Sabtu, 23 Januari 2016

Tinta dan Mawar

Aku selalu duduk di tempat yang sama untuk memperhatikanmu. Di seberang pekarangan mawar yang kau tanam sendiri . Setiap kali mentari me... thumbnail 1 summary
Aku selalu duduk di tempat yang sama untuk memperhatikanmu.
Di seberang pekarangan mawar yang kau tanam sendiri.


Setiap kali mentari menyapa bumi, kau sudah berada di sana untuk menyapa mereka.
Seperti bunga-bunga yang kau lepas dahaganya, parasmu telah mengingatkanku kembali dari rasanya bercerita. Melengkapi bait-bait kata yang kosong dalam setiap sajakku yang sudah sirna.

Andai aku adalah salah satu dari banyaknya mawar itu, mungkin aku saat ini juga sedang merasakan perhatianmu. Merasakan lembut jari-jarimu.
Dan, iya, aku iri dengan mawar-mawar itu.
Mungkin kau tidak akan pernah sadar, kau telah membuatku jatuh cinta. Mungkin juga lainnya.
Mencipta rasa ingin sekali mendekapmu. Menuliskan kata-kata indah di atas kelopakmu.
Namun aku takut jika jusru jika rona merahmu akan terhitamkan oleh tinta.
Lebih baik kau tetap begitu. Tetap menjadi inspirasi bagiku dari jauh.
Bukan untuk kupetik dan kubawa pulang.

Lebih baik kau terus menatap keindahan matahari ditimbang atap rumahku yang sesak.
Lebih baik kau tetap berada di sini untuk menebar aroma wangimu.
Karena kau memang cantik sebagai mawar. Tanpa harus menjadi hitam dengan kata-kata.

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Nama :
Usia :
Pekerjaan :
Lokasi :
Komentar :