Aku selalu duduk di tempat yang
sama untuk memperhatikanmu.
Di seberang pekarangan mawar yang kau tanam sendiri.
Setiap kali mentari menyapa bumi,
kau sudah berada di sana untuk menyapa mereka.
Seperti bunga-bunga yang kau lepas
dahaganya, parasmu telah mengingatkanku kembali dari rasanya bercerita. Melengkapi bait-bait kata yang kosong dalam setiap sajakku yang sudah sirna.
Andai aku adalah salah satu dari
banyaknya mawar itu, mungkin aku saat ini juga sedang merasakan perhatianmu.
Merasakan lembut jari-jarimu.
Dan, iya, aku iri dengan
mawar-mawar itu.
Mungkin kau tidak akan pernah sadar,
kau telah membuatku jatuh cinta. Mungkin juga lainnya.
Mencipta rasa ingin sekali
mendekapmu. Menuliskan kata-kata indah di atas kelopakmu.
Namun aku takut jika jusru jika rona merahmu akan terhitamkan oleh tinta.
Lebih baik kau tetap begitu. Tetap
menjadi inspirasi bagiku dari jauh.
Bukan untuk kupetik dan kubawa
pulang.
Lebih baik kau terus menatap
keindahan matahari ditimbang atap rumahku yang sesak.
Lebih baik kau tetap berada di sini
untuk menebar aroma wangimu.
Karena kau memang cantik sebagai
mawar. Tanpa harus menjadi hitam dengan kata-kata.

Tidak ada komentar
Posting Komentar
Nama :
Usia :
Pekerjaan :
Lokasi :
Komentar :