Waktu
mungkin adalah sesuatu hal yang paling jujur di dunia ini. Ia terus berdetak,
mengalir, dan tetap konstan di setiap detiknya. Tak pernah sesekali ia
berbohong mengenai hitungannya. Semenit tetaplah 60 detik, sejam tetaplah 60
menit. Begitu dan tetap akan terus begitu. Pernah sesekali aku merasa jika
waktu adalah ‘pembunuh’ yang benar-benar sejati. Apa pun takkan pernah sanggup
mengikuti keabadiannya. Ia terus bergerak melintasi dimensi zaman dan
peradaban. Menjadi saksi bisu interaksi antara kekuatan dan potensi alam. Para
filsuf dan ahli teologi sering memperdebatkan mengenai awal dari penciptaan
dunia ini. Entah itu ruang, waktu, gerak, materi, atau perubahan yang pertama
kali diciptakan Tuhan. Aku lebih sependapat mengenai ‘waktu’lah yang pertama kali
diciptakan. Waktu adalah yang paling berkuasa dan juga merupakan syarat
keberadaan untuk segalanya.
Tepat
19 tahun yang lalu, semesta menyapa kehadiranmu. Pertama kalinya kau berkenalan
dengan dunia yang teramat asing. Hari yang bertabur kasih bagi mereka yang
menunggu-nunggu kedatanganmu. Tangismu menjadi kepuasan dan senyuman bahagia
bagi kedua pasang manusia yang kemudian kau panggil Papah dan Mamah. Kau adalah satu insan yang terlahir suci dalam
bulan yang penuh kesucian. Seterusnya, waktu membuatmu tumbuh menjadi pribadi
yang kukenal kini.
Kencang
sang waktu berlari tak mampu dikendalikan; tak mampu juga diperlambat lajunya. Enstein
berkata, “rentan sang waktu berbeda, tergantung dalam keadaan apa kita berada.”
Rentan sang waktu jugalah yang membuat kita sadar bahwa kita adalah manusia
yang lemah dan kecil di mataNya. Sering kita berkata, “sepertinya baru saja
kemarin aku berusia 15 tahun,” atau “tak terasa kini aku sudah berusia 19
tahun.” Yah, memang teramat sering kita melupakan pergerakan sang waktu karena
terlalu terlena menikmatinya.
Hasan
Al-Bana berkata, “Waktu adalah pedang; potong atau terpotong.”
Sekular
barat berkata, “Waktu adalah dollar di dalam kantung.”
Keduanya
memiliki pandangan yang berbeda. Namun keduanya sama-sama mengajarkan kita
untuk tidak menyia-nyiakan waktu. Karena kita tidak mungkin mengalami detik
yang sama untuk kedua kalinya. Oleh karena itu, rajutlah hidupmu menjadi sebuah
kisah yang menceritakan kebermanfaatan bagi semesta dan umat manusia.
Seperti
biasa; mungkin di tanggal ini kue ulang tahun, kado, kejutan, atau sebuah
ucapan akan menghiasi sepanjang harimu. Tradisi yang sudah sangat sulit dicabut
dan dipisahkan dalam perayaan ulang tahun yang hampir diterapkan di seluruh
dunia. Namun bagiku, setiap hari adalah hari ulang tahun untukmu. Tak terlalu penting
pada tanggal berapa kau terlahir. Karena dalam setiap hari apa pun kita tetap diharuskan
untuk berdo’a, mengintropeksi diri, menyemai mimpi, berbagi, serta mengucap
syukur. Dan terlebih, di setiap hari apa pun kau juga pantas untuk diistimewakan.
Hanya saja, di hari ini semuanya dilakukan secara maksimal oleh, bagi, dan untukmu.
“SELAMAT
ULANG TAHUN ....”
Tepat
pada 12 Januari ini adalah hari jadi untukmu. Kenang kembali kerikil-kerikil
tajam yang memperkaya arti hidupmu. Rasakan kembali manisnya madu kehidupan
yang mampu membuatmu tersenyum lepas.
Tetaplah
menjadi seperti Cinderella atau Putri Salju
yang bersahaja, sederhana, ceria, tabah, pemaaf, percaya pada mimpi-mimpinya, dan
memiliki pribadi
yang anggun jelita. Meskipun terkadang kau
pasti akan menangis, namun setelahnya kau harus cepat-cepat seka air matamu,
dan percayalah: keajaiban pasti ada dalam setiap kesulitan. Setidaknya itulah
yang ingin disampaikan oleh Charles Perrault (pencipta dongeng Cinderella dan Putri Salju) yang memiliki tanggal lahir yang sama denganmu. Meskipun kau bukanlah
salah satu tokoh dongeng ciptaannya, namun kau sudah cukup untuk sebuah kisah yang
berharga.
Semoga kesehatan selalu menjadi pelindungmu.
Semoga kedewasaan selalu menjadi sahabatmu.
Semoga ibadah selalu menjadi kenyamananmu.
Semoga semesta selalu berbahagia akan keberdaanmu.
Aamiin.

Tidak ada komentar
Posting Komentar
Nama :
Usia :
Pekerjaan :
Lokasi :
Komentar :