Sabtu, 15 Oktober 2016

Aku... - Antara Diriku, Duniaku, dan Pikiranku (Chapter 1 - 6)

 “Aku...” Terbitan Petama Penulis : Wangsa Desain Sampul : M. Khoirul Adib Diterbitkan Melalui: Diandra K reati f (Kelompok... thumbnail 1 summary
 “Aku...”
Terbitan Petama
Penulis : Wangsa
Desain Sampul : M. Khoirul Adib

Diterbitkan Melalui:
Diandra Kreatif
(Kelompok Penerbit Diandra)
Anggota IKAPI
Jl. Kenanga No. 164
Sambilegi Baru Kidul, Maguwharjo, Depok, Sleman Yogyakarta Telp. (0274) 4332233, Fax. (0274) 485222
E-mail: diandracreative@gmail.com
Fb. DiandraCreative SelfPublishing dan Percetakan
twitter. @bikinbuku
www.diandracreative.com

Cetakan 29, Januari 2016
Yogyakarta, Diandra Krreatif, 2016
310; 14 x 21 cm
ISBN: 978-602-336-187-8

Hak Cipta dilindungi Undang-undang
All right reserved










“Aku menceritakannya dalam huruf demi huruf yang terangkai menjadi kata.
Kata demi kata yang terangkai menjadi sebuah kalimat.
Kalimat demi kalimat yang terangkai menjadi sebuah paragraf.
Paragraf demi paragraf yang terangkai menjadi sebuah cerita.
Aku menceritakannya dalam cerita!”
(Wangsa – 28 Desember 2014)







 


Ucapan Terima Kasih

TERIMA KASIH KEPADA:
Ф      Tuhan Pencipta alam semesta dan Manusia semesta.
Ф      Kedua orang tua yang kupanggil Papah dan Mamah. Yang sudah mengenalkanku dengan dunia dan membesarkanku di dalamnya.
Ф      Kawan-kawan semasa sekolah (lulusan 2011 SMA N 73 Jakarta) yang sudah memberi ukiran memori berharga. Terkhusus Alif, Erwin, Rayhan, Reza, Ari, Aria, dan semua yang tak bisa kusebutkan satu persatu.
Ф      Kin di Anyer, Banten. Pemilik nama asli Lastri sebagai pengkritik dan pemberi saran setia. Adib sebagai pembuat cover novel ini. Sungguh kalian berharga.
Ф      Keluarga besar ‘Basecamp Sejuk Satu’.
Ф      Keluarga Forkmap STIAMI (Forum Komunikasi Mahasiswa & Pelajar). Atas waktu-waktu diskusi yang kalian berikan.
Ф      Semua yang selalu bertanya ‘kapan (novelnya) terbit?’ setiap kali bertemu. Terutama Lidia.
Ф      Kum-kum SF-nya Sugi yang sudah mendanai di awal. Meskipun agak maksa.  -___-
Ф      Penerbit Diandra Creative.
Ф      Serta semua kerabat yang berkontribusi, memotivasi, memberi inspirasi, dan pernah kurepotkan selama prosesi pembuatan novel ini. Terima kasih untuk semuanya. Terlebih lagi kepada semua pembaca.
Daftar Isi

Daftar Isi.......... 5
Chapter 0 (Maha Awal).......... 6
Chapter 1 (Mimpi Aneh).......... 8
Chapter 2 (Atita, Wartamana, Nagata).......... 26
Chapter 3 (Aku, Matahari, dan Bayang-bayang).......... 41
Chapter 4 (Jahal Al-Kafirun).......... 57
Chapter 5 (Dalil Bintang).......... 80
Chapter 6 (Marvuat vanua Criwijaya
siddhayatra subhiksa').......... 99
Chapter 7 (Sihir dan Warna).......... 113
Chapter 8 (Kuncup Sakura).......... 132
Chapter 9 (Deja’ vu).......... 149
Chapter 10 (Ethikos Sophia).......... 163
Chapter 11 (Black Hole).......... 179
Chapter 12 (Faith).......... 192
Chapter 13 (Metafora).......... 207
Chapter 14 (Casebook #1).......... 230
Chapter 15 (Casebook #2).......... 240
Chapter 16 (…).......... 253
Chapter 17 (Kembali ke Titik Nol).......... 284
Chapter 18 (Butterfly).......... 300










Hingga akhirnya aku berhasil menceritakan dan mencurahkan kekhawatiranku kepada diriku sendiri. Ada semacam aurora yang indah. Alur cerita masa depanku. Aku dapat terbang dengan sayap-sayap melintasinya hingga ujung. Sebuah petunjuk dari catatanku sendiri. Dan cerita ini pun dimulai…[]











Chapter 0
Maha Awal




NAMAKU Wangsa. Aku tahu nama itu terdengar sangat aneh. Begitulah yang biasa kawan-kawanku bilang. Aku terlahir, besar, dan sampai saat ini masih setia tinggal di Jakarta. Aku anak pertama dari 4 bersaudara. Keseluruhan anak dari kedua orangtuaku adalah laki-laki, kecuali yang terkecil. Aku pun juga mempunyai kakak laki-laki. Yah, terdengar aneh; aku anak pertama, tapi aku memiliki kakak. Sebenarnya bukan kakak kandung, melainkan kakak sepupu, namun sudah dari kecil tinggal bersama keluargaku.
Aku… adalah cerita saat aku mati nanti.
Kalimat itu yang selalu memotivasiku agar dapat mengukir cerita indah sebelum mati nanti. Segala hal aku buat seindah mungkin. Seindah cita-cita dan harapanku. Meskipun semua hanyalah misteri, tapi aku berusaha untuk bisa menyukai kejutan.
Aku menstigma diriku adalah seorang pecundang. Seorang pecundang yang takut akan masa depan. Masa yang sangat membuatku berpikir buruk akan kenyataannya. Menurutku, syarat utama masa depan adalah ketidak-pastian. Jangankan melewatinya, memikirkannya saja aku tidak bisa. Atas hal itulah aku takut. Dengan kepesimisan yang begitu besar, terkadang aku berpikir ingin selalu hidup di masa ini saja tanpa harus menjangkau masa depan. Bahkan, cita-cita pun aku tidak punya. Aku sama sekali tidak memiliki deskripsi sedikit pun mengenai masa itu. Masa yang masih tertutup kabut. Jika diperkenankan memilih, aku lebih memilih berenang kembali ke masa lalu―dunia yang sudah pasti―daripada harus berenang ke masa depan―dunia yang belum pasti. Aku sering berharap, kelak aku akan dapat menjadi kepompong. Saat aku terbungkus dan memperbaharui diri. Hingga pada akhirnya bermetamorfosis menjadi kupu-kupu.
Tulisan ini dimulai pada saat itu. Pada suatu hari, saat aku bermimpi berpetualang dengan fantasi, keanehan, dan tentunya misteri. Sejatinya pada mimpi itu aku terjebak, namun aku menikmatinya. Hingga akhirnya aku tahu, jika, ada dunia yang sebenarnya yang harus kulalui, hidup yang sesungguhnya yang harus kuwarnai, dan cerita yang semestinya harus kurangkai. Sesuatu yang ada di benakku pada saat itu adalah ketidaktahuanku akan kenyataan dunia―sebuah tanda tanya besar.
Sering sekali aku memikirkannya, namun, tidak lebih hanya akan menjadi kebingungan semata. Di atas kebi-ngunganku itu, aku tidak tahu kalau semua ini akan menjadi nyata. Ketika aku sedang membaca…[]












Chapter 1
Mimpi Aneh




UKURLAH apa yang dapat diukur dan buatlah agar dapat diukur sesuatu yang tidak dapat diukur. Begitulah kutipan kata aneh dari sebuah novel filsafat yang tengah menceritakan tentang ilmuwan dan pakar matematika pada abad ke-17 asal Italia, Galileo Galilei. Novel yang kubeli saat acara book fair di senayan beberapa bulan lalu ini selalu setia menemani hari-hariku di kala suntuk. Aku meraih ponselku dan segera mengecek jam.
“Sudah larut malam sekali―pukul satu lewat. Berarti sudah 6 jam lebih aku membaca,” ucapku saat melihat angka yang tertera dan menghentikan aktivitas membacaku.
Aku bergegas bangkit dan menuju kamar mandi. Seusai aku menggosok gigi dan mencuci muka, aku kembali mere-bahkan tubuh di atas kasur dan meraih buku catatan harianku. Sebelum hendak menulis, aku membaca terlebih dahulu catatan-catatanku di hari-hari sebelumnya―saat li-buran pasca UTS (Ujian Tengah Semester):

21 Nov 2014 – 10.11 WIB
Pagi sekali aku terbangun. Hari ini rencanaku dan kawan-kawan akan mengadakan bakti alam di gunung gede, jawa barat. Menikmati pemandangan Indonesia dan mencintainya secara sehat dengan menatapnya langsung. Indonesia yang bukan sekadar gedung, asap knalpot, atau kesibukan egoisme.
Penanaman cinta tanah air menurutku sangat penting bagi para pemuda. Tak mungkin jika cinta itu berkhianat.

Beberapa detik aku terbayang kembali saat perjalanan ke tempat itu. Teringat akan hijaunya pepohonan yang melam-bai kepada langit biru nan luas, aroma tanah lembab berbaur dengan suhu yang sejuk, serta suara gemercik air yang berlantun dalam tempo kicauan burung yang beriring dengan lepasnya. Sesaat kemudian, aku segera sadar dan langsung menulis cacatan harianku untuk hari ini. Hampir seperti ini rutinitasku setiap harinya―membaca atau ber-main notebook hingga larut malam, bangun kesiangan, sarapan pukul dua belas siang, membaca buku yang tidak ada kaitannya dengan pelajaran saat di kelas, mende-ngarkan lagu melalui ponsel saat suntuk, atau pergi ke tempat biasa aku dan kawan-kawanku berkumpul. Catatan hari ini aku tulis 3 lembar, sekaligus menghabiskan halaman yang ada pada buku catatan yang kubeli beberapa bulan lalu―satu hari setelah kemerdekaan RI. Akhirnya habis juga, semoga aku tidak lupa untuk membelinya lagi besok’, kalimat terakhir, dan juga sebagai kalimat penutup. Aku meletakkan buku catatanku di samping bantal bertumpuk dengan buku-buku lainnya. Setelah itu, aku meraih ponsel dan memutar lagu yang akan menemaniku menuju alam mimpi―atau mungkin sampai sepanjang malam.
Saat aku merebahkan tubuh, aku merasakan ada sesuatu yang mengganjal di punggungku, sepertinya ada benda kecil dan keras yang sangat membuat tidak nyaman. Aku duduk dan mengeceknya, ternyata hanya kartu perdana provider yang kelihatan sudah tua. Aku menyingkirkannya ke samping kasur dan mulai mencoba tidur kembali. Perlahan, aku mulai kehilangan kesadaran dan terhanyut oleh lantunan nada-nada lagu yang kuputar. Lirik-lirik lagu tersebut seperti menghipnotisku―tervisualisasi seolah nyata dan sedang kualami sekarang. Tak lama, akhirnya ruh mim-piku terlepas dari jasadku.
[
Kemudian,
Aku berdiri di depan kelas sembari menatap ke arah seberang gedung sekolah (gedung sekolahku berbentuk huruf-“U”) yang kelasnya masih terlihat kosong. Aku melangkahkan kaki ke sisi koridor dan menyandarkan siku ke atas tembok pembatas dengan posisi tubuh sedikit membungkuk malas. Untungnya kelasku berada di lantai paling atas dan berada di ujung, jadi aku bisa leluasa memandang alam pagi dari ketinggian tanpa ada gangguan dari siswa-siswa yang berlalu-lalang. Kicauan burung melantun mengiringi awan yang bergerak dengan lambat. Atap gedung sekolah yang baru dicat tampak terlihat sedikit basah akibat embun semalam. Burung-burung yang berjejer di atas atap gedung, matahari yang masih malu-malu memunculkan dirinya dari balik awan, penampakan gu-nung salak yang berbaur dengan kabut dari kejauhan, se-muanya menjadi lukisan indah di mataku yang penuh dengan maha karya. Aku memalingkan pandangan ke bawah dan menyusuri lapangan sekolah dengan penge-lihatanku.
“Sepertinya sudah banyak yang mulai datang,” komen-tarku saat melihat para ‘gerombolan putih-abu-abu’ berlalu-lalang melintasi lapangan basket sekolah. Sesekali aku melihat kawan-kawanku dari dalam kerumunan. beberapa dari mereka menoleh ke arahku dan kubalas dengan lambaian tangan malas. Begitu asyiknya aku dengan duniaku sendiri, aku sampai tidak menyadari kehadiran kawanku yang sudah berdiri di sebelah kiriku.
“Hei, Sa. Pagi-pagi jangan melamun,” ucapnya tiba-tiba.
“Oh. Eh, iya. Kukira siapa,” balasku dengan nada terkejut di awal.
Hanya itu percakapan yang terjadi di antara kita, dan akhirnya aku kembali menelusuri duniaku lagi. Aku me-narik napas panjang untuk menikmati udara pagi yang masih segar, namun sepertinya sudah terkontaminasi de-ngan parfum yang dikenakan oleh kawanku ini. Seketika tanganku jail memetik-metikkan daun tanaman yang berada di dalam pot yang digantungkan di tembok pembatas. Pot itu berada di sebelah kiriku, sekaligus sebagai pembatas antara aku dan dia.
“Jangan dipetik. Kamu sama saja tidak menghargai makhluk hidup,” ucapnya yang melihat ulahku.
Aku hanya menghentikan kejailanku dan diam tanpa membalas kata apa pun saat dia tersenyum sebelum kembali lagi menatap ke arah depan.
Tiba-tiba bel berbunyi, menandakan kegiatan belajar me-ngajar akan segera dimulai. Pelajaran di dalam ruang kelas berjalan seperti biasa. Guru menerangkan, sebagian mem-perhatikan, sebagian sibuk bercanda, dan aku membaca komik Detective Conan yang dibawa oleh temanku. Sesekali aku memperhatikan gerak-gerik kawan-kawanku satu per satu. Dari situ aku dapat mengklasifikasikan mereka ke dalam kategori yang berdasarkan apa yang sedang mereka rasakan dan pikirkan sekarang. Kategori pertama, adalah mereka yang memang benar mencintai pelajaran ini. Mereka sangat antusias dan menikmati detik tiap detik pelajaran dengan suka cita. Yang ada di otak mereka kini adalah ilmu, bukan nilai. Kategori kedua, adalah mereka yang terpaksa. Mereka sebenarnya sama sekali tidak tertarik dengan pelajaran ini, namun, karena takut akan nilai jelek saat pembagian raport nanti, akhirnya mereka mau tidak mau harus mau. Kategori ketiga, adalah mereka yang suka mencari muka. Mereka sama sekali tidak cinta dan tidak paham dengan pelajaran yang sedang diterangkan guru. Tapi mereka hanya sok-sok terlihat antusias dengan mema-sang muka penuh simpatik agar terlihat berkesan di mata guru. Tak jarangnya mereka seperti ‘menjilat sepatu guru’. Bukan karena menghormati guru, tapi karena menghormati nilai. Kategori ke-empat, adalah mereka yang tidak suka dengan pelajaran dan mencoba jadi apa adanya. Entah karena mereka benar tidak suka atau karena malas untuk mengenal yang akhirnya tidak pernah suka. Yang terpenting mereka sangat mudah dicirikan. Di mata guru mereka adalah ‘gerombolan berandal’.
Pelajaran pertama baru saja usai, guru merapikan buku-bukunya dan berpamitan meninggalkan kelas. Sesaat kelas menjadi gaduh dengan celotehan-celotehan yang lebih didominasi oleh murid perempuan. Tak lama setelah itu, seorang pria berusia 50-an dengan wajah yang selalu nampak terlihat datar memasuki ruang kelas. Kacamata bergagang emas yang sangat mencolok dan terkesan berlebihan adalah ciri utama guru ini. Dia mengawali pelajaran dengan salam sebelum memulai kegiatan menga-jarnya. Suasana kelas tak jauh berbeda dengan mata pela-jaran sebelumnya, kini aku juga masih sibuk dengan kasus yang tengah dihadapi Conan. saat aku sedang asyik membaca, tanpa aku sadari, guru lulusan fakultas sejarah itu  sudah berada di depanku dan merampas komik yang sebelumnya berusaha aku sembunyikan di kolong meja. Seisi kelas pun langsung menatapku.
“Sedang apa kamu? Dari tadi kamu tidak memper-hatikan saya menerangkan?” ucap guru tersebut dengan wajah tak suka dengan perilakuku.
“…memperhatikan, Pak,” jawabku berbohong.
“Coba jelaskan apa yang kamu ketahui tentang evolusi manusia?” Guru itu mencoba mengetesku.
Seisi kelas yang dari tadi memperhatikan guru pun, aku yakin tidak ada yang dapat menjawab pertanyaan tersebut, apa lagi aku yang tidak memperhatikan.
“Maaf, Pak. Saya kurang tertarik dengan teori yang dicetuskan oleh Darwin tersebut. Darwin adalah orang yang tidak percaya terhadap agama, bahkan menantang kebe-naran Injil, kenapa kita harus memercayainya?” ucapku. “Meskipun teorinya sangat logis, tapi saya tidak bisa menerima jika manusia dikatakan bernenek moyang monyet.”
“Saya tidak minta kamu mengkritik teorinya―” responnya dengan nada yang mulai kesal.
“Mengkritik…?” aku memotong ucapannya. “Darwin saja mengkritik dan menentang kebenaran Injil. Padahal ilmu pengetahuan dapat berkembang, yah, karena saling mengkritik.” Begitu saja perkataan itu terlontar dari mu-lutku.
“Cepat ke depan kelas!” Matanya menyalak dengan penuh amarah.
Aku yang memang sadar akan posisiku yang salah, hanya bisa menuruti perintahnya. Aku berjalan ke depan kelas diiringi dengan gelak tawa yang tertahan dari kawan-kawanku. Dari depan sini aku bisa melihat mereka semua meledekiku.
“Kalau tidak tahu, tuh, mengaku saja. Jangan ngeles mulu kaya bajaj,” ledek guru tersebut dan disambut dengan ledakan tawa seisi kelas.
Aku menundukkan kepala dengan sikap tangan di belakang badan. Kegiatan belajar pun dimulai kembali. Kali ini membahas tentang penjajahan yang terjadi di Indonesia. Dimulai dari kedatangan belanda di Nusantara, dan dilanjutkan hingga pembahasan mengenai pergerakan-per-gerakan pemuda yang membawa Indonesia menuju kemer-dekaannya. Guru menerangkan selama 45 menit dan di-akhiri dengan sesi tanya-jawab. Seisi kelas diam dan tak satu pun mengajukan pertanyaan.
“Ada yang mau bertanya?” guru itu menanyakan sekali lagi sambil duduk di bangkunya.
“Saya, Pak.” Aku kembali menjadi sorotan lagi. Seisi kelas ada yang menatapku dengan tatapan merendahkan, ada yang menatap dengan heran, dan ada pula yang penasaraan dengan apa yang akan aku tanyakan.
“Jawab dulu pertanyaan saya yang sebelumnya.” Kelas kembali berisik dengan gelak tawa.
“Tapi, Pak, bukannya saya mempunyai hak yang sama dengan siswa yang lain untuk bertanya?” bantahku tanpa menghiraukan tertawaan seisi kelas.
Guru itu tersenyum dan melepaskan kacamata bo-dohnya. “Baiklah. Apa pertanyaan kamu?”   
“Indonesia merdeka tahun 1945. Belanda menjajah selama 3,5 abad. Berarti belanda pertama kali mendatangi tanah air ini kurang lebih pada tahun 1595?
“Itu saja pertanyaanmu?” jawabnya merendahkan dan lagi-lagi seisi kelas tertawa kembali dan kali ini mulai membuatku kesal.
“Tidak. Yang mau saya tanyakan adalah, apa belanda dengan begitu saja datang ke sini dan menjajah rakyat pribumi? Mereka datang, menindas, dan merampas hasil tanah kita?”
“Yah. Lalu?”
“Bapak, meyakini itu?”
“Coba kamu baca bukumu lagi, jangan sibuk baca komik terus,” ucapnya sambil melempar komik yang tadi kubaca ke atas meja. Lagi-lagi kelas tertawa, dan kali ini aku lang-sung meninggikan suaraku untuk mengalahkan suara tawa.
“Berarti, Bapak bodoh menurut saya.” Tiba-tiba kelas diam. “Belanda dari eropa berlayar ke sini dan menjajah Nu-santara menurut saya tidak logis. Katakanlah belanda sam-pai di banten dan langsung menindas warga setempat, apa-kah itu namanya bukan bunuh diri? Mereka pasti langsung dibunuh oleh warga setempat karena kalah jumlah pa-sukan,” lanjutku.
Guru itu terlihat mulai kesal kembali, namun  sepertinya ia menahannya. “Belanda tidak langsung menjajah. Mereka pada awalnya menguasai perekonomian di Indonesia,” ucap guru tersebut.
“Sebelumnya saya mau mengingatkan, sepertinya kata ‘Indonesia’ kurang pas untuk menyebutkan tanah air ini jika kita sedang membahas zaman sebelum kemerdekaan. Kata Nusantara mungkin lebih pas.
“Pertanyaan saya, dengan cara apa mereka menguasai perekonomiannya? Sedangkan bahasa kita jelas berbeda. Tidak mungkin pula menggunakan bahasa isyaratkan?” lan-jutku.
Kelas sunyi tanpa suara.
“Coba bayangkan, ada alien yang datang ke bumi dan ingin menguasai perekonomian dunia. Alien tersebut hanya bercuap-cuap tanpa kita tahu maknanya apa.
“Lagi pula, saat kita melihat makhluk asing datang ke bumi, pasti kita akan langsung takut berhubungan dengan mereka. Begitu juga dengan belanda. Dari segi fisik pastinya sudah sangat berbeda, lalu apa yang membuat bangsa pribumi pada kala itu bisa begitu welcome sampai-sampai belanda bisa bermain peran dalam perekonomian kita dan menguasainya?”
“Nanti kita bahas lagi… ” ucapnya dengan tidak nyaman.
“Satu lagi saya ingin bertanya. Kenapa garis kekuasaan Negara Indonesia itu terhitung dari sabang sampai mera-uke? Kenapa tidak hanya pulau jawa dan sumatera saja? Kenapa harus hingga papua? Lalu kenapa Malaysia, Thai-land, dan papua nugini tidak? Apa alasannya Soekarno membatasi dan menentukannya segitu saja?” tanyaku de-ngan nada mendesak.
Kelas kembali sunyi.
“Mungkin, kawan-kawan yang dari tadi tertawa bisa menjawabnya? Atau ingin menertawakan lagi?” aku melon-tarkannya ke seisi kelas.
“…untuk pembahasan itu butuh waktu yang panjang. Waktu kita sudah habis. Kita bahas minggu depan saja.”
“Saya hanya ingin mendengar garis besarnya saja. Apa yang saya tanyakan pun tidak ada di buku pelajaran,” aku mendesak. Mendengar tidak ada jawaban, aku melanjutkan celotehanku. “Kalau tidak tahu mungkin bisa mengaku saja. Jangan ngeles mulu kaya bajaj.”
Sontak guru itu berdiri dan wajahnya memerah mema-nas. “KELUAR KAMU DARI KELAS!!” perintahnya dengan bentakan yang keras.
“Tanpa disuruh pun saya akan keluar. Bapak sendiri yang bilang waktunya sudah habis.”
Aku keluar kelas tanpa memedulikan apa yang ke-mudian terjadi di dalam sana. Sebenarnya waktu istirahat masih 15 menit lagi. Aku menuju kantin dan mengeluarkan ponsel untuk melepas rasa penat. Tanpa terasa sudah pukul 09.45 WIB yang menandakan waktu jam istirahat sesung-guhnya. Kawan-kawanku seperti biasa langsung berjalan bergerombolan ke arah kantin menghampiriku, dan setelah membeli perbekalan masing-masing, kami duduk menik-matinya sambil berbincang-bincang ke sana kemari. Dengan perlahan, akhirnya terbangun diskusi di antara mereka. Kini mereka sedang asyik membahas persoalan ‘apa manfaatnya semua pelajaran yang kita pelajari sekarang setelah kita lulus sekolah nanti’. Salah satu temanku mengatakan jika semuanya tidak penting, karena pada akhirnya kita hanya akan fokus pada satu bidang ilmu, atau paling banyak hanya tiga, itu pun jarang.
“Tapi jika aku ingin melanjutkannya di bangku kuliah bagaimana? Contohnya aku mencintai biologi dan akan melanjutkannya hingga Perguruan Tinggi nanti, itu bukan-nya tidak sia-sia?” kawanku yang lain mencoba berar-gumen.
“Hanya biologi, bagaimana dengan bahasa jepang, geo-grafi, matematika, atau sejarah? Semuanya, kan, hanya jadi sia-sia?”
“Aku sedikit setuju, tapi, aku tidak sepakat jika mate-matika digolongkan dalam pelajaran yang sia-sia atau tidak berguna saat kita lulus. Begitu juga dengan bahasa inggris dan bahasa Indonesia,” aku mencoba masuk.
“Maksudmu?” ucapnya dengan nada seperti tidak terima jika argumennya dibantah.
“Menurutmu, apa yang tidak penting dari matematika?”
“Kita menemukan dan menghafal rumus-rumus, dan akhirnya kita akan melupakannya kelak,” jawabnya dengan yakin.
“Kau hanya terpaku pada manfaat rumus. Pernah kau berpikir apa manfaat dari kita berpikir saat mengerjakan soal matematika?”
“Seperti apa?”
“Melatih problem solving, logika, melatih nalar. Menu-rutku, matematika itu hampir sama dengan permainan detektif. Apa itu tidak pernah terpikirkan olehmu? Coba bandingkan orang yang pandai matematika dengan yang tidak. Pasti mereka sangat berbanding jauh dalam penalaran akan sesuatu.”
“Tidak juga. Anak itu pandai matematika, tapi, dia lama dalam penalaran,” ucap kawanku sambil menunjuk seorang siswa berkacamata tebal yang sedang asyik diusili oleh kawan-kawan sekelasnya di pojok kantin.
“Maksudmu lemot (lemah otak)?” kawanku mengkla-rifikasi.
“Yah. Lihat saja sendiri,” jawabnya singkat sambil mema-jukan bibirnya seolah ingin menunjuk ke siswa yang dimak-sud.
“Menurutku itu beda. Dia hanya menghafal rumus yang diterangkan guru. Contohnya, kau hanya menghafal jika 1+1=2, 1+2=3, 1+3=4, dan seterusnya. Kau hanya menghafal. Tapi kau tidak pernah tahu sebab dan esensi kenapa jika satu ditambah satu adalah dua, atau dua ditambah dua sama dengan empat. Pada akhirnya, murid yang hanya menghafal, akan kesulitan jika mendapati soal dua tambah satu, karena dia hanya menghafal satu tambah dua.”
“Aku masih belum mengerti. Aku malah bertambah bingung mengikuti alur pemikiranmu.”
“Bagaimana jika kau saat di bangku SD hanya belajar matematika dengan metode menghafal? Menurutku, sampai sekarang pun kau tidak akan tahu berapa seratus ditambah seratus.”
“Yah, menurutku juga begitu. Jadi menurutmu aku sekarang bisa tahu seratus ditambah seratus adalah dua ratus, itu karena aku paham kenapa angka-angka itubertambah jika ditambahkan?
“Yah, kau hanya perlu memahami sepuluh ditambah sepuluh adalah dua puluh, dan akhirnya kau bisa mengeks-plornya sendiri hingga kau bisa tahu dengan sendirinya jika seratus ditambah seratus adalah dua ratus.”
“Aku mengerti.”
“Aku punya contoh lain. Kenapa kau bisa membaca milyaran kata berbentuk huruf alphabet yang ada di dunia ini?”
“Karena aku tahu jika A bertemu B akan terbaca bagaimana, atau M ketemu I akan terbaca seperti apa?”
“Bagaimana dengan orang-orang jepang atau cina yang belajar huruf kanji? Metode membaca huruf kanji adalah menghafal. Karena satu huruf kanji adalah satu gambar yang memiliki makna.”
“Seperti orang mesir kuno yang mencoba bercerita me-lalui gambar? Aku sering melihatnya di film-film bertema piramid.”
“Persis seperti itu. Bedanya huruf kanji adalah gambar yang sudah disederhanakan.”
“Baiklah. Aku mulai paham, jadi kau tidak perlu me-lanjutkan.”
“Kurang lebih seperti itulah matematika di mataku. Kita jangan terpaku dengan manfaat angka-angka atau hasil jawaban dalam setiap soalnya, tapi berpikirlah mengenai manfaat dari kita melewati proses pengerjaannya. Bahkan, jika aku tidak salah baca, matematika itu adalah sumber inspirasi yang utama bagi para filosof untuk mengem-bangkan epistemologi dan metafisik. Bahkan kebanyakan filosof seperti Plato menjadikan matematika sebagai sumber mencari kebenaran. Sama halnya dengan logika yang diciptakan Aristoteles.”
“Aku tadi sudah mulai paham, kini aku bingung lagi. Apa itu epistemologi, metafisik, filosof, Plato dan logika Arisoteles?” ucapnya protes.
“Itulah kenapa kau menganggap matematika itu tidak penting. Lebih baik kau tanyakan semua hal itu pada semua guru matematika kita yang ada di sekolah ini. Jika mereka tidak bisa menjawab, berarti kau tidak salah jika meng-anggap matematika itu tidak penting.”
“Kenapa begitu?”
“Karena mereka pun tidak tahu. Mereka hanya mengajar matematika seperti mengajari seekor singa sirkus yang dipaksa meraung karena cambuk. Padahal jika singa itu diberitahu esensi siapa dirinya sendiri, tanpa disuruh pun ia pasti akan meraung. Wajar saja jika banyak murid yang tidak tahu manfaat matematika dan pada akhirnya membencinya karena takut cambuk.”
“Satu lagi,” kawanku yang lain mencoba memperpanjang pembicaraan. “Bagaimana dengan manfaat bahasa Indonesia dan bahasa Inggris?” lanjutnya.
“Bahasa inggris bukannya sudah jelas? Itu kan, bahasa Internasional. Meskipun kita tidak boleh memaksakan siswa untuk menyukai pelajaran itu, tapi kalau bisa, sih, harus.”
“Bahasa Indonesia―” Belum sempat kawanku menyele-saikan kalimatnya, tiba-tiba bel berbunyi menandakan wak-tu istirahat telah usai.
“Kita lanjut nanti.” Aku berdiri dan membuang bungkus sisa makananku ke tempat sampah. Terbenak di pikiranku, hari ini aku seperti bukan aku. Tak biasanya aku bisa berucap dan berargumen seperti itu. Ini aku saat SMA? Sepertinya tidak. Pikirianku lebih dewasa beberapa tingkat dibanding biasanya.
Aku menuju kelas duluan meninggalkan teman-teman-ku. Sepanjang jalan aku terus memikirkan perbincang tadi. Sepertinya aku melihat mereka seperti adik-adikku, padahal, aku adalah yang paling muda di antara mereka.
Kakiku kini telah menginjak anak tangga terakhir. Aku mendengar suara gaduh yang sepertinya berasal dari dalam kelasku. Aku mempercepat langkahku saat mendengar te-riakan histeris dari arah sana. Dan, betapa terkejutnya aku ketika aku sudah berada di depan pintu kelas. Aku tidak yakin dengan apa yang kusaksikan saat ini. Seisi kelas bagaikan kumpulan manusia tanpa otak, bergerak tanpa etika dan moral. Yang membuatku tambah tidak yakin, mereka adalah kawan-kawan kelasku. Meja dan bangku bergelimpangan ke mana-mana tak teratur.
Di awal aku disuguhkan dengan melihat kawan-ka-wanku yang sedang berkelahi. Masing-masing dari mereka memegang pisau di tangannya. Mereka mencoba terus saling menusuk satu sama lain. Mereka terkesan seperti pertujukan hiburan yang disaksikan oleh siswa-siswa dari kelas lain yang menyoraki dan seolah memberi semangat dengan tepuk tangan riuh.
Di sudut kanan belakang kelas, aku melihat kawan-kawanku yang sedang tergeletak seperti gembel di sudut kelas. Mereka tak hanya laki-laki, tapi juga perempuan. Mata mereka merah dan kantung matanya berwarna sangat hitam. Wajah mereka pucat dengan tatapan kosong dan entah apa yang sedang dipikirkannya. Di sekeliling mereka bergeletakan suntikan, botol minuman keras, dan botol kecil yang sepertinya digunakan untuk menggunakan sabu.  Aku yakin meskipun sangat tidak percaya, mereka baru saja berpesta miras dan narkoba di dalam kelas.
Kakiku tak mampu melangkah dan terpaku, tangan tak mampu bergerak, mulut pun tak mampu berucap. Aku semakin dikejutkan ketika melihat siswi-siswi yang hampir tidak berbusana menari-nari dengan lihai di atas meja guru memamerkan lekuk tubuhnya dengan bangga di hadapan para guru-guru yang entah sejak kapan mereka berada di sana. Aku menolehkan pandangan ke kanan saat mende-ngar suara rintihan. Tepat di pandanganku, aku me-nyaksikan pasangan-pasangan yang memang aku ketahui mereka memiliki hubungan khusus (pacaran) tengah asyik bersetubuh tanpa rasa malu. Mereka tidak mengenakan pakaian sehelai pun selain dasi abu-abu yang terlilit di leher mereka. Dengan susah payah aku ingin memalingkan pandangan, namun tak bisa.
Tak jauh dari mereka, aku melihat rintihan-rintihan tangis kawan-kawan perempuanku. Mereka berpakaian sobek-sobek dan tetap terus menangis. Mereka mencoba menutupi tubuhnya dengan kedua tangan. Mungkinkah mereka telah diperkosa? Tapi oleh siapa?
Salah satu dari mereka mengambil silet dari dalam tasnya. Aku tahu apa yang ingin dia lakukan. Aku mencoba berteriak atau berlari ke arahnya untuk mencegahnya, namun tidak bisa. Aku hanya bisa menyaksikan saat dia menyayat nadinya dengan wajah putus asa. I’m exit,’ kalimat yang ia tulis di atas lantai dengan lipstik sebelum ia mengakhiri hidupnya. Aku tidak kuat melihat peman-dangan itu, aku pun memalingkan pandangan ke arah depan kembali. Namun apa itu? Aku seperti melihat seseorang tergeletak tertutup meja kelas tepat di bawah jendela. Aku seperti ingin menangis ketika menyadari itu adalah teman sebangkuku. Dia sudah tidak bernyawa dengan darah yang terus mengalir dari lubang yang berada di pelipisnya. Aku berusaha menghampirinya. Entah ke-napa, aku berhasil melangkahkan kaki meskipun agak gontai. Belum sampai ke jendela tersebut, kakiku sudah tidak bisa digerakan lagi. Aku persis berhenti di tengah kelas bagian depan. Namun setidaknya, dari jarak  sekarang, aku dapat melihat dia dengan sedikit lebih jelas. Aku dapat melihat kertas yang ia pegang dengan tangan kanannya, dan di tangan satunya ia menggenggam sebuah pistol. Aku membacanya, dan itu ternyata hanyalah surat yang diper-untukkan kepada wanita yang baru saja menolak cintanya. Apa hanya karena hal ini ia mengakhiri hidupnya?
Entah kenapa, aku ingin tertawa geli. Aku seperti orang gila. Aku ingin tertawa, aku ingin menangis, aku ingin berteriak, aku ingin memarahi mereka semua. Semuanya bercampur jadi satu. Aku baru menyadari, dari balik meja guru, aku juga melihat dua kawan perempuanku yang sepertinya juga sudah tidak bernyawa. Kali ini aku tidak terkejut, mungkin karena aku sudah mulai terbiasa dengan mayat. Dengan nadi yang tersayat di pergelangan kirinya, aku bisa tahu dengan cara apa dia mengakhiri hidupnya. Mungkin menyayat nadi adalah cara bunuh diri yang sangat digemari kaum hawa? Terlintas kalimat itu di otakku begitu saja.
Gadis di sebelahnya juga sudah tidak bernyawa. Aku melihat botol hijau yang berada di atas pangkuannya. Aku pun dapat mengetahui botol apa itu karena baunya yang sangat menyengat―racun pembunuh serangga. Masing-masing dari mereka juga memegang kertas di tangannya. Gadis pertama menulis, aku hanya ingin perhatian kalian, Ayah-Ibu. Gadis kedua menulis, aku tidak kuat menanggung rasa malu ini berkepanjangan.’ Aku tidak pernah tahu jika separah itu kehidupan pribadi mereka. Gadis pertama hidup dari keluarga yang dapat dikatakan kaya raya. Memang dia cukup sering bolos sekolah dan lebih suka menghabiskan waktunya untuk pergi ke pusat perbelanjaan dengan mengajak kawan-kawannya. Entah kawan-kawannya mau bermain dengannya memang karena tulus, atau hanya ingin berteman dengan uangnya saja. Sekilas otakku mengatakan itu tidaklah penting. Asal hidup bergelimpang uang, aku tidak perlu memikirkan yang lain. Persetan orangtua mau pulang atau tidak, yang penting uang jajanku tidak boleh putus. Ingin sekali aku meneriakkan BODOHH!’ kepada mereka yang sudah mengakhiri hidupnya seperti ini.
Gadis kedua yang kutahu terlahir dari keluarga yang sebaliknya. Kalau tidak salah, dia adalah anak yatim. Ayahnya hanya seorang buruh pabrik. Dia pun yang kutahu sedang kesulitan membayar uang sekolah. Apa karena hal ini dia merasa malu dan mengakhiri hidupnya? Ingin sekali aku juga mencacinya bodoh, namun sepertinya aku yang lebih bodoh. Apa aku terlalu asyik dengan kenikmatan hidupku sendiri sampai-sampai tidak memikirkan keadaan kawanku ini hingga ia lebih memilih bunuh diri? Dia korban keapatisan, dia tak sepatutnya mati.
Mataku tiba-tiba terpejam, dan dalam gelap aku melihat orang-orang yang sedang menghambur-hamburkan uang. Setelah itu aku melihat keluarga miskin yang sedang memakan nasi bungkus dengan lauk kerupuk dan garam. Entah itu makan mereka yang pertama dalam hari ini, atau dalam dua hari ini. Pentingkah? Aku dalam sisi kaya lebih suka memasang jendela mobilku dengan warna gelap dan memutar musik keras-keras dari dalam.
Tiba-tiba, aku tersadar karena dorongan dari kawan-kawanku yang baru saja tiba. Belum sempat aku bertanya kepada mereka mengenai semua ini, mereka sudah berhamburan ke segala sisi kelas meninggalkanku. Aku tercengang dengan apa yang mereka pegang. Itu adalah palu dan linggis yang sangat besar. Mereka tanpa ragu menghancurkan tembok, bangku, kursi serta semua fasilitas yang ada di dalam kelas tanpa ragu. Kawanku yang tadi berdiskusi denganku, berdiri menghadap tembok sisi belakang kelas. Dia mencoret-coret tembok dengan pilox bewarna merah dan pada akhirnya mengencingi tembok tersebut. ‘Keuangan yang maha Esa!’, Tuhan itu Tidak ada!’, ‘Aku bercita-cita jadi presiden!!, kata-kata yang kubaca dengan jelas―hasil coretannya. Kalimat terakhir yang ku-baca, Jangan mencoret-coret tembok!! Sungguh kalimat yang munafik. Dia yang mengatakan, dia yang melakukan.
Posisi berdiriku masih seperti awal. Pintu masuk berada di belakangku, papan tulis tepat berada tidak jauh di sebelah kiriku, sisi belakang kelas di sebelah kananku, dan aku berdiri di tengah-tengah sisi depan kelas. Dari sini aku dapat menyaksikan ke berbagai arah. Kawan-kawan perempuanku yang menjadi korban pemerkosaan tiba-tiba saja berhenti menangis dan suaranya berubah menjadi tawa kecil lirih. Mereka berdiri dan merogok kolong meja yang ada di depan mereka masing-masing. Entahlah, aku tidak sempat me-mikirkan bagaimana bisa mereka mendapatkan pistol dari dalam sana, karena kini mereka telah membuatku takut. Mereka mengarahkan pistol ke arah siswa-siswa yang tadi memperkosa mereka, dan dengan yakin mereka menekan pelatuk berkali-kali. Satu per satu aku menyaksikan kepala mereka pecah dengan darah yang bercipratan ke lantai dan meja. Meskipun telah mati, mereka tidak berhenti me-nembakinya. Kali ini aku tidak ingin berteriak, aku hanya ingin memejamkan mataku. Bibirku bergetar, begitu juga kakiku. Aku berlutut karena kakiku sudah tidak kuat lagi menopangku berdiri. Tak lama, kepalaku terasa sangat sakit, sekelilingku terasa berputar. Telinggaku berdenging dan tak bisa mendengar apa pun. Bau darah, alkohol, racun serang-ga, debu, dan sperma bercampur jadi satu membuatku ingin muntah. Semua semakin bertambah parah dengan de-ngingan telingaku yang berubah menjadi suara yang sangat bising. Kedua tanganku memegang kepalaku dengan kuat dan meremasnya dengan kencang. Aku teriak keras sekali, namun, anehnya aku tidak mendengar apa-apa. Entah aku yang bisu atau telingaku yang tuli?
Perlahan semuanya sedikit membaik. Aku menunduk dan melepas remasan kepalaku. Kemudian, aku membuka mata dengan hati-hati dalam posisi masih tetap menunduk. Sepasang kaki terlihat samar-samar di hadapanku. Saat pandanganku sudah mulai jelas, aku melihat kaki tersebut dengan lebih jelas. Kaki itu mengenakan sepatu kecil berwarna biru levi’s dengan lubang tali yang sedikit dan kaus kaki berwarna putih bergambar mickey mouse. Pelan-pelan aku memandang ke atas untuk mengetahui siapa gadis perempuan yang berdiri di depanku ini. Aku merasa tenang ketika kuketahui dia adalah kawanku yang tadi pagi bersamaku di koridor. Dia melepas senyum kepadaku, namun bersamaan dengan itu, angin bertiup dengan kencang membanting pintu dan kaca jendela hingga pecah. Angin berputar-putar di dalam ruang kelas menerbangkan apa pun. Aku mulai panik dan merasa takut saat tubuhku terangkat perlahan dari lantai. Aku melihat sekeliling, sepertinya sudah sepi dan hanya ada aku dan dia saja di ruangan ini. Sungguh tidak normal apa yang aku alami sekarang, dan tak sempat aku berpikir, sepertinya ada yang mulai mencekik leherku. Aku berusaha meronta untuk melawan sesuatu yang tak jelas ini. Rambut hitam gadis itu bertebaran tertiup angin, sebagian ada yang menutupi wajahnya yang masih tersenyum. Dia mengangkat tangan kanannya dan menghempaskannya ke depan―ke arahku. Tubuhku terlempar ke belakang, keluar melewati pintu, punggungku menabrak dinding koridor, dan terjatuh ke tengah lapangan. Aku tersadarkan ketika mendapati tubuhku sudah tergeletak di bawah kasur.
“Hanya mimpi,” kalimat pertamaku di pagi ini.[]





















Chapter 2
Atita, Wartamana, Nagata




SEPERTI biasa, aku meraih ponsel untuk mengecek sudah pukul berapa sekarang. Aku menaruhnya kembali ketika mengetahui ponselku telah kehabisan daya karena digu-nakan memutar musik sepanjang malam. Aku duduk sebelum akhirnya berdiri dan merapikan buku-bukuku yang belum sempat kurapikan tadi malam, sekaligus men-charge ponselku. Mimpi itu masih terniang dipikiranku. Kenapa akhir-akhir ini aku sering sekali memimpikan masa lalu?
Aku segera mandi membersihkan badan dan setelah itu sarapan sambil menonton televisi. Saat sudah pukul 12 lewat, aku baru ingat jika harus membeli buku catatan. Aku mempersiapkan diri dan mengambil dompet; dengan mengendarai motor aku pergi. Udara di luar masih terasa beku akibat hujan semalam, jalanan pun masih terlihat lembab. Sepertinya tadi pagi hujan, dan aku tidak mengetahuinya karena aku bangun pada hampir pukul 11 siang.
Di sepanjang jalan aku masih memikirkan mimpi tadi. Aku seolah tidak bisa lepas untuk memikirkannya. “Itu hanya masa laluku,” ucapku dalam hati. Aku sekarang adalah masa depan dari aku pada mimpi itu―aku yang masih belum berusia genap 15 tahun.
Akhirnya tiba juga aku di toko buku yang aku tuju. Aku membuku pintu kaca dan langsung disambut dengan rentetan buku-buku tebal dengan tema keseluruhan adalah ujian nasional. Warna-warnanya yang sangat beragam menjadi ciri khas buku-buku tersebut. Judul di antaranya adalah; Lulus UN Nilai Sempurna, Suskes UN dan Test Perguruan Tinggi, Kisi-kisi UN Beserta Jawaban, dan semua judul yang tidak jauh dari tema UN.
“Ada yang bisa kami bantu?” sapa seorang wanita yang mungkin lebih tua sedikit dariku.
“Oh yah, Ada buku catatan, Kak?”
“Sebentar, yah,” ucapnya tersenyum ramah dan pergi mengambil pesananku.
Aku melihat ke dalam lemari etalase kaca. Aku me-nulusuri barang-barang yang ada di dalam sana dengan saksama hingga mataku tertarik untuk melihat sebuah buku catatan berukuran sedang dengan sampul berwarna hitam.
“Maaf, Dek, menunggu lama,sapa pegawai tadi dengan menjajakan beberapa buku catatan yang dia bawa.
“Bisa lihat yang ini, Kak?” ucapku sambil menunjuk buku catatan yang menarik perhatianku tanpa memedulikan buku-buku yang dibawa olehnya.
“Yang mana?” ucapnya sambil membuka etalase dari sisi lain dariku.
“Yang berwarna hitam. Ada tulisan ‘atita di sampulnya.”
Beberapa detik kemudian, akhirnya pegawai itu dapat meraih buku yang kumaksud. Dia memberikannya padaku. Aku memperhatikannya dengan takjub. Aku melihat di setiap pinggir buku tersebut terhiasi dengan jahitan yang menurutku sangat bergaya kuno karena benangnya seperti terbuat dari dedaunan kering. Aku meraba tulisan ‘atita pada sampulnya. Aku membaliknya dan baru menyadari jika ada tulisan juga di belakang sampul buku terse-but―‘nagata. Pantas saja kakak ini tampak kebingungan tadi―aku memberi klu dengan tulisan atita, namun dari sisinya tersebut, tulisan yang tertera adalah nagata.
“Saya ambil yang ini.” Aku menyerahkan buku tersebut dan mengikuti wanita itu ke kasir.
“Tiga puluh ribu,” ucap kasir persis dengan angka yang terpampang di layar kecil mesin kasir. Aku mengeluarkan uang pas dan pergi meninggalkan toko membawa barang yang baru saja aku beli.
Aku tidak langsung pulang, melainkan menuju atau mampir sejenak ke tempat biasa aku berkumpul dengan kawan-kawanku. Letaknya tidak jauh dari rumahku, hanya berjarak satu jalan. Kami biasa menyebutnya basecamp, mes-kipun menurutku kata tersebut sangat tidak tepat untuk menjuluki sebuah warung yang beralih fungsi menjadi tongkrongan.
Sesampainya di sana, aku bertemu dengan beberapa kawan-kawanku. Beberapa adalah kawan-kawan sewaktu SMA, beberapa lagi ada yang berasal dari sekolah lain. Me-mang pada awalnya tempat ini hanya diduduki oleh kawan-kawan satu SMA-ku saja, namun karena pengaruh glo-balisasiakhirnya berubah menjadi tongkrongan universal. Aku, Lian, dan Ardian adalah pelopor sekaligus pembentuk tempat ini. Katakanlah jika Indonesia memiliki Soekarno, Hatta, dan Syahrir sebagai tiga serangkainya, jika di tempat ini, mereka adalah kita.
Kehidupan masa remaja mungkin sudah kami tekadkan untuk dihabiskan di sini. Tidak pernah ada pembeda di antara kami meskipun berlatar belakang berbeda-beda. Sebagian dari kami adalah mahasiswa―termasuk aku, se-bagian adalah pekerja, dan sebagian adalah penunggu nasib. Sebagian dari kami―termasuk aku―berdarah jawa, sebagian berdarah bugis, sebagian berdarah batak, sebagian berdarah sunda, sebagian berdarah ambon, dan lain se-bagainya yang tidak aku ketahui. Dalam perbedaan agama pun kami tidak pernah ada masalah.
Menurut Ernest Renan dalam buku Pidato Satu Juni Soekarno, bangsa yaitu satu gerombolan manusia yang mau bersatu, yang merasa dirinya bersatu. Demikian aku meng-kaitkan dan menafsirkan, Nasionalisme adalah rasa kecin-taan dan saling memiliki dalam suatu dan satu bangsa. Aku Jawa, dan aku (berbangsa) Indonesia, aku mencintai mereka yang bersuku lain selain jawa di Indonesia. Aku Islam, dan aku (berbangsa) Indonesia, aku mencintai mereka yang beragama lain selain Islam di Indonesia.
Ada yang sering menjadi pertanyaan konyol bagiku. Jika suatu dosa dilakukan di tongkrongan ini, apa aku turut bertanggung jawab akan hal itu? Aku takut saja jika tempat ini menjadi ladang dosa, dan aku, Lian, dan Adrian adalah penanam saham terbesar di sini. Aku tidak ingin mereka menjadi ‘generasi perusak’. Sudah banyak generasi tua yang kacau, jangan sampai generasiku menjadi penerusnya.
Sebagaimana budaya yang sudah mendarah daging, aku bersalaman dengan mereka satu per satu. Kami meng-habiskan sore ini dengan bermain gitar dan bersenda gurau. Saat matahari mulai terbenam, aku pun berpamitan untuk segera pulang. Sesampainya di rumah, aku langsung menaruh buku baruku di atas kasur dan mengambil novel yang belum selesai-selesai aku baca selama hampir dua bulan ini. Aku berbaring dan mulai membaca melanjutkan bacaan semalam. Jumlah halaman novel filsafat dengan judul Dunia Sophie ini adalah 798 lembar. Sophie adalah gadis yang belum genap berusia 15 tahun yang sangat memiliki rasa penasaraan yang tinggi. Pada suatu hari saat ia baru pulang dari sekolahnya, ia mendapat surat kecil dengan tulisan, siapa aku?, dari mana datangnya dunia? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang mengawali pelajaran filsafatnya. Kini aku baru sampai pada halaman 540 ketika Sophie―tokoh utama―tengah berbincang dengan Alber-to―gurunya―mengenai tokoh-tokoh terkemuka dan berpe-ngaruh pada zaman romantisisme yang berlangsung pada abad ke-18. Aku baru mengetahui jika di zaman inilah seni musik dan sastra mulai berkembang. Salah satu seniman musik pada zaman itu ialah Beethoven, dan salah satu novelis yang salah satu karyanya mampu meningkatkan angka bunuh diri setelah novel itu di-terbitkan adalah Goethe. Novel yang berjudul The Sorrows of Young Werther menceritakan tentang seorang pemuda bernama Werther yang bunuh diri dengan cara menembak kepalanya sendiri karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Mungkin novel karya Goethe tersebut mengajari bagi siapa saja yang membacanya jika cinta itu adalah segalanya. Jika cinta kita ditolak, tidak ada gunanya kita hidup.
Seketika, aku lagi-lagi teringat dengan mimpiku. Apa yang dilakukan Werther sama persis dengan apa yang dilakukan kawan sebangkuku di dalam mimpi. Aku meng-hentikan kegiatan membacaku dan memejamkan mata untuk mulai berfantasi mengingatnya kembali. Tiba-tiba teriakan suara adik-adikku yang sedang bercanda menge-jutkan dan membuatku kembali ke dunia nyata. Aku me-nutup novelku dan memutuskan untuk melanjutkannya di kamar atas. Rumahku berlantai dua, namun di lantai tersebut hanya ada satu kamar memanjang dengan balkon mengahadap ke utara. Aku sudah lama sekali tidak ke atas sana semenjak kuliah. Ini sebenarnya adalah kamar kakakku yang sudah diwarisi kepadaku, namun karena kakakku sudah tidak lagi meng-kost, akhirnya dia menempatinya lagi bersamaku. Meskipun dia terkesan otoriter, namun dia tidak pernah pelit saat barang-barang kepunyaannya aku guna-kan, seperti Komputer, TV LCD, sweter, Kemeja, sepatu, celana, baju, kaos kaki, tas, pasta gigi, obat kumur, bahkan barang-barang dia yang kurasa sudah tidak ia perlukan lagi―meskipun tidak pernah kutanyakan sebelumnya―se-ring aku ambil, seperti buku binder, flashdisk, dan semua yang tidak bisa kusebutkan satu per satu.
Aku membawa buku catatan, novel, dan ponsel ke atas. Sesampainya di sana, aku membuka pintu, melempar semua bawaanku ke atas kasur dan menyalakan lampu. Aku sengaja menutup semua pintu dan jendela agar tidak terdengar suara dari luar sehingga aku dapat lebih fokus dalam menulis. Aku merebahkan tubuhku di atas kasur dan meraih novelku.
Tiba-tiba ponselku berbunyi dan membuatku sangat jengkel. Selalu saja ada gangguan saat aku ingin membaca. Awalnya aku tidak menghiraukannya, namun ponselku berbunyi kembali. Akhirnya mau tidak mau aku menge-ceknya.

From: Private
Hubungi balik. Cepat. Ini penting bagi kita.

“Dasar bodoh. Tidak penting sekali,” gerutuku ketika selesai membaca pesan itu.
Aku kembali melanjutkan bacaanku dan tak ada semenit, lantunan lagu Rossa yang aku gunakan sebagai nada dering berbunyi. Aku meraih ponselku untuk mengetahui siapa yang menghubungi. Nomor tidak diketahui’, tulisan yang tertera di layar. Dengan perasaan penuh penasaraan aku menekan tombol terima dan menjawab panggilan tersebut.
Assalamualaikum. Hallo?” aku membuka pembicaraan.
Kurang lebih 30 detik tidak ada jawaban sampai aku menanyakankannya sekali lagi.
Hallo?”
“Ii…inii…dengan siapa?” Terdengar suara pria dengan nada yang bergetar.
“Wangsa. Ini dengan siapa?” Aku mulai penasaran, na-mun lagi-lagi pembicaraan terdiam beberapa detik.
“Kau sekarang berada di mana?” pertanyaanku dibalas dengan pertanyaan. Kali ini suaranya sudah terdengar tidak bergetar.
“Di rumah. Ini siapa?” aku kembali menanyakan perta-nyaan yang dari tadi belum ia jawab. Lama-kelamaan aku semakin bertambah penasaraan.
“Mmm kau akan tahu siapa aku. Tapi tidak sekarang.”
“Apa maksudmu?” ucapku protes.
Aku merasa suara seseorang yang sedang meneleponku ini seperti tidak terdengar asing bagiku.
“Aku awalnya takut dan tidak percaya saat mendengar suaramu, tapi kini aku seperti ingin tertawa.”
“…kau sungguh tidak jelas. Apa maksud ucapanmu?!” Aku mulai kesal.
“Aku mengurungkan niatku. Tadinya aku ingin menga-takan semuanya. Namun hal itu aku urungkan karena sesuatu.”
“Aku akan mematikan telepon ini,” ancamku.
“Sebentar. Aku pastikan kau akan berterima kasih padaku nanti. Baiklah, aku tidak akan mengatakan apa-apa, tapi satu hal yang harus kau tahu…”
Aku tidak mengatakan apa-apa sampai ia melanjutkan perkataannya. Kelamaan aku mulai menjadi benci dengan cara orang ini berucap. Menurutku ucapannya sangat ber-tele-tele dan sok diindah-indahkan.
“…kau selalu menulis atau mencatat apa yang kau lakukan di masa lampau, tapi bagaimana jika sebenarnya kau hanya melakukan apa yang sudah kau tulis di masa depan?” lanjutnya. Aku terdiam mendengar kata-katanya. Bagaimana dia bisa tahu kalau aku suka mencatat ke-seharianku, padahal aku tidak pernah menceritakan kebia-saanku ini pada siapa pun.
“Kau masih di sana?” tanyanya lagi.
“Yah.
“Cermati setiap dirimu di setiap detik.”
“Berkatalah yang jelas. Jangan seolah-olah kau ini se-orang penyair!” bentakku.
“Kau harus memikirkannya seperti aku dulu. Oh yah. Apa dia sudah hadir?”
“Seperti kau dulu? Apa maksudmu? Sebenarnya siapa kau ini?”
Beberapa detik pria itu terdiam sebelum akhirnya me-ngatakan perkataan terakhirnya.
Aku adalah...
Telepon terputus. Aku yakin dia memang sengaja me-mutusnya. Siapa pria itu pun aku belum tahu, tapi dia sudah membuatku memikirkan segala ucapan-ucapannya yang menjengkelkan. Kau selalu menulis atau mencatat apa yang kau lakukan di masa lampau, tapi bagaimana jika sebenarnya kau hanya melakukan apa yang sudah kau tulis di masa depan?. Aku jadi memikirkan kalimat tersebut.
“Jika aku hanya menulis apa yang sudah aku tulis di masa depan, dengan kata lain, aku di masa lalu hanya melakukan apa yang sudah aku catat di buku catatanku ini,aku berbincang dengan diriku sendiri. Semakin aku pikirkan, aku semakin bingung.
“Tidak penting!” gerutuku mengakhiri memikirkan hal tersebut.
Aku mengambil buku catatan baruku dan membukanya untuk mulai menulis catatan harianku. Saat menulis, aku malah menuangkan hal-hal tadi ke setiap tulisan-tulisan yang aku goreskan. Dengan kata lain, aku masih me-mikirkannya.

23 Nov 2014 – 20.01 WIB
...aku di masa depan sudah mengetahui apa yang aku lakukan di masa ini. Karena aku adalah masa lalunya. Saat Aku di masa depan mencatat apa yang telah dilakukannya, berarti aku memang melakukan apa yang sudah ia catat. Dan apa aku bisa mengubah masa depanku? Apa dia tidak terkesan seperti Tuhan bagiku?
Aku di masa kini pun adalah masa depan bagi aku di masa lalu dulu. Berarti aku di masa lalu dengan kata lain hanya melakukan apa yang sudah aku tulis di buku catatan ini. Bahkan aku saat beberapa jam lalu hanya melakukan apa yang aku tulis sekarang. Karena aku adalah masa depannya. Dan dia masa laluku...

Tak lama kepalaku mulai pening. Semakin aku pikirkan, aku semakin bingung dan pikiranku berputar-putar tak karuan. Aku seperti terlepas dari tubuhku sendiri, aku seperti tak seharusnya memikirkan apa yang tidak harus kupikirkan. Aku mulai memejamkan mata, tak lama aku tertidur.
“Apa dia sudah hadir…?”
“…apa dia sudah hadir?”
“Cermati setiap dirimu di setiap detik.”
“…apa dia sudah hadir?”, “Cermati setiap dirimu di setiap detik”, “aku adalah...”, “aku adalah...”, “aku...”
“Aku adalah...”
“Aku...”
“Aku…”
“Adalah…”
“Kau…”
“Kau…”
…………
“DIAAAMMM!!”

“Siapa yang kau suruh diam?”
“…”
“Aku?”
“Apa?”
“…”
“Siapa kau?”
“Aku adalah pikiranmu.”
“…”
Aku tidak yakin. Apa aku sudah gila atau berada di alam lain? Aku mencoba berpikir jernih dan kembali ke dunia normal, namun, tetap saja aku masih dapat melihat-nya. Aku melihat diriku sendiri di depanku. Aku bukan sedang bercermin bukan?
Persis seperti diriku. Dia duduk di sebelah kananku dengan tatapan bersahabat ingin memperkenalkan diri. Aku terpana tidak percaya melihat-nya. Aku segera duduk dan menjaga jarak dengan-nya. Ada apa ini? Siapa sebenarnya dia? Apa yang sebenarnya terjadi? Aku bertanya kepada diriku sendiri.
“Apa aku bermimpi lagi?” gumamku dalam hati.
“Tidak. Kau sedang tidak bermimpi,” ucap-nya yang membuatku semakin tercengang. Bagaimana bisa dia men-jawab apa yang aku ucapkan dalam hati? Apa dia bisa membaca pikiranku? Tapi tunggu, dia itu adalah aku. Apa berarti dia juga memikirkan apa yang aku pikirkan?
“Hampir persis seperti yang kau pikirkan,cerminan diriku melanjutkan ucapan-nya. Tapi, anehnya aku tidak melihat dia mencuap-cuapkan mulut-nya. Kenapa aku dapat berkomunikasi dengan-nya? Seakan-akan aku berbicara de-ngan-nya dengan bahasa kalbu.
“Aku bukan kau, karena aku tercipta olehmu sendiri. Dan aku tidak nyata. Aku hanya hidup di pikiranmu,” lanjut-nya.
Aku semakin yakin jika aku sudah gila. Tapi jika aku sudah gila, kenapa aku masih bisa berpikir dan mencoba mencari kesadaran? Aku yang menyimpulkan, aku sendiri pun yang menyangkal. Lama-kelamaan aku lelah memi-kirkannya dan mulai pasrah. Aku membiarkannya saja diriku terbawa oleh pikiranku sendiri.
“Baiklah. Sebenarnya siapa kau? Dari mana dirimu berasal?” aku mengucapkannya dengan acuh.
“Aku adalah yang hidup di dalam pikiranmu.”
“Dengarlah, aku seharian ini sudah banyak mendapati hal-hal aneh. Bisakah kau menjelaskannya dengan lebih sederhana?” ucapku sewot.
“Baiklah. Aku akan membuat kau menjawab perta-nyaanmu sendiri. Pernahkah kau bercerita mengenai ma-salahmu atau membagi apa yang tengah kau pikirkan kepada orang lain?”
“Pernah,” jawabku yakin.
“Benarkah? Mungkin itu hanya apa yang kau rasakan, bukan pikirkan.”
“Apa bedanya?”
“Lihat buku catatanmu.Semua gagasan pikiranmu selalu kau pikirkan sendiri. Kau merumuskannya sendiri, kau me-nulisnya sendiri, kau mempertanyakan sendiri, kau meng-kritiknya sendiri, kau membenarkannya sendiri, kau me―”
“Oke oke. Tidak perlu diperpanjang.”
“Singkatnya kau menjadikan dirimu sendiri sebagai kawan diskusi.”
“Baiklah aku bisa membenarkan semua hal itu. Tapi hal itu belum menjelaskan siapa sebenarnya kau dan dari mana kau berasal.”
“Aku adalah kawan diskusimu. Aku hidup dalam pikiranmu. Kau selama ini selalu bertanya pada dirimu sendiri, seolah-olah kau berbincang dan mengajak dirimu sendiri berbicara. Karena hal itulah aku terbentuk.”
“Bisa kau jelaskan lebih.”
“Lama-kelamaan aku menjadi satu dan memiliki bentuk di dalam pikiranmu.”
“Kenapa begitu?”
“Karena kau terlalu memaksa. Beruntungnya kau tidak gila.”
“Lalu kenapa aku bisa melihatmu. Dan kenapa kau keluar dari pikiranku?”
“Kau terlalu banyak berfantasi hari ini, sampai-sampai kau terlalu berpikir pendek dalam menarik kesimpulan,” ucap-nya sambil tersenyum kecil. “Kenapa kau menyim-pulkan aku yang keluar dari pikiranmu? Kenapa kau tidak menyimpulkan jika kau sendirilah yang masuk ke dalam pikiranmu? Masuk ke tempat di mana aku tinggal, lanjut-nya.
“Bagaimana aku bisa meyakini ucapanmu itu?”
“Saat kau berpikir keras memikirkan sesuatu dengan memejamkan mata, keningmu akan merasakan sesuatu. Semacam di situ adalah titik dari fokusmu. Setelah itu matamu seperti masuk ke dalam, dan tiba-tiba kau seperti merasuk ke dalam alam lain. Semakin kau berusaha keras berpikir dengan fokus, kau akan semakin terbawa. Pikir-anmu seolah mengawang-ngawang. Sebenarnya yang meng-awang-ngawang bukan pikiranmu, tapi kesadaranmu. Kau sudah mulai berada di alam pikirmu di saat-saat seperti itu, namun kebanyakan manusia tidak berani melanjutkannya dan langsung membuka matanya.”
Aku berpikir sejenak untuk mencerna ucapannya se-belum akhirnya menanggapinya. “Jadi kau hidup di dalam tubuhku? Atau kita hidup bersama di dalam tubuh ini?”
“Tidak tidak, bukan seperti itu. Tubuhmu murni adalah milikmu. Aku hanya hidup di dalam pikiranmu. Dengan kata lain, aku hanya bisa tahu apa yang kau pikirkan saja, bukan apa yang kau rasakan.”
“Aku belum paham sepenuhnya.”
“Kenapa kau ingin sekali paham? Aku ada atau tidak ada, itu kan, tidak penting. Tak semua apa yang ada dan terjadi di dunia ini dapat kau ketahui.”
“Apa dengan kata lain kau ingin bilang kalau aku harus menerima ke-ada-anmu begitu saja?”
“Kenapa tidak?”
“Terserah kau saja.”
“Apa kau merasa pening atau merasakan ada sesuatu yang terjadi di keningmu saat dari tadi kau berpikir keras memikirkan semua ini?”
“Hmm. Tidak.” Aku baru menyadari hal itu.
“Apa itu menandakan jika kau tidak berpikir?”
“Omong kosong!”
“Hahahahaha, itu sekiranya dapat menjelaskan semua-nya sekarang.”
“Terserah kau saja.”
Aku beranjak dan pergi ke kamar mandi. Saat aku menyusuri tangga, aku ingin sekali membuang pikiran-pikiran bodoh dan semua yang aku alami di hari ini, namun tidak bisa. Terbenak di pikiranku, aku ingin memutuskan untuk hidup normal dengan dunia yang nyata-nyata saja. Sepertinya aku sudah terlalu jauh dengan duniaku sendiri. Tak lama, saat aku menoleh ke belakang, aku melihat dia mengikutiku.
“Kenapa kau mengikuti?!” aku membentak-nya.
“Kau ini pelupa. Sudah kubilang kalau aku ini hidup di pikiranmu. Apa yang aku lakukan semuanya karena kau memikirkan dan memikirkannya.”
Sial. Benar juga apa yang dia ucapkan. Aku dari tadi memang masih memikirkan hal itu.
Ahh, diam kau!” aku yang tidak bisa lagi berargumen hanya dapat marah tidak jelas.
“Sepertinya kau harus mengendalikan diri. Apa kau ingin terlihat seperti orang gila dengan marah-marah sendiri seperti ini?”
“Persetan!” gerutuku dalam hati.
Aku memasuki kamar mandi dan aku masih melihat dia mengikutiku.
“Apa kau benar-benar ingin mengikutiku masuk sampai dalam sini?” aku berbicara pelan sambil menunjuk ke dalam kamar mandi dengan tangan kiriku.
“Pikirkan aku menjauh atau menunggumu di luar. Maka aku akan melakukan itu,” jawab-nya enteng.
“Yang benar saja!” Meskipun terkesan bodoh, aku yang tidak memiliki pilihan lain akhirnya mengikuti saran itu. Cukup lama aku mencoba, ternyata tak semudah yang aku pikirkan. Setelah hampir delapan menitan, dia pun berjalan mundur dan berdiri agak jauh dari kamar mandi.
“Selamat. Kau berhasil.”
Entah kenapa aku merasa senang. Aku keluar kamar mandi dan kembali ke kamar atas. Awalnya dia tidak mengikutiku, namun saat aku memikirkan dia mengikutiku, akhirnya dia berjalan menelusuri langkah-langkahku. Se-sampainya di atas, aku menyuruhnya duduk dan tak lama ia duduk. Sepertinya aku mulai mahir akan hal ini. Kali ini aku benar-benar tidak peduli dengan kesadaran, atau apa itu batas normal. Aku sudah terlanjur terjebur, aku ingin melanjutkannya. Ada beberapa yang harus kudiskusikan dengan pikiranku sendiri, atau dengan dia, kurasa sama saja.[]
















 Chapter 3
Aku, Matahari, dan Bayangan




“SEPERTINYA kau ingin mengajakku berdiskusi?”
“Apa aku bodoh jika bertanya ‘kau tahu dari mana?’”
“Hahahahaha, kau sudah mulai kembali. Apa kau sudah memikirkan matang-matang apa yang ingin kau pikirkan?”
“Aku dapat memikirkan apa pun yang kumau. Memang, apa salahnya dari berpikir?”
Dia tersenyum. “Baiklah, apa yang ingin kau disku-sikan?”
“Sebelumnya aku ingin bertanya, jika kau adalah bagian dari dalam pikiranku, dan kau bergerak sesuai apa yang aku pikirkan, tapi kenapa aku merasa kau seolah bergerak tanpa semauku?”
“Itulah kelemahan manusia. Terkadang sulit sekali bagi mereka untuk mengendalikan pikirannya sendiri, jadi, mungkin kau pada awalnya akan sangat kesulitan dalam mengendalikan aku. Tapi setidaknya, kau bukanlah manusia yang tidak mau memanfaatkan pikirannya.”
Aku diam beberapa menit sebelum mengajukan perta-nyaan kembali.
“Apa bedanya aku berdiskusi sendiri dengan diriku, dan aku berdiskusi dengan dirimu?” tanyaku lagi.
“Tidak ada. Itu sama saja.”
“Kenapa seperti itu?”
“Aku pun tidak tahu.”
“Baru kali ini kau tidak bisa menjawab pertanyaanku.”
“Karena aku hanya memikirkan apa yang kau pikirkan atau pernah kau pikirkan. Atau mengembangkan apa yang pernah kau pikirkan dengan cara menggabung-gabung-kannya, menganalogikannya, atau lain sebagainya. Ingatlah, dalam hal pikiran, aku adalah kau, kau adalah aku.”
“Menggabung-gabungkan?”
“Contohnya seperti kau pernah memikirkan ‘biru’, dan sekarang kau sedang memikirkan ‘kuning’. Maka kau bisa memikirkan ‘hijau’. Itu pun jika kau mempunyai penalaran dalam berpikir.”
“Tidak jauh beda dengan konsepsi matematika yang aku diskusikan dengan kawan-kawan SMA-ku di dalam mim-pi.Tiba-tiba aku ingat kembali akan mimpiku itu. “Se-bentar. Apa kau tahu soal mimpiku?”
“Apa yang kau ketahui pasti aku pun tahu, begitu juga sebaliknya. Kalau kau tidak tahu akan suatu hal dan mempertanyakan hal itu padaku, kurasa itu sia-sia saja, karena aku pun tidak mengetahuinya. Aku hanya bisa membantumu menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan cara berdiskusi.”
“Kalau begitu kita diskusikan itu!” ajakku bersemangat.
“Aku tidak yakin. Mimpimu itu tidak seratus persen berasal dari fungsi kerja otak, tapi hatimu pun ikut mempengaruhinya. Bahkan, mungkin itu lebih dominan adalah hasil fungsi kerja hati.”
“Apa dengan kata lain, aku sangat memiliki hasrat untuk kembali ke masa itu?”
“Yah, karena aku perhatikan kau begitu berhasrat ingin membahas itu, sampai-sampai membawanya ke dalam pikiranmu. Aku malas membahas perkara hati, aku tidak bisa membantumu,” jawab-nya protes.
“Maaf-maaf. Aku sekilas berpikir kau ini seperti terminator.”
Entah kenapa aku meminta maaf? Apa aku mulai menganggapnya ‘ada’ dan tidak menganggapnya asing lagi?
“Apa kau tidak memikirkannya?” dia memulainya lagi.
“Tentang apa?”
“Dari tadi kita berdiskusi sepanjang ini, sebenarnya di antara kita siapa yang sedang mengajukan pertanyaan dan siapa yang sedang menjawab pertanyaan? Bukankah kita sama saja.”
“Mm” aku menggaruk kepala karena aku akui aku memang baru menyadari hal itu.
Tak lama, aku menjawab dengan jawaban seadaanya yang terlintas di otakku. “Sepertinya sama saja. Kau yang bilang sendiri ‘dalam hal pikiran, aku adalah kau, kau adalah aku.’ Sebenarnya pun kau ini, kan, tidak nyata. Aku sebenarnya hanya sedang berbicara sendiri.”
“Kurasa begitu. Jadi menurutmu kita tidak perlu memperdebatkan siapa yang bertanya, siapa yang men-jawab, atau siapa yang mengkritik di antara kita?”
“Yah, benar. Kurasa kata itu tepat.”
“Kata yang mana?”
Kita. Kau dan aku adalah satu. Berarti kita adalah kita.”
“Seperti sebuah sajak yang pernah kita baca. Buku kumpulan sajak-sajak Sapardi yang kau pinjam dari adik kelasmu di kampus, kau ingat?”
“Aku sedikit lupa. Tapi, aku sepertinya menulisnya.”
Secara impulsif aku langsung membuka buku catatanku tentang kumpulan kata-kata indah.

Waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikuti di belakang.
Aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang me-manjang di depan.
Aku dan matahari tidak pernah bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang.
Aku dan bayang-bayang tidak pernah bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan. - Sapardi

“Apa menurutmu itu sama?”
“Entahlah. Kurasa kita tidak perlu bertengkar. Begitu yang aku maknai dari sajak tersebut.”
“Oh yah,” aku tersadar akan sesuatu. “Kau bilang kau bisa melakukan apa pun yang aku pikirkan. Benar begitu?” lanjutku.
“Begitulah.”
“Bisakah kau berubah menjadi gadis cantik jika aku memikirkannya?”
“Kau sungguh mesum!”
“Tidak seperti itu. Bukankah akan lebih menyenangkan jika yang menemaniku berdiskusi adalah wanita? Kurasa kau juga berpikir seperti itu,” aku mengelak.
“Tidak. Aku tidak memikirkan itu karena kau pun tidak memikirkannya. Saat kau berbicara seperti itu, yang berbicara adalah nafsumu, bukan akalmu. Sepertinya kau harus menjaga otakmu agar tidak terinterpensi oleh hal-hal semacam itu.”
Aku diam karena malu.
“Kenapa kau diam?”
“Mm...tidak.”
“Sudahlah, lagi pula apa serunya berdiskusi dengan wanita? Mereka terlalu menggunakan perasaan.”
“Yah,aku meng-iya-kannya karena apa yang dia katakan adalah apa yang aku pikirkan juga.
“Saat kita mengalahkannya dalam debat, dia pasti akan terbawa perasaan dan akhirnya menyimpan dendam atau membenci kita. Tapi jika kita mengalah, mereka akan makin menjadi-jadi.”
“Aku tidak ingin membahas wanita. Kurasa hal itu tidak menyenangkan,” aku mengakhiri pembicaraan.
Aku mengambil buku catatan dan menulis semua hal yang aku alami saat ini, tak lupa juga menceritakan tentang dia. Kurasa jika ada seseorang yang membaca catatanku ini, dia akan langsung menganggapku aneh. Aku mengecek jam, kini sudah pukul 23.30 WIB lewat.
“Apa aku ini gila?” tiba-tiba aku melontarkan perta-nyaan.
“Karena berbicara denganku?”
“Yah.”
“Coba saja kau menceritakan tentangku kepada ibumu atau kawan-kawanmu. Kau akan tahu jawabannya sendiri.”
Tentu mereka akan bilang aku gila.”
“Lagi pula apa yang membuatmu yakin jika mereka yang ada di sekelilingmu itu benar-benar ada?”
“Apa kita sedang membahas pemikiran bapak filsafat modern―Descartes?”
“Yah, kurasa. Descrates mengatakan, ‘aku berpikir maka aku ada.’”
“Bahaslah,” perintahku.
“Oke. Baiklah.” Pembahasan pun terjadi kembali di antara kita. “Bagaimana jadinya jika sebenarnya sosok yang kau anggap ibu, ayah, adik atau kakakmu itu sebenarnya tidak pernah ada?” lanjut-nya.
“Atau dengan kata lain, yang dapat melihat mereka semua hanya aku seorang saja. Saat aku berinteraksi dengan mereka, sebenarnya aku hanya sedang berinteraksi dengan teman khayalanku’, dan orang-orang yang melihatku pun pasti akan menganggap aku gila.”
“Dan bagaimana kau bisa beranggapan jika orang-orang yang menganggapmu gila itu sebenarnya ada? Bisa jadi mereka juga sama seperti keluargamu yang hanya kha-yalanbelaka.”
“Lalu, berarti aku hanya sedang hidup sendiri di dunia ini dengan pikiran-pikiranku sendiri.”
“Sungguh sangat menyedihkan jika semua itu adalah benar.”
Saat dia mengucapkan kata ‘menyedihkan’, sepertinya agak terdengar aneh. Bukankah dia tidak dapat merasakan apa-apa? Bagaimana dia tahu bagaimana rasanya bersedih?
“Bagaimana jika kita balik,aku melanjut pembicaraan. “Bagaimana jika sebenarnya yang nyata di dunia ini adalah mereka, dan sebenarnya aku tidak pernah nyata, atau, tidak pernah ada?” lanjutku.
Dia tidak mengucap sepatah kata pun. Padahal sejak dari awal aku dipertemukan oleh-nya, dia sangat pandai sekali berbicara.
“Katakanlah aku dan keluargaku sedang berdiskusi ke sana kemari dengan topik yang tidak menentu. Aku merasa aku memang sedang dianggap oleh mereka. Tapi bagaimana jika kenyataannya aku tidak pernah ada atau aku hanya makhluk khayalan yang mereka ciptakan. Mereka hanya berpura-pura berbicara denganku. Dengan kata lain, berarti kehidupan keseharianku juga adalah khayalan yang mereka ciptakan.”
“Maksudmu seperti aku?”
Upss, maaf jika kau tersinggung.”
“Kurasa aku tidak tersinggung.”
“Kalau begitu, yah. Persis sepertimu. Apa kau pernah menganggap dirimu ada?”
“Tidak.”
“Bagaimana jika aku pun sebenarnya sama sepertimu, bedanya aku menganggap diriku ini ada?”
“Itu karena kau tidak pernah memikirkannya, sebe-narnya kau ini ada atau tidak.”
“Semakin aku pikirkan maka aku semakin ragu dengan keberadaanku atau dengan duniaku ini.”
Pembicaraan berhenti. Aku dan dia kini sedang sama-sama berpikir. Beberapa menit kita saling berdiam diri dan sibuk memikirnya masing-masing.
Tiba-tiba dia memulainya kembali dengan pertanyaan yang kurasa masih berada dalam rel topik pembahasan. “Masih ingatkah saat kau kanak-kanak?”
“Tentang apa?”
“Kau merasa jika dunia ini tercipta sengaja hanya untukmu. Apa yang kau alami, kau merasa jika semua itu sudah diatur sengaja untukmu. Seolah-olah kau sedang dikerjai oleh orang-orang yang ada di sekitarmu. Tak jarangnya kau berprasangka buruk kepada mereka semua namun tidak pernah berani mempertanyakan hal ini karena takut dianggap aneh.”
“Aku sangat mengingat itu. Aku rasa itu adalah pandangan filsafat pertamaku. Sayangnya aku tidak me-nyadari itu.”
“Bagaimana jika semua itu benar? mereka―semua semua manusia―sebenarnya hanya boneka Tuhanyang di-setting hanya untuk mengolah hidupmu.”
“Kurasa tidak. Aku pernah membahas ini dengan Irul―temanku. Dia juga beranggapan sama persis seperti aku beranggapan. Berarti ini hanya pikiran konyol anak-anak saja.”
“Oh yah, bagaimana jadinya jika kawanmu si Irul hanya berpura-pura polos di depanmu. Setelah itu, saat kau lengah, dia akan melaporkannya kepada Ketua Pelaksanaatau dalang dari duniamu ini, dan mengatakan, “ketua! Sepertinya Wangsa mulai menyadari kalau dia sedang dikerjai.””
Aku berpikir sejenak.
Entah, aku seperti membenarkan ucap-nya. “Kalau be-gitu, berarti aku harus lebih menjadi orang yang tertutup dan tidak boleh membagi pemikiranku dengan manusia lain agar mereka tidak tahu sejauh mana aku menyadari permainan mereka.”
Kami terdiam kembali beberapa menit, sampai akhirnya dia berceloteh kembali.
“Kau tahu sesuatu hal?”
“Apa?”
“Dari semua pembahasan kita, aku jadi yakin kalau kau ini benar-banar gila,” ejek-nya.
“Apa aku bisa memukulmu?” ucapku jengkel.
“Hahahahaha. Sayangnya tidak.”
Diskusi pun berakhir pada pukul 2 pagi. Aku tidur dengan keadaan lepas. Aku tidak mau lagi memikirkan apa yang tengah aku pikirkan. Aku akan membiarkan pikiranku membawaku ke dunianya. Hanya dengan cara seperti aku akan mendapat kebebasan dalam berpikir. Yah, pada saat ini aku beranggapan jika berpikir itu harus bebas dan merdeka dari apa pun. Bebas sebebas apa pun. Merdeka semerdeka apa pun.
[
Kemudian,
Bagaimana keadaannya?”
“Baik-baik saja. Hanya kaget dan mengalami benturan kecil di kepalanya.”
“Tapi tidak apa-apa, kan?”
“Sudah aku katakan tidak apa-apa, Lian. Kau bawel sekali. Aku saja yang perempuan tidak sebawel itu.”
“Kita hubungi orangtuanya saja. Bilang kalau dia jatuh dari tangga?”
“Apa kau sudah gila? Dia hanya tergelincir dari anak tangga ke-6, kau jangan terlalu mendramatisir.”
Mataku berat sekali untuk dibuka. Sepertinya aku sedikit merasakan sakit di bagaian kepalaku. Aku berada di mana? Kenapa berisik sekali?
“Sudah biarkan saja. Kau seperti tidak mengenal Adrian saja.”
“Aku hanya bercanda. Kenapa kalian jadi kolot begini.”
“Sudah sudah. Kalian mau menjenguk atau membuat keri-butan di sini. Kalian ingat, ini UKS, tempatnya orang sakit.”
“Lagi pula siapa yang bilang kalau ini department store?”
“Kau benar-benar tidak bisa dikasih tahu, yah!”
“Hei. Diamlah. Apa sih yang kalian ributkan?” protesku.
“Wah, dia sudah siuman,” ucap Lian.
Mereka langsung mengelilingiku yang sedang terbaring di atas ranjang. Aku baru menyadari kalau aku sedang berada di ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS).
“Apa yang terjadi?” tanyaku.
“Kau terjatuh dari lantai tiga dengan kepala di bawah,” ucap Adrian seenaknya.
“HAHAHAHAHAHA.” Seisi ruangan tertawa.
“Aku bertanya serius?” aku sekali lagi bertanya.
“Kamu terjatuh dari tangga saat berlari menyusurinya.”
“Kau serius?”
“Yah, tanya saja Lian. Dia melihatmu saat terjatuh.”
Sepertinya aku tidak mengingat apa-apa saat aku ter-jatuh. Satu-satunya yang aku ingat terakhir kali adalah saat aku terlempar dari lantai tiga karena ulah gadis ini. Apa itu hanya mimpi karena benturan di kepalaku?
“Pukul berapa sekarang?”Tanyaku.
“Sekarang pukul 12.45, kau pingsan selama dua jam,” ucap Lian dengan melihat arlojinya.
“Ayo kita ke kelas. Sepertinya sudah ada guru.”
“Kelas? Guru? Guru itu makanan apa, yah?” Lian berlagak polos.
“Aku akan melaporkan kalian jika tidak masuk.”
“Aduhhhh Kepalaku sepertinya sakit. Panggilkan aku dokter,” Adrian melawak dengan ber-akting sakit.
“Terserah kalian saja.”
Aku hanya tertawa melihat tingkah bodoh mereka. Tak lama mereka semua berpamitan untuk ke kelas.
Aku mencoba untuk duduk dan menggelantungkan ka-kiku di pinggir ranjang. “Sepertinya sudah tidak terlalu sakit?” ucapku sambil memegang kepala.
Sepertinya aku benar-benar tidak mengingat apa-apa. Aku melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul satu siang. Berarti aku harus berada di ruangan ini sendiri selama satu jam setengah hingga bel pulang, aku merasa itu sangat membosankan. Aku keluar ruang UKS dan berjalan menuju kantin, namun sesampai di persimpangan antara tangga menuju ke atas, ruang guru, dan kantin, aku bertemu dengan guru yang sedang bertugas sebagai guru piket.
“Mau ke mana kamu?” tanyanya menyelidiki.
Sebenarnya nada bicaranya tidak terlalu menakutkan, namun karena guru tersebut memiliki hobi mencukur rambut siswa yang panjang, aku pun langsung memutar haluan ke arah tangga.
“Ke kelas, Pak. Saya tadi dari UKS,” ucapku dan langsung berlari menaiki tangga. Aku memperlambat lariku dan berubah menjadi berjalan setelah mengingat aku baru saja pingsan karena terjatuh dari tangga karena berlari. Bodoh sekali jika aku terjatuh lagi tak lama setelah aku siuman.
Saat kakiku telah menginjak tangga terakhir menuju lantai tiga, aku mendengar suara gaduh yang sepertinya berasal dari dalam kelasku. Aku mempercepat langkahku, dan aku pun terkejut ketika sudah berada di depan pintu kelas. Kawan-kawanku terdengar ribut sekali teriak-teriak memanggil-manggil nama mereka satu sama lain. Mereka sepertinya sedang berebut kawan kelompok. Aku memasuki kelas dengan sorotan mata dari seisi kelas.
“Kau sudah baik-baik saja?”Tanya salah satu kawanku.
Yah, aku bosan jika harus berlama-lama di sana,” ja-wabku jujur. “Sebenarnya apa yang sedang terjadi?” ta-nyaku.
“Kita sedang berbagi kelompok. Masing-masing kelom-pok beranggota 6 orang. Nantinya setiap kelompok akan maju menerangkan salah satu sub-Bab yang ada pada buku,” terang kawanku.
“Kita bebas memilih atau bagaimana?”
“Tadi sudah ditentukan dan dibagi menggunakan sistem nomor undian.”
“Apa kau sudah mendapat kelompok?”
“Sudah, dan sepertinya sudah pas. Saat kau masih di bawah, kita disuruh membaca terlebih dahulu materi yang akan kita bawakan di depan kelas nanti.”
Sial. Kalau begitu lebih baik aku tetap berada di ruang UKS saja. Batinku mengeluh.
Tak lama, guru yang masih berusia muda dengan songkok putih dan kacamatanya, memasuki ruang kelas.
“Sudah persiapannya?” teriaknya.
Seisi kelas masih sibuk dengan aktivitasnya tanpa menghiraukan keberadaan guru yang sudah hadir.
“Duduk berdasarkan kelompok!” kali ini guru lulusan pesantren tersebut sedikit berteriak dalam memberi ko-mando. Murid-murid pun duduk sesuai kelompoknya ma-sing-masing, kecuali aku.
“Mana kelompok kamu?” Tanya guru muda itu.
“Belum ada, Pak,” jawabku dengan wajah polos.
“Siapa yang kelompoknya kurang satu?” tanyanya ke-pada seisi kelas.
Tak lama Adrian mengangkat tangan. Entah kenapa ini seperti mala petaka bagiku, satu kelompok dalam pelajaran agama dengan Adrian dan Lian. Mungkin jika dalam pel-ajaran yang lain aku bisa menerimanya.
Lian adalah seorang mualaf, dia pun seorang keturunan cina, meskipun tidak terlihat secara segi fisik, namun secara pemikiran, dia sangat benar-benar cina. Adrian adalah kawanku yang menurutku seperti dinamit. Hampir semua guru mem-blacklist-nya badung, bahkan dia terancam de-ngan nilai yang jelek atau bahkan terparahnya tidak naik kelas. Aku katakan dia seperti dinamit karena paradigma berpikir guru ialah menganggap buruk siapa pun murid yang berkawan dengan murid buruk.
“Kita mendapat Bab berapa?” tanyaku.
“Entah, dari tadi aku belum baca,” jawab Adrian santai.
“Sepertinya aku bertanya pada orang yang salah.”
“Kita kelompok 6, mendapat Bab 5. Membahas tentang ‘Ilmu Pengetahuan dalam Islam,” jawab temanku lainnya yang masih satu kelompok denganku.
“Kau sudah membacanya?”
“Sudah.”
“Baguslah. Aku jadi bisa tenang.”
Beberapa menit guru membuat aturan main dalam permainannya ini. Pertama, masing-masing kelompok mempresentasikan materinya minimal 10 menit. Kedua, masing-masing kelompok harus membuka 2 buah per-tanyaan setelah presentasi. Ketiga, guru memanggil ke-lompok secara acak, dan kelompok yang disebut, mau tidak mau, siap tidak siap harus maju ke depan untuk presentasi. Aku yang mendengar aturan yang terakhir, secara respon berdo’a agar kelompokku mendapat giliran terakhir.
“Kelompok 4!” teriak guru.
Tak lama kelompok empat maju dan memperkenalkan dirinya masing-masing. Materi yang mereka bawakan mengenai ‘Peranan Manusia Sebagai Khalifah’. Anak de-ngan rambut keriting dan celana gombrang layaknya Elvis Presley menjadi ujung tombak dari kelompok ini. Pema-paran materi berlangsung dengan singkat, namun juga tidak kurang dari waktu yang telah ditentukan.
Seorang anak berbadan kekar dengan rambut cepak layaknya ABRI, berdiri dan mempersilakan audience untuk bertanya dengan suara terbata-bata karena gugup.
Seorang anak kurus, dan juga merupakan sebagai perantau dari luar Jakarta mengacungkan tangan dengan bersemangat.
“Bagaimana cara kita memilih pemimpin dalam Islam?” tanya anak kurus tersebut.
Dari raut wajahnya, sangat mudah ditebak jika mereka sedang panik karena jawaban dari pertanyaan tersebut tidak tertera di buku. Mereka sedari tadi hanya terlihat mem-bolak-balik buku. Semenit kemudian akhirnya mereka dapat menemukan jawabannya dari hasil pencarian di internet dengan menggunakan ponsel. “Yang pasti dia harus memenuhi syarat-syarat pemimpin dalam Islam. Seperti setia kepada Allah, lalu, tujuannya bukan hanya Islam dalam kelompok kecil saja, tapi Islam secara menyeluruh. Syarat berikutnya berpegang kepada syariat dan akhlak Islam, terakhir harus amanat. Jelas?” papar si anak keriting.
“Mm... Yah, terima kasih,” ucap sang penanya.
“Singkat sekali,” komentarku dalam hati. “Boleh saya menanggapi,” aku angkat bicara. Tak lama guru mempersilakan.
“Yang baru saja dikemukakan tadi, itu berdasarkan pemikirannya siapa?”
Anak keriting itu kembali melihat ponselnya. “Dr. Hisham Yahya Al-Talib,” ujarnya.
“Kenapa pertanyaan tadi tidak dijawab dengan sesuatu yang sudah biasa kita ketahui saja?” protesku. “Sidiq, Tabliq, Amanah, Fatanah,” lanjutku.
“Kurasa sama saja,” tanggapnya.
“Kurasa itu berbeda. Karena menurutku―”
“Sepertinya pembahasan sudah melenceng.” Guru yang berperan sebagai moderator memotong kalimatku. “Masih ada satu penanya lagi. Siapa yang mau bertanya?” lanjut guru.
“Saya, Pak.” Aku mengajukan diri.
“Ya sudah, silakan.”
“Menurut Islam, apakah sistem demokrasi yang di-terapkan di Indonesia dalam menentukan pemimpin sudah pas atau belum?”
“Pertanyaan terlalu melenceng. Mohon pertanyaannya jangan yang jauh-jauh dari pembahasan di buku,” kritik guru.
Aku awalnya ingin membantah karena menurutku pertanyaanku ini masih dalam jalur pembahasaan dan sangat pantas untuk didiskusikan, tapi karena aku lagi malas berdebat, akhirnya aku menurut saja.
“Maaf,” ucapku dengan tidak ikhlas.
Guru pun mempersilakan kepada siswa lainnya untuk bertanya.
Seorang siswa yang duduk di sisi sebelah kiri baris ke tiga mengajukan diri untuk bertanya.
“Yah, silakan,” kata guru.
“Apa yang dimaksud dengan khalifah?”
“Bukannya tadi sudah dipaparkan?” kata si anak be-rambut cepak.
“Di buku tertulis, ‘Khalifah sendiri dapat diterjemahkan sebagai ‘pengganti’ atau ‘perwakilan’. Dalam Al-Qur’an, manusia secara umum merupakan khalifah Allah di muka bumi untuk merawat dan memberdayakan bumi beserta isinya,” ujar si penanya sambil membaca buku. “Saya juga pernah dengar, jika khalifah itu adalah pemimpin umat Islam―sama seperti raja atau presiden,” lanjutnya.
“Pertanyaannya?” ucap guru yang sepertinya kelihatan mulai tidak sabar karena siswa ini terlalu bertele-tele.
“Khalifah itu sebenarnya adalah orang yang mengatur bumi, atau sebutan untuk pemimpin pemerintahan Islam?”
Lagi-lagi mereka―kelompok empat―ribet membolak-balik bukunya, padahal sebenarnya mereka tahu kalau jawabannya tidak ada di situ.
Seperti di sesi pertanyaan pertama, jawaban dari pertanyaan ini pun mereka cari melalui internet.
“Keduanya sama saja. Secara umum khalifah adalah perwakilan Allah untuk merawat bumi. Secara khusus, khalifah adalah sebutan untuk pemimpin pemerintahan Islam.” Kali ini pertanyaan dijawab oleh anak berambut cepak.
“Yah, silakan kalian duduk,” perintah guru yang menandai berakhirnya pembahasan mengenai ‘Khalifah’. “Berikutnya, kelompok satu!” lanjutnya.
Kelompok satu pun maju memenuhi sisi depan kelas. Seperti kelompok empat, kelompok ini juga mengenalkan dirinya satu per satu. Kelompok mereka membahas ‘Iman Kepada Allah. Kelompok mereka terdiri dari empat siswi dan dua siswa. Salah satu siswa dari kelompok mereka adalah ketua kelas kami―Alif. Siswa-siswa bersorak riuh saat Alif memperkenalkan diri.Dia memang sering menjadi bahan olok-olokan di kelas ini, namun itu tidak pernah meredupkan sifat cerianya.
Setelah keadaan kelas mulai kondusif kembali, kelompok satu pun mulai memaparkan materinya. Salah satu siswi dari kelompok tersebut membuka bukunya dan mem-bacanya dengan nada manis ke seisi kelas. Aku mem-perhatikannya dan mencoba memahami lebih dalam.
“Menurut pengertian bahasa, kata ‘Iman’ adalah percaya atau membenarkan. Menurut ilmu tauhid, iman berarti kepercayaan yang diyakini kebenarannya dalam hati, diikrarkan secara lisan, dan direalisasikan dalam per-buatan,” ucap siswi tersebut.
“Persis sekali seperti konsepsi iman yang dikemukakan Imam Al-Ghazali,” gumamku.
Kini giliran Alif yang membaca. Entah kenapa, seakan terkomando, seisi kelas langsung berteriak, huuuuuuuu” dengan kompak yang langsung ditenangkan oleh guru.
Alif membaca tak lebih dari satu menit karena dia hanya membaca penghabisannya saja.
Setelah dia menyelesaikan bacaannya, dia langsung membuka sesi tanya-jawab.
Anak kurus mengangkat tangannya kembali. Dia me-mang sangat antusias sekali terhadap semua pelajaran. Dia pun yang terpintar di kelas ini.
Setelah guru mempersilakan, dia  langsung memaparkan pertanyaannya.
“Apa hubungan antara iman dan ilmu?”
Awalnya aku mengira jika guru akan menolak perta-nyaan itu, tapi sepertinya tidak.
Kelompok satu mulai kewalahan mencari jawaban dari pertanyaan tersebut. Naasnya, kali ini guru melarang meng-gunakan ponsel dalam mencari jawaban.
Mereka terdiam cukup lama, hingga akhirnya salah satu dari mereka menjawab dengan jawaban seadanya.
“Kita dapat beriman jika kita memiliki ilmu,” ucapnya dengan singkat.
“Maksudnya?” jawab anak kurus yang merasa belum puas dengan jawabannya.
Secara impulsif aku mengacungkan tangan. Aku merasa jika ini adalah forum diskusi, jadi yang boleh menjawab pertanyaan pun tidak harus kelompok yang sedang maju saja, seisi kelas pun boleh terlibat dan berpartisipasi.
“Saya rasa ini adalah forum diskusi, jadi yang berke-wajiban untuk menjawab tidak harus kelompok yang ada di depan saja,” ucapku tanpa menunggu izin dari guru.
Guru menanggapainya dengan mengangguk dan mem-persilakan siapa pun yang ingin bersuara.
Tak lama anak keriting yang baru saja maju, mengajukan diri.
“Saya rasa tidak ada hubungannya karena seperti yang tertulis di buku, ‘iman adalah kepercayaan yang diyakini kebenarannya dalam hati.’ Berarti iman hanya ada pada hati, bukan akal,” ujar si anak keriting dengan membaca buku.
“Jika aku menyalakan api pada sebuah lilin, lalu menyuruh kau untuk menaruh telapak tangan di atas api tersebut selama 5 menit, apakah kau mau?” ucapku yang mencoba menerobos masuk ke dalam pembahasan tanpa izin.
“Tidak,” kata anak keriting.
“Mengapa?” aku kembali bertanya.
“Karena api itu panas,” ucapnya yakin.
“Kau meyakini api itu panas? Padahal kau belum men-cobanya,” aku mencoba menjebaknya.
“Tentunya aku yakin api itu panas karena semua api pasti panas.”
“Kau dapat meyakini api itu panas karena kau memiliki pengetahuan jika api itu panas? Benar begitu?”
“...yah,” ucapnya ragu karena dia mulai merasa terpojoki.
“Bukakah hal ini telah menjelaskan jika banyaknya ilmu yang kita miliki tentang api, maka sejauh itu pulalah kepercayaan kita kepada api tersebut. Ketika ilmu itu masuk dalam pikiran kita bahwa api itu panas dan bisa membakar tangan kita, dengan kata lain kita sudah meyakini dan memercayai jika api itu panas,” jelasku.
“Tapi―”
“Sudah-sudah. Nanti waktunya keburu habis,” guru memotong kalimat si anak kurus yang sepertinya ingin mengkritik argumenku. “Kelompok enam maju!” perintah sang guru.
Aku yang tadinya sangat malas jika nanti kelompokku harus maju, kini malah jadi bersemangat.[]

Chapter 4
Jahal Al-Kafirun




AKU berdiri di tengah―di antara Adrian dan Lian. Sedikit aneh saat aku harus berdiri di antara dua orang gemuk seperti ini. Adrian menyuruh Lian memaparkan materi sambil menyerahkan buku miliknya, namun, Lian menolak karena takut mendapati membaca potongan ayat―dia belum bisa mengaji. Alhasil aku yang kedapatan memaparkan materi.
Aku mengawalinya dengan mengucap salam dan memperkenalkan diri beserta kawan-kawan satu kelom-pokku. Aku memulai dengan membahas manfaat ilmu pengetahuan dalam agama.
“Ilmu-ilmu pada masa keemasan Islam dapat digo-longkan menjadi empat, di antaranya; Ilmu bahasa arab yang terdiri dari ilmu nawhu dan saraf, ilmu balaghah, dan ilmu bahasa. Kedua ialah ilmu syari'at yang terdiri dari ilmu tafsir, ilmu hadist, ilmu fiqih, ilmu kalam dan lain sebagainya. Ketiga ialah ilmu sejarah,  dan terakhir―ke-empat―ialah ilmu Al-Hikmah dan filsafat.
“Pada pokoknya, ilmu Al-Hikmah dan filsafat mengan-dung empat macam ilmu, yaitu; ilmu manthiq, ilmu alam, ilmu pasti, dan ilmu teologi.
“Ilmu alam terdiri dari ilmu kimia, ilmu kedokteran, ilmu farmasi, ilmu pertenakan dan ilmu pertanian, dan seba-gainya. Ilmu pasti terdiri dari ilmu hitung, aljabar, ilmu ukur, ilmu mekanika, ilmu falaq, dan geografi. Dan ilmu teologi biasanya memayungi ilmu metafisik,” terangku.
Aku mulai berbicara dengan tidak berdasarkan buku.
“Pada zaman bani Abbasiyah yang berkuasa pada tahun 749 sampai 1258 masehi, Islam banyak melahirkan cendekiawan-cendekiawan hebat―”
“Sepertinya cukup. Langsung sesi Tanya-jawab saja,” potong guru sembari menoleh arloji di tangannya.
Aku menoleh jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 14.15 WIB. Sepertinya aku terlalu banyak berceloteh. Aku tidak yakin jika mereka tadi menikmati saat aku menerangkan.
Ada yang mau bertanya? ucap Adrian.
Cukup lama kelas sunyi hingga si anak kurus meng-ajukan diri lagi untuk bertanya.
Jika semua ilmu pengetahuan harus bersumber dan berdasarkan agama, lalu bagaimana dengan ilmu as-tronomi? Apa harus berlandaskan agama juga? ujarnya sangat antusias.
Ilmu falaq itu adalah ilmu astronomi. Di Al-Quran sering sekali kita temui beberapa ayat yang membahas soal benda-benda langit. Jujur aku tidak hafal. Mungkin bisa kau baca sendiri.
Apa di Al-Quran tertulis jika bumi mengelilingi mata-hari?
Tidak secara langsung, ucapku.
Maksudnya tidak secara langsung?
Aku sulit menjelaskannya. Tapi aku pernah membaca pembahasan ini di buku, jawabku jujur. Tapi apa kau yakin dengan kebenaran yang ada di Al-Quran?aku mencoba menjawabnya dengan hal lain.
Tentu saja, jawabnya yakin.
Kalau begitu tidak mungkin ada pertentangan antara kebenaran ilmu pengetahuan dengan kebenaran yang ada di Al-Quran. Karena keduanya berbicara tentang kebena-randan kebenaran itu hanya ada satu.
Mm, yah, dia meng-iya-kannya, padahal wajahnya sangat menunjukkan kebingungan.
Apa kau tahu soal dalil aqli dan dalil naqli? aku mencoba menjelaskannya dengan cara lain.
Aku pernah dengar itu. Tapi lebih baik kau jelaskan lagi.
Saat aku hendak menerangkan, bel pun berbunyi, menandakan waktu pulang sekolah telah tiba.
Diskusi tetap kita lanjutkan di sini. Kuharap jangan pulang dulu, ajakku.
Baiklah.
Setelah guru berpamitan, siswa-siswa pun gaduh memberes-bereskan buku-bukunya. Dari luar kelas ter-dengar sangat riuh sekali. Suara hentakan sepatu yang berbentur dengan lantai sekolah terdengar sangat ramai karena siswa-siswa yang berlarian. Suara motor yang sangat ribut dari arah parkiran menandakan banyaknya motor tersebut. Satu per satu kawan-kawan sekelasku mening-galkan kelas. Seperti yang direncanakan, aku dan siswa kurus itu akan tetap berada di kelas untuk melanjutkan diskusi. Sebenarnya aku tidak terlalu karib dengannya, karena dia lebih sering bergaul dengan wanita daripada dengan siswa laki-laki. Kurasa memang seperti itu, biasanya anak pintar identik dengan kata culun dan sulit dalam bersosialisasi, beruntungnya aku masih mengetahui na-manya―kalau tidak salah namanya Ami.
Aku melihat Ami sedang memasukan buku-bukunya ke dalam tas. Aku menghampirinya dan duduk di depannya. Awalnya aku mengira jika di kelas hanya tinggal kami berdua saja, ternyata beberapa siswa lain tetap memilih berada di kelas untuk ikut berdiskusi, di antaranya ialah Adrian, dan si siswa keriting. Tadinya si Lian juga ingin ikut berdiskusi, namun karena dia memiliki kesibukan lain, dia pun terpaksa pulang. Begitu pun dengan Alif. Tadinya dia juga ingin ikut berdiskusi. Namun tak seperti biasanya, hari ini dia pulang lebih awal.
Kita berempat duduk membuat lingakaran. Si anak keriting duduk di sebelah kiriku, dan di antara dia dan Ami, Adrian duduk di situ.
Jadi bagaimana? Adrian membuka pembicaraan. Entah kenapa dia terlihat berantusias? Padahal biasanya dia sangat terlihat malas jika sedang membahas sesuatu yang berkaitan dengan pelajaran.
Yah, bagaimana, Sa, mengenai dalil aqli dan naqli menurutmu? tanya si anak keriting kepadaku.
Baiklah kita mulai, ucapku sambil tersenyum kecil. Dalil aqli adalah kebenaran yang berlandaskan akal. Kalau dalil naqli adalah kebenaran yang berlandaskan agama, lanjutku.
Hmm, ucap mereka hampir bersamaan.
Ilmu pengetahuan itu pada umumnya berbicara pada rana dalil aqli, lanjutku lagi.
Kalau begitu ilmu astronomi itu adalah dalil aqli, kata Ami.
Yah,” aku membenarkan. Induk dari semua ilmu pengetahuan adalah filsafat. Metode penerangan filsafat adalah dengan cara mencari kebenaran. Berbeda dengan dalil naqli. Dalil naqli metode penerangannya yaitu dengan cara menyajikan.
Berarti dalil aqli adalah filsafat, dan dalil naqli adalah apa yang tercantum pada agama? tanya Adrian.
Yah, benar. Dalil aqlisebagaimana ilmu pengetahu-anbersifat semu. Berbeda dengan dalil naqli yang abadi dan mutlak. Oleh karena itu, hendaknya dalil naqli harus dijadikan landasan kebenaran akan semua yang diolah oleh dalil aqli.”
“Berarti kebenaran yang didapat dari akal tidak boleh melenceng dari kebenaran agama?” tanya Ami.
“Tepat sekali. Menurutku seperti itu dan sepatutnya seperti itu.”
“Tidak mungkin ada pertentangan antara kebenaran ilmu pengetahuan dengan kebenaran yang ada di agama. Karena keduanya berbicara tentang kebenarandan kebenaran itu hanya ada satu. Kalau tidak salah kau mengatakan seperti itu saat sesi tanya-jawab, kan?
“Itu kata-kata Al-farabi.”
“Siapa dia?” Ami terus bertanya seperti wartawan ulung.
“Filsuf pada zaman bani Abbasiyah.”
Tak lama si anak keriting berpamitan pulang karena sudah dijemput oleh ayahnya. Bersamaan dengan itu, sang penjaga sekolah datang dan menyuruh kami untuk meninggalkan kelas karena dia ingin membersihkan kelas kami. Kami bersama-sama menyusuri tangga dan menuju kantin sekolah. Mungkin karena terbawa suasana, Adrian sampai-sampai mentraktir kami makan siang. Serentak kami memesan nasi goreng dengan telur dadar dan segelas es teh manis.
Saat kami sedang asyik menyantap makan siang kami, Ami seperti teringat akan sesuatu dan dengan sedikit tergesa-gesa mengeluarkan ponsel miliknya. Dia terlihat sedang mengetik SMS. Setelah itu dia meletakkan ponselnya di atas meja dan melanjutkan menyantap makannya.
“Ada apa, Mi?” selidikku.
“Aku lupa izin dengan nenekku.”
“Kau tidak apa-apa pulang terlambat?”
“Sepertinya tak apa,” jawabnya tidak yakin.
Adrian yang pertama kali menghabiskan makanannya. Aku kedua, dan Ami ketiga. Tak lama setelah itu, wali kelas kamiPak Ghifarimenghampiri kami dari kejauhan. Seper-ti biasa, dia selalu tersenyum ramah kepada semua murid, tak peduli dia adalah murid baik, teladan, malas, atau badung seperti Adrian. Pernah aku membaca buku menge-nai nasihat Imam Al-Ghazali, dan entah mengapa, aku merasa beliau di mataku persis sekali seperti sosok Imam sufi tersebut.
“Kalian belum pulang?” selidiknya.
“Belum, Pak. Kita sedang diskusi?” jawab Adrian.
Sontak wajah Pak Ghifari sedikit terkejut. Mungkin ka-rena kata ‘diskusi’ keluar dari mulut Adrian. Di lain sisi, dia juga menunjukkan ekspresi senang dan bangga kepada Adrian.
“Apa yang kalian diskusikan?” tanyanya sambil duduk di sampingku.
“Dalil aqli dan naqli,” Adrian berucap dengan bangga yang diiringi dengan ekspresi wajah tercengan dari Pak Ghifari.
“Wah, Nak. Hebat sekali pembahasan kalian,” ucapnya salut. “Sudah sampai mana pembahasan kalian?”
Adrian menceritakan secara detail mengenai semua pembahasan yang telah kita kulas. Mulai dari awal presen-tasi, sampai kita bisa berada di sini. Pak Ghifari menoleh ke arahku saat Adrian mengatakan, ‘Wangsa yang dari tadi menerangi kami.’
“Bapak tidak tahu kalau kau mengetahui semua itu?”
“Saya hanya sedikit membaca,” ucapku tersenyum kecil sambil menundukan kepala karena tak kuat dengan pujian yang berlebihan.
“Menurut Bapak, apa hubungan antara iman dengan ilmu?”  tiba-tiba Ami bertanya.
“Menurut kamu, Nak? Apa akal itu penting?” Pak Ghi-fari balik bertanya.
Ami hanya terdiam. Begitu pun Adrian dan aku.
Pak Ghifari tersenyum dan lanjut berbicara. “Kalian tahu Abu Jahal?”
Serentak kami mengangguk.
“Kalian tahu arti dari kata Jahal?”
Baka,” ucapku.
Baka?” Pak Ghifari keheranan sambil menaikkan alisnya.
Baka itu bodoh, Pak. Bahasa jepang dari kata stupid,” Adrian bermaksud menerangkan, meskipun kenyataannya malah memperparah.
“Intinya jahal, baka, bodoh, atau stupid, itu sama saja,” singkat Ami.
Pak Ghifari tertawa dan secara impulsif mengusap kepala Ami seperti yang biasa ia lakukan terhadap semua mu-ridnyaciri khas darinya untuk menunjukkan kasih sayang.
“Nah, kata jahal itu sama dengan kata jahiliyahkeadaan Mekah pada saat itupada saat Nabi dilahirkan,” lanjut Pak Ghifari. “Jadi cara untuk melawan kebodohan adalah...?”
“AKAL!” jawab kami hampir bersamaan.
“Atas alasan itulah Al-Qur’an diturunkan. Dan Nabi yang berperan sebagai penyampai kebenaranatau penge-tahuan yang benarkepada seluruh penduduk Mekah.”
Kami mengangguk. Aku melihat Adrian berdiri dan memesan es teh lagi empat gelas. Tak lupa dia juga me-mesan gorengan. Pak Ghifari yang melihat itu, kembali menunjukkan ciri khasnya. Kali ini Adrian yang kedapatan mendapat usapan kepala darinya.
Setelah Adrian duduk kembali dan pesanannya datang, kami melanjutkan kembali pelajaran di luar kelas.
“Kalian tahu soal bani Abbasiyah?” Pak Ghifari meng-awali dengan pertanyaan.
“Sedikit. Tadi Wangsa juga membahas itu di kelas. Pemerintahan Islam dari tahun ke 750 sampai 1258 masehi.”
“Berarti kalian kenal dengan Abu Yusuf Yakub bin Ishaq bin As-Shabagh Al-Kindi?” Pak Ghifari mengucapkannya dengan lancar tanpa terbata-bata.
“Kenal, Pak. Tapi hanya dengan nama sederhana  Al-Kindi. Saya tidak tahu nama panjangnya,” jawabku.
“Selain dia, ada pula Al-Farabi, pencipta alat musik Al-Qanun yang kemudian ditiru barat dengan nama piano.”
“Sebenarnya siapa mereka semua?” Ami bertanya dengan penuh penasaran.
“Filsuf besar pada zaman bani Abbasiyah. Dan se-pertinya kau harus berkenalan dengan Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi―ahli astronomi asal  Persia yang lahir pada tahun 780 di Khwarizm―yang sekarang bernama khiva―kota di Uzbekistan,” ucapku kepada Ami.
“Berarti Islam pada masa itu benar-benar turut aktif dalam mengembangkan Ilmu pengetahuan?” tanya Adrian.
“Itu benar, Nak. Karena Al-Quran sendiri menganjurkan manusia supaya memperdalam pengetahuannya dalam pelbagai ilmu. Ayat-ayat di Al-Quran pun banyak yang menyinggung persoalan-persoalan ilmiah walaupun secara garis besarnya saja. Oleh karena itu para ulama ingin membuktikan kebenaran ayat-ayat itu dengan menye-lidikinya secara dalam,” Pak Ghifari menerangkan.
“Apa Bapak belajar hal-hal semacam ini saat muda dulu?” tanya Adrian kembali.
“Tentunya, Nak. Kebijaksanaan hanya bisa didapat dengan ilmu pengetahuan.”
“Socrates,” celetukku.
“Yah, Socrates. Orang paling bijaksana di Athena di sepanjang masa hidupnya,” Ucap Pak Ghifari.
“Sepertinya kalian harus membaca semua itu. Nantinya kalian dengan sendirinya akan dapat mencintai ilmu dan menghargainya,” ucapku.
“Betul, Wangsa. Tapi bukan berarti kita lebih meng-agungkan ilmu pengetahuan daripada Allah.”
Aku diam saja. Entah kenapa ucapan beliau tersebut terdengar seperti kritikan buatku. Apa hanya perasaanku saja? Tapi perkataannya benar-benar mengusikku.
“...dan dalam berpikir pun kau tidak boleh bebas. Kau harus tetap mendasarinya pada agama. Banyak ahli-ahli filsafat yang terlalu bebas berpikir, sampai-sampai mereka menjadi Atheis,” lanjut Pak Ghifari.
“Seperti Darwin yang menentang Injil?” ucap Ami.
“Betul. Bagaimana kau tahu soal Darwin menentang Injil, Nak?”
Ami menoleh ke arahku yang sedang bingung. Seakan dia ingin mengatakan jika akulah penyebab dari semua ini. Pak Ghifari tersenyum ke arahku dengan beribu maksud.
“Karl Marx pun juga seperti itu,”  Pak Ghifari menambahkan.
“Siapa Darwin?” tanya Adrian yang membuat Ami ke-heranan.
“Kau tidak tahu Darwin? Bukankah tadi saat pelajaran sejarah guru menerangkan tentang dia?” tanya Ami.
“Benarkah? Aku tidak mendengarkannya,” Adrian menjawab jujur.
“Kau belum berubah juga, Adrian. Bagaimana kau bisa naik kelas nanti?” respon Pak Ghifari sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.
Adrian menunduk. Mungkin dia sedang merenung dan membaca masa depannya saat pembagian raport nanti.
“Berubahlah, Adrian. Kau tidak bisa selama-lamanya seperti ini,” Lanjut wali kelas kami tersebut.
Adrian masih tetap saja terdiam.
“Lalu, Karl Marx itu siapa, Pak?” Ami bertanya. Se-pertinya dia mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Yah, Karl Marx adalah orang yang menguatkan paham komunisme.”
Ami dan aku mengangguk. Tak lama Adrian mengatakan sesuatu hal yang sangat ‘ajaib’.
“Saya akan berubah. Saya berjanji, Pak,” kata Adrian.
Aku, Ami, dan Pak Ghifari pun tersenyum kecil me-respon ucapan tersebut.
“Aku pun mengharapkan bimbingan kalian,” lanjut Adrian berkata kepadaku dan Ami.
“Apa pun yang kau butuhkan temankami siap,” janjiku dengan semangat.
“Hahahaha. Bapak senang melihat kalian seperti ini. Bapak yakin kalian adalah generasi-generasi perubah bangsa.”
Aamiin!” ucap kami serentak.
Aku tidak menjadikan ucapan Pak Ghifari tersebut sebagai do’a, tapi aku menganggapnya sebagai ama-nahamanah yang harus aku emban.
Kami pun berpamitan pulang. Adrian mengeluarkan dompetnya untuk menyelesaikan ‘administrasi’ dengan Ibu kantin. Pak Ghifari sepertinya masih terlihat duduk di sana saat kami meninggalkannya. Padahal beliau adalah guru ekonomi, tapi terkesan seperti guru agama menurutku. Wawasannya mengenai agama pun sangat luas. Kami secara bersama menuju gerbang sekolah. Sepertinya Ami masih sangat ingin sekali berdiskusi, namun karena keterbatasan waktu, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Sebelum berpisah, Ami meminta nomor ponselku. Sesampainya di depan gerbang sekolah, Ami berbelok ke kanan dan melambaikan tangan sambil berkata ‘daahh.’ Aku dan Adrian menye-berang ke sisi jalan lainnya.
“Bagaimana bisa kau berubah 360 derajat seperti itu?” tanya Adrian ketika kita sudah berada di seberang jalan.
Aku sedikit heran dengan ucapannya. Apa dia meng-anggap aku aneh? Meskipun aku merasa jika diriku ini seperti bukan aku, tapi aku sama sekali tidak tahu seperti apa aku yang sebenarnya dan seharusnya. Bagaimana aku bisa mengatakan sesuatu salah, padahal aku tidak tahu bagaimana seharusnya yang benar?
“360 derajat? Apa tidak terlalu banyak? Kenapa tidak 180 derajat saja?” aku mengalihkannya dengan candaan.
“Terserah kau saja,” jawabnya sedikit kesal.
Sore ini langit terlihat sangat jingga. Matahari dengan sisa sinarnya masih setia menerangi bumi. Kami menelusuri jalan pulang bersama karena kebetulan rumah kita searah.
“Kau benar tidak mau memberitahukannya?” Adrian kembali bertanya. Semenjak diskusi yang kita lewati, dia sepertinya menjadi aktif bertanya.
Aku sebenarnya juga sangat penasaran dengan apa yang terjadi di diriku, tapi aku malas jika dia nantinya malah menganggapku aneh karena tidak mengenali diri sendiri. Apa karena kepalaku terbentur tadi siang aku jadi amnesia?
“Apa kau memang menganggap aku berubah?” aku mencoba mencari informasi darinya tanpa membuat dia merasa curiga sedikit pun.
“Sangat.” Jawabnya lantang.
“Dari mana kau bisa menyimpulkan itu?”
“Kau membuat guru sejarah dipermalukan di depan kelas dengan pertanyaan-pertanyaanmu yang entah apa jawabnnya.”
“Selain itu?” aku semakin mengorek dalam.
“Baru saja tadi saat pelajaran agama. Kau berdiskusi, berdebat, bahkan menggurui Amisiswa paling pintar di kelas kita.”
“Bukankah itu biasa? Kau saja berubah? Kau jadi aktif berdiskusi dan jadi aktif  bertanya,” aku membalik keadaan.
“Tahu dari mana kau?” tanyanya heran.
“Ini contohnya. Kau baru saja bertanya padaku. Bahkan di sepanjang jalan tadi, kau terus bertanya. Apa itu tidak menjelaskan semuanya?”
Dia diam. Mungkin sedang berpikir.
Kini kami sudah berada di perempatan jalan rumahku. Adrian tetap berjalan lurus dan aku berbelok ke kanan. Aku berjalan menunduk dengan matahari berada di belakangku dan bayangan berada di depanku. Aku seperti teringat akan sesuatu, tapi entah apa. Aku pun berusaha mengingatnya. Namun, semakin aku pikirkan, aku malah semakin jauh berfantasi.
“Kenapa bayangan itu harus selalu ada saat cahaya itu ada?” gumamku.
Tanpa terasa, aku sudah berada di rumah. Aku melepas sepatu dan menaruhnya di rak. Setelah menggantung tas, dasi sekolah, dan ikat pinggang, aku langsung bergegas mandi.
Saat di kamar mandi, aku tidak langsung mandi, melainkan bermain dengan pantulan diriku dari balik genangan air di bak mandi.
“Kenapa ada aku di sana?” aku berbicara sendiri.
Aku mencoba menghancurkan pantulan diriku dengan mengetuk-ngetukkan gayung. Air bercipratan ke mana-manasebagian membasahi tubuhku. Tak lama air kembali tenang, anehnya aku masih dapat melihat diriku di sana dengan bentuk yang tak rusak sama sekali. Air terkesan seperti cermin menurutku. Bedanya hanya berbentuk cair, dan bedanya lagi, jariku dapat menerobos masuk ke dalam pantulannyatidak seperti cermin. Aku menggunakan jari telunjukku untuk menyentuh dahi pada pantulan diriku yang berada di atas air. Entah apa kata yang pasaku menusukkan jariku atau aku mencelupkan jarikuyang terpenting, meskipun aku sudah memasukan jariku ke kepalanya, aku sama sekali tidak menyentuh otaknya.
Tak lama, saat aku usai mandi dan mengenakan pakaian, aku berbaring di atas kasur. Kipas angin tepat mengarah ke arahku. Udara di luar pun juga terasa sangat lembab―sangat mengundang hawa kantuk. Sepertinya malam akan hujan.
“Kenapa bayangan itu harus selalu ada saat cahaya itu ada?” aku kembali memikirkannya.
“Tapi saat keadaan gelap gulita, apakah semua kegelapan itu bukan bayangan?” aku bertanya pada diriku sendiri.
Kedua tanganku aku silangkan di balik kepala untuk kujadikan pengganjal. Aku mulai memejamkan mata untuk merilekskan diri.
“Bayangan hanya ada dari balik sesuatu yang menutupinya?”
“Atau bayangan yang sengaja menutup dirinya?”
“Intinya yang tertutup itu adalah bayangan...”
“...sesuatu yang terbuka adalah terang...”
“...hanya orang yang menutup dirinya yang tidak akan mendapat cahaya...”
...
“...dan orang yang sengaja menutup dirinya yang akan tetap menjadi gelap seperti bayangan...”
......
......
“...hanya orang yang tertutup...”
......
......

“...mereka menolak cahaya...?”
“......”
......
“...padahal apa yang bisa mereka lihat dari kegelapan...?”
“......”
“...mereka mungkin bodoh...”
......
“...jahal...”
“......”
“...baka...”
“......”
“...bodoh...”
“......”
“...stupid...”
...
[
 Bodoh! Bangunlah!”
“........”
“Heii!! Bangunlah!”
“Berisik sekali,” komentarku.
Perlahan aku membuka mata. Ternyata Adrian yang sedang mengganggu tidurku.
“Ada apa kau pagi-pagi ke sini? Mengganggu saja,” cetusku. Aku menyambar bantal untuk menutup wajah dan bermaksud untuk tidur kembali, namun Adrian malah menindihku dengan tubuh besarnya. Aku yang tak memiliki pilihan lain akhirnya mengurungkan niat tersebut.
“Kau tidak ke kampus?”
“Seminggu ini aku libur,” jawabku malas.
“Libur ataupun tidak, kau tetap harus bangun pagi. Lelaki macam apa kau. Pemalas sekali jam segini masih tidur,” komentarnya.
“Kau sendiri ada apa pagi-pagi ke sini?" protesku.
“Aku kebetulan lewat dan bermaksud mengembalikan bukumu,” jawabnya sambil melempar buku saku bersampul hijau ke atas kasur.
“Kau merusak pagiku saja.”
“Ini sudah siang tuan pangeran,” jawabnya.
“Benarkah?” ucapku terkejut. Aku segera mengecek jam pada ponselku. “Kukira sekarang masih pukul tujuh.”
“Jam negara mana yang kau lihat?” protesnya. “Memang apa yang kau lakukan tadi malam sampai-sampai kau bangun sesiang ini?” lanjutnya.
“Mm... pergi ke masa SMA,” ujarku polos.
Adrian memasang wajah penuh keheranan.
“Masa SMA?” tanyanya.
“Yah,” jawabku. Aku menggunakan jari untung menghi-tung mundur tahun. “Kira-kira pada enam tahun yang lalu.”
“Enam tahun lalu?” tanyanya sambil mencoba meng-hitung mundur enam tahun lalu dari tahun sekarang. “Berarti... saat kita kelas dua,” ucapnya tidak yakin.
Aku mengerutkan dahi mengisyaratkan jika dia salah.
“Eh, maaf. Maksudku saat kita kelas satu,” dia meralat jawabannya sendiri.
Aku kali ini mengangguk menandakan jika jawabannya benar.
“Hahaha, dasar lelaki gagal move on,” celetuknya bermak-sud meledek. Kali ini aku yang berbalik keheranan dengan ucapannya. “Sudahlah. Aku mau pulang,” ucapnya tak lama setelah itu.
Dia berdiri dan keluar pintu kamarku. Langkah kakinya terdengar sangat nyaring saat menuruni anak tangga.
“Apa maksudnya gagal move on?” aku menggerutu sendiri.
Tak lama aku menyerah untuk memikirkannya, kini aku malah teringat akan kejadian tadi malamsaat aku berbicara dengan pikiranku sendiri. Saat aku memikirkan-nya, tak lama dia muncul di hadapanku.
“Kau memang gagal move on,” kalimat pertama-nya saat berjumpa denganku.
“Apa-apaan kau. Baru saja muncul sudah berkata seperti itu,” protesku.
“Kau yang apa-apaan! Kau masih saja memikirkan mim-pi bodoh itu.”
“Sudahlah, diam. Aku lebih baik mandi dan sarapan. Kau tunggu sini. Jangan mengikutiku.”
Dia hanya mengangguk.
Aku menuruni tangga dengan lambat. Aku melihat ibuku di depan rumah yang tengah asyik bercengkrama dengan tetangga sebelah, dan ayahku, aku lihat tengah asyik menyaksikan berita di channel kesayangannya. Setelah mandi, aku kembali ke kamar dengan membawa sarapan yang sudah tersaji untukku di atas meja makan. Mungkin benar apa yang dikatakan kawan-kawanku, aku memang terlihat seperti anak bungsu meskipun sebenarnya aku adalah anak sulung. Saat memasuki kamar, aku melihat dia  sedang membaca sebuah buku tebal bersampul hitam. Sepertinya sebuah novel misteri, tapi dari mana dia mem-perolehnya?
“Apa yang kau baca?” tanyaku penuh penasaran.
“Buku harianmu.”
Aku memasang wajah heran. Aku berpikir; jika aku  meminta dia untuk menjelaskan lebih gamblang mengenai buku apa itu, kemungkinan besar dia malah akan menje-laskannya dengan ucapan yang berbelit-belit nantinya. Akan lebih mudah mengetahuinya jika aku melihat buku itu secara langsung. Aku pun mencoba merebut buku itu, namun anehnya aku tidak bisa memegangnya. Aku langsung teringat akan sesuatu hal, dia itu sebenarnya tidak nyatabegitu juga dengan buku itu―pantas saja aku tak bisa memegangnya. Tak lama, dia berbaik hati memperlihatkan halaman yang sedang dia baca. Aku membacanya, dan sontak terkejut dengan setiap kata yang aku lihat pada buku aneh ini. Sudah dua hari berturut-turut aku mengalami hal yang tidak wajar, buku ini pun makin terkesan tidak wajar bagiku.
Aku melanjutkan membacanya dengan saksama. Tak ada satu huruf pun yang aku lewatkan. Memang benar-benar aneh jika membaca buku yang menceritakan tentang diri sendiri. Aku memang sangat memiliki keinginan untuk me-nulis tentang keseharian pribadiku dalam bentuk novel dan menerbitkannya, tapi buku ini sepertinya sudah mendahu-luiku. Segala hal mengenai keseharianku tertulis secara detail dan ringkas tanpa meniadakan bagian-bagian penting sedikit pun. Mulai dari aku bangun tidur, berlanjut dengan hal-hal serta kejadian penting yang kualami, hal-hal yang aku pikirkan, hingga aku tertidur kembali, semuanya tertulis dengan retorika tingkat tinggi. Penulisan pun juga diperinci dengan tanggal dan waktu persis seperti caraku  saat menulis catatan harian. Menurutku ini sama saja seperti novelnovel mengenai diriku.’

12 Juli 2005 – 04.20 WIB
Suasana langit masih gelap dengan udara dingin berbau embun. Kokokkan suara ayam menyapanya yang baru ter-bangun dari perjalanan mimpi. Akhirnya ia mampu juga untuk menerima kenyataan bersekolah di sini, menjadi salah satu siswa Madrasah Tsanawiyah di tanah kelahiran Presiden RI ke-4.  Ia bergegas mengambil wudlu dan pergi ke musholah, atau penduduk desa biasa menyebutnya ’langgar’. Tak seperti di Jakarta, di sini mushola tidak hanya dipenuhi oleh kalangan orangtua saja, tapi anak-anak seusianya juga banyak me-menuhi mushola.
Ia segera bergegas ke sekolah ketika waktu sudah menunjukkan pukul 05.40 WIB. Matahari kota Jombang turut membangun semangat di dalam setiap langkahnya…

11 Oktober 2005 – 12.12 WIB
Hujan lebat membasahi hamparan sawah. Pandangannya sedikit kabur karena kelelahan. Ia beserta dua kawannya tengah berada di sebuah gubuk untuk berteduh…

17 Agustus 1998 – 07.00 WIB
…berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Hari Kemer-dekaan di tahun ini juga merupakan Tahun Kemerdekaan pertama di ‘langit Reformasi’. Dia sama sekali belum mengerti tentang kejadian bersejarah yang baru saja terjadi, mungkin beberapa tahun ke depan dia baru akan bisa menilainya, apakah Reformasi ini benar, atau salah…

24 Januari 1995 – 00.01 WIB
…tepat setahun usianya kini. Lahir dalam keluarga sederhana di daerah Jakarta. Kakek dari ayahnyalah yang memberi ia nama. Sebagai seorang purnawirawan TNI Anglatan Laut, kakeknya kelak sangat mengharapkan cucu ke-duanya ini dapat menjadi manusia yang berguna bagi bangsa. Berbeda dengan kakek dari keluarga ibunya, Wangsa kecil sangat diharapkan dapat menjadi anak yang kelak berguna bagi Agama. Wajar saja, karena kakeknya yang memiliki nama sama persis dengan pendiri Nahdlatul Ulama ini adalah seorang…

“A...aa...apaa ini?” ucapku dengan terbata-bata.
“Seperti yang kukatakan. Ini buku catatanmu,” ucap-nya santai.
“Bagaimana bisa?” ucapku mendesak.
“Apa pun bisa kau lakukan saat berimajinasi teman.” Kali ini dia mengatakannya dengan senyum yang mengha-nyutkan.
“Aku serius! Jelaskanlah!” ucapku mulai marah.
“Mmm... Aku bingung menjelaskannya. Intinya ini me-mang benar adalah buku catatanmu yang kemarin siang baru saja kau beli.” Dia menunjukkan tulisan atita yang tertera pada sampul depan buku milik-nya. Aku menyuruh ia membaliknya, dan aku juga melihat tulisan nagata. Aku yang masih tidak percaya langsung mencari buku catatanku. Aku mencarinya di balik bantal, di sudut ruangan, sampai mengacak-acak kasur, namun aku tidak menemukannya. Apa mungkin ucap-nya adalah benar? dan buku itu sudah berpindah ke alam imanjinasi?
“Sekarang ini kau masih dalam masa ‘puerpera’, tapi kau sudah sangat membuatku gila,” keluhku sambil menunduk dan menggaruk kepala.
“Kau terlalu mendramatisir,” ucap-nya seolah ingin mene-nangkanku.
“Tapi bagaimana mungkin sesuatu yang nyata bisa berubah menjadi imajinasi seperti itu,” protesku.
“Bagaimana kau tahu mana yang nyata, dan mana yang imajinasi?” ucap-nya tanpa merasa bersalah. Aku tahu jika dia bermakud menjebakku dengan permainan penalaran logika-nya yang di luar batas. Seperti yang sudah-sudah, pada akhirnya aku tetap tidak akan mengerti dan hanya menerimanya begitu saja mengenai hal-hal bodoh ini.
Saat aku masih memikirkannya, dia malah membuka diskusi semaunya tanpa seizinku. “Tak semua yang ‘nam-pak’ itu ‘ada’, dan tak semua yang ‘ada’ itu ‘nampak’ kawan,” celoteh-nya.
“Yah, yah, seperti garis lurus yang kita lihat di ujung laut maksudmu? Kita seolah melihat laut itu memiliki ujung, tapi sebenarnya ujung itu tidak pernah ada, begitu, kan?” ucapku sedikit sewot.
Dia yang merasa sudah berhasil untuk membuatku mengikuti kemauan-nya tersenyum dengan penuh keme-nangan.
“Tepat sekali. Lalu sesuatu yang tak nampak namun sebenarnya ada, contohnya adalah...” dia sengaja tidak meneruskan kalimat-nya dengan maksud aku yang ia harap akan meneruskannya.
“Angin,” jawabku singkat.
“Kau memang cerdas,” dia bermaksud merayuku.
“Jelas-jelas kau pun tahu itu! Kenapa kau malah menanyakannya seolah-olah kau tidak tahu!” aku mulai kesal.
“Aku hanya mengikuti cara Socrates,” dia berkata dengan santainya. “Membantu orang melahirkan sendiri pemikiran-nya. Karena pemikiran sejati hanya dapat dilahirkan oleh diri sendiri. Karena itulah aku terus bertanya agar kau terus berpikir dan melahirkan pemikiranmu,” lanjut-nya.
“Terserah apa katamu saja. Lebih baik aku makan daripada mendengar kau berceloteh.”
“Dia itu menurutku adalah seorang bidan pemikiran,” dia masih saja berceloteh.
“Dasar bodoh. Bagaimana bisa seorang lelaki menjadi bidan.”
Upss, aku lupa. Berarti dia adalah seorang dokter kandungan,” dia meralat ucapannya.
“Terserah apa katamu.”
Aku memperhatikan tingkah bodohnya yang sangat menjengkelkan. Memang kuakui jika semua yang ia ucapkan adalah benar. Karena tidak mungkin ada manusia yang menyalahkan pikirannya sendiri. Jika ada, kemung-kinan pertama dia adalah orang munafik, kemungkinan kedua dia adalah orang yang memang tidak berpikir, kemungkinan ketiga karena dia telah menemukan kebenaran yang lain dari apa yang sudah ia anggap benar selama ini. Sejenak aku membayangkan, apa aku juga terkesan seperti itu saat berdiskusi dengan orang lain?
“Apa kau tidak jadi makan?” ucap-nya mengejutkanku. Aku baru sadar kalau nasiku sudah mulai dingin. Aku sege-ra melahap sarapanku.
Sepertinya aku butuh udara segar. Jika aku terus memikirkan hal-hal bodoh semacam ini terus, yang ada aku akan semakin jauh dengan dunia nyata. Mengenai mimpi bodoh, aku berbicara dengan pikiranku sendiri, dan sekarang aku membaca novel mengenai diriku, semuanya jelas-jelas di luar ambang batas normal.
Seusai makan, aku langsung bergegas turun dan pergi ke basecamp. Sesampainya di sana, aku melihat banyak sekali kawan-kawanku yang sedang bercanda-gurau, dan sebagian sibuk dengan gadget-nya masing-masing. Aku melihat Irul dan Adrian yang sedang asyik berbicara berdua terpisah dari kawan-kawan yang lain.
“Tumben kau kemari?” sambut Irul.
“Aku jenuh di rumah.” ucapku.
“Kau sudah kelar membaca novel tebalmu?”
Mungkin yang ia maksud novel tebal adalah novel dunia sophieku.
“Belum. Baru setengahnya mungkin.” tebakku. “Kalian sedang apa?” aku balik bertanya.
“Membedakan antara gelap dengan bayangan. Kenapa bayangan ada saat cahaya itu ada,” ucap Adrian yang langsung membuatku tercengang.
Apa ini hanya kebetulan saja atau bagaimana? Bagai-mana bisa apa yang mereka bahas, sama persis seperti apa yang baru saja aku impikan semalam? Atau memang benar jika sudah ada yang menge-set semua ini kepadaku? Tapi siapa yang membocorkan mimpiku kepada mereka?
“Heiii, kenapa kau malah melamun?” kejut Adrian. Aku diam saja dan duduk berbaur di antara mereka.
“Jadi menurutmu bagaimana?” tanya Adrian.
“Mengenai bayang-bayang dan cahaya?” aku balik bertanya.
“Yah,” jawab Adrian singkat.
“Lihatlah,” aku menunjuk bayangan sebuah motor. “Bagaimana bayangan tersebut bisa ada?” lanjutku. Cukup lama Adrian dan Irul terdiam.
“Karena tidak mendapat cahaya,” ucap Irul secara tiba-tiba.
“Mungkin tepatnya karena berada di balik sesuatu yang menutupinya,” lanjut Adrian.
“Yahh, kerena tertutup sesuatu maka terciptalah bayangan,” tambahku.
“Kenapa bisa persis sama seperti itu yah?” Adrian berbicara sendiri.
“Apa maksudmu?” tanyaku.
“Di bukumu yang baru saja aku kembalikan tadi pagi membahas soal kafir. Kau tahu, kan?” jawab Adrian.
“Bagaimana aku bisa tahu. Kau saja meminjamnya sebelum aku membacanya,” protesku.
“Memangnya apa yang tertulis di buku itu mengenai kafir?” Irul memotong pembicaraan kami.
“Secara bahasa, kafir itu artinya tertutup.” jawab Adrian.
Aku dan Irul diam sejenak berpikir. Saat aku berpikir, tiba-tiba dia hadir di sebelahku. Aku menatap-nya bermak-sud mengatakan ‘kenapa kau berada di sini?’
“Kau berpikir maka aku ada,” jawab-nya singkat. Aku membiarkannya saja seolah-olah ia tidak ada, karena jika aku meladeni-nya, aku akan terkesan gila di mata teman-temanku karena bicara sendiri.
“Jadi, hanya orang-orang yang menutup diri yang tidak akan mendapat cahaya. Begitukah?” tiba-tiba Irul berucap.
“Sepertinya,” jawab Adrian, singkat.
“Kenapa mereka tidak mau mendapat cahaya?” tanya Irul.
“Karena mereka bodoh, atau jahal,” celetukku.
“Lalu soal gelap?” tanya Adrian.
“Gelap adalah keadaan saat tidak adanya cahaya,” jawabku.
“Seperti kata-katanya Enstein?” ucap Irul.
“Memang benar.”
“Maksud kalian apa?” tanya Adrian yang tertinggal pembahasan karena membalas SMS.
“Kata Enstein, gelap itu sebenarnya tidak ada. Yang ada itu hanya terang. Gelap adalah keadaan saat tidak adanya cahaya sama sekali,” terang Irul.
“Aku pernah membaca sesuatu mengenai hal ini,” ucapku.
“Dari novel kesayanganmu itu?” celetuk Irul.
“Iya,” ucapku singkat. “Jadi, umpakan kalian berada di sebuah hutan yang sangat gelap. Satu-satunya sumber cahaya yang kalian punya adalah api unggun yang berada di depan kalian,” lanjutku.
“Lalu?” tanya Adrian penasaran.
“Apa kalian bisa melihat semua yang ada di sekeliling kalian?”
“Tentunya bisa,” ucap Adrian.
“Kalian melangkah 5 meter menjauh dari api unggun, apa kalian masih bisa melihat segala sesuatu di sekeliling kalian?”
“Kurasa masih bisa.”
“Lalu, kalian melangkah lagi tiga puluh meter, apa kalian masih bisa melihat sekeliling kalian?”
“Bisa. Namun samar-samar karena minim cahaya,” ucap Irul.
“Lalu, kalian melangkah satu kilometer menjauh. Kalian masih bisa melihat?” ucapku.
“Tidak,” ucap Irul dengan yakin.
“Itulah cahaya. Semakin jauh cahaya, semakin kita tidak bisa membedakan mana pohon, dan mana yang bukan pohon,” lanjutku.
“Aku paham. Jadi kau bermaksud menganalogikan Tuhan seperti itu. Semakin kita jauh dari-Nya, semakin kita tidak bisa membedakan mana benar dan mana salah, mana baik dan mana buruk. Karena kita sudah gelap. Begitu, kan?” Irul melahirkan pemikirannya sendiri.
“Tepat sekali,” ucapku.
“Kau meniru gayaku,” tiba-tiba dia berbicara.
“Aku tidak menirumu, aku meniru Socrates,” ucapku di luar kesadaran. Untungnya tidak ada yang mendengar.
Sepanjang hari ini, kami terus berdiskusi dari topik satu ke topik lainnya. Hingga datang waktu maghrib, kami pun membubarkan diri. Saat tiba di rumah, aku langsung mengecek ponsel. Aku mendapati dua panggilan tak terjawab dari nomor yang tak tercatat di buku teleponku. Saat mengecek SMS, aku juga mendapati tiga pesan, sepertinya pun dari nomor yang sama. Aku membukanya, dan membaca pesan tersebut.

From: 08xxxx
Hai, Sa. apa kabar? Ini aku Ami. Masih ingat tidak?

Apa-apaan lagi ini?! Apa ini sesuatu kebetulan lagi?! Dalam mimpi, aku baru saja memberi nomor ponselku ke Ami, dan sekarang di dunia nyata dia tiba-tiba meng-hubungiku.[]





Chapter 5
Dalil Bintang




AKU yang tidak mau ambil pusing, langsung membalas SMS tersebut.

To: 08xxx
Alhamdulillah keadaaanku baik. Kabarmu sendiri bagaimana?

Tak lama Ami membalas.

From: 08xxx
Aku pun baik. Bagaimana dengan kawan-kawan di sana?

To: 08xxx
Mereka juga baik. Ngomong-ngomong bagaimana kau bisa tahu nomorku?

From: 08xxx
Syukurlah kalau begitu. Aku masih menyimpannya saat aku meminta nomormu di depan gerbang sekolah. Untungnya kau tidak ganti nomor ponsel.

Mendadak aku diam mematung. Aku berpikir keras. Aku sama sekali tidak ingat jika pernah memberikan nomorku kepadanya. Yang semakin membuatku tercengang adalah, ketika dia mengatakan jika dia mendapat nomorku saat me-mintanya di depan gerbang sekolah, persis sekali seperti dalam mimpi.
“Itu hanya kebetulan,” celetuk-nya.
“Kau bilang kebetulan?! Ini sudah lebih dari sekadar kebetulan!” ucapku sewot dan marah tidak jelas.
“Kendalikan dirimu. Jangan terlalu berlebihan seperti itu,” dia mencoba meredamku.
Entah kenapa aku mengikuti saran-nya. Aku menarik napas panjang untuk merilekskan pikiran.

(Dialog by SMS)
Aku  :  Oh yah. Mungkin aku lupa. Kau tinggal di mana sekarang?
Ami  :  Aku tinggal di Bogor ikut tanteku. Kau sibuk apa sekarang?
Aku  :  Aku tidak sedang sibuk apa-apa. Sekarang aku lagi libur kuliah.
Ami  :  Oh kau kuliah. Jurusan apa?
Aku  :  Adminsitrasi.
Ami  :  Aku tidak tahu jika kau suka dengan hal-hal berbau administrasi.
Aku  :  Hahahaha. Aku hanya tersesat. Kau bagaimana?
Ami  :  Aku sibuk kerja sekarang. Mungkin belum rezekiku untuk kuliah.
Aku   :  Aku do’akan biar kau cepat menjadi mahasiswa.
Ami  :  Amin. Sudah lama sekali yah kita tidak berjumpa.
Aku   :  Yah. Sudah cukup lama sekali semenjak kau pindah sekolah saat naik ke kelas dua.
Ami  :  Tapi aku tidak pernah lupa kepada kalian semua. Tenang saja.
Aku   :  Syukurlah kalau begitu. Oh iya, bagaimana ilmu astro-nomimu? Masih belajar?
Ami  :  Sudah tidak terlalu.
Aku   :  Kau kenal Al-Khawarizmi?
Ami  :  Kenal. Kau sendiri yang memberi tahu aku mengenai dia saat diskusi di kelas dulu, kan?
Aku   :  Benarkah? Aku lupa. Apa aku juga membahas soal ilmu falaq?
Ami  :  Iya, kau juga membahas itu. Ilmu falaq adalah nama lain dari astronomi. Kau lupa?
Aku   :  Aku benar-benar lupa. Tapi sepertinya tidak perlu dibahas.
Ami  :  Hahahaha. Aku hanya bercanda. Kau tidak pernah mengatakan semua itu.
Aku   :  Wah, padahal aku sudah mulai percaya dengan ucapanmu.
Ami  :  Hahahaha. Oh yah, kalau mengenai proxima centaury apa kau tahu?
Aku   :  Tidak. Apa itu?
Ami  :  Nama bintang yang terdekat dari matahari. Kira-kira jaraknya 4,2 tahun cahaya.
Aku   :  Terdekat saja jaraknya 4,2 tahun cahaya, yah? Apa lagi yang terjauh? Hahahahaha.
Ami  :  Hahahaha. Satu menit cahaya berarti 18 juta Km. Coba kau kalikan sendiri.
Aku   :  Tentunya jumlahnya sangat banyak. Mmm, centaury itu seperti nama rasi bintang bergambar manusia berbadan kuda.
Ami  :  Proxima centaury memang berada di rasi bintang itu. Lebih tepatnya bernama rasi Centaurus. Salah satu dari 88 rasi bintang yang ada.
Aku   :  Mars saja yang jaraknya hanya satu menit cahaya, manusia belum ada yang mampu pergi ke sana.
Ami  :  Betul sekali. Ini masih ruang lingkup satu tata surya. Bagaimana dengan satu galaksi? Satu galaksi terdiri dari beberapa tata surya.
Aku   :  Lalu bagaimana dengan satu cluster? Satu cluster terdiri dari beberapa galaksi.
Ami  :  Lalu yang lebih luas lagi adalah local grup yang terdiri dari beberapa cluster. Dan beberapa local grup disebut super cluster. Aku pusing sendiri memikirkan luasnya jagad raya ini.
Aku   :  Sampai kapan pun kita tidak mungkin bisa memecahkan itu. Karena ilmu kita tidak akan pernah sampai menyaingi Tuhan. Bumi kita itu hanya sebuah cincin dalam hamparan gurun pasir yang sangat luas. Gurun pasir itu adalah jagad raya ini.
Ami  :  Betul sekali. Bahkan andromeda yang merupakan galaksi terdekat dari bima sakti saja sangat jauh sekali jaraknya.
Aku   :  Andromeda itu galaksi terbesar pada local grup kita jugakan?
Ami  :  ya. Penemu galaksi ini adalah cendekiawan muslim. Aku lupa namanya.
Aku   :  Namanya Abd Al-Rahman Al-Sufi. Astronom asal Persia. Dia menemukannya pada abad ke-10 M.
Ami  :  Kau tahu banyak juga mengenai astronomi.
Aku   :  Tidak juga. Aku hanya tertarik pada perbintangannya saja, tapi kalau mengenai hitung-hitungan dan rumus-rumusnya, aku malas. Apa lagi sampai membahas soal astrofisika. Kurasa itu bukan duniaku.
Ami  :  Hahaha. Kau mungkin lebih familiar dengan hitung-hitungan akuntansi.
Aku   :  Hahaha... Oh ya, menurutmu bintang itu apa?
Ami  :  Benda masif (yang memiliki massa 0,08 hingga 200 massa matahari) yang pernah dan sedang melangsungkan pembangkitan energi melalui reaksi fusi nuklir.’
Aku   :  Kalau tidak salah, bintang yang sudah tidak melakukan pembangkitan energi melalui fusi nuklir disebut bintang semu, yah?
Ami  :  Iya. Bintang dibagi menjadi dua. Bintang yang bersinar sendiri disebut bintang nyata, dan bintang yang bercahaya dengan bantuan dari sinar bintang lain disebut bintang semu.
Aku   :  Bintang saja tidak hidup egois, yah. Mereka saling berbagi cahaya. Bahkan yang terhebat, bintang rela membakar dirinya sendiri untuk menerangi tata suryanya. Tak peduli harus berapa lama dia bersinar, tak peduli sekecil apa pun terang yang akan kita dapat, dia akan tetap bersinar dengan tulus dan ikhlas. Kita saja sebagai manusia terkadang malas untuk bersinar jika tidak mendapat pujian atau tanggapan dari orang lain.
Ami  :  Wah, kau pandai berkata-kata, yah.
Aku   :  Itu kutipan puisiku yang berjudul bintang.
Ami  :  Coba kirimkan, aku ingin lihat.
Aku   :  Aku tidak peduli jika harus berapa lama aku bersinar. Aku tidak peduli jika sekecil apa pun sinar yang akan kau tanggap. Aku tak peduli walau harus tertutup awan, aku akan tetap bersinar. Aku tak peduli jika saat kau sadar akan sinarku, aku telah tiada. Aku akan tetap bersinar walau kau hanya menatapku di malam hari. Aku akan semakin bersinar saat langit malam semakin gelap. Saat kau berputar ke arah siang, aku masih tetap bersinar, dan terangku selalu sama.
Ami  :  Bagus. Aku akan mencatat puisimu di buku catatan astronomiku.
Aku   :  Aku merasa terhormat. Oh yah, dan satu lagi. Kau tahukan soal ilusi langit?
Ami  :  Tidak. Memangnya apa?
Aku   :  Kelap-kelip bintang yang kita lihat saat malam hari, itu adalah sinar bintang pada beberapa tahun lalu.
Ami  :  Oh, mengenai itu. Iya aku tahu. Jadi saat kita menatap langit di malam hari, sebenarnya kita sedang melihat langit beberapa tahun lalu. Bisa saja terang bintang yang kita lihat adalah cahaya milik bintang yang sudah hancur menjadi supernova beberapa tahun lalu.
Aku   :  Aku menganggap itu seperti ilusi, atau tipuan alam raya.
Ami  :  Mungkin seperti itu. Dari tadi kita baru membahas soal bintang dan jagad raya. Kita belum membahas soal kejadian-kejadian jagad raya, seperti black hole, supernova, pembentukan bintang, atau alasan kenapa benda-benda langit ini bergerak.
Aku   :  Yah, kita juga belum membahas kosmologi.
Ami  :  Kurasa lain waktu saja kita membahasnya saat bertemu. Sepertinya sudah larut malam. Aku harus segara tidur.
Aku   :  Kurasa juga begitu.
Ami  :  Oh yah. Dua hari yang lalu Merry meminta nomormu kepadaku. Apa dia sudah menghubungimu?’
Aku   :  Belum.

Ami tidak membalas SMS-ku lagi setelah itu. Aku pun berbaring-baring dengan santai menunggu kantuk.
[
Aku merasakan ada sesuatu yang merasuk ke dalam tubuhku. Seperti sesuatu yang lembut dan dingin sekali. Dengan sendirinya aku langsung merapatkan kaki dan mengapit kedua telapak tanganku ke dalam ketiak. Sesaat, aku mulai sesak dan menggigil. Badanku terasa dingin sekali. Tak lama, aku terbangun. Aku segera mematikan kipas dan tidur kembali saat mengetahui langit masih terlihat gelap. Beberapa jam kemudian, aku bergegas mandi dan mempersiapkan diri untuk berangkat sekolah. Tak seperti biasanya, hari ini aku menelusuri jalan yang berbeda. Matahari pagi menemaniku melawan sisa hawa kantuk. Udara masih saja terasa dingin meskipun aku sudah berada di dalam kelas. Aku duduk manis memandang ke setiap sudut kelas. Satu per satu kawan-kawanku mulai berda-tangan. Tak lama bel berbunyi. Sepertinya hanya bangku Alif dan Adrian saja yang masih kosong. Di tengah ke-sibukkan kawan-kawanku yang sedang menyalin PR, aku hanya diam melamun. Aku berpikir, di masa depan pasti aku akan sangat merindukan masa-masa ini. Pada empat tahun, sepuluh tahun, atau dua puluh tahun lagi, aku mem-bayangkan akan menjadi apa kita nanti. Apakah benar se-perti yang biasa dikatakan kebanyakan guru, jika murid pintarlah yang akan menguasai masa depan, dan murid bodoh adalah sebaliknya. Kurasa bukan persoalan pintar atau bodoh, tapi persoalan siapa yang mau bekerja keras atau tidak. Menurutku, manusia bodoh itu tidak ada. Para guru biasanya mencap muridnya bodoh hanya karena muridnya kurang mahir pada pelajaran yang dia ajarkan saja. Padahal belum tentu murid tersebut bodoh pada pelajaran yang lain, dan belum tentu guru tersebut pun mahir dalam ilmu pengetahuan yang lain.
Tak lama, terdengar suara langkah kaki yang sedang berlari dari kejauhan. Aku mengetahui siapa pemilik lang-kah itu ketika melihat Alif dan Adrian memasuki kelas dengan tergesa-gesa.
“Kau sudah mengerjakan PR?” tanya Alif. Dia duduk di depanku dan mengeluarkan buku dari dalam tasnya dengan panik.
“Belum. Aku pun tidak tahu PR apa.”
“PR PKn minggu lalu. Kenapa kau malah santai saja dan tidak mengerjakannya?”
Aku diam saja tidak menjawab.
Belum sempat Alif menutup tasnya kembali, guru sudah berada di pintu kelas. Namun, beliau bukanlah guru PKn yang sedang kami tunggu, melainkan adalah guru olahraga. Seisi kelas memandang heran ke arah guru yang mulai melangkahkan kakinya ke depan kelas.
“Hari ini Pak Pandoyo tidak masuk karena sakit, tapi beliau berpesan jika kalian harus mengerjakan tugas dan dikumpulkan paling lambat dua hari.”
Guru itu memberikan tugas yang dimaksud pada selem-bar kertas kepada sekretaris kelas kami.
Raut wajah penuh rasa lega terpampang jelas dari setiap wajah kawan-kawanku, dengan kata lain, berarti mereka bersyukur karena ada guru yang sakit. Tiga langkah guru meninggalkan pintu kelas, suara teriakkan penuh kemer-dekaan memenuhi ruang kelas, tak lain, Adrianlah pe-lopornya.
Mindi―sekretaris kelas―langsung menulis tugas Pak Pandoyo di papan tulis. Alif terlihat paling senang di antara siswa yang lain saat mendengar Pak Pandoyo sakit. Adrian yang jengkel melihat tingkahnya, langsung menyuruhnya diam sambil melempar tutup pulpen ke arahnya. Tanpa kusadari, Ami sudah berada di depanku. Seperti dugaanku, dia ingin mengajakku berdiskusi kembali. Aku mengajak Ami untuk berdiskusi di depan kelas karena suasana di dalam kelas terdengar sangat gaduh.
“Sepertinya kita memiliki waktu senggang sampai isti-rahat,” aku mencoba berbasa-basi saat sudah berada di de-pan kelas.
“Aku kemarin baru saja membaca biografi Al-Kha-warizmi di internet. Ternyata, selain seorang astrnom, dia juga adalah pakar matematika. Dia pun penemu aljabar dan penemu angka nol,” ucapnya.
Aku hanya menanggapinya dengan senyuman kecil.
“Aku juga membaca Al-Sufi,” lanjutnya.
“Al-Sufi?” gumamku heran.
“Kau kenal dia juga?” tanyanya penuh harapan.
“Abd Al-Rahman Al-Sufi.” Kalimat itu begitu saja keluar dari mulutku.
“Betul. Dia penemu―”
“Galaksi Andromeda...” ucapku memotong kalimatnya.
“Kau tahu juga tentang Al-Sufi?”
“Aku merasa jika kita pernah mendiskusikan ini,” aku mengucapkan dengan tidak yakin.
“Kapan? Sepertinya tidak pernah.”
“Entahlah, aku seperti pernah membahas ini denganmu juga sebelumnya,” aku masih mencoba mengingat-ingat. Aku merasa jika aku pernah membahas hal ini sebelumnya dengan Ami. “Sudahlah, lupakan,” lanjutku yang menyerah untuk mengingat.
“Menurutmu bintang itu apa?”
Lagi-lagi aku diam. Aku kembali teringat akan sesuatu. Tapi aku tidak mengetahuinya apa.
“Bukankah aku pernah menanyakan ini padamu?” ucap-ku.
“Sepertinya tidak. Sudahlah, berhenti mengkhayal.”
Aku menundukkan kepala dan memaksa otakku untuk mengingat apa yang baru saja melintas di otakku. “Aku hanya merasa khayalan itu seperti nyata bagiku. Tapi su-dahlah, apa tadi pertanyaanmu?”
“Menurutmu bintang itu apa?” Ami mengulang perta-nyaannya.
Aku menarik napas panjang untuk menenangkan diri.
“Pada awalnya, manusia mendefinisikan bintang adalah semua benda langit yang tampak bersinar.”
“Bukankah semua bintang memang bersinar?”
“Menurutmu, venus itu planet atau bintang?”
“Tentu saja planet.”
“Lalu kenapa venus bisa dijuluki bintang kejora atau bin-tang timur?”
“Karena dia tampak bersinar.”
“Jadi menurutmu venus adalah bintang atau planet?”
Ami diam saja tidak menjawab.
“Lalu, meteor dan komet, menurutmu, mereka bintang atau bukan?”
“Meteor biasa disebut bintang jatuh.”
“Komet pun biasa disebut dengan sebutan bintang ber-ekor.”
Ami kembali diam.
“Bahkan merkurius, jupiter, mars, dan saturnus, juga disebut bintang oleh orang Yunani kuno.”
“Dan menjadikan bintang-bintang tersebut sebagai de-wa?”
“Yah, nama merkurius adalah Stilbon, nama venus ada-lah Eosforus, nama mars adalah Piroeis, nama saturnus adalah Faenon.”
“Itu nama dewa dari planet-planet tersebut?”
Aku mengangguk.
“Para pakar astronomi modern mendefinisikan bintang adalah semua benda masif yang sedang atau pernah membangkitkan energi menggunakan fusi nuklir. Contoh-nya adalah matahari. Matahari itu adalah bintang. Dengan kata lain, berarti, teori manusia yang pertama mengenai bintang adalah salah, dan bukan suatu kemungkinan jika di masa berikutnya manusia mempunyai teori baru mengenai bintang.”
“Kau sepertinya cocok menjadi seorang astronom.”
“Kurasa tidak. Aku lemah dalam hitung-hitungan. Aku hanya menyukai hal-hal yang mengenai perbintangannya saja. Kurasa kaulah yang cocok. Kau mahir dalam fisika dan kimia.”
“Aku memang sangat tertarik dengan astronomi.”
Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang.
“Sedang apa kalian? Kalian tidak mengerjakan tugas?” tanya Alif mengejutkanku dan Ami.
“Nanti saja di rumah. Kau sendiri kenapa ke sini?” Ami balik bertanya.
Tak lama Adrian dan Lian juga menghampiri kami.
“Tugas macam apa itu. Aku sama sekali tidak mengerti,” keluh Adrian saat duduk di samping Alif.
“Kalian sedang apa?” tanya Lian yang masih berdiri.
“Duduk,” jawab Alif singkat.
“Aku tidak bertanya padamu,” ucap Lian sewot.
Bel berbunyi, menandakan jam pelajaran pertama telah usai. kami terus berdiskusi dengan topik yang tidak me-nentu hingga jam istirahat tiba. Kami sempat membahas mengenai ‘tujuan dari mengerjakan suatu hal’. Dari diskusi yang terbangun, kami sepakat untuk lebih menitikberatkan ‘proses’ daripada ‘hasil’. Kakayaan, kekuasaan, atau keber-hasilan, itu bukanlah hasil, melainkan adalah bonus. Hasil adalah ketika kita mati nanti. Seberapa banyak orang yang mengantar kita ke liang lahat, itulah hasil yang sebenarnya.
Empat puluh lima menit kemudian, bel kembali ber-bunyi, menandakan waktunya istirahat. Kami langsung menuju kantin secara bersama-sama. Aku berjalan paling belakang sebelum Alif. Sesampai di kantin, kami berpencar membeli jajanan, dan akhirnya berkumpul dan mulai berdiskusi kembali.
“Dari semua pembahasan yang kau ucapkan semenjak kemarin, sepertinya, semuanya  di luar pembahasan yang ada di buku,” tanya Adrian kepadaku.
“Pengetahuan itu luas. Kenapa kita harus membatasinya dengan buku-buku pelajaran yang ada saja?”
Adrian kini diam saja.
“Apa kalian merasa tidak ada yang salah dari cara kita belajar?” aku kembali bertanya.
“Salah dari segi mana?” Tanya Ami.
“Coba kau ambil salah satu buku pelajaranmu ke sini. Kita bedah bersama-sama apa saja yang dibahas di dalam buku tersebut.”
Ami berdiri dan berlari masuk ke dalam kelas. Tak lama, ia kembali dengan membawa buku pelajaran sejarah. Dia menyerahkannya padaku dan duduk kembali di tempat ia sebelumnya.
“Coba kita lihat apa yang ada di sini.” Aku mulai membukanya dari daftar isi. “Coba kita bahas Bab 6, mengenai peradaban kuno Eropa dan Amerika.” Aku membacanya secara saksama setiap tulisan yang ada.
“Peradaban Pulau Kreta… Peradaban Yunani… Peradaban Romawi… Peradaban Amerika Kuno…” aku membacanya sambil membuka halaman  demi halaman. “Peradaban mana yang mau kita bahas?” aku melanjut-kannya dengan pertanyaan.
“Peradaban Yunani saja,” usul Ami.
Aku segera membuka halaman 149 dan membacanya. “Yunani merupakan salah satu pusat peradaban tertua di Eropa. Tingginya tingkat peradaban Yunani itu dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu keadaan alamnya, penduduknya dan lain sebagainya…” Aku terus melanjutkannya hingga membahas persoalan seni bangunan, ilmu pengetahuan dan teknologi, pemerintah dan hukum, filsafat, kepercayaan, dan terakhir adalah peninggalan budaya.
“Kalian mengerti apa yang aku baca?” aku membuka pembahasan kembali dengan pertanyaan.
Semua menggelengkan kepala.
“Dari semua yang kau bacakan tadi, yang dapat aku ingat hanya, jika Yunani adalah peradaban tertua,” ucap Adrian.
“Dan filsafat,” tambah Ami.
“Kenapa kalian tidak bisa mengingatnya?” Tanyaku.
“Mungkin karena aku tidak menyukainya,” ucap Ami.
“Coba kita membuka sesi Tanya-jawab.” Aku mem-berikan buku sejarah tersebut ke Ami. “Acropolis me-rupakan kuil yang dibangun pada masa kejayaan Yunani. Pertanyaannya, kuil tersebut dibangun dengan gaya apa?”
Ami langsung membuka buku yang ada di tangannya untuk mencari jawaban. “Doria,” jawabnya singkat.
“Kalian tahu gaya doria itu seperti apa?”
“Tidak, kau?”
“Tidak. Lalu pengetahuan apa yang kita dapat dari per-tanyaan ini?”
Ami kembali diam.
“Lalu apa itu filsafat?” Tanya Adrian.
“Aku sendiri bingung kenapa kita diperkenalkan oleh filsafat? Coba kau tanya pada guru kita, apa itu filsafat?”
“Apa menurutmu mereka bisa menjawabnya?”
“Harus. Mereka tempat bertanyanya murid. Lagi pula, apa yang kita tanyakan pun memang tertera di buku.”
Sesaat kami terdiam hingga Ami berucap kembali.
“Kalau hanya sekadar menghafalnya saja, kurasa kita tidak akan tahu apa manfaat dari ilmu tersebut. Hal itu sama saja seperti kita memiliki mobil Jaguar, komputer, ponsel canggih, tapi kita tidak mengerti cara mengguna-kannya, itu sama saja percuma,” ucap Ami.
“Menurut kalian, apa kita harus menghafal semua ini? Contohlah seperti saat kita mengahafal jika, Homerus adalah penulis legenda mitos kebudayaan pulau Kreta, atau, pada tahun 1878 Masehi, ditemukan hasil-hasil penggalian purbakala, salah satunya adalah bekas bangunan kota kuno Troya di Asia kecil yang banyak disebut oleh pujangga Homerus dalam bukunya berjudul Illyas,” ucap Adrian sambil membaca buku.
“Apa yang kau ucapkan saja aku tidak mengerti,” ucap Ami.
“Aku punya pertanyaan, siapa penulis mitos kebudayaan pulau Kreta?” aku bertanya kepada Adrian.
“Homerus. Bukankah tadi sudah aku bacakan?”
“Pulau Kreta itu apa? Terletak di mana? Dan pada abad ke berapa?”
Adrian langsung membuka ulang buku sejarah yang ada di tangannya, dan berusaha mencari jawaban dari perta-nyaanku.
“Tidak dijelaskan,” ucap Adrian.
“Lalu apa yang kalian pelajari? kalian menghafal semua tulisan yang ada di buku sejarah itu, bukankah itu hanya sesuatu yang sia-sia?”
“Saat nanti Ujian Akhir Semester, kita mendapati soal-soal seperti ini, dan kita dapat mengerjakannya, tapi, apakah itu bermanfaat?” ucap Ami.
“Maksudmu, Mi?” Tanyaku.
“Maksudku, mungkin kita bisa saja mengerjakan soal-soal itu―entah dengan cara menyontek atau mengerja-kannya sendiri―tapi, bukankah apa yang kita tulis pada lembar jawaban berarti hanyalah tulisan kosong? karena kita pun tidak tahu apa yang kita tulis. Kita hanya menulis apa yang guru inginkan saja.”
“Seperti balon, terlihat besar, namun isinya hanya angin,” lanjutku.
“Jadi apa yang salah, Sa?” Tanya Adrian.
“Sejauh ini ada dua kemungkinan, entah kurikulum yang terlalu berat hingga menjadikan kita hanya mempelajari hal-hal yang kosong saja, atau, kita sebagai siswa yang ber-IQ lemah.”
Bel yang menandakan waktu istirahat telah berakhir baru saja berbunyi. Kami segera masuk ke dalam kelas dan duduk pada bangku masing-masing. Jam di dinding kelas menunjukkan pukul 10.02 WIB. Tak lama, masuk seorang guru dengan raut wajah penuh dendam. Guru tersebut adalah guru sejarah yang kemarin berdebat denganku. Dia mengajar seolah tidak pernah terjadi apa-apa di kelas ini, aku pun juga begitu, aku masih tetap membaca komik saat dia tengah menerangkan pelajaran. Entah kebetulan atau sudah ada yang mengaturnya, guru tersebut kini tengah menerangkan tentang peradaban Eropa―sesuatu yang baru saja aku bahas dengan kawan-kawanku tadi pagi. Seperti biasa, sehabis menerangkan, dia langsung melempar per-tanyaan kepada kelas.
“Peradaban tertua di Eropa itu adalah?”
“Yunani, Pak,” ucap Alif.
Guru itu mengangguk.
“Legenda mitos kebudayaan pulau Kreta ditulis oleh?”
“Homerus, dalam kitab Illyas dan Odyssea,” kali ini Adrian yang menjawab.
Bukannya senang karena murid-muridnya bisa men-jawab, guru tersebut malah memasang wajah heran.
“Yah, lalu berikutnya, bangsa Yunani telah memiliki berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat tinggi, hal ini dapat diketahui melalui?”
“Dewa-dewanya, Pak,” ujar Ami.
“Dewa-dewa?” Raut wajah guru itu berubah heran kembali.
“Yunani sangat kental dengan dunia mitologinya. Pada saat itu pun, Yunani telah menamai Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, dan Saturnus dengan sebutan dewa. Ini menandakan jika, perkembangan mitologi Yunani sangat berkaitan erat dengan berkembangnya ilmu astronomi pada saat itu,” terang Ami.
“Yang kamu katakan tadi ada pada halaman berapa?” tanya guru tersebut.
“Tidak ada di buku, Pak.”
“Jawablah berdasarkan buku.”
“Pengetahuan itu luas. Kenapa kita harus membatasinya dengan buku-buku pelajaran yang ada saja, Pak?” celetuk Ami.
Sontak wajah guru tersebut menunjukkan sikap marah yang tertahan. Mungkin dia tidak bisa melepaskannya karena amarahnya tercampur dengan rasa heran dan bingung untuk menjawab. Murid sekelas pun juga terlihat memasang wajah heran karena Ami yang biasanya selalu mengikuti semua yang diucapkan guru, kini terlihat sebaliknya.
Guru itu berusaha menenangkan diri. Dia tidak meng-hiraukan pertanyaan Ami, dan tetap melanjutkan melempar pertanyaan-pertanyaannya.
“Kita lanjutkan,” ucapnya. Dia membolak-balik bukunya mencari pertanyaan. “Bangunan yang menandakan masa kejayaan Yunani adalah?”
“Acrropolis,” ucap Adrian.
“Yah, bagus.”
“Pak, saya boleh bertanya?” lanjut Adrian.
“Yah, apa?”
“Acropolis merupakan kuil yang dibangun pada masa kejayaan Yunani. Kuil tersebut dibangun dengan gaya Doria. Pertanyaannya, Doria itu gaya seperti apa?”
“Saya tidak tahu, nanti kamu cari sendiri saja di Internet,” ujar guru tersebut apa adanya. Tiba-tiba dia me-natap ke arahku. “Wangsa, coba jelaskan siapa Iskandar Zulkarnaen?”
Aku menutup komikku.
“Murid Aristoteles,” jawabku singkat.
Dia membuka bukunya untuk mencari kebenaran dari jawabanku.
“Jawaban saya tidak ada di buku, Pak,” celetukku.
Dia menutup bukunya dan bertanya kembali.
“Coba kamu jelaskan lebih rinci,” perintahnya.
“Penakluk Yunani, Romawi, Persia, mesir, bahkan hingga India. Dia menggabungkannya menjadi satu di bawah keku-asaannya. Masa ini disebut Hellenisme.”
“Berasal dari mana Iskandar Zulkarnaen?”
“Macedonia,” jawabku singkat.
Dari awal aku sudah menyadari jika guru tersebut bermaksud menyudutkanku.
“Hellenisme itu apa?” tiba-tiba Adrian masuk dengan pertanyaannya.
Aku diam menanggapi pertanyaan Adrian. Guru tersebut sepertinya juga begitu. Tak lama, guru menjawabnya dengan jawaban seadannya  dari buku.
“Masa saat kebudayaan Yunani, Romawi, Persia, Mesir menjadi satu.”
“Coba, Bapak, jelaskan lebih rinci.” Tanya Adrian.
Guru tersebut terlihat bingung.
“Hanya itu saja yang ada pada buku, jika kamu ingin tahu lebih, Tanya saja pada dia?” ucap guru itu menunjuk ke arahku.
“Kau tahu, Sa?”
“Pembahasan itu butuh waktu yang panjang. Waktu kita akan segera habis. Kita bahas minggu depan saja,” ucapku.
Wajah sang guru langsung terlihat begitu marah karena merasa tersindir akan jawabanku.
“Aku hanya bercanda.” Aku tersenyum. “Hellenisme adalah masa saat semua kebudayaan Yunani, Romawi, Persia, Mesir bercampur aduk, baik dari segi kepercayaan mitologi dan tradisi.”
“Hanya segitu saja?” respon Adrian.
“Nanti kita bahas di luar jam pelajaran saja,” ucapku.
Adrian mengangguk tanda setuju.
“Ibu kota dari kekuasaan Iskandar Zulkarnaen adalah kota Alexandria yang berada di mesir,” tambahku.
“Kamu salah. Ibu kotanya adalah Iskadariyah,” kritik sang guru dengan tersenyum penuh kemenangan.
“Itu sama saja. Nama lain dari Iskandar Zulkarnaen adalah Alexander Agung. Coba saja, Bapak, cari di buku.”
Guru itu pun mengikuti perkataanku, dia langsung membolak-balik bukunya.
“Kamu mengarang? Apa yang kamu ucapkan tidak ada di sini,” ucap guru itu yang baru menyadari jika perkataanku tidak ada di buku.
“Benarkah? Berarti kita butuh buku lainnya untuk mempertebal pengetahuan kita.”
Guru itu hanya diam saja dan mengakhiri pelajaran tiga puluh menit lebih awal. Beberapa murid perempuan marah kepadaku karena sikapku yang terlalu berlebihan hingga membuat guru marah dan keluar kelas. Aku hanya diam saja.
Aku keluar kelas untuk mencari ketenangan membaca komik. Aku menghadap ke arah lapangan sekolah dan menyadarkan sikuku pada tembok pembatas koridor. Angin terasa sangat sejuk meniup rindang pepohonan yang berjejer rapih mengelilingi lapangan sekolah. Terik sinar matahari menciptakan bayangan-bayangan dari pepohonan itu.
Saat merasa sudah mendapatkan ketenangan dan mood untuk membaca, aku langsung membuka komikku. Sudah hampir dua hari aku belum juga selesai membacanya, padahal banyak halamannya hanya 177. Aku merasa selalu saja ada ganguan saat aku tengah asyik membacanya.
“Hei, Sa. Apa kau mau bergabung dengan OSIS?” sapa seseorang di belakangku.
Aku menarik napas panjang.
Gangguan lagi. Keluh batinku. Aku membalik badan, dan ternyata itu adalah Alif.
“Tidak,” ketusku.
“Kenapa?” tanyanya dengan nada kecewa.
“Aku tidak tertarik.”
“Apa yang membuatmu tidak tertarik?”
“Kau hanya akan menjadi kacung anak OSIS kelas 2.”
“Kurasa tidak. Kau bisa melawan guru, kenapa kau tidak bisa melawan anak kelas 2?”
“Aku melawan guru dengan pengetahuan,”
“Lalu?”
“Kalau kau mau melawan anak kelas 2, kau harus menggunakan otot. Pelajar zaman sekarang lebih meng-andalkan otot daripada otaknya.”
“Kau merasa jika mereka salah, kan, jika menggunakan otot?”
“Yah.”
“Kenapa kau tidak membenarkannya? Bicara di belakang saja tidak akan mengubah semuanya.”
Aku membenarkan perkataannya. Aku hanya diam saja karena karena merasa tersindir, aku pun tidak tahu harus menjawabnya apa.
“Nanti saat pulang sekolah, kau ikut aku menghadiri acara Open House OSIS,” ucap Alif sambil menepuk pundakku. Tak lama ia meninggalkanku.
Perkataannya sangat berkaitan dengan ucapan Socrates, ‘orang yang mengetahui apa yang baik, akan berbuat baik.’ Imam Al-Ghazali juga pernah menasehati umat manusia dengan Hadist Nabi; ‘Siksa terpedih di hari kiamat adalah siksa seorang ilmuwan yang ilmunya justru tidak diamalkan.’
Orang yang mengetahui apa yang benar namun tidak mengamalkannya, maka sama saja ia tidak percaya pada kebenaran tersebut, dan ilmunya mengenai kebenaran sama saja sia-sia, bahkan mendapat siksa yang pedih.
Kemarin aku baru saja membahas korelasi antara ilmu dan iman, sekarang aku baru tersadarkan akan korelasi ilmu dan amal. Berarti antara iman dan amal pun memiliki korelasi. Kita dapat mengimani sesuatu jika kita memiliki pengetahuan akan hal tersebut, dan konsekuensinya, jika kita telah mengetahui dan memercayainya sebagai suatu kebenaran, kita harus menerapkannya, atau mengamal-kannya.
Pertanyaannya; lalu, bagaimana dengan manusia yang sudah mengetahui apa yang benar, namun sengaja melakukan suatu kesalahan?
¥¦
Dua puluh menit sudah berlalu dan bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Aku kini sudah berada di ruangan tempat penyelenggaraan Open House OSIS. Peserta keseluruhan adalah siswa kelas satu. Dari kelasku, hanya aku dan Alif yang hadir. Para jajaran OSIS berdiri di depan ruangan memperkenalkan dirinya satu per satu.
“Nama saya Rizal. Saya kelas 11 IPA 1. Saya sekarang menjabat sebagai ketua OSIS,” ujar lelaki berperawakan kurus―sepertiku―dengan potongan rambut rapih dan sweter abu-abu yang membalut seragamnya.
Selanjutnya mereka menjelaskan mengenai kestrukturan OSIS dan prestasi apa saja yang telah dicapainya. Acara perkenalan berlangsung cukup singkat―hanya berlangsung 30 menit. Di akhir, sebelum penutupan, salah satu seorang dari peserta mengajukan pertanyaan mengenai sejarah OSIS. Naasnya, mereka―jajaran OSIS―tidak dapat menjawabnya.
“Kau dapat menjawabnya?” Tanya Alif.
“Sepertinya bisa.”
Alif langsung berdiri dan memberitahukan kepada seisi ruangan jika aku bisa menjawabnya.
“Kau gila, yah?” ucapku atas kelancangannya.
“Mereka butuh penjelasan. Lebih baik kau maju ke depan sekarang,” ucapnya tanpa dosa.
“Yah, silakan yang bisa menjawabnya maju ke depan,” ucap salah satu pengurus OSIS.
“Namanya Wangsa!” teriak Alif.
Aku yang tidak memiliki pilihan lain, berjalan ke depan ruangan. Seluruh peserta menatap ke arahku.
“Coba kamu jelaskan mengenai sejarah OSIS?”
Aku membalik badanku mengahadap ke arah audience. Aku kira aku akan gugup berdiri di depan umum seperti ini, namun ternyata tidak. Aku serasa begitu mudah berbicara di depan umum tanpa rasa gugup sedikit pun.
“OSIS dibentuk sebagai strategi pemerintah untuk melepaskan keterlibatan siswa dalam mengikuti organisasi-organisasi kepemudaan yang pada umumnya erat sekali dengan perpolitikan.”
“Jadi, OSIS adalah siasat pemerintah untuk memutuskan keterlibatan siswa dalam dunia perpolitikan?” tanya salah satu anggota OSIS.
“Yah, karena pada saat itu antusias siswa dalam mengikuti organisasi kepemudaan sangatlah tinggi, oleh karena itu, pemerintah mengalihkan antusias siswa untuk aktif pada organisasi di masing-masing sekolahnya saja.”
Dia hanya mengangguk-angguk saja.
Aku pun dipersilakan duduk kembali. Aku langsung memukul bahu Alif saat sudah berada di tempat dudukku.
Tak lama, acara itu pun berakhir dan dilanjutkan empat hari lagi. Aku dan Alif tidak langsung pulang. Dia mengajakku ke rumah Mindi.[]

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Nama :
Usia :
Pekerjaan :
Lokasi :
Komentar :