada yang menatapku dengan tatapan
merendahkan, ada yang menatap dengan heran, dan ada pula yang penasaraan dengan
apa yang akan aku tanyakan.
“Jawab dulu pertanyaan saya yang
sebelumnya.” Kelas kembali berisik dengan gelak tawa.
“Tapi, Pak, bukannya saya mempunyai hak
yang sama dengan siswa yang lain untuk bertanya?” bantahku tanpa menghiraukan
tertawaan seisi kelas.
Guru itu tersenyum dan melepaskan kacamata
bo-dohnya. “Baiklah. Apa pertanyaan kamu?”
“Indonesia merdeka tahun 1945. Belanda
menjajah selama 3,5 abad. Berarti belanda pertama kali mendatangi tanah air ini
kurang lebih pada tahun 1595?”
“Itu saja pertanyaanmu?” jawabnya
merendahkan dan lagi-lagi seisi kelas tertawa kembali dan kali ini mulai
membuatku kesal.
“Tidak. Yang mau saya tanyakan adalah, apa
belanda dengan begitu saja datang ke sini dan menjajah rakyat pribumi? Mereka
datang, menindas, dan merampas hasil tanah kita?”
“Yah.
Lalu?”
“Bapak, meyakini itu?”
“Coba kamu baca bukumu lagi, jangan sibuk
baca komik terus,” ucapnya sambil melempar
komik yang tadi kubaca ke atas meja. Lagi-lagi kelas
tertawa, dan kali ini aku lang-sung meninggikan suaraku untuk mengalahkan suara
tawa.
“Berarti, Bapak
bodoh menurut saya.” Tiba-tiba kelas diam. “Belanda dari eropa berlayar ke sini
dan menjajah Nu-santara menurut saya tidak logis.
Katakanlah belanda sam-pai di banten dan langsung menindas warga setempat, apa-kah
itu namanya bukan bunuh diri? Mereka pasti langsung dibunuh oleh warga setempat
karena kalah jumlah pa-sukan,” lanjutku.
Guru itu terlihat mulai kesal kembali,
namun sepertinya ia menahannya. “Belanda
tidak langsung menjajah. Mereka pada awalnya menguasai perekonomian di
Indonesia,” ucap guru tersebut.
“Sebelumnya saya mau mengingatkan,
sepertinya kata ‘Indonesia’ kurang pas untuk menyebutkan tanah air ini jika
kita sedang membahas zaman sebelum kemerdekaan. Kata Nusantara mungkin lebih
pas.
“Pertanyaan saya, dengan cara apa mereka
menguasai perekonomiannya? Sedangkan bahasa kita jelas berbeda. Tidak mungkin
pula menggunakan bahasa isyaratkan?” lan-jutku.
Kelas sunyi tanpa suara.
“Coba bayangkan, ada alien yang datang ke
bumi dan ingin menguasai perekonomian dunia. Alien tersebut hanya bercuap-cuap tanpa kita tahu maknanya
apa.
“Lagi pula, saat kita melihat makhluk asing
datang ke bumi, pasti kita akan langsung takut berhubungan dengan mereka.
Begitu juga dengan belanda. Dari segi fisik pastinya sudah sangat berbeda, lalu
apa yang membuat bangsa pribumi pada kala itu bisa begitu welcome sampai-sampai belanda bisa bermain peran dalam perekonomian
kita dan menguasainya?”
“Nanti kita bahas lagi… ” ucapnya dengan
tidak nyaman.
“Satu lagi saya ingin bertanya. Kenapa
garis kekuasaan Negara Indonesia itu terhitung dari sabang sampai mera-uke?
Kenapa tidak hanya pulau jawa dan sumatera saja? Kenapa harus hingga papua?
Lalu kenapa Malaysia, Thai-land, dan papua nugini tidak? Apa alasannya Soekarno
membatasi dan menentukannya segitu saja?” tanyaku de-ngan nada mendesak.
Kelas kembali sunyi.
“Mungkin,
kawan-kawan yang dari tadi tertawa bisa menjawabnya? Atau ingin menertawakan
lagi?” aku melon-tarkannya ke seisi kelas.
“…untuk pembahasan itu butuh waktu yang panjang.
Waktu kita sudah habis. Kita bahas minggu depan saja.”
“Saya hanya ingin mendengar garis besarnya
saja. Apa yang saya tanyakan pun tidak ada di buku pelajaran,” aku mendesak. Mendengar
tidak ada jawaban, aku melanjutkan celotehanku. “Kalau tidak tahu mungkin bisa
mengaku saja. Jangan ngeles mulu kaya
bajaj.”
Sontak guru itu berdiri dan wajahnya
memerah mema-nas. “KELUAR
KAMU DARI KELAS!!” perintahnya dengan bentakan yang keras.
“Tanpa disuruh
pun saya akan keluar. Bapak sendiri yang bilang waktunya sudah
habis.”
Aku keluar kelas tanpa memedulikan apa yang
ke-mudian terjadi di dalam sana. Sebenarnya waktu istirahat masih 15 menit
lagi. Aku menuju kantin dan mengeluarkan ponsel untuk melepas rasa penat. Tanpa terasa sudah pukul 09.45 WIB yang
menandakan waktu jam istirahat sesung-guhnya. Kawan-kawanku seperti biasa
langsung berjalan bergerombolan ke arah kantin menghampiriku, dan setelah
membeli perbekalan masing-masing,
kami duduk menik-matinya sambil berbincang-bincang ke sana kemari. Dengan
perlahan, akhirnya terbangun diskusi di antara mereka. Kini mereka sedang asyik
membahas persoalan ‘apa manfaatnya semua pelajaran yang kita pelajari sekarang
setelah kita lulus sekolah nanti’. Salah satu temanku mengatakan jika semuanya
tidak penting, karena pada akhirnya kita hanya akan fokus pada satu bidang
ilmu, atau paling banyak hanya tiga, itu pun jarang.
“Tapi jika aku ingin melanjutkannya di bangku
kuliah bagaimana? Contohnya aku mencintai biologi dan akan melanjutkannya
hingga Perguruan Tinggi nanti, itu bukan-nya tidak sia-sia?” kawanku yang lain
mencoba berar-gumen.
“Hanya biologi, bagaimana
dengan bahasa jepang, geo-grafi, matematika, atau sejarah? Semuanya, kan, hanya
jadi sia-sia?”
“Aku sedikit setuju, tapi,
aku tidak sepakat jika mate-matika digolongkan dalam pelajaran yang sia-sia
atau tidak berguna saat kita lulus. Begitu juga dengan bahasa inggris dan
bahasa Indonesia,” aku mencoba masuk.
“Maksudmu?” ucapnya dengan nada seperti
tidak terima jika argumennya dibantah.
“Menurutmu,
apa yang tidak penting dari matematika?”
“Kita menemukan dan menghafal rumus-rumus,
dan akhirnya kita akan melupakannya kelak,” jawabnya dengan yakin.
“Kau hanya terpaku pada manfaat rumus.
Pernah kau berpikir apa manfaat dari kita berpikir saat mengerjakan soal
matematika?”
“Seperti apa?”
“Melatih problem solving, logika, melatih nalar. Menu-rutku,
matematika itu hampir sama dengan permainan detektif. Apa itu tidak pernah
terpikirkan olehmu? Coba bandingkan orang yang pandai matematika dengan yang
tidak. Pasti mereka sangat berbanding jauh dalam penalaran akan sesuatu.”
“Tidak juga. Anak itu pandai matematika,
tapi,
dia lama dalam penalaran,” ucap kawanku sambil menunjuk seorang siswa
berkacamata tebal yang sedang asyik diusili oleh kawan-kawan sekelasnya di
pojok kantin.
“Maksudmu lemot (lemah otak)?” kawanku mengkla-rifikasi.
“Yah.
Lihat saja sendiri,” jawabnya singkat sambil mema-jukan bibirnya
seolah ingin menunjuk ke siswa yang dimak-sud.
“Menurutku itu beda. Dia hanya menghafal
rumus yang diterangkan guru. Contohnya, kau hanya
menghafal jika 1+1=2, 1+2=3, 1+3=4, dan seterusnya. Kau hanya menghafal. Tapi kau tidak pernah
tahu sebab dan esensi kenapa ‘jika satu ditambah
satu adalah dua’,
atau ‘dua
ditambah dua sama dengan empat’. Pada akhirnya,
murid yang hanya menghafal, akan kesulitan jika mendapati soal dua tambah satu,
karena dia hanya menghafal satu tambah dua.”
“Aku masih belum mengerti. Aku malah
bertambah bingung mengikuti alur pemikiranmu.”
“Bagaimana jika kau saat di bangku SD hanya
belajar matematika dengan metode menghafal? Menurutku,
sampai sekarang pun kau tidak akan tahu berapa seratus ditambah seratus.”
“Yah,
menurutku juga begitu. Jadi menurutmu aku sekarang bisa tahu seratus ditambah
seratus adalah dua ratus, itu karena aku paham kenapa angka-angka itu ‘bertambah
jika ditambahkan?’”
“Yah,
kau hanya perlu memahami sepuluh ditambah sepuluh adalah dua puluh, dan
akhirnya kau bisa mengeks-plornya sendiri
hingga kau bisa tahu dengan sendirinya jika seratus ditambah seratus adalah dua
ratus.”
“Aku mengerti.”
“Aku punya contoh lain. Kenapa kau bisa
membaca milyaran kata berbentuk huruf alphabet yang ada di dunia ini?”
“Karena aku tahu jika ‘A’
bertemu ‘B’
akan terbaca bagaimana, atau ‘M’
ketemu ‘I’
akan terbaca seperti apa?”
“Bagaimana dengan orang-orang jepang atau
cina yang belajar huruf kanji? Metode membaca huruf kanji adalah menghafal.
Karena satu huruf kanji adalah satu gambar yang memiliki makna.”
“Seperti orang mesir kuno yang mencoba
bercerita me-lalui gambar? Aku sering melihatnya di film-film bertema piramid.”
“Persis seperti itu. Bedanya huruf kanji
adalah gambar yang sudah disederhanakan.”
“Baiklah. Aku mulai paham, jadi kau tidak
perlu me-lanjutkan.”
“Kurang lebih seperti itulah matematika di
mataku. Kita jangan terpaku dengan manfaat angka-angka atau hasil jawaban dalam
setiap soalnya, tapi berpikirlah mengenai manfaat dari kita melewati proses
pengerjaannya. Bahkan, jika aku tidak salah baca,
matematika itu adalah sumber inspirasi yang utama bagi para filosof untuk
mengem-bangkan epistemologi dan metafisik. Bahkan kebanyakan
filosof seperti Plato
menjadikan matematika sebagai sumber mencari kebenaran. Sama
halnya dengan logika yang diciptakan Aristoteles.”
“Aku tadi sudah mulai paham, kini aku
bingung lagi. Apa itu epistemologi, metafisik, filosof, Plato
dan logika Arisoteles?”
ucapnya protes.
“Itulah kenapa kau menganggap matematika
itu tidak penting. Lebih baik kau tanyakan semua hal itu pada semua guru
matematika kita yang ada di sekolah ini. Jika mereka tidak bisa menjawab,
berarti kau tidak salah jika meng-anggap matematika itu tidak penting.”
“Kenapa begitu?”
“Karena mereka pun tidak tahu. Mereka hanya
mengajar matematika seperti mengajari seekor singa sirkus yang dipaksa meraung
karena cambuk. Padahal jika singa itu diberitahu esensi siapa dirinya sendiri,
tanpa disuruh pun ia pasti akan meraung. Wajar saja jika banyak murid yang
tidak tahu manfaat matematika dan pada akhirnya membencinya karena takut
cambuk.”
“Satu lagi,” kawanku yang lain mencoba
memperpanjang pembicaraan. “Bagaimana dengan manfaat bahasa Indonesia dan
bahasa Inggris?” lanjutnya.
“Bahasa inggris bukannya sudah jelas? Itu
kan, bahasa Internasional. Meskipun kita tidak
boleh memaksakan siswa untuk menyukai pelajaran itu, tapi kalau bisa, sih, harus.”
“Bahasa Indonesia―” Belum sempat kawanku menyele-saikan kalimatnya, tiba-tiba bel
berbunyi menandakan wak-tu istirahat telah usai.
“Kita lanjut nanti.” Aku berdiri dan
membuang bungkus sisa makananku ke tempat sampah. Terbenak di pikiranku,
hari ini aku seperti bukan aku. Tak biasanya aku
bisa berucap dan berargumen seperti itu. Ini aku saat SMA? Sepertinya
tidak. Pikirianku
lebih dewasa beberapa tingkat dibanding biasanya.
Aku menuju kelas duluan meninggalkan
teman-teman-ku. Sepanjang jalan aku terus memikirkan perbincang tadi. Sepertinya
aku melihat mereka seperti adik-adikku, padahal,
aku adalah yang paling muda di antara mereka.
Kakiku kini telah
menginjak anak tangga terakhir. Aku mendengar suara
gaduh yang sepertinya berasal dari dalam kelasku. Aku mempercepat langkahku
saat mendengar te-riakan histeris dari arah sana. Dan, betapa terkejutnya aku
ketika aku sudah berada di depan pintu kelas. Aku tidak yakin dengan apa yang
kusaksikan saat ini. Seisi kelas bagaikan kumpulan manusia tanpa otak, bergerak
tanpa etika dan moral. Yang membuatku tambah tidak yakin, mereka adalah
kawan-kawan kelasku. Meja dan bangku bergelimpangan ke mana-mana tak teratur.
Di awal aku disuguhkan
dengan melihat kawan-ka-wanku yang sedang berkelahi. Masing-masing
dari mereka memegang pisau di tangannya.
Mereka mencoba terus saling menusuk satu sama lain. Mereka terkesan seperti
pertujukan hiburan yang disaksikan oleh siswa-siswa dari kelas lain yang
menyoraki dan seolah memberi semangat dengan tepuk tangan riuh.
Di sudut kanan belakang kelas, aku melihat
kawan-kawanku yang sedang tergeletak seperti gembel di sudut kelas. Mereka tak
hanya laki-laki, tapi juga perempuan. Mata mereka merah dan kantung matanya
berwarna sangat hitam. Wajah mereka pucat dengan tatapan kosong dan entah apa
yang sedang dipikirkannya.
Di sekeliling mereka bergeletakan suntikan, botol minuman keras, dan botol
kecil yang sepertinya digunakan untuk menggunakan sabu. Aku yakin meskipun sangat tidak percaya,
mereka baru saja berpesta miras dan narkoba di dalam kelas.
Kakiku tak mampu melangkah dan terpaku,
tangan tak mampu bergerak, mulut pun tak mampu berucap. Aku semakin dikejutkan
ketika melihat siswi-siswi yang hampir tidak berbusana menari-nari dengan lihai
di atas meja guru memamerkan lekuk tubuhnya dengan bangga di hadapan
para guru-guru yang entah sejak kapan mereka berada di sana.
Aku menolehkan pandangan ke kanan saat mende-ngar suara rintihan. Tepat di
pandanganku, aku me-nyaksikan pasangan-pasangan yang memang aku ketahui mereka
memiliki hubungan khusus (pacaran)
tengah asyik bersetubuh tanpa rasa malu. Mereka tidak mengenakan pakaian
sehelai pun selain dasi abu-abu yang terlilit di leher mereka. Dengan susah
payah aku ingin memalingkan pandangan, namun tak bisa.
Tak jauh dari mereka,
aku melihat rintihan-rintihan tangis kawan-kawan perempuanku. Mereka
berpakaian sobek-sobek dan tetap terus menangis. Mereka mencoba
menutupi tubuhnya dengan kedua tangan. Mungkinkah mereka telah diperkosa? Tapi
oleh siapa?
Salah satu dari mereka mengambil silet dari
dalam tasnya. Aku tahu apa yang ingin dia lakukan. Aku mencoba berteriak atau
berlari ke arahnya untuk mencegahnya, namun tidak bisa. Aku hanya bisa
menyaksikan saat dia menyayat nadinya dengan wajah putus asa. ‘I’m exit,’
kalimat yang ia tulis di atas lantai dengan
lipstik sebelum ia mengakhiri hidupnya. Aku tidak kuat melihat peman-dangan
itu, aku pun memalingkan pandangan ke arah depan kembali. Namun apa itu? Aku
seperti melihat seseorang tergeletak tertutup meja kelas tepat di bawah
jendela. Aku
seperti ingin menangis ketika menyadari itu adalah teman sebangkuku. Dia
sudah tidak bernyawa dengan darah yang terus mengalir dari lubang yang berada
di pelipisnya. Aku berusaha menghampirinya. Entah
ke-napa, aku
berhasil melangkahkan kaki meskipun agak gontai. Belum sampai ke jendela tersebut,
kakiku sudah tidak bisa digerakan lagi. Aku persis berhenti di tengah kelas
bagian depan. Namun setidaknya, dari jarak sekarang, aku dapat melihat dia
dengan sedikit lebih jelas. Aku dapat melihat kertas yang ia pegang
dengan tangan kanannya, dan di tangan satunya ia
menggenggam sebuah pistol. Aku membacanya, dan itu ternyata hanyalah surat yang
diper-untukkan kepada wanita yang baru saja menolak cintanya. Apa hanya karena
hal ini ia mengakhiri hidupnya?
Entah kenapa,
aku ingin tertawa geli. Aku seperti orang gila. Aku ingin tertawa, aku ingin
menangis, aku ingin berteriak, aku ingin memarahi mereka semua. Semuanya
bercampur jadi satu. Aku baru menyadari, dari
balik meja guru, aku juga melihat dua kawan perempuanku yang
sepertinya juga sudah tidak bernyawa. Kali ini aku tidak
terkejut, mungkin karena aku sudah mulai terbiasa dengan mayat. Dengan nadi
yang tersayat di pergelangan kirinya, aku bisa tahu dengan cara apa dia
mengakhiri hidupnya. Mungkin menyayat nadi adalah cara bunuh diri yang sangat digemari
kaum hawa? Terlintas kalimat itu di otakku begitu saja.
Gadis di sebelahnya juga sudah tidak
bernyawa. Aku melihat botol hijau yang berada di atas pangkuannya. Aku pun
dapat mengetahui botol apa itu karena baunya yang sangat menyengat―racun pembunuh
serangga. Masing-masing dari mereka juga memegang kertas di tangannya. Gadis
pertama menulis, ‘aku hanya ingin perhatian kalian, Ayah-Ibu.’ Gadis
kedua menulis, ‘aku tidak kuat menanggung rasa malu ini berkepanjangan.’ Aku
tidak pernah tahu jika separah itu kehidupan pribadi mereka. Gadis pertama
hidup dari keluarga yang dapat dikatakan kaya raya. Memang dia cukup sering
bolos sekolah dan lebih suka menghabiskan waktunya untuk pergi ke pusat
perbelanjaan dengan mengajak kawan-kawannya. Entah kawan-kawannya mau bermain
dengannya memang karena tulus, atau hanya ingin berteman dengan uangnya saja.
Sekilas otakku mengatakan itu tidaklah penting. Asal hidup bergelimpang uang,
aku tidak perlu memikirkan yang lain. Persetan orangtua mau pulang atau tidak,
yang penting uang jajanku tidak boleh putus. Ingin sekali aku meneriakkan ‘BODOHH!’ kepada
mereka yang sudah mengakhiri hidupnya seperti ini.
Gadis kedua yang kutahu terlahir dari
keluarga yang sebaliknya. Kalau tidak salah, dia adalah anak yatim. Ayahnya
hanya seorang buruh pabrik. Dia pun yang kutahu sedang kesulitan membayar uang
sekolah. Apa karena hal ini dia merasa malu dan mengakhiri hidupnya? Ingin
sekali aku juga mencacinya bodoh, namun sepertinya aku yang lebih bodoh. Apa
aku terlalu asyik dengan kenikmatan hidupku sendiri sampai-sampai tidak
memikirkan keadaan kawanku ini hingga ia lebih memilih bunuh diri? Dia korban
keapatisan, dia tak sepatutnya mati.
Mataku tiba-tiba terpejam,
dan dalam gelap aku melihat orang-orang yang sedang menghambur-hamburkan uang.
Setelah itu aku melihat keluarga miskin yang sedang memakan nasi bungkus dengan
lauk kerupuk dan garam. Entah itu makan mereka yang pertama dalam hari ini,
atau dalam dua hari ini. Pentingkah? Aku dalam sisi kaya lebih suka memasang
jendela mobilku dengan warna gelap dan memutar musik keras-keras dari dalam.
Tiba-tiba,
aku tersadar karena dorongan dari kawan-kawanku yang baru saja tiba. Belum
sempat aku bertanya kepada mereka mengenai semua ini, mereka sudah berhamburan
ke segala sisi kelas meninggalkanku. Aku tercengang dengan apa yang mereka
pegang. Itu adalah palu dan linggis yang sangat besar. Mereka tanpa ragu
menghancurkan tembok, bangku, kursi serta semua fasilitas yang ada di dalam
kelas tanpa ragu. Kawanku yang tadi berdiskusi denganku, berdiri menghadap
tembok sisi belakang kelas. Dia mencoret-coret tembok dengan pilox bewarna merah dan pada akhirnya
mengencingi tembok tersebut. ‘Keuangan
yang maha Esa!’, ‘Tuhan itu Tidak ada!’, ‘Aku bercita-cita jadi presiden!!’, kata-kata yang
kubaca dengan jelas―hasil coretannya. Kalimat terakhir yang ku-baca, ‘Jangan mencoret-coret tembok!!’ Sungguh kalimat
yang munafik. Dia yang mengatakan, dia yang melakukan.
Posisi berdiriku masih seperti awal. Pintu
masuk berada di belakangku, papan tulis tepat berada tidak jauh di sebelah
kiriku, sisi belakang kelas di sebelah kananku, dan aku berdiri di
tengah-tengah sisi depan kelas. Dari sini aku dapat menyaksikan ke berbagai
arah. Kawan-kawan perempuanku yang menjadi korban pemerkosaan tiba-tiba saja
berhenti menangis dan suaranya berubah menjadi tawa kecil lirih. Mereka berdiri
dan merogok kolong meja yang ada di depan mereka masing-masing. Entahlah, aku
tidak sempat me-mikirkan bagaimana bisa mereka mendapatkan pistol dari dalam
sana, karena kini mereka telah membuatku takut. Mereka mengarahkan pistol ke
arah siswa-siswa yang tadi memperkosa mereka, dan dengan yakin mereka menekan
pelatuk berkali-kali. Satu per satu aku menyaksikan kepala mereka pecah dengan
darah yang bercipratan ke lantai dan meja. Meskipun telah mati, mereka tidak
berhenti me-nembakinya. Kali ini aku tidak ingin berteriak, aku hanya ingin
memejamkan mataku. Bibirku bergetar, begitu juga kakiku. Aku berlutut karena kakiku
sudah tidak kuat lagi menopangku berdiri. Tak lama, kepalaku
terasa sangat sakit, sekelilingku terasa berputar. Telinggaku berdenging dan
tak bisa mendengar apa pun. Bau darah, alkohol, racun serang-ga, debu, dan
sperma bercampur jadi satu membuatku ingin muntah. Semua semakin bertambah
parah dengan de-ngingan telingaku yang berubah menjadi
suara yang sangat bising. Kedua
tanganku memegang kepalaku dengan kuat dan meremasnya dengan kencang. Aku
teriak keras sekali, namun, anehnya aku tidak
mendengar apa-apa. Entah
aku yang bisu atau telingaku yang tuli?
Perlahan semuanya sedikit membaik. Aku
menunduk dan melepas remasan kepalaku. Kemudian,
aku membuka mata dengan hati-hati dalam posisi masih tetap menunduk. Sepasang
kaki terlihat samar-samar di hadapanku. Saat pandanganku sudah mulai jelas, aku
melihat kaki tersebut dengan lebih jelas. Kaki itu mengenakan sepatu
kecil berwarna biru levi’s dengan
lubang tali yang sedikit dan kaus kaki berwarna
putih bergambar mickey mouse. Pelan-pelan
aku memandang ke atas untuk mengetahui siapa gadis
perempuan yang berdiri di depanku ini. Aku merasa tenang ketika kuketahui dia
adalah kawanku yang tadi pagi bersamaku di koridor. Dia
melepas senyum kepadaku, namun bersamaan dengan itu, angin bertiup dengan kencang membanting
pintu dan kaca jendela hingga pecah. Angin berputar-putar di
dalam ruang kelas menerbangkan apa pun. Aku
mulai panik dan merasa takut saat tubuhku terangkat perlahan dari lantai. Aku
melihat sekeliling, sepertinya sudah sepi dan hanya ada aku dan dia saja di
ruangan ini. Sungguh tidak normal apa yang aku alami sekarang, dan tak sempat
aku berpikir, sepertinya ada yang mulai mencekik leherku. Aku berusaha meronta
untuk melawan sesuatu yang tak jelas ini. Rambut hitam gadis itu
bertebaran tertiup angin, sebagian ada yang menutupi wajahnya yang masih tersenyum. Dia mengangkat tangan kanannya dan menghempaskannya ke
depan―ke arahku. Tubuhku
terlempar ke belakang, keluar melewati pintu, punggungku menabrak dinding
koridor, dan terjatuh ke tengah lapangan. Aku tersadarkan ketika mendapati
tubuhku sudah tergeletak di bawah kasur.
“Hanya mimpi,” kalimat pertamaku di pagi
ini.[]
Chapter
2
Atita,
Wartamana, Nagata
SEPERTI biasa, aku meraih
ponsel untuk mengecek sudah pukul berapa sekarang. Aku
menaruhnya kembali ketika mengetahui ponselku telah kehabisan daya karena digu-nakan memutar
musik sepanjang malam. Aku
duduk sebelum akhirnya berdiri dan merapikan buku-bukuku yang belum sempat
kurapikan tadi malam, sekaligus men-charge
ponselku. Mimpi
itu masih terniang dipikiranku. Kenapa akhir-akhir ini aku sering
sekali memimpikan masa lalu?
Aku segera mandi membersihkan badan dan
setelah itu sarapan sambil menonton televisi. Saat sudah pukul 12
lewat, aku baru ingat jika harus membeli buku catatan. Aku mempersiapkan diri
dan mengambil dompet; dengan mengendarai motor aku pergi. Udara di luar masih
terasa beku akibat hujan semalam, jalanan pun masih terlihat lembab. Sepertinya
tadi pagi hujan, dan aku tidak mengetahuinya karena aku bangun pada hampir
pukul 11 siang.
Di sepanjang jalan aku masih memikirkan
mimpi tadi. Aku
seolah tidak bisa lepas untuk memikirkannya. “Itu hanya masa
laluku,” ucapku dalam hati. Aku sekarang adalah
masa depan dari aku pada mimpi itu―aku yang masih belum berusia genap 15 tahun.
Akhirnya tiba juga aku di toko buku yang
aku tuju. Aku
membuku pintu kaca dan langsung disambut dengan rentetan buku-buku tebal dengan
tema keseluruhan adalah ujian nasional. Warna-warnanya
yang sangat beragam menjadi ciri khas buku-buku tersebut. Judul di antaranya
adalah; Lulus UN Nilai Sempurna, Suskes UN dan Test Perguruan Tinggi, Kisi-kisi UN Beserta Jawaban, dan semua
judul yang tidak jauh dari tema UN.
“Ada yang bisa kami bantu?” sapa seorang
wanita yang mungkin lebih tua sedikit dariku.
“Oh yah,
Ada buku catatan, Kak?”
“Sebentar, yah,” ucapnya tersenyum ramah dan
pergi mengambil pesananku.
Aku melihat ke dalam lemari etalase kaca.
Aku me-nulusuri barang-barang yang ada di dalam sana dengan saksama hingga
mataku tertarik untuk melihat sebuah buku catatan berukuran sedang dengan
sampul berwarna hitam.
“Maaf, Dek,
menunggu lama,”
sapa pegawai tadi dengan menjajakan beberapa buku catatan
yang dia bawa.
“Bisa lihat
yang ini, Kak?”
ucapku sambil menunjuk buku catatan yang menarik perhatianku tanpa memedulikan
buku-buku yang dibawa olehnya.
“Yang mana?” ucapnya sambil membuka etalase
dari sisi lain dariku.
“Yang berwarna hitam. Ada tulisan ‘atita’ di sampulnya.”
Beberapa detik kemudian,
akhirnya pegawai itu
dapat meraih buku yang kumaksud. Dia memberikannya
padaku. Aku memperhatikannya dengan takjub. Aku melihat di
setiap pinggir buku tersebut terhiasi dengan jahitan yang menurutku sangat
bergaya kuno karena benangnya seperti terbuat dari dedaunan kering. Aku
meraba tulisan ‘atita’ pada sampulnya. Aku
membaliknya dan baru menyadari jika ada tulisan juga di belakang sampul buku
terse-but―‘nagata’. Pantas saja kakak ini
tampak kebingungan tadi―aku memberi klu dengan tulisan atita, namun dari sisinya tersebut,
tulisan yang tertera adalah nagata.
“Saya ambil yang ini.” Aku menyerahkan buku
tersebut dan mengikuti wanita itu ke kasir.
“Tiga puluh ribu,” ucap kasir persis dengan
angka yang terpampang di layar kecil mesin kasir. Aku mengeluarkan
uang pas dan pergi meninggalkan toko membawa barang yang baru saja aku beli.
Aku tidak langsung pulang, melainkan menuju
atau mampir sejenak ke tempat biasa aku berkumpul dengan kawan-kawanku. Letaknya
tidak jauh dari rumahku, hanya berjarak satu jalan. Kami
biasa menyebutnya basecamp, mes-kipun
menurutku kata tersebut sangat tidak tepat untuk menjuluki sebuah warung yang
beralih fungsi menjadi tongkrongan.
Sesampainya di sana,
aku bertemu dengan beberapa kawan-kawanku. Beberapa adalah kawan-kawan sewaktu
SMA, beberapa lagi ada yang berasal dari sekolah lain. Me-mang pada awalnya
tempat ini hanya diduduki oleh kawan-kawan satu SMA-ku saja, namun karena pengaruh
‘glo-balisasi’ akhirnya
berubah menjadi ‘tongkrongan
universal’.
Aku, Lian, dan Ardian adalah pelopor sekaligus pembentuk tempat ini. Katakanlah
jika Indonesia memiliki Soekarno, Hatta, dan Syahrir sebagai tiga serangkainya,
jika di tempat ini, mereka adalah kita.
Kehidupan masa remaja mungkin sudah kami
tekadkan untuk dihabiskan di sini. Tidak pernah ada
pembeda di antara kami meskipun berlatar belakang berbeda-beda. Sebagian
dari kami adalah mahasiswa―termasuk
aku, se-bagian adalah pekerja, dan sebagian adalah ‘penunggu
nasib’.
Sebagian dari kami―termasuk aku―berdarah jawa, sebagian berdarah
bugis, sebagian berdarah batak, sebagian berdarah sunda, sebagian berdarah
ambon, dan lain se-bagainya yang tidak aku ketahui. Dalam perbedaan agama pun
kami tidak pernah ada masalah.
Menurut Ernest Renan dalam buku Pidato Satu
Juni Soekarno, bangsa yaitu satu
gerombolan manusia yang mau bersatu, yang merasa dirinya bersatu. Demikian aku meng-kaitkan
dan menafsirkan, Nasionalisme adalah rasa kecin-taan dan saling memiliki dalam
suatu dan satu bangsa. Aku Jawa, dan aku (berbangsa) Indonesia, aku mencintai
mereka yang bersuku lain selain jawa di Indonesia. Aku Islam, dan aku
(berbangsa) Indonesia, aku mencintai mereka yang beragama lain selain Islam di
Indonesia.
Ada yang sering menjadi pertanyaan konyol
bagiku. Jika suatu dosa dilakukan di tongkrongan
ini, apa aku turut bertanggung jawab akan hal itu? Aku takut saja jika
tempat ini menjadi ladang dosa, dan aku, Lian, dan Adrian adalah penanam saham
terbesar di sini. Aku
tidak ingin mereka menjadi ‘generasi perusak’. Sudah banyak
generasi tua yang kacau, jangan sampai generasiku menjadi penerusnya.
Sebagaimana budaya yang sudah mendarah
daging, aku bersalaman dengan mereka satu per satu. Kami
meng-habiskan sore ini dengan bermain gitar dan bersenda gurau. Saat
matahari mulai terbenam, aku pun berpamitan untuk segera pulang. Sesampainya
di rumah, aku langsung menaruh buku baruku di atas kasur dan mengambil novel
yang belum selesai-selesai aku baca selama hampir dua bulan ini. Aku
berbaring dan mulai membaca melanjutkan bacaan semalam. Jumlah
halaman novel filsafat dengan judul Dunia Sophie ini adalah 798 lembar. Sophie
adalah gadis yang belum genap berusia 15 tahun yang sangat memiliki rasa
penasaraan yang tinggi. Pada suatu hari saat ia baru pulang dari sekolahnya, ia
mendapat surat kecil dengan tulisan, ‘siapa aku?, dari mana datangnya
dunia?’ Pertanyaan-pertanyaan itulah yang
mengawali pelajaran filsafatnya. Kini aku baru
sampai pada halaman 540 ketika Sophie―tokoh
utama―tengah berbincang dengan
Alber-to―gurunya―mengenai tokoh-tokoh terkemuka dan
berpe-ngaruh pada zaman romantisisme yang berlangsung pada abad ke-18. Aku
baru mengetahui jika di zaman inilah seni musik dan sastra mulai berkembang. Salah
satu seniman musik pada zaman itu ialah Beethoven, dan salah satu novelis yang
salah satu karyanya mampu meningkatkan angka bunuh diri setelah novel itu di-terbitkan
adalah Goethe. Novel
yang berjudul The Sorrows of Young
Werther menceritakan tentang seorang pemuda bernama Werther yang bunuh diri
dengan cara menembak kepalanya sendiri karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Mungkin
novel karya Goethe tersebut mengajari bagi siapa saja yang membacanya jika
cinta itu adalah segalanya. Jika cinta kita ditolak, tidak ada
gunanya kita hidup.
Seketika, aku lagi-lagi teringat dengan
mimpiku. Apa
yang dilakukan Werther sama persis dengan apa yang dilakukan kawan sebangkuku
di dalam mimpi. Aku meng-hentikan kegiatan membacaku dan memejamkan mata untuk
mulai berfantasi mengingatnya kembali. Tiba-tiba teriakan
suara adik-adikku yang sedang bercanda menge-jutkan dan membuatku kembali ke
dunia nyata. Aku
me-nutup novelku dan memutuskan untuk melanjutkannya di kamar atas. Rumahku
berlantai dua, namun di lantai tersebut hanya ada satu kamar memanjang dengan
balkon mengahadap ke utara. Aku sudah lama sekali tidak ke atas
sana semenjak kuliah. Ini
sebenarnya adalah kamar kakakku yang sudah diwarisi kepadaku, namun karena
kakakku sudah tidak lagi meng-kost,
akhirnya dia menempatinya lagi bersamaku. Meskipun dia terkesan otoriter, namun
dia tidak pernah pelit saat barang-barang kepunyaannya aku guna-kan, seperti
Komputer, TV LCD, sweter, Kemeja,
sepatu, celana, baju, kaos kaki, tas, pasta gigi, obat kumur, bahkan
barang-barang dia yang kurasa sudah tidak ia perlukan lagi―meskipun tidak pernah kutanyakan
sebelumnya―se-ring aku ambil,
seperti buku binder, flashdisk, dan semua yang tidak bisa
kusebutkan satu per satu.
Aku membawa buku catatan, novel, dan ponsel
ke atas. Sesampainya di sana, aku membuka pintu, melempar semua bawaanku ke
atas kasur dan menyalakan lampu. Aku sengaja menutup semua pintu dan jendela
agar tidak terdengar suara dari luar sehingga aku dapat lebih fokus dalam
menulis. Aku merebahkan tubuhku di atas kasur dan meraih novelku.
Tiba-tiba ponselku berbunyi dan membuatku
sangat jengkel. Selalu saja ada gangguan saat aku ingin membaca. Awalnya aku
tidak menghiraukannya, namun ponselku berbunyi kembali. Akhirnya
mau tidak mau aku menge-ceknya.
From: Private
Hubungi balik. Cepat.
Ini penting bagi kita.
“Dasar bodoh. Tidak penting
sekali,” gerutuku ketika selesai membaca pesan itu.
Aku kembali melanjutkan bacaanku dan tak
ada semenit, lantunan lagu Rossa yang aku gunakan sebagai nada dering berbunyi.
Aku meraih ponselku untuk mengetahui siapa yang menghubungi. ‘Nomor tidak diketahui’, tulisan yang
tertera di layar. Dengan perasaan penuh penasaraan aku menekan tombol terima dan menjawab panggilan tersebut.
“Assalamualaikum. Hallo?” aku membuka pembicaraan.
Kurang lebih 30 detik tidak ada jawaban
sampai aku menanyakankannya sekali lagi.
“Hallo?”
“Ii…inii…dengan siapa?” Terdengar
suara pria dengan nada yang bergetar.
“Wangsa. Ini dengan siapa?” Aku
mulai penasaran, na-mun lagi-lagi pembicaraan terdiam beberapa detik.
“Kau sekarang berada di mana?” pertanyaanku
dibalas dengan pertanyaan. Kali ini suaranya sudah terdengar
tidak bergetar.
“Di rumah. Ini siapa?” aku kembali
menanyakan perta-nyaan yang dari tadi belum ia jawab. Lama-kelamaan aku semakin
bertambah penasaraan.
“Mmm…
kau akan tahu siapa aku. Tapi tidak sekarang.”
“Apa maksudmu?” ucapku protes.
Aku merasa suara seseorang yang sedang
meneleponku ini seperti tidak terdengar asing bagiku.
“Aku awalnya takut dan tidak percaya saat
mendengar suaramu, tapi kini aku seperti ingin tertawa.”
“…kau sungguh tidak jelas. Apa maksud
ucapanmu?!”
Aku mulai kesal.
“Aku mengurungkan niatku. Tadinya
aku ingin menga-takan semuanya. Namun hal itu aku urungkan karena
sesuatu.”
“Aku akan mematikan telepon ini,” ancamku.
“Sebentar. Aku pastikan kau akan berterima
kasih padaku nanti. Baiklah, aku tidak akan mengatakan apa-apa, tapi satu hal
yang harus kau tahu…”
Aku tidak mengatakan apa-apa sampai ia
melanjutkan perkataannya. Kelamaan aku mulai menjadi benci dengan cara orang
ini berucap. Menurutku ucapannya sangat ber-tele-tele dan sok diindah-indahkan.
“…kau selalu menulis atau mencatat apa yang
kau lakukan di masa lampau, tapi bagaimana jika sebenarnya kau hanya melakukan
apa yang sudah kau tulis di masa depan?” lanjutnya. Aku terdiam mendengar
kata-katanya. Bagaimana
dia bisa tahu kalau aku suka mencatat ke-seharianku, padahal aku tidak pernah
menceritakan kebia-saanku ini pada siapa pun.
“Kau masih di sana?” tanyanya lagi.
“Yah.”
“Cermati setiap dirimu di setiap detik.”
“Berkatalah yang jelas. Jangan
seolah-olah kau ini se-orang penyair!” bentakku.
“Kau harus memikirkannya seperti aku dulu. Oh yah. Apa dia sudah hadir?”
“Seperti kau dulu? Apa
maksudmu? Sebenarnya siapa kau ini?”
Beberapa detik pria itu terdiam sebelum
akhirnya me-ngatakan perkataan terakhirnya.
“Aku adalah...”
Telepon terputus. Aku
yakin dia memang sengaja me-mutusnya. Siapa pria itu pun
aku belum tahu, tapi dia sudah membuatku memikirkan segala ucapan-ucapannya
yang menjengkelkan. ‘Kau selalu menulis atau mencatat apa yang kau lakukan
di masa lampau, tapi bagaimana jika sebenarnya kau hanya melakukan apa yang
sudah kau tulis di masa depan?’. Aku
jadi memikirkan kalimat tersebut.
“Jika aku hanya menulis apa yang sudah aku
tulis di masa depan, dengan kata lain, aku di masa lalu hanya melakukan apa
yang sudah aku catat di buku catatanku ini,”
aku
berbincang dengan diriku sendiri. Semakin aku pikirkan, aku semakin bingung.
“Tidak penting!” gerutuku mengakhiri
memikirkan hal tersebut.
Aku mengambil buku catatan baruku dan
membukanya untuk mulai menulis catatan harianku. Saat
menulis, aku malah menuangkan hal-hal tadi ke setiap
tulisan-tulisan yang aku goreskan. Dengan kata lain, aku masih me-mikirkannya.
23 Nov 2014 – 20.01 WIB
...aku
di masa depan sudah mengetahui apa yang aku lakukan di masa ini. Karena aku
adalah masa lalunya. Saat Aku di masa depan mencatat apa yang telah
dilakukannya, berarti aku memang melakukan apa yang sudah ia catat. Dan apa aku
bisa mengubah masa depanku? Apa dia tidak terkesan seperti Tuhan bagiku?
Aku di masa kini pun
adalah masa depan bagi aku di masa lalu dulu. Berarti aku di masa lalu dengan
kata lain hanya melakukan apa yang sudah aku tulis di buku catatan ini. Bahkan
aku saat beberapa jam lalu hanya melakukan apa yang aku tulis sekarang. Karena
aku adalah masa depannya. Dan dia masa laluku...
Tak lama kepalaku mulai pening. Semakin aku
pikirkan, aku semakin bingung dan pikiranku berputar-putar tak karuan. Aku
seperti terlepas dari tubuhku sendiri, aku seperti tak seharusnya memikirkan
apa yang tidak harus kupikirkan. Aku mulai memejamkan mata, tak lama aku
tertidur.
…
…
…
“Apa dia sudah
hadir…?”
“…apa dia sudah
hadir?”
…
“Cermati setiap
dirimu di setiap detik.”
“…apa dia sudah
hadir?”, “Cermati setiap dirimu di setiap detik”, “aku adalah...”,
“aku adalah...”, “aku...”
“Aku adalah...”
…
“Aku...”
“Aku…”
“Adalah…”
“Kau…”
…
“Kau…”
…………
“DIAAAMMM!!”
…
…
“Siapa yang kau suruh diam?”
“…”
“Aku?”
“Apa?”
“…”
“Siapa kau?”
“Aku adalah pikiranmu.”
“…”
Aku tidak yakin. Apa
aku sudah gila atau berada di alam lain? Aku mencoba berpikir jernih dan
kembali ke dunia normal, namun, tetap saja aku masih dapat melihat-nya. Aku melihat diriku
sendiri di depanku. Aku bukan sedang bercermin bukan?
Persis seperti diriku. Dia duduk di sebelah kananku dengan tatapan
bersahabat ingin memperkenalkan diri. Aku terpana tidak
percaya melihat-nya. Aku
segera duduk dan menjaga jarak dengan-nya. Ada apa ini? Siapa sebenarnya dia? Apa
yang sebenarnya terjadi? Aku bertanya kepada diriku sendiri.
“Apa aku bermimpi lagi?” gumamku dalam
hati.
“Tidak. Kau sedang tidak
bermimpi,” ucap-nya yang membuatku
semakin tercengang. Bagaimana bisa dia
men-jawab apa yang aku ucapkan dalam hati? Apa dia bisa membaca pikiranku? Tapi tunggu, dia itu adalah aku. Apa berarti dia juga memikirkan apa yang aku
pikirkan?
“Hampir persis seperti yang kau pikirkan,”
cerminan
diriku melanjutkan ucapan-nya. Tapi,
anehnya aku tidak melihat dia
mencuap-cuapkan mulut-nya. Kenapa
aku dapat berkomunikasi dengan-nya? Seakan-akan
aku berbicara de-ngan-nya dengan bahasa
kalbu.
“Aku bukan kau, karena aku tercipta olehmu
sendiri. Dan
aku tidak nyata. Aku
hanya hidup di pikiranmu,” lanjut-nya.
Aku semakin yakin jika aku sudah gila. Tapi
jika aku sudah gila, kenapa aku masih bisa berpikir dan mencoba mencari
kesadaran? Aku
yang menyimpulkan, aku sendiri pun yang menyangkal. Lama-kelamaan
aku lelah memi-kirkannya dan mulai pasrah. Aku membiarkannya
saja diriku terbawa oleh pikiranku sendiri.
“Baiklah. Sebenarnya siapa
kau? Dari
mana dirimu berasal?” aku mengucapkannya dengan acuh.
“Aku adalah yang hidup di dalam pikiranmu.”
“Dengarlah, aku
seharian ini sudah banyak mendapati hal-hal aneh. Bisakah kau menjelaskannya
dengan lebih sederhana?” ucapku sewot.
“Baiklah. Aku akan membuat kau menjawab
perta-nyaanmu sendiri. Pernahkah kau bercerita mengenai ma-salahmu atau membagi
apa yang tengah kau pikirkan kepada orang lain?”
“Pernah,” jawabku yakin.
“Benarkah? Mungkin itu hanya
apa yang kau rasakan, bukan pikirkan.”
“Apa bedanya?”
“Lihat buku catatanmu.Semua gagasan
pikiranmu selalu kau pikirkan sendiri. Kau merumuskannya sendiri, kau me-nulisnya
sendiri, kau mempertanyakan sendiri, kau meng-kritiknya sendiri, kau
membenarkannya sendiri, kau me―”
“Oke oke. Tidak perlu
diperpanjang.”
“Singkatnya kau menjadikan dirimu sendiri
sebagai kawan diskusi.”
“Baiklah aku bisa membenarkan semua hal
itu. Tapi
hal itu belum menjelaskan siapa sebenarnya kau dan dari mana kau berasal.”
“Aku adalah kawan diskusimu. Aku
hidup dalam pikiranmu. Kau
selama ini selalu bertanya pada dirimu sendiri, seolah-olah kau berbincang dan
mengajak dirimu sendiri berbicara. Karena hal itulah
aku terbentuk.”
“Bisa kau jelaskan lebih.”
“Lama-kelamaan aku menjadi satu dan
memiliki bentuk di dalam pikiranmu.”
“Kenapa begitu?”
“Karena kau terlalu memaksa. Beruntungnya
kau tidak gila.”
“Lalu kenapa aku bisa melihatmu. Dan
kenapa kau keluar dari pikiranku?”
“Kau terlalu banyak berfantasi hari ini,
sampai-sampai kau terlalu berpikir pendek dalam menarik kesimpulan,” ucap-nya sambil tersenyum
kecil. “Kenapa
kau menyim-pulkan aku yang keluar dari pikiranmu? Kenapa kau tidak menyimpulkan
jika kau sendirilah yang masuk ke dalam pikiranmu? Masuk
ke tempat di mana aku tinggal,” lanjut-nya.
“Bagaimana aku bisa meyakini ucapanmu itu?”
“Saat kau berpikir keras memikirkan sesuatu
dengan memejamkan mata, keningmu akan merasakan sesuatu. Semacam
di situ adalah titik dari fokusmu. Setelah itu matamu seperti masuk ke dalam,
dan tiba-tiba kau seperti merasuk ke dalam alam lain. Semakin kau berusaha
keras berpikir dengan fokus, kau akan semakin terbawa. Pikir-anmu seolah
mengawang-ngawang. Sebenarnya
yang meng-awang-ngawang bukan pikiranmu, tapi kesadaranmu. Kau
sudah mulai berada di alam pikirmu di saat-saat seperti itu, namun kebanyakan
manusia tidak berani melanjutkannya dan langsung membuka matanya.”
Aku berpikir sejenak
untuk mencerna ucapannya se-belum akhirnya menanggapinya. “Jadi kau hidup di
dalam tubuhku? Atau kita hidup bersama di dalam tubuh ini?”
“Tidak tidak, bukan
seperti itu. Tubuhmu murni adalah milikmu. Aku hanya hidup di
dalam pikiranmu. Dengan kata lain, aku hanya bisa tahu apa yang kau pikirkan
saja, bukan apa yang kau rasakan.”
“Aku belum paham sepenuhnya.”
“Kenapa kau ingin sekali paham? Aku ada
atau tidak ada, itu kan, tidak penting. Tak semua apa yang ada dan terjadi di
dunia ini dapat kau ketahui.”
“Apa dengan kata lain kau ingin bilang
kalau aku harus menerima ke-ada-anmu begitu saja?”
“Kenapa tidak?”
“Terserah kau saja.”
“Apa kau merasa pening atau merasakan ada
sesuatu yang terjadi di keningmu saat dari tadi kau berpikir keras memikirkan
semua ini?”
“Hmm. Tidak.” Aku baru menyadari
hal itu.
“Apa itu menandakan jika kau tidak berpikir?”
“Omong kosong!”
“Hahahahaha, itu
sekiranya dapat menjelaskan semua-nya sekarang.”
“Terserah kau saja.”
Aku beranjak dan pergi ke kamar mandi. Saat
aku menyusuri tangga, aku ingin sekali membuang pikiran-pikiran bodoh dan semua
yang aku alami di hari ini, namun tidak bisa. Terbenak di
pikiranku, aku ingin memutuskan untuk hidup normal dengan dunia yang
nyata-nyata saja. Sepertinya
aku sudah terlalu jauh dengan duniaku sendiri. Tak lama, saat aku
menoleh ke belakang, aku melihat dia
mengikutiku.
“Kenapa kau mengikuti?!” aku membentak-nya.
“Kau ini pelupa. Sudah
kubilang kalau aku ini hidup di pikiranmu. Apa yang aku
lakukan semuanya karena kau memikirkan dan memikirkannya.”
Sial. Benar juga apa yang dia ucapkan. Aku dari tadi memang masih
memikirkan hal itu.
“Ahh, diam
kau!” aku
yang tidak bisa lagi berargumen hanya dapat marah tidak jelas.
“Sepertinya kau harus mengendalikan diri.
Apa kau ingin terlihat seperti orang gila dengan marah-marah sendiri seperti
ini?”
“Persetan!” gerutuku dalam hati.
Aku memasuki kamar mandi dan aku masih
melihat dia mengikutiku.
“Apa kau benar-benar ingin mengikutiku
masuk sampai dalam sini?” aku berbicara pelan sambil menunjuk ke dalam kamar
mandi dengan tangan kiriku.
“Pikirkan aku menjauh atau menunggumu di
luar. Maka aku akan melakukan itu,” jawab-nya enteng.
“Yang benar saja!” Meskipun terkesan bodoh, aku yang tidak memiliki pilihan lain akhirnya
mengikuti saran itu. Cukup lama aku mencoba, ternyata tak semudah yang aku
pikirkan. Setelah
hampir delapan menitan, dia pun berjalan
mundur dan berdiri agak jauh dari kamar mandi.
“Selamat. Kau berhasil.”
Entah kenapa aku merasa senang. Aku
keluar kamar mandi dan kembali ke kamar atas. Awalnya dia tidak mengikutiku, namun saat aku
memikirkan dia mengikutiku, akhirnya dia berjalan menelusuri
langkah-langkahku. Se-sampainya di atas, aku menyuruhnya duduk dan tak lama ia duduk. Sepertinya aku mulai mahir
akan hal ini. Kali ini aku benar-benar tidak peduli dengan kesadaran, atau apa
itu batas normal. Aku sudah terlanjur terjebur, aku ingin melanjutkannya. Ada
beberapa yang harus kudiskusikan dengan pikiranku sendiri, atau dengan dia, kurasa sama saja.[]
Chapter
3
Aku, Matahari, dan
Bayangan
“SEPERTINYA kau ingin
mengajakku berdiskusi?”
“Apa aku bodoh jika bertanya ‘kau tahu dari
mana?’”
“Hahahahaha, kau
sudah mulai kembali. Apa
kau sudah memikirkan matang-matang apa yang ingin kau pikirkan?”
“Aku dapat memikirkan apa pun yang kumau. Memang,
apa salahnya dari berpikir?”
Dia tersenyum. “Baiklah, apa
yang ingin kau disku-sikan?”
“Sebelumnya aku ingin bertanya, jika kau
adalah bagian dari dalam pikiranku, dan kau bergerak sesuai apa yang aku
pikirkan, tapi kenapa aku merasa kau seolah bergerak tanpa semauku?”
“Itulah kelemahan manusia. Terkadang sulit
sekali bagi mereka untuk mengendalikan pikirannya sendiri, jadi, mungkin kau
pada awalnya akan sangat kesulitan dalam mengendalikan aku. Tapi
setidaknya, kau bukanlah manusia yang tidak mau memanfaatkan pikirannya.”
Aku diam beberapa menit sebelum mengajukan
perta-nyaan kembali.
“Apa bedanya aku berdiskusi sendiri dengan
diriku, dan aku berdiskusi dengan dirimu?” tanyaku lagi.
“Tidak ada. Itu sama saja.”
“Kenapa seperti itu?”
“Aku pun tidak tahu.”
“Baru kali ini kau tidak bisa menjawab
pertanyaanku.”
“Karena aku hanya memikirkan apa yang kau
pikirkan atau pernah kau pikirkan. Atau mengembangkan apa yang pernah kau
pikirkan dengan cara menggabung-gabung-kannya, menganalogikannya,
atau lain sebagainya. Ingatlah, dalam hal pikiran, aku adalah kau, kau adalah
aku.”
“Menggabung-gabungkan?”
“Contohnya seperti kau pernah memikirkan
‘biru’, dan sekarang kau sedang memikirkan ‘kuning’. Maka
kau bisa memikirkan ‘hijau’. Itu pun jika kau mempunyai penalaran
dalam berpikir.”
“Tidak jauh beda dengan konsepsi matematika
yang aku diskusikan dengan kawan-kawan SMA-ku di dalam mim-pi.”
Tiba-tiba
aku ingat kembali akan mimpiku itu. “Se-bentar. Apa kau tahu soal
mimpiku?”
“Apa yang kau ketahui pasti aku pun tahu,
begitu juga sebaliknya. Kalau kau tidak tahu akan suatu hal dan mempertanyakan
hal itu padaku, kurasa itu sia-sia saja, karena aku pun tidak mengetahuinya.
Aku hanya bisa membantumu menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan cara
berdiskusi.”
“Kalau begitu kita diskusikan itu!” ajakku
bersemangat.
“Aku tidak yakin. Mimpimu
itu tidak seratus persen berasal dari fungsi kerja otak, tapi hatimu pun ikut
mempengaruhinya. Bahkan,
mungkin itu lebih dominan adalah hasil fungsi kerja hati.”
“Apa dengan kata lain, aku sangat memiliki
hasrat untuk kembali ke masa itu?”
“Yah, karena aku
perhatikan kau begitu berhasrat ingin membahas itu, sampai-sampai membawanya ke
dalam pikiranmu. Aku
malas membahas perkara hati, aku tidak bisa membantumu,” jawab-nya protes.
“Maaf-maaf. Aku sekilas
berpikir kau ini seperti terminator.”
Entah kenapa aku meminta maaf? Apa
aku mulai menganggapnya ‘ada’ dan tidak menganggapnya asing lagi?
“Apa kau tidak memikirkannya?” dia memulainya lagi.
“Tentang apa?”
“Dari tadi kita berdiskusi sepanjang ini,
sebenarnya di antara kita siapa yang sedang mengajukan pertanyaan dan siapa
yang sedang menjawab pertanyaan? Bukankah kita sama
saja.”
“Mm…”
aku menggaruk kepala karena aku akui aku memang baru
menyadari hal itu.
Tak lama,
aku menjawab dengan jawaban seadaanya yang terlintas di otakku. “Sepertinya
sama saja. Kau
yang bilang sendiri ‘dalam hal pikiran, aku adalah kau, kau adalah aku.’
Sebenarnya pun kau ini, kan, tidak nyata. Aku sebenarnya hanya sedang berbicara
sendiri.”
“Kurasa begitu. Jadi
menurutmu kita tidak perlu memperdebatkan siapa yang bertanya, siapa yang men-jawab,
atau siapa yang mengkritik di antara kita?”
“Yah, benar. Kurasa
kata itu tepat.”
“Kata yang mana?”
“Kita. Kau
dan aku adalah satu. Berarti
kita adalah kita.”
“Seperti sebuah sajak yang pernah kita
baca. Buku
kumpulan sajak-sajak Sapardi yang kau pinjam dari adik kelasmu di kampus, kau
ingat?”
“Aku sedikit lupa. Tapi,
aku sepertinya menulisnya.”
Secara impulsif aku langsung membuka buku
catatanku tentang kumpulan kata-kata indah.
Waktu
berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikuti di belakang.
Aku
berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang me-manjang di depan.
Aku
dan matahari tidak pernah bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah
menciptakan bayang-bayang.
Aku
dan bayang-bayang tidak pernah bertengkar tentang siapa di antara kami yang
harus berjalan di depan. - Sapardi
“Apa menurutmu itu sama?”
“Entahlah. Kurasa kita tidak
perlu bertengkar. Begitu
yang aku maknai dari sajak tersebut.”
“Oh yah,”
aku tersadar akan sesuatu. “Kau bilang kau bisa melakukan apa pun yang aku
pikirkan. Benar
begitu?” lanjutku.
“Begitulah.”
“Bisakah kau berubah menjadi gadis cantik
jika aku memikirkannya?”
“Kau sungguh mesum!”
“Tidak seperti itu. Bukankah akan lebih
menyenangkan jika yang menemaniku berdiskusi adalah wanita? Kurasa kau juga
berpikir seperti itu,” aku mengelak.
“Tidak. Aku tidak
memikirkan itu karena kau pun tidak memikirkannya. Saat
kau berbicara seperti itu, yang berbicara adalah nafsumu, bukan akalmu. Sepertinya
kau harus menjaga otakmu agar tidak terinterpensi oleh hal-hal semacam itu.”
Aku diam karena malu.
“Kenapa kau diam?”
“Mm...tidak.”
“Sudahlah, lagi
pula apa serunya berdiskusi dengan wanita? Mereka terlalu
menggunakan perasaan.”
“Yah,” aku
meng-iya-kannya karena apa yang dia katakan
adalah apa yang aku pikirkan juga.
“Saat kita mengalahkannya dalam debat, dia
pasti akan terbawa perasaan dan akhirnya menyimpan dendam atau membenci kita.
Tapi jika kita mengalah, mereka akan makin menjadi-jadi.”
“Aku tidak ingin membahas wanita. Kurasa
hal itu tidak menyenangkan,” aku mengakhiri pembicaraan.
Aku mengambil buku catatan dan menulis
semua hal yang aku alami saat ini, tak lupa juga menceritakan tentang dia. Kurasa jika ada seseorang yang
membaca catatanku ini, dia akan langsung menganggapku aneh. Aku mengecek jam,
kini sudah pukul 23.30 WIB lewat.
“Apa aku ini gila?” tiba-tiba aku
melontarkan perta-nyaan.
“Karena berbicara denganku?”
“Yah.”
“Coba saja kau menceritakan tentangku
kepada ibumu atau kawan-kawanmu. Kau akan tahu
jawabannya sendiri.”
“Tentu mereka
akan bilang
aku gila.”
“Lagi pula apa yang membuatmu yakin jika
mereka yang ada di sekelilingmu itu benar-benar ada?”
“Apa kita sedang membahas pemikiran bapak
filsafat modern―Descartes?”
“Yah, kurasa. Descrates
mengatakan, ‘aku berpikir maka aku ada.’”
“Bahaslah,” perintahku.
“Oke. Baiklah.” Pembahasan
pun terjadi kembali di antara kita. “Bagaimana jadinya
jika sebenarnya sosok yang kau anggap ibu, ayah, adik atau kakakmu itu
sebenarnya tidak pernah ada?” lanjut-nya.
“Atau dengan kata lain, yang dapat melihat
mereka semua hanya aku seorang saja. Saat aku berinteraksi dengan mereka,
sebenarnya aku hanya sedang berinteraksi dengan ‘teman
khayalanku’, dan orang-orang yang melihatku pun pasti akan menganggap
aku gila.”
“Dan bagaimana kau bisa beranggapan jika
orang-orang yang menganggapmu gila itu sebenarnya ada? Bisa
jadi mereka juga sama seperti keluargamu yang hanya ‘kha-yalan’ belaka.”
“Lalu, berarti aku hanya sedang hidup
sendiri di dunia ini dengan pikiran-pikiranku sendiri.”
“Sungguh sangat menyedihkan jika semua itu
adalah benar.”
Saat dia
mengucapkan kata ‘menyedihkan’, sepertinya agak terdengar aneh. Bukankah
dia tidak dapat merasakan apa-apa? Bagaimana
dia tahu bagaimana rasanya bersedih?
“Bagaimana jika kita balik,”
aku
melanjut pembicaraan. “Bagaimana
jika sebenarnya yang nyata di dunia ini adalah mereka, dan sebenarnya aku tidak
pernah nyata,
atau,
tidak pernah ada?” lanjutku.
Dia tidak mengucap sepatah kata pun. Padahal sejak dari
awal aku dipertemukan oleh-nya, dia sangat
pandai sekali berbicara.
“Katakanlah aku dan keluargaku sedang
berdiskusi ke sana kemari dengan topik yang tidak menentu. Aku
merasa aku memang sedang dianggap oleh mereka. Tapi bagaimana jika
kenyataannya aku tidak pernah ada atau aku hanya ‘makhluk
khayalan’
yang mereka ciptakan. Mereka
hanya berpura-pura berbicara denganku. Dengan kata lain, berarti kehidupan
keseharianku juga adalah khayalan yang mereka ciptakan.”
“Maksudmu seperti aku?”
“Upss, maaf
jika kau tersinggung.”
“Kurasa aku tidak tersinggung.”
“Kalau begitu, yah. Persis
sepertimu. Apa
kau pernah menganggap dirimu ada?”
“Tidak.”
“Bagaimana jika aku pun sebenarnya sama
sepertimu, bedanya aku menganggap diriku ini ada?”
“Itu karena kau tidak pernah memikirkannya,
sebe-narnya kau ini ada atau tidak.”
“Semakin aku pikirkan maka aku semakin ragu
dengan keberadaanku atau dengan duniaku ini.”
Pembicaraan berhenti. Aku dan dia kini sedang sama-sama berpikir. Beberapa
menit kita saling berdiam diri dan
sibuk memikirnya masing-masing.
Tiba-tiba dia memulainya kembali dengan pertanyaan yang kurasa masih berada
dalam ‘rel’
topik pembahasan. “Masih
ingatkah saat kau kanak-kanak?”
“Tentang apa?”
“Kau merasa jika dunia ini tercipta sengaja
hanya untukmu. Apa
yang kau alami, kau merasa jika semua itu sudah diatur sengaja untukmu.
Seolah-olah kau sedang dikerjai oleh orang-orang yang ada di sekitarmu. Tak
jarangnya kau berprasangka buruk kepada mereka semua namun tidak pernah berani
mempertanyakan hal ini karena takut dianggap aneh.”
“Aku sangat mengingat itu. Aku
rasa itu adalah pandangan filsafat pertamaku. Sayangnya aku tidak
me-nyadari itu.”
“Bagaimana jika semua itu benar? mereka―semua
semua manusia―sebenarnya hanya ‘boneka Tuhan’ yang
di-setting hanya untuk mengolah
hidupmu.”
“Kurasa tidak. Aku
pernah membahas ini dengan Irul―temanku. Dia juga beranggapan sama persis
seperti aku beranggapan. Berarti ini hanya pikiran konyol anak-anak saja.”
“Oh yah, bagaimana
jadinya jika kawanmu si Irul hanya berpura-pura polos di depanmu. Setelah itu,
saat kau lengah, dia akan melaporkannya kepada ‘Ketua
Pelaksana’ atau
dalang dari duniamu ini, dan mengatakan, “ketua! Sepertinya
Wangsa mulai menyadari kalau dia sedang dikerjai.””
Aku berpikir sejenak.
Entah, aku seperti
membenarkan ucap-nya. “Kalau be-gitu,
berarti aku harus lebih menjadi orang yang tertutup dan tidak boleh membagi
pemikiranku dengan manusia lain agar mereka tidak tahu sejauh mana aku
menyadari permainan mereka.”
Kami terdiam kembali
beberapa menit, sampai akhirnya dia berceloteh
kembali.
“Kau tahu sesuatu hal?”
“Apa?”
“Dari semua pembahasan kita, aku jadi yakin
kalau kau ini benar-banar gila,” ejek-nya.
“Apa aku bisa memukulmu?” ucapku jengkel.
“Hahahahaha. Sayangnya tidak.”
Diskusi pun berakhir pada pukul 2 pagi. Aku
tidur dengan keadaan lepas. Aku tidak mau lagi memikirkan apa yang tengah aku
pikirkan. Aku akan membiarkan pikiranku membawaku ke dunianya. Hanya dengan
cara seperti aku akan mendapat kebebasan dalam berpikir. Yah, pada saat ini aku
beranggapan jika berpikir itu harus bebas dan merdeka dari apa pun. Bebas
sebebas apa pun. Merdeka semerdeka apa pun.
[
Kemudian,
“Bagaimana keadaannya?”
“Baik-baik saja. Hanya
kaget dan mengalami benturan kecil di kepalanya.”
“Tapi tidak
apa-apa, kan?”
“Sudah aku katakan
tidak apa-apa, Lian. Kau bawel sekali. Aku
saja yang perempuan tidak sebawel itu.”
“Kita hubungi
orangtuanya saja. Bilang kalau dia jatuh dari tangga?”
“Apa kau sudah
gila? Dia hanya tergelincir dari anak tangga ke-6, kau jangan
terlalu mendramatisir.”
Mataku berat sekali untuk dibuka. Sepertinya
aku sedikit merasakan sakit di bagaian kepalaku. Aku berada di mana? Kenapa
berisik sekali?
“Sudah biarkan
saja. Kau seperti tidak mengenal Adrian saja.”
“Aku hanya
bercanda. Kenapa kalian jadi kolot begini.”
“Sudah sudah. Kalian
mau menjenguk atau membuat keri-butan di sini. Kalian ingat, ini
UKS, tempatnya orang sakit.”
“Lagi pula siapa
yang bilang kalau ini department store?”
“Kau benar-benar
tidak bisa dikasih tahu, yah!”
“Hei. Diamlah. Apa
sih yang kalian ributkan?” protesku.
“Wah, dia sudah siuman,”
ucap Lian.
Mereka langsung mengelilingiku
yang sedang terbaring di atas ranjang. Aku baru menyadari kalau aku sedang
berada di ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS).
“Apa yang terjadi?” tanyaku.
“Kau terjatuh dari lantai tiga dengan
kepala di bawah,” ucap Adrian seenaknya.
“HAHAHAHAHAHA.” Seisi ruangan tertawa.
“Aku bertanya serius?” aku sekali lagi
bertanya.
“Kamu terjatuh dari tangga saat berlari
menyusurinya.”
“Kau serius?”
“Yah, tanya saja Lian. Dia
melihatmu saat terjatuh.”
Sepertinya aku tidak mengingat apa-apa saat
aku ter-jatuh. Satu-satunya
yang aku ingat terakhir kali adalah saat aku terlempar dari lantai tiga karena
ulah gadis ini. Apa
itu hanya mimpi karena benturan di kepalaku?
“Pukul berapa sekarang?”Tanyaku.
“Sekarang pukul 12.45, kau pingsan selama
dua jam,” ucap Lian dengan melihat arlojinya.
“Ayo kita ke kelas. Sepertinya
sudah ada guru.”
“Kelas? Guru? Guru itu makanan apa, yah?”
Lian berlagak polos.
“Aku akan melaporkan kalian jika tidak
masuk.”
“Aduhhhh… Kepalaku sepertinya
sakit. Panggilkan
aku dokter,” Adrian melawak dengan ber-akting
sakit.
“Terserah kalian saja.”
Aku hanya tertawa melihat tingkah bodoh
mereka. Tak
lama mereka semua berpamitan untuk ke kelas.
Aku mencoba untuk duduk dan
menggelantungkan ka-kiku di pinggir ranjang. “Sepertinya sudah
tidak terlalu sakit?” ucapku sambil memegang kepala.
Sepertinya aku benar-benar tidak mengingat
apa-apa. Aku melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul satu siang. Berarti
aku harus berada di ruangan ini sendiri selama satu jam setengah hingga bel
pulang, aku merasa itu sangat membosankan. Aku keluar ruang UKS dan berjalan
menuju kantin, namun sesampai di persimpangan antara tangga menuju ke atas,
ruang guru,
dan kantin, aku bertemu dengan guru yang sedang bertugas sebagai guru piket.
“Mau ke mana kamu?” tanyanya menyelidiki.
Sebenarnya nada bicaranya tidak terlalu
menakutkan, namun karena guru tersebut memiliki hobi mencukur rambut siswa yang
panjang, aku pun langsung memutar haluan ke arah tangga.
“Ke kelas, Pak.
Saya tadi dari UKS,” ucapku dan langsung berlari menaiki tangga. Aku
memperlambat lariku dan berubah menjadi berjalan setelah mengingat aku baru
saja pingsan karena terjatuh dari tangga karena berlari. Bodoh
sekali jika aku terjatuh lagi tak lama setelah aku siuman.
Saat kakiku telah menginjak tangga terakhir
menuju lantai tiga, aku mendengar suara gaduh yang sepertinya berasal dari
dalam kelasku. Aku mempercepat langkahku, dan aku pun terkejut ketika sudah
berada di depan pintu kelas. Kawan-kawanku terdengar ribut
sekali teriak-teriak memanggil-manggil nama mereka
satu sama lain. Mereka sepertinya sedang berebut kawan kelompok. Aku memasuki
kelas dengan sorotan mata dari seisi kelas.
“Kau sudah baik-baik saja?”Tanya salah satu
kawanku.
“Yah, aku bosan jika harus
berlama-lama di sana,” ja-wabku jujur. “Sebenarnya apa
yang sedang terjadi?” ta-nyaku.
“Kita sedang berbagi kelompok. Masing-masing
kelom-pok beranggota 6 orang. Nantinya setiap kelompok akan maju
menerangkan salah satu sub-Bab yang ada pada buku,” terang kawanku.
“Kita bebas memilih atau bagaimana?”
“Tadi sudah ditentukan dan dibagi
menggunakan sistem nomor undian.”
“Apa kau sudah mendapat kelompok?”
“Sudah, dan
sepertinya sudah pas. Saat kau masih di bawah, kita disuruh membaca terlebih
dahulu materi yang akan kita bawakan di depan kelas nanti.”
Sial. Kalau
begitu lebih baik aku tetap berada di ruang UKS saja. Batinku mengeluh.
Tak lama, guru yang masih berusia muda
dengan songkok putih dan kacamatanya, memasuki ruang kelas.
“Sudah persiapannya?” teriaknya.
Seisi kelas masih sibuk dengan aktivitasnya
tanpa menghiraukan keberadaan guru yang sudah hadir.
“Duduk berdasarkan kelompok!” kali ini guru
lulusan pesantren tersebut sedikit berteriak dalam memberi ko-mando. Murid-murid
pun duduk sesuai kelompoknya ma-sing-masing, kecuali aku.
“Mana kelompok kamu?” Tanya
guru muda itu.
“Belum ada, Pak,”
jawabku dengan wajah polos.
“Siapa yang kelompoknya kurang satu?”
tanyanya ke-pada seisi kelas.
Tak lama Adrian mengangkat tangan. Entah
kenapa ini seperti mala petaka bagiku, satu kelompok dalam pelajaran agama
dengan Adrian dan Lian. Mungkin jika dalam pel-ajaran yang lain aku bisa
menerimanya.
Lian adalah seorang mualaf, dia pun seorang keturunan cina, meskipun tidak terlihat secara
segi fisik, namun secara pemikiran, dia sangat benar-benar cina. Adrian
adalah kawanku yang menurutku seperti dinamit. Hampir
semua guru mem-blacklist-nya badung,
bahkan dia terancam de-ngan nilai yang jelek atau bahkan terparahnya tidak naik
kelas. Aku
katakan dia seperti dinamit karena
paradigma berpikir guru ialah menganggap buruk siapa pun murid yang berkawan
dengan murid buruk.
“Kita mendapat Bab berapa?” tanyaku.
“Entah, dari
tadi aku belum baca,” jawab Adrian santai.
“Sepertinya aku bertanya pada orang yang
salah.”
“Kita kelompok 6, mendapat
Bab 5. Membahas tentang ‘Ilmu Pengetahuan dalam Islam’,”
jawab temanku lainnya yang masih satu kelompok denganku.
“Kau sudah membacanya?”
“Sudah.”
“Baguslah. Aku jadi bisa
tenang.”
Beberapa menit guru membuat aturan main
dalam ‘permainannya’
ini. Pertama,
masing-masing kelompok mempresentasikan materinya minimal 10 menit. Kedua,
masing-masing kelompok harus membuka 2 buah per-tanyaan setelah presentasi.
Ketiga, guru memanggil ke-lompok secara acak, dan kelompok yang disebut, mau
tidak mau, siap tidak siap harus maju ke depan untuk presentasi. Aku yang mendengar
aturan yang terakhir, secara respon berdo’a agar kelompokku mendapat giliran
terakhir.
“Kelompok 4!” teriak guru.
Tak lama kelompok empat maju dan memperkenalkan
dirinya masing-masing. Materi
yang mereka bawakan mengenai ‘Peranan Manusia Sebagai Khalifah’. Anak
de-ngan rambut keriting dan celana gombrang layaknya Elvis Presley menjadi
ujung tombak dari kelompok ini. Pema-paran materi berlangsung dengan singkat,
namun juga tidak kurang dari waktu yang telah ditentukan.
Seorang anak berbadan kekar dengan rambut
cepak layaknya ABRI, berdiri dan mempersilakan audience untuk bertanya dengan suara
terbata-bata karena gugup.
Seorang anak kurus, dan juga merupakan sebagai perantau
dari luar Jakarta mengacungkan tangan dengan bersemangat.
“Bagaimana cara kita memilih pemimpin dalam
Islam?” tanya anak kurus tersebut.
Dari raut wajahnya,
sangat mudah ditebak jika mereka sedang panik karena
jawaban dari pertanyaan tersebut tidak tertera di buku. Mereka sedari tadi
hanya terlihat mem-bolak-balik buku. Semenit kemudian
akhirnya mereka dapat menemukan jawabannya dari hasil pencarian di internet
dengan menggunakan ponsel. “Yang pasti dia harus memenuhi
syarat-syarat pemimpin dalam Islam. Seperti setia
kepada Allah, lalu, tujuannya bukan hanya Islam dalam kelompok kecil saja, tapi
Islam secara menyeluruh. Syarat berikutnya berpegang kepada syariat dan akhlak
Islam, terakhir harus amanat. Jelas?” papar si anak keriting.
“Mm... Yah, terima
kasih,” ucap sang penanya.
“Singkat sekali,” komentarku dalam hati. “Boleh
saya menanggapi,” aku angkat bicara. Tak lama guru
mempersilakan.
“Yang baru saja dikemukakan tadi, itu
berdasarkan pemikirannya siapa?”
Anak keriting itu kembali melihat
ponselnya. “Dr. Hisham Yahya Al-Talib,” ujarnya.
“Kenapa pertanyaan tadi tidak dijawab
dengan sesuatu yang sudah biasa kita ketahui saja?” protesku. “Sidiq, Tabliq, Amanah, Fatanah,” lanjutku.
“Kurasa sama saja,” tanggapnya.
“Kurasa itu berbeda. Karena menurutku―”
“Sepertinya pembahasan sudah
melenceng.” Guru yang berperan sebagai moderator memotong kalimatku. “Masih
ada satu penanya lagi. Siapa yang mau bertanya?” lanjut guru.
“Saya, Pak.” Aku
mengajukan diri.
“Ya sudah, silakan.”
“Menurut Islam, apakah
sistem demokrasi yang di-terapkan di Indonesia dalam menentukan pemimpin sudah pas atau belum?”
“Pertanyaan terlalu melenceng. Mohon
pertanyaannya jangan yang jauh-jauh dari pembahasan di buku,” kritik guru.
Aku awalnya ingin membantah karena
menurutku pertanyaanku ini masih dalam jalur pembahasaan dan sangat pantas
untuk didiskusikan, tapi karena aku lagi malas berdebat, akhirnya aku menurut
saja.
“Maaf,” ucapku dengan tidak ikhlas.
Guru pun mempersilakan kepada siswa lainnya
untuk bertanya.
Seorang siswa yang duduk di sisi sebelah
kiri baris ke tiga mengajukan diri untuk bertanya.
“Yah, silakan,” kata
guru.
“Apa yang dimaksud dengan khalifah?”
“Bukannya tadi sudah dipaparkan?” kata si
anak be-rambut cepak.
“Di buku tertulis, ‘Khalifah sendiri dapat
diterjemahkan sebagai ‘pengganti’ atau ‘perwakilan’. Dalam Al-Qur’an, manusia
secara umum merupakan khalifah Allah di muka bumi untuk merawat dan
memberdayakan bumi beserta isinya,’” ujar si penanya
sambil membaca buku. “Saya juga pernah dengar, jika khalifah itu adalah pemimpin
umat Islam―sama seperti raja atau presiden,” lanjutnya.
“Pertanyaannya?” ucap guru yang sepertinya
kelihatan mulai tidak sabar karena siswa ini terlalu bertele-tele.
“Khalifah itu sebenarnya adalah orang yang
mengatur bumi, atau sebutan untuk pemimpin pemerintahan Islam?”
Lagi-lagi mereka―kelompok empat―ribet
membolak-balik bukunya, padahal sebenarnya mereka tahu kalau jawabannya tidak
ada di situ.
Seperti di sesi pertanyaan pertama, jawaban
dari pertanyaan ini pun mereka cari melalui internet.
“Keduanya sama saja. Secara umum khalifah
adalah perwakilan Allah untuk merawat bumi. Secara khusus, khalifah adalah
sebutan untuk pemimpin pemerintahan Islam.” Kali ini pertanyaan
dijawab oleh anak berambut cepak.
“Yah, silakan kalian duduk,”
perintah guru yang menandai berakhirnya pembahasan mengenai ‘Khalifah’. “Berikutnya,
kelompok satu!” lanjutnya.
Kelompok satu pun maju memenuhi sisi depan
kelas. Seperti kelompok empat, kelompok ini juga mengenalkan dirinya satu per
satu. Kelompok
mereka membahas ‘Iman Kepada Allah’. Kelompok
mereka terdiri dari empat siswi dan dua siswa. Salah satu siswa
dari kelompok mereka adalah ketua kelas kami―Alif. Siswa-siswa
bersorak riuh saat Alif memperkenalkan diri.Dia memang sering menjadi bahan
olok-olokan di kelas ini, namun itu tidak pernah meredupkan sifat cerianya.
Setelah keadaan kelas mulai kondusif
kembali, kelompok satu pun mulai memaparkan materinya. Salah satu siswi dari
kelompok tersebut membuka bukunya dan mem-bacanya dengan nada manis ke seisi
kelas. Aku mem-perhatikannya dan mencoba memahami lebih dalam.
“Menurut pengertian bahasa, kata ‘Iman’
adalah percaya atau membenarkan. Menurut ilmu
tauhid, iman berarti kepercayaan yang diyakini kebenarannya dalam hati,
diikrarkan secara lisan, dan direalisasikan dalam per-buatan,” ucap siswi
tersebut.
“Persis sekali seperti konsepsi iman yang
dikemukakan Imam Al-Ghazali,” gumamku.
Kini giliran Alif yang membaca. Entah
kenapa, seakan terkomando, seisi kelas langsung berteriak, “huuuuuuuu” dengan kompak yang langsung
ditenangkan oleh guru.
Alif membaca tak lebih dari satu menit
karena dia hanya membaca penghabisannya saja.
Setelah dia menyelesaikan bacaannya, dia
langsung membuka sesi tanya-jawab.
Anak kurus mengangkat tangannya kembali. Dia
me-mang sangat antusias sekali terhadap semua pelajaran. Dia
pun yang terpintar di kelas ini.
Setelah guru mempersilakan, dia langsung memaparkan pertanyaannya.
“Apa hubungan antara iman dan ilmu?”
Awalnya aku mengira jika guru akan menolak
perta-nyaan itu, tapi sepertinya tidak.
Kelompok satu mulai kewalahan mencari
jawaban dari pertanyaan tersebut. Naasnya, kali ini
guru melarang meng-gunakan ponsel dalam mencari jawaban.
Mereka terdiam cukup lama, hingga akhirnya
salah satu dari mereka menjawab dengan jawaban seadanya.
“Kita dapat beriman jika kita memiliki
ilmu,” ucapnya dengan singkat.
“Maksudnya?” jawab anak kurus yang merasa
belum puas dengan jawabannya.
Secara impulsif aku mengacungkan tangan.
Aku merasa jika ini adalah forum diskusi, jadi yang boleh menjawab pertanyaan
pun tidak harus kelompok yang sedang maju saja, seisi kelas pun boleh terlibat
dan berpartisipasi.
“Saya rasa ini adalah forum diskusi, jadi
yang berke-wajiban untuk menjawab tidak harus kelompok yang ada di depan saja,”
ucapku tanpa menunggu izin dari guru.
Guru menanggapainya dengan mengangguk dan
mem-persilakan siapa pun yang ingin bersuara.
Tak lama anak keriting yang baru saja maju,
mengajukan diri.
“Saya rasa tidak ada hubungannya karena
seperti yang tertulis di buku, ‘iman adalah kepercayaan yang diyakini kebenarannya
dalam hati.’ Berarti
iman hanya ada pada hati, bukan akal,” ujar si anak keriting dengan membaca
buku.
“Jika aku menyalakan api pada sebuah lilin,
lalu menyuruh kau untuk menaruh telapak tangan di atas api tersebut selama 5
menit, apakah kau mau?” ucapku yang mencoba menerobos masuk ke dalam pembahasan
tanpa izin.
“Tidak,” kata anak keriting.
“Mengapa?” aku kembali bertanya.
“Karena api itu panas,” ucapnya yakin.
“Kau meyakini api itu panas? Padahal
kau belum men-cobanya,” aku mencoba menjebaknya.
“Tentunya aku yakin api itu panas karena
semua api pasti panas.”
“Kau dapat meyakini api itu panas karena
kau memiliki pengetahuan jika api itu panas? Benar begitu?”
“...yah,” ucapnya ragu karena dia mulai
merasa terpojoki.
“Bukakah hal ini telah menjelaskan jika
banyaknya ilmu yang kita miliki tentang api, maka sejauh itu pulalah
kepercayaan kita kepada api tersebut. Ketika ilmu itu masuk dalam pikiran kita
bahwa api itu panas dan bisa membakar tangan kita, dengan kata lain kita sudah
meyakini dan memercayai jika api itu panas,” jelasku.
“Tapi―”
“Sudah-sudah. Nanti waktunya
keburu habis,” guru memotong kalimat si anak kurus yang sepertinya ingin
mengkritik argumenku. “Kelompok enam maju!” perintah sang guru.
Aku yang tadinya sangat malas jika nanti
kelompokku harus maju, kini malah jadi bersemangat.[]
Chapter
4
Jahal Al-Kafirun
AKU berdiri di
tengah―di antara Adrian dan Lian. Sedikit aneh saat aku
harus berdiri di antara dua orang gemuk seperti ini. Adrian menyuruh Lian memaparkan materi sambil menyerahkan buku miliknya,
namun, Lian menolak karena takut mendapati membaca potongan ayat―dia belum bisa mengaji. Alhasil aku
yang kedapatan memaparkan materi.
Aku mengawalinya dengan mengucap salam dan memperkenalkan diri beserta kawan-kawan satu kelom-pokku.
Aku memulai dengan membahas manfaat ilmu pengetahuan dalam
agama.
“Ilmu-ilmu pada masa keemasan
Islam dapat digo-longkan menjadi empat,
di antaranya; Ilmu bahasa arab
yang terdiri dari ilmu nawhu dan saraf, ilmu balaghah, dan ilmu bahasa. Kedua ialah ilmu syari'at yang terdiri dari ilmu tafsir, ilmu hadist, ilmu fiqih, ilmu kalam dan
lain sebagainya. Ketiga ialah ilmu sejarah, dan terakhir―ke-empat―ialah ilmu Al-Hikmah dan filsafat.
“Pada pokoknya, ilmu Al-Hikmah dan filsafat mengan-dung empat macam ilmu,
yaitu; ilmu manthiq, ilmu alam,
ilmu pasti,
dan ilmu teologi.
“Ilmu alam terdiri dari ilmu kimia,
ilmu kedokteran,
ilmu farmasi,
ilmu pertenakan dan ilmu pertanian,
dan seba-gainya. Ilmu pasti terdiri dari ilmu hitung,
aljabar, ilmu ukur, ilmu mekanika, ilmu falaq, dan geografi. Dan
ilmu teologi biasanya memayungi ilmu metafisik,”
terangku.
Aku mulai berbicara dengan tidak berdasarkan buku.
“Pada zaman bani Abbasiyah
yang berkuasa pada tahun
749 sampai 1258
masehi, Islam banyak melahirkan cendekiawan-cendekiawan hebat―”
“Sepertinya cukup. Langsung sesi
Tanya-jawab saja,”
potong guru sembari menoleh arloji di tangannya.
Aku menoleh jam di
dinding yang sudah menunjukkan pukul
14.15 WIB. Sepertinya aku terlalu banyak berceloteh. Aku tidak yakin jika mereka tadi menikmati saat aku menerangkan.
“Ada yang mau
bertanya?” ucap Adrian.
Cukup lama kelas sunyi
hingga si anak kurus meng-ajukan diri lagi untuk bertanya.
“Jika semua ilmu
pengetahuan harus bersumber dan berdasarkan agama, lalu
bagaimana dengan ilmu as-tronomi? Apa harus berlandaskan agama juga?” ujarnya sangat antusias.
“Ilmu falaq itu adalah ilmu astronomi. Di Al-Qur’an sering sekali kita temui beberapa ayat yang membahas soal benda-benda
langit. Jujur aku tidak hafal. Mungkin bisa kau baca sendiri.”
“Apa di Al-Qur’an tertulis jika bumi mengelilingi mata-hari?”
“Tidak secara
langsung,” ucapku.
“Maksudnya tidak
secara langsung?”
“Aku sulit
menjelaskannya. Tapi aku pernah membaca pembahasan ini di buku,” jawabku jujur. “Tapi apa kau yakin dengan kebenaran yang ada di Al-Qur’an?”
aku mencoba menjawabnya dengan hal lain.
“Tentu saja,” jawabnya yakin.
“Kalau begitu
tidak mungkin ada pertentangan antara kebenaran ilmu pengetahuan dengan
kebenaran yang ada di Al-Qur’an. Karena keduanya
berbicara tentang kebena-ran―dan kebenaran itu hanya ada satu.”
“Mm, yah,” dia meng-iya-kannya, padahal wajahnya sangat menunjukkan kebingungan.
“Apa kau tahu
soal dalil aqli dan dalil naqli?” aku mencoba menjelaskannya dengan cara lain.
“Aku pernah
dengar itu. Tapi lebih baik kau jelaskan lagi.”
Saat aku hendak
menerangkan, bel pun berbunyi, menandakan waktu pulang sekolah telah tiba.
“Diskusi tetap
kita lanjutkan di
sini. Kuharap jangan pulang dulu,” ajakku.
“Baiklah.”
Setelah guru
berpamitan, siswa-siswa pun gaduh memberes-bereskan buku-bukunya. Dari luar
kelas ter-dengar sangat riuh sekali. Suara hentakan sepatu yang berbentur dengan
lantai sekolah terdengar sangat ramai karena siswa-siswa yang berlarian. Suara
motor yang sangat ribut dari arah parkiran menandakan banyaknya motor tersebut.
Satu per satu kawan-kawan sekelasku mening-galkan kelas.
Seperti yang direncanakan, aku dan siswa kurus itu akan tetap berada di kelas
untuk melanjutkan diskusi. Sebenarnya aku tidak terlalu karib dengannya, karena
dia lebih sering bergaul dengan wanita daripada dengan siswa laki-laki. Kurasa
memang seperti itu, biasanya anak pintar identik dengan kata culun dan sulit dalam bersosialisasi,
beruntungnya aku masih mengetahui na-manya―kalau tidak salah
namanya Ami.
Aku melihat Ami sedang
memasukan buku-bukunya ke dalam tas. Aku menghampirinya dan duduk di depannya.
Awalnya aku mengira jika di kelas hanya tinggal kami berdua saja, ternyata
beberapa siswa lain tetap memilih berada di kelas untuk ikut berdiskusi, di antaranya ialah Adrian, dan si siswa keriting. Tadinya si Lian juga ingin
ikut berdiskusi, namun karena dia memiliki kesibukan lain, dia pun terpaksa
pulang. Begitu pun dengan Alif. Tadinya dia juga ingin ikut berdiskusi. Namun
tak seperti biasanya, hari ini dia pulang lebih awal.
Kita berempat duduk
membuat lingakaran. Si anak keriting duduk di sebelah kiriku, dan di antara dia dan Ami, Adrian duduk di situ.
“Jadi bagaimana?” Adrian membuka pembicaraan. Entah kenapa dia terlihat berantusias? Padahal
biasanya dia sangat terlihat malas jika sedang membahas sesuatu yang berkaitan
dengan pelajaran.
“Yah, bagaimana,
Sa, mengenai dalil aqli dan naqli menurutmu?” tanya si anak keriting kepadaku.
“Baiklah kita
mulai,” ucapku sambil tersenyum kecil. “Dalil aqli adalah kebenaran yang berlandaskan
akal. Kalau dalil naqli adalah kebenaran
yang berlandaskan agama,” lanjutku.
“Hmm,” ucap mereka hampir bersamaan.
“Ilmu
pengetahuan itu pada umumnya berbicara pada rana dalil aqli,” lanjutku lagi.
“Kalau begitu
ilmu astronomi itu adalah dalil aqli,” kata Ami.
“Yah,” aku
membenarkan. “Induk dari semua ilmu pengetahuan adalah filsafat. Metode penerangan
filsafat adalah dengan cara mencari kebenaran. Berbeda dengan dalil naqli. Dalil naqli metode penerangannya yaitu dengan cara menyajikan.”
“Berarti dalil aqli adalah filsafat, dan dalil naqli adalah apa yang tercantum pada
agama?” tanya Adrian.
“Yah, benar.
Dalil aqli―sebagaimana ilmu pengetahu-an―bersifat semu. Berbeda dengan dalil naqli
yang abadi dan mutlak. Oleh karena itu, hendaknya dalil naqli harus dijadikan landasan kebenaran akan semua yang diolah
oleh dalil aqli.”
“Berarti kebenaran
yang didapat dari akal tidak boleh melenceng dari kebenaran agama?” tanya Ami.
“Tepat sekali.
Menurutku seperti itu dan sepatutnya seperti itu.”
“Tidak mungkin ada
pertentangan antara kebenaran ilmu pengetahuan dengan kebenaran yang ada di agama. Karena keduanya berbicara tentang kebenaran―dan kebenaran itu hanya ada satu. Kalau tidak salah kau mengatakan seperti
itu saat sesi tanya-jawab,
kan?”
“Itu kata-kata
Al-farabi.”
“Siapa dia?” Ami terus
bertanya seperti wartawan ulung.
“Filsuf pada zaman
bani Abbasiyah.”
Tak lama si anak
keriting berpamitan pulang karena sudah dijemput oleh ayahnya. Bersamaan dengan
itu, sang penjaga sekolah datang dan menyuruh kami untuk meninggalkan kelas
karena dia ingin membersihkan kelas kami. Kami bersama-sama menyusuri tangga
dan menuju kantin sekolah. Mungkin karena terbawa suasana, Adrian sampai-sampai
mentraktir kami makan siang. Serentak kami memesan nasi goreng dengan telur
dadar dan segelas es teh manis.
Saat kami sedang asyik menyantap makan siang kami, Ami seperti teringat akan sesuatu dan dengan
sedikit tergesa-gesa mengeluarkan ponsel miliknya. Dia terlihat sedang mengetik
SMS. Setelah itu dia meletakkan
ponselnya di atas meja dan melanjutkan menyantap makannya.
“Ada apa, Mi?”
selidikku.
“Aku lupa izin dengan
nenekku.”
“Kau tidak apa-apa
pulang terlambat?”
“Sepertinya tak apa,”
jawabnya tidak yakin.
Adrian yang pertama
kali menghabiskan makanannya. Aku kedua, dan Ami ketiga. Tak lama setelah itu,
wali kelas kami―Pak Ghifari―menghampiri kami dari kejauhan. Seper-ti biasa, dia
selalu tersenyum ramah kepada semua murid, tak peduli dia adalah murid baik,
teladan, malas, atau badung seperti Adrian. Pernah aku membaca buku menge-nai nasihat Imam Al-Ghazali, dan entah mengapa, aku merasa beliau di mataku
persis sekali seperti sosok Imam sufi tersebut.
“Kalian belum pulang?”
selidiknya.
“Belum, Pak. Kita
sedang diskusi?” jawab Adrian.
Sontak wajah Pak
Ghifari sedikit terkejut. Mungkin ka-rena kata
‘diskusi’ keluar dari mulut Adrian. Di lain sisi, dia juga menunjukkan ekspresi senang dan bangga kepada Adrian.
“Apa yang kalian
diskusikan?” tanyanya sambil duduk di sampingku.
“Dalil aqli dan naqli,” Adrian berucap dengan bangga yang diiringi dengan ekspresi
wajah tercengan dari Pak Ghifari.
“Wah, Nak. Hebat
sekali pembahasan kalian,” ucapnya salut. “Sudah sampai mana pembahasan
kalian?”
Adrian menceritakan
secara detail mengenai semua pembahasan yang telah kita kulas. Mulai dari awal
presen-tasi, sampai kita bisa berada di sini. Pak Ghifari menoleh ke arahku saat
Adrian mengatakan, ‘Wangsa yang dari tadi menerangi kami.’
“Bapak tidak tahu
kalau kau mengetahui semua itu?”
“Saya hanya sedikit
membaca,” ucapku tersenyum kecil sambil menundukan kepala karena tak kuat
dengan pujian yang berlebihan.
“Menurut Bapak, apa
hubungan antara iman dengan ilmu?”
tiba-tiba Ami bertanya.
“Menurut kamu, Nak?
Apa akal itu penting?” Pak Ghi-fari balik bertanya.
Ami hanya terdiam.
Begitu pun Adrian dan aku.
Pak Ghifari tersenyum
dan lanjut berbicara. “Kalian tahu Abu Jahal?”
Serentak kami
mengangguk.
“Kalian tahu arti dari
kata Jahal?”
“Baka,” ucapku.
“Baka?” Pak Ghifari keheranan sambil menaikkan alisnya.
“Baka itu bodoh, Pak. Bahasa jepang
dari kata stupid,” Adrian bermaksud
menerangkan, meskipun kenyataannya malah memperparah.
“Intinya jahal, baka, bodoh, atau stupid,
itu sama saja,” singkat Ami.
Pak Ghifari tertawa
dan secara impulsif mengusap kepala Ami seperti yang biasa ia lakukan terhadap
semua mu-ridnya―ciri khas darinya untuk menunjukkan kasih
sayang.
“Nah, kata jahal itu sama dengan kata jahiliyah―keadaan Mekah pada saat itu―pada saat Nabi
dilahirkan,” lanjut Pak Ghifari. “Jadi cara untuk melawan kebodohan adalah...?”
“AKAL!” jawab kami
hampir bersamaan.
“Atas alasan itulah
Al-Qur’an diturunkan. Dan Nabi yang berperan sebagai penyampai kebenaran―atau penge-tahuan yang benar―kepada seluruh penduduk Mekah.”
Kami mengangguk. Aku
melihat Adrian berdiri dan memesan es teh lagi empat gelas. Tak lupa dia juga
me-mesan gorengan. Pak Ghifari yang
melihat itu, kembali menunjukkan ciri khasnya. Kali
ini Adrian yang kedapatan mendapat usapan kepala darinya.
Setelah Adrian duduk
kembali dan pesanannya datang, kami melanjutkan kembali ‘pelajaran di luar kelas’.
“Kalian tahu soal bani
Abbasiyah?” Pak Ghifari meng-awali dengan
pertanyaan.
“Sedikit. Tadi Wangsa
juga membahas itu di kelas. Pemerintahan Islam dari tahun ke 750 sampai 1258 masehi.”
“Berarti kalian kenal
dengan Abu Yusuf Ya’kub bin Ishaq bin As-Shabagh Al-Kindi?” Pak
Ghifari mengucapkannya dengan lancar tanpa terbata-bata.
“Kenal, Pak. Tapi
hanya dengan nama sederhana Al-Kindi. Saya tidak tahu nama panjangnya,” jawabku.
“Selain dia, ada pula
Al-Farabi, pencipta alat musik Al-Qanun yang kemudian ditiru barat dengan nama
piano.”
“Sebenarnya siapa mereka
semua?” Ami bertanya dengan penuh penasaran.
“Filsuf besar pada
zaman bani Abbasiyah. Dan se-pertinya kau harus
berkenalan dengan Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi―ahli astronomi asal Persia yang lahir pada tahun 780 di
Khwarizm―yang sekarang bernama khiva―kota di Uzbekistan,” ucapku kepada Ami.
“Berarti Islam pada
masa itu benar-benar turut aktif dalam mengembangkan Ilmu pengetahuan?” tanya
Adrian.
“Itu benar, Nak.
Karena Al-Qur’an sendiri menganjurkan manusia supaya memperdalam pengetahuannya dalam
pelbagai ilmu. Ayat-ayat di Al-Qur’an pun banyak
yang menyinggung persoalan-persoalan ilmiah walaupun secara garis besarnya
saja. Oleh karena itu para ulama ingin membuktikan kebenaran ayat-ayat itu
dengan menye-lidikinya secara dalam,” Pak Ghifari menerangkan.
“Apa Bapak belajar
hal-hal semacam ini saat muda dulu?” tanya Adrian kembali.
“Tentunya, Nak.
Kebijaksanaan hanya bisa didapat dengan ilmu pengetahuan.”
“Socrates,” celetukku.
“Yah, Socrates. Orang paling bijaksana di
Athena di sepanjang masa hidupnya,” Ucap Pak Ghifari.
“Sepertinya kalian
harus membaca semua itu. Nantinya kalian dengan sendirinya akan dapat mencintai
ilmu dan menghargainya,” ucapku.
“Betul, Wangsa. Tapi
bukan berarti kita lebih meng-agungkan ilmu
pengetahuan daripada Allah.”
Aku diam saja. Entah
kenapa ucapan beliau tersebut terdengar seperti kritikan buatku. Apa hanya
perasaanku saja? Tapi perkataannya benar-benar mengusikku.
“...dan dalam berpikir
pun kau tidak boleh bebas. Kau harus tetap mendasarinya pada agama. Banyak
ahli-ahli filsafat yang terlalu bebas berpikir, sampai-sampai mereka menjadi
Atheis,” lanjut Pak Ghifari.
“Seperti Darwin yang
menentang Injil?” ucap Ami.
“Betul. Bagaimana kau
tahu soal Darwin menentang Injil, Nak?”
Ami menoleh ke arahku
yang sedang bingung. Seakan dia ingin mengatakan jika akulah penyebab dari
semua ini. Pak Ghifari tersenyum ke arahku dengan beribu maksud.
“Karl Marx pun juga
seperti itu,” Pak Ghifari menambahkan.
“Siapa Darwin?” tanya
Adrian yang membuat Ami ke-heranan.
“Kau tidak tahu
Darwin? Bukankah tadi saat pelajaran sejarah guru menerangkan tentang dia?”
tanya Ami.
“Benarkah? Aku tidak
mendengarkannya,” Adrian menjawab jujur.
“Kau belum berubah
juga, Adrian. Bagaimana kau bisa naik kelas nanti?” respon Pak Ghifari sambil
mengeleng-gelengkan kepalanya.
Adrian menunduk.
Mungkin dia sedang merenung dan membaca masa depannya saat pembagian raport nanti.
“Berubahlah, Adrian.
Kau tidak bisa selama-lamanya seperti ini,” Lanjut wali kelas kami tersebut.
Adrian masih tetap
saja terdiam.
“Lalu, Karl Marx itu
siapa, Pak?” Ami bertanya. Se-pertinya dia mencoba
mengalihkan pembicaraan.
“Yah, Karl Marx adalah
orang yang menguatkan paham komunisme.”
Ami dan aku mengangguk.
Tak lama Adrian mengatakan sesuatu hal yang sangat ‘ajaib’.
“Saya akan berubah.
Saya berjanji, Pak,” kata Adrian.
Aku, Ami, dan Pak
Ghifari pun tersenyum kecil me-respon ucapan
tersebut.
“Aku pun mengharapkan
bimbingan kalian,” lanjut Adrian berkata kepadaku dan Ami.
“Apa pun yang kau butuhkan teman―kami siap,” janjiku
dengan semangat.
“Hahahaha. Bapak
senang melihat kalian seperti ini. Bapak yakin kalian adalah generasi-generasi
perubah bangsa.”
“Aamiin!” ucap kami serentak.
Aku tidak menjadikan
ucapan Pak Ghifari tersebut sebagai do’a, tapi aku menganggapnya sebagai ama-nah―amanah yang harus aku emban.
Kami pun berpamitan
pulang. Adrian mengeluarkan dompetnya untuk menyelesaikan ‘administrasi’ dengan
Ibu kantin. Pak Ghifari sepertinya masih terlihat duduk di sana saat kami
meninggalkannya. Padahal beliau adalah guru ekonomi, tapi terkesan seperti guru
agama menurutku. Wawasannya mengenai agama pun sangat luas. Kami secara bersama
menuju gerbang sekolah. Sepertinya Ami masih sangat ingin sekali berdiskusi,
namun karena keterbatasan waktu, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Sebelum
berpisah, Ami meminta nomor ponselku. Sesampainya di depan gerbang sekolah, Ami
berbelok ke kanan dan melambaikan tangan sambil berkata ‘daahh.’ Aku dan Adrian menye-berang ke sisi
jalan lainnya.
“Bagaimana bisa kau
berubah 360 derajat seperti itu?” tanya Adrian ketika kita sudah berada di
seberang jalan.
Aku sedikit heran
dengan ucapannya. Apa dia meng-anggap aku aneh?
Meskipun aku merasa jika diriku ini seperti bukan aku, tapi aku sama sekali tidak tahu seperti apa aku yang sebenarnya dan seharusnya.
Bagaimana aku bisa mengatakan sesuatu
salah, padahal aku tidak tahu bagaimana seharusnya yang benar?
“360 derajat? Apa
tidak terlalu banyak? Kenapa tidak 180 derajat saja?” aku mengalihkannya dengan
candaan.
“Terserah kau saja,”
jawabnya sedikit kesal.
Sore ini langit
terlihat sangat jingga. Matahari dengan sisa sinarnya masih setia menerangi bumi. Kami menelusuri jalan pulang bersama karena
kebetulan rumah kita searah.
“Kau benar tidak mau
memberitahukannya?” Adrian kembali bertanya. Semenjak diskusi yang kita lewati,
dia sepertinya menjadi aktif bertanya.
Aku sebenarnya juga
sangat penasaran dengan apa yang terjadi di diriku, tapi aku malas jika dia
nantinya malah menganggapku aneh karena tidak mengenali diri sendiri. Apa
karena kepalaku terbentur tadi siang aku jadi amnesia?
“Apa kau memang
menganggap aku berubah?” aku mencoba mencari informasi darinya tanpa membuat
dia merasa curiga sedikit pun.
“Sangat.” Jawabnya
lantang.
“Dari mana kau bisa
menyimpulkan itu?”
“Kau membuat guru
sejarah dipermalukan di depan kelas dengan pertanyaan-pertanyaanmu yang entah
apa jawabnnya.”
“Selain itu?” aku
semakin mengorek dalam.
“Baru saja tadi saat
pelajaran agama. Kau berdiskusi, berdebat, bahkan menggurui Ami―siswa paling pintar di kelas kita.”
“Bukankah itu biasa?
Kau saja berubah? Kau jadi aktif berdiskusi dan jadi aktif bertanya,” aku membalik keadaan.
“Tahu dari mana kau?”
tanyanya heran.
“Ini contohnya. Kau
baru saja bertanya padaku. Bahkan di sepanjang jalan tadi, kau terus bertanya.
Apa itu tidak menjelaskan semuanya?”
Dia diam. Mungkin
sedang berpikir.
Kini kami sudah berada
di perempatan jalan rumahku. Adrian tetap berjalan lurus dan aku berbelok ke
kanan. Aku berjalan menunduk dengan matahari berada di belakangku dan bayangan
berada di depanku. Aku seperti teringat akan sesuatu, tapi entah apa. Aku pun
berusaha mengingatnya. Namun, semakin aku pikirkan, aku malah semakin jauh
berfantasi.
“Kenapa bayangan itu
harus selalu ada saat cahaya itu ada?” gumamku.
Tanpa terasa, aku
sudah berada di rumah. Aku melepas sepatu dan menaruhnya di rak. Setelah
menggantung tas, dasi sekolah, dan ikat pinggang, aku langsung bergegas mandi.
Saat di kamar mandi,
aku tidak langsung mandi, melainkan bermain dengan pantulan diriku dari balik
genangan air di bak mandi.
“Kenapa ada aku di
sana?” aku berbicara sendiri.
Aku mencoba
menghancurkan pantulan diriku dengan mengetuk-ngetukkan gayung. Air bercipratan
ke
mana-mana―sebagian membasahi
tubuhku. Tak lama air kembali tenang, anehnya aku masih dapat melihat diriku di
sana dengan bentuk yang tak rusak sama sekali. Air terkesan seperti cermin
menurutku. Bedanya hanya berbentuk cair, dan bedanya lagi, jariku dapat
menerobos masuk ke dalam pantulannya―tidak seperti
cermin. Aku menggunakan jari telunjukku untuk menyentuh dahi pada pantulan
diriku yang berada di atas air. Entah apa kata yang pas―aku menusukkan jariku atau aku mencelupkan jariku―yang terpenting, meskipun aku sudah memasukan jariku ke kepalanya, aku sama
sekali tidak menyentuh otaknya.
Tak lama, saat aku
usai mandi dan mengenakan pakaian, aku berbaring di atas kasur. Kipas angin
tepat mengarah ke arahku. Udara di luar pun juga terasa sangat lembab―sangat mengundang
hawa kantuk. Sepertinya malam akan hujan.
“Kenapa bayangan itu
harus selalu ada saat cahaya itu ada?” aku kembali memikirkannya.
“Tapi saat keadaan
gelap gulita, apakah semua kegelapan itu bukan bayangan?” aku bertanya pada
diriku sendiri.
Kedua tanganku aku
silangkan di balik kepala untuk kujadikan pengganjal. Aku mulai memejamkan mata
untuk merilekskan diri.
“Bayangan hanya ada
dari balik sesuatu yang menutupinya?”
“Atau bayangan yang
sengaja menutup dirinya?”
“Intinya yang tertutup
itu adalah bayangan...”
“...sesuatu yang
terbuka adalah terang...”
“...hanya orang yang
menutup dirinya yang tidak akan mendapat cahaya...”
...
“...dan orang yang
sengaja menutup dirinya yang akan tetap menjadi gelap seperti bayangan...”
......
......
“...hanya orang yang
tertutup...”
......
......
“...mereka menolak cahaya...?”
“......”
......
“...padahal apa yang bisa mereka lihat dari kegelapan...?”
“......”
“...mereka mungkin bodoh...”
......
“...jahal...”
“......”
“...baka...”
“......”
“...bodoh...”
“......”
“...stupid...”
...
[
“Bodoh! Bangunlah!”
“........”
“Heii!! Bangunlah!”
“Berisik sekali,”
komentarku.
Perlahan aku membuka
mata. Ternyata Adrian yang sedang mengganggu tidurku.
“Ada apa kau pagi-pagi
ke sini? Mengganggu saja,” cetusku. Aku menyambar bantal untuk menutup wajah
dan bermaksud untuk tidur kembali, namun Adrian malah menindihku dengan tubuh
besarnya. Aku yang tak memiliki pilihan lain akhirnya mengurungkan niat
tersebut.
“Kau tidak ke kampus?”
“Seminggu ini aku
libur,” jawabku malas.
“Libur ataupun tidak, kau
tetap harus bangun pagi. Lelaki macam apa kau. Pemalas sekali jam segini masih
tidur,” komentarnya.
“Kau sendiri ada apa
pagi-pagi ke
sini?" protesku.
“Aku kebetulan lewat
dan bermaksud mengembalikan bukumu,” jawabnya sambil melempar buku saku
bersampul hijau ke atas kasur.
“Kau merusak pagiku
saja.”
“Ini sudah siang tuan
pangeran,” jawabnya.
“Benarkah?” ucapku
terkejut. Aku segera mengecek jam pada ponselku. “Kukira sekarang masih pukul
tujuh.”
“Jam negara mana yang
kau lihat?” protesnya. “Memang apa yang kau lakukan tadi malam sampai-sampai
kau bangun sesiang ini?” lanjutnya.
“Mm... pergi ke masa
SMA,” ujarku polos.
Adrian memasang wajah
penuh keheranan.
“Masa SMA?” tanyanya.
“Yah,” jawabku. Aku
menggunakan jari untung menghi-tung mundur tahun.
“Kira-kira pada enam tahun yang lalu.”
“Enam tahun lalu?”
tanyanya sambil mencoba meng-hitung mundur enam
tahun lalu dari tahun sekarang. “Berarti... saat kita kelas dua,” ucapnya tidak
yakin.
Aku mengerutkan dahi
mengisyaratkan jika dia salah.
“Eh, maaf. Maksudku saat kita kelas satu,”
dia meralat jawabannya sendiri.
Aku kali ini
mengangguk menandakan jika jawabannya benar.
“Hahaha, dasar lelaki
gagal move on,” celetuknya bermak-sud meledek. Kali ini aku yang berbalik keheranan dengan ucapannya.
“Sudahlah. Aku mau pulang,” ucapnya tak lama setelah itu.
Dia berdiri dan keluar
pintu kamarku. Langkah kakinya terdengar sangat nyaring saat menuruni anak
tangga.
“Apa maksudnya gagal move on?” aku menggerutu sendiri.
Tak lama aku menyerah
untuk memikirkannya, kini aku malah teringat akan kejadian tadi malam―saat aku berbicara dengan pikiranku sendiri. Saat aku memikirkan-nya, tak lama dia muncul di hadapanku.
“Kau memang gagal move on,” kalimat pertama-nya saat berjumpa denganku.
“Apa-apaan kau. Baru
saja muncul sudah berkata seperti itu,” protesku.
“Kau yang apa-apaan!
Kau masih saja memikirkan mim-pi bodoh itu.”
“Sudahlah, diam. Aku
lebih baik mandi dan sarapan. Kau tunggu sini. Jangan mengikutiku.”
Dia hanya mengangguk.
Aku menuruni tangga
dengan lambat. Aku melihat ibuku di depan rumah
yang tengah asyik bercengkrama dengan tetangga sebelah, dan ayahku, aku lihat tengah asyik menyaksikan berita
di channel kesayangannya. Setelah
mandi, aku kembali ke kamar dengan membawa sarapan yang sudah tersaji untukku
di atas meja makan. Mungkin benar apa yang dikatakan kawan-kawanku, aku memang
terlihat seperti anak bungsu meskipun sebenarnya aku adalah anak sulung. Saat
memasuki kamar, aku melihat dia sedang membaca sebuah buku tebal bersampul
hitam. Sepertinya sebuah novel misteri, tapi dari mana dia mem-perolehnya?
“Apa yang kau baca?”
tanyaku penuh penasaran.
“Buku harianmu.”
Aku memasang wajah
heran. Aku berpikir; jika aku meminta dia untuk menjelaskan lebih gamblang
mengenai buku apa itu, kemungkinan besar dia malah akan menje-laskannya dengan ucapan yang berbelit-belit nantinya. Akan lebih mudah
mengetahuinya jika aku melihat buku itu secara langsung. Aku pun mencoba
merebut buku itu, namun anehnya aku tidak bisa memegangnya. Aku langsung
teringat akan sesuatu hal, dia itu
sebenarnya tidak nyata―begitu juga dengan buku itu―pantas saja aku tak bisa memegangnya. Tak lama, dia berbaik hati
memperlihatkan halaman yang sedang dia baca.
Aku membacanya, dan sontak terkejut dengan setiap kata yang aku lihat pada buku
aneh ini. Sudah dua hari berturut-turut aku mengalami hal yang tidak wajar,
buku ini pun makin terkesan tidak wajar bagiku.
Aku melanjutkan
membacanya dengan saksama. Tak ada satu huruf pun yang aku lewatkan. Memang
benar-benar aneh jika membaca buku yang menceritakan tentang diri sendiri. Aku
memang sangat memiliki keinginan untuk me-nulis tentang
keseharian pribadiku dalam bentuk novel dan menerbitkannya, tapi buku ini
sepertinya sudah mendahu-luiku. Segala hal mengenai keseharianku tertulis secara detail dan ringkas
tanpa meniadakan bagian-bagian penting sedikit pun. Mulai dari aku bangun
tidur, berlanjut dengan hal-hal serta kejadian penting yang kualami, hal-hal
yang aku pikirkan, hingga aku tertidur kembali, semuanya tertulis dengan
retorika tingkat tinggi. Penulisan pun juga diperinci dengan tanggal dan waktu
persis
seperti caraku saat menulis catatan
harian. Menurutku ini sama saja seperti novel―‘novel
mengenai diriku.’
12 Juli 2005 – 04.20
WIB
Suasana langit masih
gelap dengan udara dingin berbau embun. Kokokkan suara ayam menyapanya yang
baru ter-bangun dari perjalanan mimpi. Akhirnya ia mampu juga untuk menerima
kenyataan bersekolah di sini, menjadi salah satu siswa Madrasah Tsanawiyah di
tanah kelahiran Presiden RI ke-4. Ia
bergegas mengambil wudlu dan pergi ke musholah, atau penduduk desa biasa
menyebutnya ’langgar’. Tak seperti di Jakarta, di sini mushola tidak hanya
dipenuhi oleh kalangan orangtua saja, tapi anak-anak seusianya juga banyak me-menuhi
mushola.
Ia segera bergegas ke
sekolah ketika waktu sudah menunjukkan pukul 05.40 WIB. Matahari kota Jombang
turut membangun semangat di dalam setiap langkahnya…
11 Oktober 2005 –
12.12 WIB
Hujan lebat membasahi
hamparan sawah. Pandangannya sedikit kabur karena kelelahan. Ia beserta dua
kawannya tengah berada di sebuah gubuk untuk berteduh…
17 Agustus 1998 –
07.00 WIB
…berbeda dengan
tahun-tahun sebelumnya, Hari Kemer-dekaan di tahun ini juga merupakan Tahun
Kemerdekaan pertama di ‘langit Reformasi’. Dia sama sekali belum mengerti
tentang kejadian bersejarah yang baru saja terjadi, mungkin beberapa tahun ke
depan dia baru akan bisa menilainya, apakah Reformasi ini benar, atau salah…
24 Januari 1995 –
00.01 WIB
…tepat setahun usianya
kini. Lahir dalam keluarga sederhana di daerah Jakarta. Kakek dari ayahnyalah
yang memberi ia nama. Sebagai seorang purnawirawan TNI Anglatan Laut, kakeknya
kelak sangat mengharapkan cucu ke-duanya ini dapat menjadi manusia yang berguna
bagi bangsa. Berbeda dengan kakek dari keluarga ibunya, Wangsa kecil sangat
diharapkan dapat menjadi anak yang kelak berguna bagi Agama. Wajar saja, karena
kakeknya yang memiliki nama sama persis dengan pendiri Nahdlatul Ulama ini adalah
seorang…
“A...aa...apaa ini?” ucapku dengan
terbata-bata.
“Seperti yang
kukatakan. Ini buku catatanmu,” ucap-nya
santai.
“Bagaimana bisa?”
ucapku mendesak.
“Apa pun bisa kau lakukan saat berimajinasi teman.” Kali ini dia mengatakannya dengan senyum yang
mengha-nyutkan.
“Aku serius!
Jelaskanlah!” ucapku mulai marah.
“Mmm... Aku bingung menjelaskannya. Intinya
ini me-mang benar adalah buku catatanmu yang kemarin siang baru saja kau beli.”
Dia menunjukkan tulisan ‘atita’ yang tertera pada
sampul depan buku milik-nya. Aku
menyuruh ia membaliknya, dan aku juga
melihat tulisan ‘nagata’. Aku yang masih tidak percaya langsung mencari buku catatanku. Aku
mencarinya di balik bantal, di sudut ruangan, sampai mengacak-acak kasur, namun
aku tidak menemukannya. Apa mungkin ucap-nya
adalah benar? dan buku itu sudah berpindah ke alam imanjinasi?
“Sekarang ini kau
masih dalam masa ‘puerpera’,
tapi kau sudah sangat membuatku gila,” keluhku sambil
menunduk dan menggaruk kepala.
“Kau terlalu mendramatisir,” ucap-nya seolah ingin mene-nangkanku.
“Tapi bagaimana
mungkin sesuatu yang nyata bisa berubah menjadi imajinasi seperti itu,”
protesku.
“Bagaimana kau tahu
mana yang nyata, dan mana yang imajinasi?” ucap-nya tanpa merasa bersalah. Aku tahu jika dia bermakud menjebakku dengan permainan penalaran logika-nya yang di luar batas. Seperti yang
sudah-sudah, pada akhirnya aku tetap tidak akan mengerti dan hanya menerimanya
begitu saja mengenai hal-hal bodoh ini.
Saat aku masih
memikirkannya, dia malah membuka
diskusi semaunya tanpa seizinku. “Tak semua yang ‘nam-pak’ itu ‘ada’, dan tak semua yang ‘ada’
itu ‘nampak’ kawan,” celoteh-nya.
“Yah, yah, seperti garis lurus yang kita lihat di ujung laut
maksudmu? Kita seolah melihat laut itu memiliki ujung, tapi sebenarnya ujung
itu tidak pernah ada, begitu, kan?” ucapku sedikit
sewot.
Dia yang merasa sudah berhasil untuk membuatku mengikuti
kemauan-nya tersenyum dengan penuh
keme-nangan.
“Tepat sekali. Lalu
sesuatu yang tak nampak namun sebenarnya ada, contohnya adalah...” dia sengaja tidak meneruskan kalimat-nya dengan maksud aku yang ia harap akan meneruskannya.
“Angin,” jawabku
singkat.
“Kau memang cerdas,” dia bermaksud merayuku.
“Jelas-jelas kau pun
tahu itu! Kenapa kau malah menanyakannya seolah-olah kau tidak tahu!” aku mulai
kesal.
“Aku hanya mengikuti
cara Socrates,” dia berkata dengan
santainya. “Membantu orang melahirkan sendiri pemikiran-nya. Karena pemikiran sejati hanya dapat dilahirkan oleh diri sendiri.
Karena itulah aku terus bertanya agar kau terus berpikir dan melahirkan pemikiranmu,”
lanjut-nya.
“Terserah apa katamu
saja. Lebih baik aku makan daripada mendengar kau berceloteh.”
“Dia itu menurutku
adalah seorang bidan pemikiran,” dia
masih saja berceloteh.
“Dasar bodoh.
Bagaimana bisa seorang lelaki menjadi bidan.”
“Upss, aku lupa. Berarti dia adalah seorang dokter kandungan,” dia meralat ucapannya.
“Terserah apa katamu.”
Aku memperhatikan
tingkah bodohnya yang sangat menjengkelkan. Memang kuakui jika semua yang ia
ucapkan adalah benar. Karena tidak mungkin ada manusia yang menyalahkan
pikirannya sendiri. Jika ada, kemung-kinan pertama
dia adalah orang munafik, kemungkinan kedua dia adalah orang yang memang tidak
berpikir, kemungkinan ketiga karena dia telah menemukan kebenaran yang lain
dari apa yang sudah ia anggap benar selama ini. Sejenak aku membayangkan, apa
aku juga terkesan seperti itu saat berdiskusi dengan orang lain?
“Apa kau tidak jadi
makan?” ucap-nya mengejutkanku. Aku
baru sadar kalau nasiku sudah mulai dingin. Aku sege-ra melahap sarapanku.
Sepertinya aku butuh
udara segar. Jika aku terus memikirkan hal-hal bodoh semacam ini terus, yang
ada aku akan semakin jauh dengan dunia nyata. Mengenai mimpi bodoh, aku
berbicara dengan pikiranku sendiri, dan sekarang aku membaca novel mengenai
diriku, semuanya jelas-jelas di luar ambang batas normal.
Seusai makan, aku
langsung bergegas turun dan pergi ke basecamp.
Sesampainya di sana, aku melihat banyak sekali kawan-kawanku yang sedang
bercanda-gurau, dan sebagian sibuk dengan gadget-nya
masing-masing. Aku melihat Irul dan Adrian yang sedang asyik berbicara berdua terpisah dari kawan-kawan yang lain.
“Tumben kau kemari?”
sambut Irul.
“Aku jenuh di rumah.”
ucapku.
“Kau sudah kelar
membaca novel tebalmu?”
Mungkin yang ia maksud
novel tebal adalah novel dunia sophieku.
“Belum. Baru
setengahnya mungkin.” tebakku. “Kalian sedang apa?” aku balik bertanya.
“Membedakan antara
gelap dengan bayangan. Kenapa bayangan ada saat cahaya itu ada,” ucap Adrian
yang langsung membuatku tercengang.
Apa ini hanya
kebetulan saja atau bagaimana? Bagai-mana bisa apa
yang mereka bahas, sama persis seperti apa yang baru saja aku impikan semalam?
Atau memang benar jika sudah ada yang menge-set
semua ini kepadaku? Tapi siapa yang membocorkan mimpiku kepada mereka?
“Heiii, kenapa kau
malah melamun?” kejut Adrian. Aku diam saja dan duduk berbaur di antara mereka.
“Jadi menurutmu
bagaimana?” tanya Adrian.
“Mengenai
bayang-bayang dan cahaya?” aku balik bertanya.
“Yah,” jawab Adrian singkat.
“Lihatlah,” aku
menunjuk bayangan sebuah motor. “Bagaimana bayangan tersebut bisa ada?”
lanjutku. Cukup lama Adrian dan Irul terdiam.
“Karena tidak mendapat
cahaya,” ucap Irul secara tiba-tiba.
“Mungkin tepatnya
karena berada di balik sesuatu yang menutupinya,” lanjut Adrian.
“Yahh, kerena tertutup
sesuatu maka terciptalah bayangan,” tambahku.
“Kenapa bisa persis
sama seperti itu yah?” Adrian berbicara sendiri.
“Apa maksudmu?”
tanyaku.
“Di bukumu yang baru
saja aku kembalikan tadi pagi membahas soal kafir. Kau tahu, kan?” jawab Adrian.
“Bagaimana aku bisa
tahu. Kau saja meminjamnya sebelum aku membacanya,” protesku.
“Memangnya apa yang
tertulis di buku itu mengenai kafir?” Irul memotong pembicaraan kami.
“Secara bahasa, kafir
itu artinya tertutup.” jawab Adrian.
Aku dan Irul diam
sejenak berpikir. Saat aku berpikir, tiba-tiba dia hadir di sebelahku. Aku menatap-nya bermak-sud mengatakan ‘kenapa
kau berada di sini?’
“Kau berpikir maka aku
ada,” jawab-nya singkat. Aku
membiarkannya saja seolah-olah ia
tidak ada, karena jika aku meladeni-nya,
aku akan terkesan gila di mata teman-temanku karena bicara sendiri.
“Jadi, hanya
orang-orang yang menutup diri yang tidak akan mendapat cahaya. Begitukah?”
tiba-tiba Irul berucap.
“Sepertinya,” jawab
Adrian, singkat.
“Kenapa mereka tidak
mau mendapat cahaya?” tanya Irul.
“Karena mereka bodoh, atau
jahal,” celetukku.
“Lalu soal gelap?”
tanya Adrian.
“Gelap adalah keadaan
saat tidak adanya cahaya,” jawabku.
“Seperti kata-katanya
Enstein?” ucap Irul.
“Memang benar.”
“Maksud kalian apa?”
tanya Adrian yang tertinggal pembahasan karena membalas SMS.
“Kata Enstein, gelap
itu sebenarnya tidak ada. Yang ada itu hanya terang. Gelap adalah keadaan saat
tidak adanya cahaya sama sekali,” terang Irul.
“Aku pernah membaca
sesuatu mengenai hal ini,” ucapku.
“Dari novel
kesayanganmu itu?” celetuk Irul.
“Iya,” ucapku singkat. “Jadi, umpakan kalian berada di sebuah hutan yang sangat gelap.
Satu-satunya sumber cahaya yang kalian punya adalah api unggun yang berada di
depan kalian,” lanjutku.
“Lalu?” tanya Adrian
penasaran.
“Apa kalian bisa
melihat semua yang ada di sekeliling kalian?”
“Tentunya bisa,” ucap
Adrian.
“Kalian melangkah 5
meter menjauh dari api unggun, apa kalian masih bisa melihat segala sesuatu di sekeliling kalian?”
“Kurasa masih bisa.”
“Lalu, kalian
melangkah lagi tiga puluh meter, apa kalian masih bisa melihat sekeliling
kalian?”
“Bisa. Namun
samar-samar karena minim cahaya,”
ucap Irul.
“Lalu, kalian
melangkah satu kilometer menjauh. Kalian masih bisa melihat?” ucapku.
“Tidak,” ucap Irul
dengan yakin.
“Itulah cahaya.
Semakin jauh cahaya, semakin kita tidak bisa membedakan mana pohon, dan mana
yang bukan pohon,” lanjutku.
“Aku paham. Jadi kau
bermaksud menganalogikan Tuhan seperti itu. Semakin kita jauh dari-Nya, semakin
kita tidak bisa membedakan mana benar dan mana salah, mana baik dan mana buruk.
Karena kita sudah gelap. Begitu, kan?” Irul melahirkan
pemikirannya sendiri.
“Tepat sekali,”
ucapku.
“Kau meniru gayaku,”
tiba-tiba dia berbicara.
“Aku tidak menirumu,
aku meniru Socrates,” ucapku di luar kesadaran. Untungnya tidak ada yang mendengar.
Sepanjang hari ini,
kami terus berdiskusi dari topik satu ke topik lainnya. Hingga datang waktu
maghrib, kami pun membubarkan diri. Saat tiba di rumah, aku langsung mengecek
ponsel. Aku mendapati dua panggilan tak terjawab dari nomor yang tak tercatat
di buku teleponku. Saat mengecek SMS, aku
juga mendapati tiga pesan, sepertinya pun dari nomor yang sama. Aku membukanya,
dan membaca pesan tersebut.
From: 08xxxx
Hai, Sa. apa kabar?
Ini aku Ami. Masih ingat tidak?
Apa-apaan lagi ini?!
Apa ini sesuatu kebetulan lagi?! Dalam mimpi, aku baru saja memberi nomor
ponselku ke Ami, dan sekarang di dunia nyata dia tiba-tiba meng-hubungiku.[]
Chapter
5
Dalil Bintang
AKU yang tidak mau
ambil pusing, langsung membalas SMS tersebut.
To: 08xxx
Alhamdulillah
keadaaanku baik. Kabarmu sendiri bagaimana?
Tak lama Ami membalas.
From: 08xxx
Aku
pun baik. Bagaimana dengan kawan-kawan di sana?
To: 08xxx
Mereka juga baik.
Ngomong-ngomong bagaimana kau bisa tahu nomorku?
From: 08xxx
Syukurlah kalau
begitu. Aku masih menyimpannya saat aku meminta nomormu di depan gerbang
sekolah. Untungnya kau tidak ganti nomor ponsel.
Mendadak aku diam mematung. Aku berpikir
keras. Aku sama sekali tidak ingat jika pernah memberikan nomorku kepadanya.
Yang semakin membuatku tercengang adalah, ketika dia mengatakan jika dia
mendapat nomorku saat me-mintanya di depan gerbang sekolah, persis sekali
seperti dalam mimpi.
“Itu hanya kebetulan,” celetuk-nya.
“Kau bilang kebetulan?! Ini sudah lebih
dari sekadar kebetulan!” ucapku sewot dan marah tidak jelas.
“Kendalikan dirimu. Jangan terlalu
berlebihan seperti itu,” dia mencoba
meredamku.
Entah kenapa aku mengikuti saran-nya. Aku menarik napas panjang untuk
merilekskan pikiran.
(Dialog
by SMS)
Aku : Oh yah. Mungkin aku lupa. Kau tinggal di mana
sekarang?
Ami : Aku tinggal di Bogor ikut tanteku. Kau sibuk
apa sekarang?
Aku : Aku tidak sedang sibuk
apa-apa. Sekarang aku lagi libur kuliah.
Ami : Oh kau kuliah. Jurusan
apa?
Aku : Adminsitrasi.
Ami : Aku tidak tahu jika
kau suka dengan hal-hal berbau administrasi.
Aku : Hahahaha. Aku hanya
tersesat. Kau bagaimana?
Ami : Aku sibuk kerja
sekarang. Mungkin belum rezekiku untuk kuliah.
Aku : Aku do’akan biar kau
cepat menjadi mahasiswa.
Ami : Amin. Sudah lama
sekali yah kita tidak berjumpa.
Aku : Yah. Sudah cukup lama
sekali semenjak kau pindah sekolah saat naik ke kelas dua.
Ami : Tapi aku tidak pernah
lupa kepada kalian semua. Tenang saja.
Aku : Syukurlah kalau
begitu. Oh iya, bagaimana ilmu astro-nomimu? Masih belajar?
Ami : Sudah tidak terlalu.
Aku : Kau kenal
Al-Khawarizmi?
Ami : Kenal. Kau sendiri
yang memberi tahu aku mengenai dia saat diskusi di kelas dulu, kan?
Aku : Benarkah? Aku lupa.
Apa aku juga membahas soal ilmu falaq?
Ami : Iya, kau juga membahas
itu. Ilmu falaq adalah nama lain dari astronomi. Kau lupa?
Aku : Aku benar-benar lupa.
Tapi sepertinya tidak perlu dibahas.
Ami : Hahahaha. Aku hanya
bercanda. Kau tidak pernah mengatakan semua itu.
Aku : Wah, padahal aku sudah
mulai percaya dengan ucapanmu.
Ami : Hahahaha. Oh yah,
kalau mengenai proxima centaury apa kau tahu?
Aku : Tidak. Apa itu?
Ami : Nama bintang yang
terdekat dari matahari. Kira-kira jaraknya 4,2 tahun cahaya.
Aku : Terdekat saja jaraknya
4,2 tahun cahaya,
yah? Apa lagi yang terjauh? Hahahahaha.
Ami : Hahahaha. Satu menit
cahaya berarti 18 juta Km. Coba kau kalikan sendiri.
Aku : Tentunya jumlahnya
sangat banyak. Mmm, centaury itu seperti nama rasi bintang bergambar manusia
berbadan kuda.
Ami : Proxima centaury
memang berada di rasi bintang itu. Lebih tepatnya bernama rasi Centaurus. Salah
satu dari 88 rasi bintang yang ada.
Aku : Mars saja yang
jaraknya hanya satu menit cahaya, manusia belum ada yang mampu pergi ke sana.
Ami : Betul sekali. Ini
masih ruang lingkup satu tata surya. Bagaimana dengan satu galaksi? Satu
galaksi terdiri dari beberapa tata surya.
Aku : Lalu bagaimana dengan
satu cluster? Satu cluster terdiri dari beberapa galaksi.
Ami : Lalu yang lebih luas
lagi adalah local grup yang terdiri dari beberapa cluster. Dan beberapa local
grup disebut super cluster. Aku pusing sendiri memikirkan luasnya jagad raya
ini.
Aku : Sampai kapan pun kita
tidak mungkin bisa memecahkan itu. Karena ilmu kita tidak akan pernah sampai
menyaingi Tuhan. Bumi kita itu hanya sebuah cincin dalam hamparan gurun pasir
yang sangat luas. Gurun pasir itu adalah jagad raya ini.
Ami : Betul sekali. Bahkan
andromeda yang merupakan galaksi terdekat dari bima sakti saja sangat jauh
sekali jaraknya.
Aku : Andromeda itu galaksi
terbesar pada local grup kita jugakan?
Ami : ya. Penemu galaksi ini
adalah cendekiawan muslim. Aku lupa namanya.
Aku : Namanya Abd’
Al-Rahman Al-Sufi. Astronom asal Persia. Dia menemukannya pada abad ke-10 M.
Ami : Kau tahu banyak juga
mengenai astronomi.
Aku : Tidak juga. Aku hanya
tertarik pada perbintangannya saja, tapi kalau mengenai hitung-hitungan dan
rumus-rumusnya, aku malas. Apa lagi sampai membahas soal astrofisika. Kurasa
itu bukan duniaku.
Ami : Hahaha. Kau mungkin
lebih familiar dengan hitung-hitungan akuntansi.
Aku : Hahaha... Oh ya,
menurutmu bintang itu apa?
Ami : Benda masif (yang
memiliki massa 0,08 hingga 200 massa matahari) yang pernah dan sedang
melangsungkan pembangkitan energi melalui reaksi fusi nuklir.’
Aku : Kalau tidak salah,
bintang yang sudah tidak melakukan pembangkitan energi melalui fusi nuklir
disebut bintang semu, yah?
Ami : Iya. Bintang dibagi
menjadi dua. Bintang yang bersinar sendiri disebut bintang nyata, dan bintang
yang bercahaya dengan bantuan dari sinar bintang lain disebut bintang semu.
Aku : Bintang saja tidak
hidup egois,
yah. Mereka saling berbagi cahaya. Bahkan yang terhebat, bintang rela membakar
dirinya sendiri untuk menerangi tata suryanya. Tak peduli harus berapa lama dia
bersinar, tak peduli sekecil apa pun terang yang akan kita dapat, dia akan
tetap bersinar dengan tulus dan ikhlas. Kita saja sebagai manusia terkadang
malas untuk bersinar jika tidak mendapat pujian atau tanggapan dari orang lain.
Ami : Wah, kau pandai
berkata-kata,
yah.
Aku : Itu kutipan puisiku
yang berjudul bintang.
Ami : Coba kirimkan, aku
ingin lihat.
Aku : Aku tidak peduli jika
harus berapa lama aku bersinar. Aku tidak peduli jika sekecil apa pun sinar
yang akan kau tanggap. Aku tak peduli walau harus tertutup awan, aku akan tetap
bersinar. Aku tak peduli jika saat kau sadar akan sinarku, aku telah tiada. Aku
akan tetap bersinar walau kau hanya menatapku di malam hari. Aku akan semakin
bersinar saat langit malam semakin gelap. Saat kau berputar ke arah siang, aku
masih tetap bersinar, dan terangku selalu sama.
Ami : Bagus. Aku akan
mencatat puisimu di buku catatan astronomiku.
Aku : Aku merasa terhormat.
Oh yah, dan satu lagi. Kau tahukan soal ilusi langit?
Ami : Tidak. Memangnya apa?
Aku : Kelap-kelip bintang
yang kita lihat saat malam hari, itu adalah sinar bintang pada beberapa tahun
lalu.
Ami : Oh, mengenai itu. Iya
aku tahu. Jadi saat kita menatap langit di malam hari, sebenarnya kita sedang
melihat langit beberapa tahun lalu. Bisa saja terang bintang yang kita lihat
adalah cahaya milik bintang yang sudah hancur menjadi supernova beberapa tahun
lalu.
Aku : Aku menganggap itu
seperti ilusi, atau tipuan alam raya.
Ami : Mungkin seperti itu.
Dari tadi kita baru membahas soal bintang dan jagad raya. Kita belum membahas
soal kejadian-kejadian jagad raya, seperti black hole, supernova, pembentukan
bintang, atau alasan kenapa benda-benda langit ini bergerak.
Aku : Yah, kita juga belum
membahas kosmologi.
Ami : Kurasa lain waktu saja
kita membahasnya saat bertemu. Sepertinya sudah larut malam. Aku harus segara
tidur.
Aku : Kurasa juga begitu.
Ami : Oh yah. Dua hari yang
lalu Merry meminta nomormu kepadaku. Apa dia sudah menghubungimu?’
Aku : Belum.
Ami tidak
membalas SMS-ku lagi setelah itu. Aku
pun berbaring-baring dengan santai menunggu kantuk.
[
Aku
merasakan ada sesuatu yang merasuk ke dalam tubuhku. Seperti sesuatu yang
lembut dan dingin sekali. Dengan sendirinya aku langsung merapatkan kaki dan
mengapit kedua telapak tanganku ke dalam ketiak. Sesaat, aku mulai sesak dan
menggigil. Badanku terasa dingin sekali. Tak lama, aku terbangun. Aku segera
mematikan kipas dan tidur kembali saat mengetahui langit masih terlihat gelap.
Beberapa jam kemudian, aku bergegas mandi dan mempersiapkan diri untuk
berangkat sekolah. Tak seperti biasanya, hari ini aku menelusuri jalan yang
berbeda. Matahari pagi menemaniku melawan sisa hawa kantuk. Udara masih saja
terasa dingin meskipun aku sudah berada di dalam kelas. Aku duduk manis
memandang ke setiap sudut kelas. Satu per satu kawan-kawanku mulai berda-tangan.
Tak lama bel berbunyi. Sepertinya hanya bangku Alif dan Adrian saja yang masih
kosong. Di tengah ke-sibukkan kawan-kawanku yang sedang menyalin PR, aku hanya
diam melamun. Aku berpikir, di masa depan pasti aku akan sangat merindukan
masa-masa ini. Pada empat tahun, sepuluh tahun, atau dua puluh tahun lagi, aku
mem-bayangkan akan menjadi apa kita nanti. Apakah benar se-perti yang biasa
dikatakan kebanyakan guru, jika murid pintarlah yang akan menguasai masa depan,
dan murid bodoh adalah sebaliknya. Kurasa bukan persoalan pintar atau bodoh,
tapi persoalan siapa yang mau bekerja keras atau tidak. Menurutku, manusia
bodoh itu tidak ada. Para guru biasanya mencap muridnya bodoh hanya karena
muridnya kurang mahir pada pelajaran yang dia ajarkan saja. Padahal belum tentu
murid tersebut bodoh pada pelajaran yang lain, dan belum tentu guru tersebut pun
mahir dalam ilmu pengetahuan yang lain.
Tak lama, terdengar suara langkah kaki yang
sedang berlari dari kejauhan. Aku mengetahui siapa pemilik lang-kah itu ketika
melihat Alif dan Adrian memasuki kelas dengan tergesa-gesa.
“Kau sudah mengerjakan PR?” tanya Alif. Dia
duduk di depanku dan mengeluarkan buku dari dalam tasnya dengan panik.
“Belum. Aku pun tidak tahu PR apa.”
“PR PKn minggu lalu. Kenapa kau malah
santai saja dan tidak mengerjakannya?”
Aku diam saja tidak menjawab.
Belum sempat Alif menutup tasnya kembali,
guru sudah berada di pintu kelas. Namun, beliau bukanlah guru PKn yang sedang
kami tunggu, melainkan adalah guru olahraga. Seisi kelas memandang heran ke
arah guru yang mulai melangkahkan kakinya ke depan kelas.
“Hari ini Pak Pandoyo tidak masuk karena
sakit, tapi beliau berpesan jika kalian harus mengerjakan tugas dan dikumpulkan
paling lambat dua hari.”
Guru itu memberikan tugas yang dimaksud
pada selem-bar kertas kepada sekretaris kelas kami.
Raut wajah penuh rasa lega terpampang jelas
dari setiap wajah kawan-kawanku, dengan kata lain, berarti mereka bersyukur
karena ada guru yang sakit. Tiga langkah guru meninggalkan pintu kelas, suara
teriakkan penuh kemer-dekaan memenuhi ruang kelas, tak lain, Adrianlah pe-lopornya.
Mindi―sekretaris kelas―langsung menulis
tugas Pak Pandoyo di papan tulis. Alif terlihat paling senang di antara siswa
yang lain saat mendengar Pak Pandoyo sakit. Adrian yang jengkel melihat
tingkahnya, langsung menyuruhnya diam sambil melempar tutup pulpen ke arahnya.
Tanpa kusadari, Ami sudah berada di depanku. Seperti dugaanku, dia ingin
mengajakku berdiskusi kembali. Aku mengajak Ami untuk berdiskusi di depan kelas
karena suasana di dalam kelas terdengar sangat gaduh.
“Sepertinya kita memiliki waktu senggang
sampai isti-rahat,” aku mencoba berbasa-basi saat sudah berada di de-pan kelas.
“Aku kemarin baru saja membaca biografi
Al-Kha-warizmi di internet. Ternyata, selain seorang astrnom, dia juga adalah
pakar matematika. Dia pun penemu aljabar dan penemu angka nol,” ucapnya.
Aku hanya menanggapinya dengan senyuman
kecil.
“Aku juga membaca Al-Sufi,” lanjutnya.
“Al-Sufi?” gumamku heran.
“Kau kenal dia juga?” tanyanya penuh
harapan.
“Abd Al-Rahman Al-Sufi.” Kalimat itu begitu
saja keluar dari mulutku.
“Betul. Dia penemu―”
“Galaksi Andromeda...” ucapku memotong
kalimatnya.
“Kau tahu juga tentang Al-Sufi?”
“Aku merasa jika kita pernah mendiskusikan
ini,” aku mengucapkan dengan tidak yakin.
“Kapan? Sepertinya tidak pernah.”
“Entahlah, aku seperti pernah membahas ini
denganmu juga sebelumnya,” aku masih mencoba mengingat-ingat. Aku merasa jika
aku pernah membahas hal ini sebelumnya dengan Ami. “Sudahlah, lupakan,”
lanjutku yang menyerah untuk mengingat.
“Menurutmu bintang itu apa?”
Lagi-lagi aku diam. Aku kembali teringat
akan sesuatu. Tapi aku tidak mengetahuinya apa.
“Bukankah aku pernah menanyakan ini
padamu?” ucap-ku.
“Sepertinya tidak. Sudahlah, berhenti
mengkhayal.”
Aku menundukkan kepala dan memaksa otakku
untuk mengingat apa yang baru saja melintas di otakku. “Aku
hanya merasa khayalan itu seperti nyata bagiku. Tapi su-dahlah, apa tadi
pertanyaanmu?”
“Menurutmu bintang itu apa?” Ami mengulang
perta-nyaannya.
Aku menarik napas panjang untuk menenangkan
diri.
“Pada awalnya, manusia mendefinisikan
bintang adalah semua benda langit yang tampak bersinar.”
“Bukankah semua bintang memang bersinar?”
“Menurutmu, venus itu planet atau bintang?”
“Tentu saja planet.”
“Lalu kenapa venus bisa dijuluki bintang
kejora atau bin-tang timur?”
“Karena dia tampak bersinar.”
“Jadi menurutmu venus adalah bintang atau
planet?”
Ami diam saja tidak menjawab.
“Lalu, meteor dan komet, menurutmu, mereka
bintang atau bukan?”
“Meteor biasa disebut bintang jatuh.”
“Komet pun biasa disebut dengan sebutan
bintang ber-ekor.”
Ami kembali diam.
“Bahkan merkurius, jupiter, mars, dan
saturnus, juga disebut bintang oleh orang Yunani kuno.”
“Dan menjadikan bintang-bintang tersebut
sebagai de-wa?”
“Yah,
nama merkurius adalah Stilbon, nama venus ada-lah Eosforus, nama mars adalah
Piroeis, nama saturnus adalah Faenon.”
“Itu nama dewa dari planet-planet
tersebut?”
Aku mengangguk.
“Para pakar astronomi modern mendefinisikan
bintang adalah semua benda masif yang sedang atau pernah membangkitkan energi
menggunakan fusi nuklir. Contoh-nya adalah matahari. Matahari itu adalah
bintang. Dengan kata lain, berarti, teori manusia yang pertama mengenai bintang
adalah salah, dan bukan suatu kemungkinan jika di masa berikutnya manusia
mempunyai teori baru mengenai bintang.”
“Kau sepertinya cocok menjadi seorang
astronom.”
“Kurasa tidak. Aku lemah dalam
hitung-hitungan. Aku hanya menyukai hal-hal yang mengenai perbintangannya saja.
Kurasa kaulah yang cocok. Kau mahir dalam fisika dan kimia.”
“Aku memang sangat tertarik dengan
astronomi.”
Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari
belakang.
“Sedang apa kalian? Kalian tidak
mengerjakan tugas?” tanya Alif mengejutkanku dan Ami.
“Nanti saja di rumah. Kau sendiri kenapa ke
sini?” Ami balik bertanya.
Tak lama Adrian dan Lian juga menghampiri
kami.
“Tugas macam apa itu. Aku sama sekali tidak
mengerti,” keluh Adrian saat duduk di samping Alif.
“Kalian sedang apa?” tanya Lian yang masih
berdiri.
“Duduk,” jawab Alif singkat.
“Aku tidak bertanya padamu,” ucap Lian
sewot.
Bel berbunyi, menandakan jam pelajaran
pertama telah usai. kami terus berdiskusi dengan topik yang tidak me-nentu
hingga jam istirahat tiba. Kami sempat membahas mengenai ‘tujuan dari
mengerjakan suatu hal’. Dari diskusi yang terbangun, kami sepakat untuk lebih
menitikberatkan ‘proses’ daripada ‘hasil’. Kakayaan, kekuasaan, atau keber-hasilan,
itu bukanlah hasil, melainkan adalah bonus. Hasil adalah ketika kita mati
nanti. Seberapa banyak orang yang mengantar kita ke liang lahat, itulah hasil
yang sebenarnya.
Empat puluh lima menit kemudian, bel
kembali ber-bunyi, menandakan waktunya istirahat. Kami langsung menuju kantin
secara bersama-sama. Aku berjalan paling belakang sebelum Alif. Sesampai di
kantin, kami berpencar membeli jajanan, dan akhirnya berkumpul dan mulai berdiskusi kembali.
“Dari semua
pembahasan yang kau ucapkan semenjak kemarin,
sepertinya, semuanya di luar pembahasan
yang ada di buku,” tanya Adrian kepadaku.
“Pengetahuan itu luas. Kenapa kita harus
membatasinya dengan buku-buku pelajaran yang ada saja?”
Adrian kini diam saja.
“Apa kalian merasa tidak ada yang salah
dari cara kita belajar?” aku kembali bertanya.
“Salah dari segi mana?” Tanya Ami.
“Coba kau ambil salah satu buku pelajaranmu
ke sini. Kita bedah bersama-sama apa saja yang dibahas di dalam buku tersebut.”
Ami berdiri dan berlari masuk ke dalam kelas.
Tak lama, ia kembali dengan membawa buku pelajaran sejarah. Dia menyerahkannya
padaku dan duduk kembali di tempat ia sebelumnya.
“Coba kita lihat apa yang ada di sini.” Aku
mulai membukanya dari daftar isi. “Coba kita bahas Bab 6, mengenai peradaban
kuno Eropa dan Amerika.” Aku membacanya secara saksama setiap tulisan yang ada.
“Peradaban Pulau Kreta… Peradaban Yunani…
Peradaban Romawi… Peradaban Amerika Kuno…” aku membacanya sambil membuka
halaman demi halaman. “Peradaban mana
yang mau kita bahas?” aku melanjut-kannya dengan pertanyaan.
“Peradaban Yunani saja,” usul Ami.
Aku segera membuka halaman 149 dan
membacanya. “Yunani merupakan salah satu pusat peradaban tertua di Eropa.
Tingginya tingkat peradaban Yunani itu dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu
keadaan alamnya, penduduknya dan lain sebagainya…” Aku terus melanjutkannya
hingga membahas persoalan seni bangunan, ilmu pengetahuan dan teknologi,
pemerintah dan hukum, filsafat, kepercayaan, dan terakhir adalah peninggalan
budaya.
“Kalian mengerti apa yang aku baca?” aku
membuka pembahasan kembali dengan pertanyaan.
Semua menggelengkan kepala.
“Dari semua yang kau bacakan tadi, yang
dapat aku ingat hanya, jika Yunani adalah peradaban tertua,” ucap Adrian.
“Dan filsafat,” tambah Ami.
“Kenapa kalian tidak bisa mengingatnya?”
Tanyaku.
“Mungkin karena aku tidak menyukainya,”
ucap Ami.
“Coba kita membuka sesi Tanya-jawab.” Aku
mem-berikan buku sejarah tersebut ke Ami. “Acropolis me-rupakan kuil yang
dibangun pada masa kejayaan Yunani. Pertanyaannya, kuil tersebut dibangun
dengan gaya apa?”
Ami langsung membuka buku yang ada di
tangannya untuk mencari jawaban. “Doria,” jawabnya singkat.
“Kalian tahu gaya doria itu seperti apa?”
“Tidak, kau?”
“Tidak. Lalu pengetahuan apa yang kita
dapat dari per-tanyaan ini?”
Ami kembali diam.
“Lalu apa itu filsafat?” Tanya Adrian.
“Aku sendiri bingung kenapa kita diperkenalkan
oleh filsafat? Coba kau tanya pada guru kita, apa itu filsafat?”
“Apa menurutmu mereka bisa menjawabnya?”
“Harus. Mereka tempat bertanyanya murid.
Lagi pula, apa yang kita tanyakan pun memang tertera di buku.”
Sesaat kami terdiam hingga Ami berucap
kembali.
“Kalau hanya sekadar menghafalnya saja,
kurasa kita tidak akan tahu apa manfaat dari ilmu tersebut. Hal itu sama saja
seperti kita memiliki mobil Jaguar, komputer, ponsel canggih, tapi kita tidak mengerti cara mengguna-kannya,
itu sama saja percuma,” ucap Ami.
“Menurut kalian, apa kita harus menghafal
semua ini? Contohlah seperti saat kita mengahafal jika, Homerus adalah penulis
legenda mitos kebudayaan pulau Kreta, atau, pada tahun 1878 Masehi, ditemukan
hasil-hasil penggalian purbakala, salah satunya adalah bekas bangunan kota kuno
Troya di Asia kecil yang banyak disebut oleh pujangga Homerus dalam bukunya
berjudul Illyas,” ucap Adrian sambil membaca buku.
“Apa yang kau ucapkan saja aku tidak
mengerti,” ucap Ami.
“Aku punya pertanyaan, siapa penulis mitos
kebudayaan pulau Kreta?” aku bertanya kepada Adrian.
“Homerus. Bukankah tadi sudah aku bacakan?”
“Pulau Kreta itu apa? Terletak di mana? Dan
pada abad ke berapa?”
Adrian langsung membuka ulang buku sejarah
yang ada di tangannya, dan berusaha mencari jawaban dari perta-nyaanku.
“Tidak dijelaskan,” ucap Adrian.
“Lalu apa yang kalian pelajari? kalian
menghafal semua tulisan yang ada di buku sejarah itu, bukankah itu hanya
sesuatu yang sia-sia?”
“Saat nanti Ujian Akhir Semester, kita
mendapati soal-soal seperti ini, dan kita dapat mengerjakannya, tapi, apakah
itu bermanfaat?” ucap Ami.
“Maksudmu, Mi?” Tanyaku.
“Maksudku, mungkin kita bisa saja
mengerjakan soal-soal itu―entah dengan cara menyontek atau mengerja-kannya
sendiri―tapi, bukankah apa yang kita tulis pada lembar jawaban berarti hanyalah
tulisan kosong? karena kita pun tidak tahu apa yang kita tulis. Kita hanya
menulis apa yang guru inginkan saja.”
“Seperti balon, terlihat besar, namun
isinya hanya angin,” lanjutku.
“Jadi apa yang salah, Sa?” Tanya Adrian.
“Sejauh ini ada dua kemungkinan, entah
kurikulum yang terlalu berat hingga menjadikan kita hanya mempelajari hal-hal
yang kosong saja, atau, kita sebagai siswa yang ber-IQ lemah.”
Bel yang menandakan waktu istirahat telah
berakhir baru saja berbunyi. Kami segera masuk ke dalam kelas dan duduk pada
bangku masing-masing. Jam di dinding kelas menunjukkan pukul 10.02 WIB. Tak
lama, masuk seorang guru dengan raut wajah penuh dendam. Guru tersebut adalah
guru sejarah yang kemarin berdebat denganku. Dia mengajar seolah tidak pernah
terjadi apa-apa di kelas ini, aku pun juga begitu, aku masih tetap membaca
komik saat dia tengah menerangkan pelajaran. Entah kebetulan atau sudah ada
yang mengaturnya, guru tersebut kini tengah menerangkan tentang peradaban
Eropa―sesuatu yang baru saja aku bahas dengan kawan-kawanku tadi pagi. Seperti
biasa, sehabis menerangkan, dia langsung melempar per-tanyaan kepada kelas.
“Peradaban tertua di Eropa itu adalah?”
“Yunani, Pak,” ucap Alif.
Guru itu mengangguk.
“Legenda mitos kebudayaan pulau Kreta
ditulis oleh?”
“Homerus, dalam kitab Illyas dan Odyssea,”
kali ini Adrian yang menjawab.
Bukannya senang karena murid-muridnya bisa
men-jawab, guru tersebut malah memasang wajah heran.
“Yah, lalu berikutnya, bangsa Yunani telah
memiliki berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat tinggi, hal ini
dapat diketahui melalui?”
“Dewa-dewanya, Pak,” ujar Ami.
“Dewa-dewa?” Raut wajah guru itu berubah
heran kembali.
“Yunani sangat kental dengan dunia
mitologinya. Pada saat itu pun, Yunani telah menamai Merkurius, Venus, Mars,
Jupiter, dan Saturnus dengan sebutan dewa. Ini menandakan jika, perkembangan
mitologi Yunani sangat berkaitan erat dengan berkembangnya ilmu astronomi pada
saat itu,” terang Ami.
“Yang kamu katakan tadi ada pada halaman
berapa?” tanya guru tersebut.
“Tidak ada di buku, Pak.”
“Jawablah berdasarkan buku.”
“Pengetahuan itu luas. Kenapa kita harus
membatasinya dengan buku-buku pelajaran yang ada saja, Pak?” celetuk Ami.
Sontak wajah guru tersebut menunjukkan
sikap marah yang tertahan. Mungkin dia tidak bisa melepaskannya karena
amarahnya tercampur dengan rasa heran dan bingung untuk menjawab. Murid sekelas
pun juga terlihat memasang wajah heran karena Ami yang biasanya selalu
mengikuti semua yang diucapkan guru, kini terlihat sebaliknya.
Guru itu berusaha menenangkan diri. Dia
tidak meng-hiraukan pertanyaan Ami, dan tetap melanjutkan melempar
pertanyaan-pertanyaannya.
“Kita lanjutkan,” ucapnya. Dia
membolak-balik bukunya mencari pertanyaan. “Bangunan yang menandakan masa
kejayaan Yunani adalah?”
“Acrropolis,” ucap Adrian.
“Yah, bagus.”
“Pak, saya boleh bertanya?” lanjut Adrian.
“Yah, apa?”
“Acropolis merupakan kuil yang dibangun
pada masa kejayaan Yunani. Kuil tersebut dibangun dengan gaya Doria.
Pertanyaannya, Doria itu gaya seperti apa?”
“Saya tidak tahu, nanti kamu cari sendiri
saja di Internet,” ujar guru tersebut apa adanya. Tiba-tiba dia me-natap ke
arahku. “Wangsa, coba jelaskan siapa Iskandar Zulkarnaen?”
Aku menutup komikku.
“Murid Aristoteles,” jawabku singkat.
Dia membuka bukunya untuk mencari kebenaran
dari jawabanku.
“Jawaban saya tidak ada di buku, Pak,”
celetukku.
Dia menutup bukunya dan bertanya kembali.
“Coba kamu jelaskan lebih rinci,”
perintahnya.
“Penakluk Yunani, Romawi, Persia, mesir,
bahkan hingga India. Dia menggabungkannya menjadi satu di bawah keku-asaannya.
Masa ini disebut Hellenisme.”
“Berasal dari mana Iskandar Zulkarnaen?”
“Macedonia,” jawabku singkat.
Dari awal aku sudah menyadari jika guru
tersebut bermaksud menyudutkanku.
“Hellenisme itu apa?” tiba-tiba Adrian
masuk dengan pertanyaannya.
Aku diam menanggapi pertanyaan Adrian. Guru
tersebut sepertinya juga begitu. Tak lama, guru menjawabnya dengan jawaban
seadannya dari buku.
“Masa saat kebudayaan Yunani, Romawi,
Persia, Mesir menjadi satu.”
“Coba, Bapak, jelaskan lebih rinci.” Tanya
Adrian.
Guru tersebut terlihat bingung.
“Hanya itu saja yang ada pada buku, jika
kamu ingin tahu lebih, Tanya saja pada dia?” ucap guru itu menunjuk ke arahku.
“Kau tahu, Sa?”
“Pembahasan itu butuh waktu yang panjang.
Waktu kita akan segera habis. Kita bahas minggu depan saja,” ucapku.
Wajah sang guru langsung terlihat begitu
marah karena merasa tersindir akan jawabanku.
“Aku hanya bercanda.” Aku tersenyum.
“Hellenisme adalah masa saat semua kebudayaan Yunani, Romawi, Persia, Mesir
bercampur aduk, baik dari segi kepercayaan mitologi dan tradisi.”
“Hanya segitu saja?” respon Adrian.
“Nanti kita bahas di luar jam pelajaran saja,”
ucapku.
Adrian mengangguk tanda setuju.
“Ibu kota dari kekuasaan Iskandar
Zulkarnaen adalah kota Alexandria yang berada di mesir,” tambahku.
“Kamu salah. Ibu kotanya adalah
Iskadariyah,” kritik sang guru dengan tersenyum penuh kemenangan.
“Itu sama saja. Nama lain dari Iskandar
Zulkarnaen adalah Alexander Agung. Coba saja, Bapak, cari di buku.”
Guru itu pun mengikuti perkataanku, dia
langsung membolak-balik bukunya.
“Kamu mengarang? Apa yang kamu ucapkan
tidak ada di sini,” ucap guru itu yang baru menyadari jika perkataanku tidak
ada di buku.
“Benarkah? Berarti kita butuh buku lainnya
untuk mempertebal pengetahuan kita.”
Guru itu hanya diam saja dan mengakhiri
pelajaran tiga puluh menit lebih awal. Beberapa murid perempuan marah kepadaku
karena sikapku yang terlalu berlebihan hingga membuat guru marah dan keluar
kelas. Aku hanya diam saja.
Aku keluar kelas untuk mencari ketenangan
membaca komik. Aku menghadap ke arah lapangan sekolah dan menyadarkan sikuku
pada tembok pembatas koridor. Angin terasa sangat sejuk meniup rindang
pepohonan yang berjejer rapih mengelilingi lapangan sekolah. Terik sinar
matahari menciptakan bayangan-bayangan dari pepohonan itu.
Saat merasa sudah mendapatkan ketenangan
dan mood untuk membaca, aku langsung
membuka komikku. Sudah hampir dua hari aku belum juga selesai membacanya,
padahal banyak halamannya hanya 177. Aku merasa selalu saja ada ganguan saat
aku tengah asyik membacanya.
“Hei, Sa. Apa kau mau bergabung dengan
OSIS?” sapa seseorang di belakangku.
Aku menarik napas panjang.
Gangguan lagi. Keluh batinku.
Aku membalik badan, dan ternyata itu adalah Alif.
“Tidak,” ketusku.
“Kenapa?” tanyanya dengan nada kecewa.
“Aku tidak tertarik.”
“Apa yang membuatmu tidak tertarik?”
“Kau hanya akan menjadi kacung anak OSIS
kelas 2.”
“Kurasa tidak. Kau bisa melawan guru,
kenapa kau tidak bisa melawan anak kelas 2?”
“Aku melawan guru dengan pengetahuan,”
“Lalu?”
“Kalau kau mau melawan anak kelas 2, kau
harus menggunakan otot. Pelajar zaman sekarang lebih meng-andalkan otot
daripada otaknya.”
“Kau merasa jika mereka salah, kan, jika
menggunakan otot?”
“Yah.”
“Kenapa kau tidak membenarkannya? Bicara di
belakang saja tidak akan mengubah semuanya.”
Aku membenarkan perkataannya. Aku hanya
diam saja karena karena merasa tersindir, aku pun tidak tahu harus menjawabnya
apa.
“Nanti saat pulang sekolah, kau ikut aku
menghadiri acara Open House OSIS,”
ucap Alif sambil menepuk pundakku. Tak lama ia meninggalkanku.
Perkataannya sangat berkaitan dengan ucapan
Socrates, ‘orang yang mengetahui apa yang baik, akan berbuat baik.’ Imam
Al-Ghazali juga pernah menasehati umat manusia dengan Hadist Nabi; ‘Siksa
terpedih di hari kiamat adalah siksa seorang ilmuwan yang ilmunya justru tidak
diamalkan.’
Orang yang mengetahui apa yang benar namun
tidak mengamalkannya, maka sama saja ia tidak percaya pada kebenaran tersebut,
dan ilmunya mengenai kebenaran sama saja sia-sia, bahkan mendapat siksa yang
pedih.
Kemarin aku baru saja membahas korelasi
antara ilmu dan iman, sekarang aku baru tersadarkan akan korelasi ilmu dan amal.
Berarti antara iman dan amal pun memiliki korelasi. Kita dapat mengimani
sesuatu jika kita memiliki pengetahuan akan hal tersebut, dan konsekuensinya,
jika kita telah mengetahui dan memercayainya sebagai suatu kebenaran, kita
harus menerapkannya, atau mengamal-kannya.
Pertanyaannya;
lalu, bagaimana dengan manusia yang sudah mengetahui apa yang benar, namun
sengaja melakukan suatu kesalahan?
¥¦
Dua
puluh menit sudah berlalu dan bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Aku
kini sudah berada di ruangan tempat penyelenggaraan Open House OSIS. Peserta keseluruhan adalah siswa kelas satu. Dari
kelasku, hanya aku dan Alif yang hadir. Para jajaran OSIS berdiri di depan
ruangan memperkenalkan dirinya satu per satu.
“Nama saya Rizal. Saya kelas 11 IPA 1. Saya
sekarang menjabat sebagai ketua OSIS,” ujar lelaki berperawakan kurus―sepertiku―dengan potongan rambut rapih dan
sweter abu-abu yang membalut seragamnya.
Selanjutnya mereka menjelaskan mengenai
kestrukturan OSIS dan prestasi apa saja yang telah dicapainya. Acara perkenalan
berlangsung cukup singkat―hanya berlangsung 30 menit. Di akhir, sebelum
penutupan, salah satu seorang dari peserta mengajukan pertanyaan mengenai
sejarah OSIS. Naasnya, mereka―jajaran OSIS―tidak dapat menjawabnya.
“Kau dapat menjawabnya?” Tanya Alif.
“Sepertinya bisa.”
Alif langsung berdiri dan memberitahukan
kepada seisi ruangan jika aku bisa menjawabnya.
“Kau gila, yah?” ucapku atas
kelancangannya.
“Mereka butuh penjelasan. Lebih baik kau
maju ke depan sekarang,” ucapnya tanpa dosa.
“Yah, silakan yang bisa menjawabnya maju ke
depan,” ucap salah satu pengurus OSIS.
“Namanya Wangsa!” teriak Alif.
Aku yang tidak memiliki pilihan lain,
berjalan ke depan ruangan. Seluruh peserta menatap ke arahku.
“Coba kamu jelaskan mengenai sejarah OSIS?”
Aku membalik badanku mengahadap ke arah audience. Aku kira aku akan gugup
berdiri di depan umum seperti ini, namun ternyata tidak. Aku
serasa begitu mudah berbicara di depan umum tanpa rasa gugup sedikit pun.
“OSIS dibentuk sebagai strategi pemerintah
untuk melepaskan keterlibatan siswa dalam mengikuti organisasi-organisasi
kepemudaan yang pada umumnya erat sekali dengan perpolitikan.”
“Jadi, OSIS adalah siasat pemerintah untuk
memutuskan keterlibatan siswa dalam dunia perpolitikan?” tanya salah satu
anggota OSIS.
“Yah, karena pada saat itu antusias siswa
dalam mengikuti organisasi kepemudaan sangatlah tinggi, oleh karena itu,
pemerintah mengalihkan antusias siswa untuk aktif pada organisasi di
masing-masing sekolahnya saja.”
Dia hanya mengangguk-angguk saja.
Aku pun dipersilakan duduk kembali. Aku
langsung memukul bahu Alif saat sudah berada di tempat dudukku.
Tak lama, acara itu pun berakhir dan
dilanjutkan empat hari lagi. Aku dan Alif tidak langsung pulang. Dia mengajakku
ke rumah Mindi.[]

Tidak ada komentar
Posting Komentar
Nama :
Usia :
Pekerjaan :
Lokasi :
Komentar :