Sudah lebih dari 3 tahun
aku menjalani lalu-lalang kehidupan sebagai mahasiswa. Belajar seperti kutu
buku, menjelajah ilmu-ilmu baru, serta berdiskusi dengan puluhan wajah baru
sudah menjadi rutinitas yang membudaya di lingkunganku. Kadang aku teringat sewaktu
pertama kali mendapat almamater ketika Ospek. Semua benar-benar serasa singkat
dan cepat. Hampir keseluruhan waktuku aku habiskan untuk kegiatan akademisi
serta organisasi. Yah, organisasi. Masuk sebagai anggota muda dan kini sudah
menjadi anggota aktif tertua. Bermacam cerita pastinya sudah kuukir dalam
rentetan panjang kenangan yang kubuat sendiri. Namun bukan itu yang akan
kuceritakan, melainkan semua ‘daging berjiwa’ yang menghiasi keseharianku.
Asiah Fatimah Marsyah
Gadis berperawakan kecil
yang mungkin memiliki tinggi yang sama dengan anak SD atau adiknya sendiri.
Tahi lalat di hidungnya adalah cara termudah mengingat dirinya; gadis remaja
yang alergi dengan make up dan gaya-gaya aneh. Ketika Ospek,
akulah yang menjadi Kakak Pembimbing kelompoknya. Sifatnya yang selalu ingin
mengetahui banyak hal terkadang membuatnya bingung sendiri dalam menitih
kehidupan. Yang aku sukai dari dirinya adalah pemikirannya, karena sangat
jarang kita bisa menemui perempuan yang sepertinya dapat berpikir logis dan
lebih mengedepankan akal ditimbang perasaan. Namun hal itu tidaklah bertahan
lama pada dirinya. Ketika seseorang lelaki menjajahnya dengan cinta, ia pun
bertransformasi menjadi wanita sebagaimana kodratnya.
Bersama
dengan Rika, ia selalu menyambangi rumahku untuk belajar akuntanasi. Ia jugalah
yang selalu rajin menyambangi rumahku. Terkadang aku menggodanya dengan
memberikan soal akuntansi yang tidak logis. Tapi di situlah letak kebahagiaanku
ketika melihatnya kikuk dan nampak bodoh memikirkan sesuatu. Alhasil, untungnya
ia mendapat nilai A pada UAS semester pertama. Semester 2 sepertinya ia juga
mendapat A. Sesuai dengan perjanjian yang kubuat dengannya, jika mereka (Asiah
dan Rika) mendapat nilai A mereka harus meneraktirku makan. Hahahaha.
Itung-itung sebagai biaya guru privat.
Harus
diakui pula, di antara adik-adik juniorku yang lain, ia lah yang paling asyik
diajak bercanda karena tidak pernah terbawa perasaan. Ketika chat-chatan atau
berbincang dengan dirinya, kami selalu membahas dengan pembahasan yang berisi.
Seiring berjalannya waktu, kini pembahasan kami hanya lebih mengarah ke arah
‘percintaan’. Yah, kuanggap wajar karena memang sudah saatnya gadis keras
kepala itu luluh pada seorang lelaki.
Ada
pertanyaan konyol yang menggelitik di otakku mengenai dirinya: bagaimana cara
ia saat nanti mengurus anak dan menjadi seorang istri? Ia saja tidak bisa
memasak. Tidak sedikit pun memiliki keahlian seperti wanita pada umumnya.
Mengurus diri sendiri saja susah. Hahaha.
Rika Apriliani
Aku biasanya memanggil
dirinya dengan sebuatan ‘belek’. Gadis berperawakan gembul dengan mulutnya yang
cablak sangat pantas menjadi karakternya. Ketika aku mengetahui jika ia adalah
mantan dari salah satu kawan di rumahku, aku semakin akrab dengan dirinya.
Siapa pun yang mengenal dirinya, pasti tidak akan percaya jika ia adalah anak
dari seorang polisi. Sifat dan tabiatnya sama sekali tidak tercermin jika ia
adalah anak seorang polisi.
Suatu
ketika ia terpilih menjadi ketua pelaksana dalam acara peringatan hari lahir
organisasi kami. Di situ awal aku mengetahui jika ia sulit untuk diajak
berpikir kreatif atau inovatif. Ia pun sulit diajak untuk memikirkan atau
membahas hal yang ribet-ribet. Namun, di balik itu ia sangat memiliki sifat peduli
dengan sesamanya. Ia pun yang paling tidak bawel di antara semuanya. Ia juga
tidak pernah memikirkan terlebih dulu dengan apa yang akan ia ucapkan. Semuanya
selalu ia ucapkan dengan ceplas-ceplos.
Nur Amelia Ulfa
Terpadat, terlebar,
tergembul, tersemok (katanya), dan terbantet (upss. Hahaha). Mungkin ia yang
paling bawel di antara semuanya. Apa saja ia komentari, entah subjektif atau
objekif; pribadi atau organisasi. Mulai dari penampilanku sampai kehidupan
percintaanku ia selalu saja mengkoreksi. Ibuku saja tidak seperti itu. Sifatnya
ia memang sangat keibuan.
Ia selalu marah dan ngambek setiap kali aku menyinggung dengan hidungnya yang
pesek. Hahahaha. Entah kenapa menyenangkan menggodanya seperti itu.
Gadis penggemar dewi persik garis keras ini selalu saja menganggap dirinya
adalah kembaran dari idolanya tersebut. Hmmm. Entah dari mananya.
Satu hal yang menyamai diriku dengan dirinya adalah sama-sama pecinta kucing.
Di rumahnya ia memiliki banyak kucing yang ia pelihara, dan tak lupa ia selalu
memberi nama kucing-kucingnya tersebut.
Samia Faruk
Jangan terlalu dekat jika
mengobrol dengan dia jika tidak ingin kecolok oleh hidungnya. Yah, hidung orang
arab memang mancung-mancung; itulah yang menjadi ciri khas dirinya di antara
semuanya. Namun, orang arab yang petakilan, berisik, heboh, dan gersak-gerusuk baru
kulihat di dirinya saja. Gadis oon yang tidak bisa bekerja dengan santai dan
teliti ini memiliki cita-cita untuk bersikap anggun dan elok sebagai wanita.
Namun, analisaku mengatakan jika sampai kapan pun hal itu tidak akan pernah
terwujud. Pernah suatu ketika ia mengutarakan niat dan tekadnya untuk menjadi
seperti apa yang ia inginkan, namun hanya berjalan satu hari, ia sudah kembali
ke karakter aslinya.
Ia yang paling perasa di antara semuanya. Jika ia hadir, suasana selalu berubah
heboh dan ramai 1000 persen seperti pasar malam. Tapi, kadang jika mood-nya
sedang jatuh, ia akan menjadi pendiam dan tak jarang pula menangis. Setiap
ditanya kenapa, selalu saja menjawab ‘gapapa’. Namanya juga wanita.
Aghnia Faziatul Muna
Penggemar cokelat; bahkan
sudah menjadi maniak cokelat. Jika ditawarkan dengan handphone keluaran terbaru
atau cokelat silverqueen 3 bungkus dalam waktu yang bersamaan, mungkin ia akan
lebih memilih cokelat. Sangat mudah membujuknya dengan cokelat, tapi ia juga
terkadang berubah menjadi mafia cokelat. Siapa saja selalu dipalak cokelat
olehnya.
Wajahnya lugu, pemikirannya juga. Ia sama sekali tidak penah membohongi
sikapnya dengan pikirannya sendiri. Di balik itu semua, ia seperti mengidap
penyakit bipolar. Sebuah penyakit yang bisa mengubah mood seseorang
secara tiba-tiba dengan alasan yang tak jelas. Tapi ketika sedang ‘normal’ ia
begitu ceria. Walau kadang sifat jahilnya sangat menyebalkan.
Tria Puji Astuti
Yang paling ahli masak di
antara semuanya. Dalam urusan finansial sepertinya jangan diragukan lagi.
Sebenarnya aku tidak terlalu dekat dengannya. Tapi beberapa yang kutahu, di
balik sikapnya yang selalu tampak santai, ia selalu memegang tanggung jawabnya
dengan baik. Ia pun selalu memikirkan ‘urusan perut’ khalayak banyak. Jika
melihat atau mendengar dirinya, hanya ada dua hal yang terlintas di pikiranku:
keuangan dan masakan.
Tri Sugiarto
Sanguinis yang menjadi
pemimpin di angkatannya. Selalu ‘ringan dompet’ kepada sesama. Seorang
penggemar burung yang tidak pernah puas dengan burungnya sendiri. Hhmm.
Jika dilihat sekilas, pasti timbul sebuah pertanyaan: kenapa ia yang bisa jadi
pemimpin? Namun, ketika kita mengenalnya lebih dekat lagi maka anda pun tetap
tidak akan menemukan jawabannya. Hahahaha. Tapi, satu hal yang bisa dijadikan
pelajaran adalah, pemimpin itu harus bisa mengambil hati rakyatnya dan
terkadang melepas jubah sok bijaknya untuk bercengkerama sejajar dengan
rakyatnya. Atas alasan itu lah ia terpilih menjadi ketua berikutnya di
organisasiku.
Ia yang paling ‘fighter’ di antara semuanya. Ia tidak pernah malas gerak
untuk ke mana pun dan melakukan apa pun. Hampir tidak pernah terlihat lelah.
Namun, ia sangat mudah tertidur dan sangat susah diajak begadang.
Tak pernah sekali pun ia bersikap perhitungan atau menolak untuk membantu
seseorang. Selalu saja menebar kesejahteraan dan keceriaan. Tapi, ketika ia
tersinggung atau merasa terusik, ia akan berubah 180 derajat.
Agung Sedayu
Bentuk fisik dan wajahnya
sama sekali tidak mencerminkan tabiatnya. Di balik wajahnya yang lugu,
sebenarnya ia yang paling petakian dan ‘berantakan’ di antara yang lainnya.
Bayangkan: seorang mahasiswa perpajakan, namun isi di dalam tasnya berisi cutter,
obeng, kabel-kabel, solder, perangkat-perangkat elektronik bekas, solasi, atau
benda-benda yang jauh dari dunia pajak. Keminatannya lebih tertuju pada yang
berbau teknik atau permesinan. Sudah tidak diragukan lagi jika ia memang
tersesat atau salah memilih kampus.
Pertama kali aku mengenalnya, kukira dia adalah seorang yang polos, lugu, atau
kalem. Namun, ternyata aku salah. Kupertegas: benar-benar salah. Setiap kali
bersama dia, selalu saja ada hal-hal konyol dan ‘aneh’ yang ia lakukan.
Pikirannya memang tak dapat dijangkau oleh pikiran manusia ‘standar’.
Perawakannya bisa dikatakan lebih kurus dariku. Namun meskipun begitu, nyalinya
tidaklah kecil. Ia selalu maju taktis dengan pandangannya.
Nurkholis
Yang paling
‘terlihat’ maco, cool, dan jantan. Tapi ketika ia
berbicara, sayangnya suaranya sangat cempreng. Hahahaha. Kulitnya yang agak
gelap dengan hidungnya yang mancung tempat kacamatany bertengger akan membuat
siapa pun yang melihatnya Nampak cowok banget.
Ia sebenarnya dapat dikategorikan seorang yang pemalas meskipun berkarakter
koleris. Tapi, untuk urusan adminitratif ia sangat teliti.
Satu hal lagi yang harus diketahui dari dirinya adalah rujak buatan
keluarganya. Harus diakui jika rujak keluarganya merupakan rujak buah terlezat
yang pernah kumakan. Aku salut pada dirinya yang tidak pernah minder mengenai
profesi keluarganya. Atas alasan itulah aku bangga pada dirinya.
Kadang pula, ada yang sering mengatakan jika ia selalu saja mengkritik seseorang
seolah-olah ia yang paling sempurna. Yah, memang ia orang yang kaku dan agak
susah diajak bersosialisasi dengan lingkungan baru. Sampai sejauh ini saja
hanya beberapa juniornya yang bisa dekat dengan dirinya.
Ia selalu membawa laptop ke mana pun ia pergi. Namun bukan untuk mengerjakan
tugas atau browsing. Melainkan untuk main Play Station. Sangat
mudah ditebak kesehariannya di kampus ketika sudah tidak ada mata kuliah atau
tugas organisasi.
Rafdi Adli Zil Ihram
Mmm. Entah apa yang harus
kucerikan tentangnya. Kesalahan memilih kata yang pas akan berdampak fatal jika
menceritakan tentang dirinya. Namun yang terpasti ia manusia yang sangat sulit
bersosialisasi dengan kehidupan nyata. Ia benar-benar memiliki kepercayaan diri
yang tipis yang mengakibatkan dirinya lebih suka bersosialisasi di dunia maya.
Mungkin itu saja. Aku takut menambah dosa J
Reza Purdayanto
Sekilas ia nampak seperti
cencorang. Sikapnya benar-benar konyol sekonyol-konyolnya manusia jenis apa
pun. Dalam bertingkah laku, ia sama sekali tidak pernah memikirkan imej dirinya
kelak bakal seperti apa. Itulah yang menyebabkan siapa pun senang berteman
dengannya. Tapi, di balik itu semua ia punya pikiran yang cerdas (kurasa).
Terkadang pula ia bisa terlihat serius dan fokus berdiskusi.
Theo Vico Tan
Tinggi tegap dengan badan
yang berisi gembul. Siapa pun pasti akan gentar ketika melihatnya. Ia selalu
bersikap tenang dan santai dalam berbicara atau berprilaku. Namun satu yang tak
pernah kulihat dari dirinya adalah: berlari. Yah. Aku sama sekali belum pernah
melihatnya berlari. Mungkin susah berlari dengan postur badan seperti itu.
Ia memiliki kemampuan khusus yaitu dapat menghipnotis. Cara bicaranya yang
lugas dan bulat menjadi kemampuan utamanya untuk memainkan ilmu (atau seni)
itu. Dan di lain sisi, itu adalah lading baginya memegang tangan siapa pun.
Hmmm. Entah itu cara bermain dari hipnotis atau….
Jika di awal aku mengatakan ia berbadan besar, ternyata suara kentutnya juga
besar. Jadi, ketika ia kentut, ia sama sekali tidak bisa menyembunyikan
suaranya atau menuduh orang lain.
Ia mungkin kurang tertarik jika diajak berdiskusi sesuatu yang sedikit berisi,
namun ia adalah pendengar yang baik. Kurasa ia orang yang tepat untuk berkeluh
kesah. Namun terkadang kita tidak bisa menebak di mana dan kapan ia akan
mempengaruhi pikiran kita. Karena sejauh yang kulihat, ia selalu saja mendapati
apa yang ia inginkan dari seseorang.
M. Gilang Putra
Cover boy sekaligus play
boy. Waw…
Ia yang paling stylis dan
modis di antara semuanya. Ditambah lagi dengan suaranya yang bagus, wanita
pasti selalu luluh. Ia memiliki kehidupan yang open mind. Dari yang
ia ceritakan tentang dirinya, Ibunya benar-benar mendidiknya dengan rangkaian
jangka panjang. Namun terkadang juga ia tekesan seperti anak mami.
Sedikit yang kuketahui mengenai dirinya. Hanya saja dia sangat menjaga
kawan-kawannya.
Zaki Farhan
Berperawakan tinggi,
putih, dan gondrong. Untungnya ia bukan banci. Namun, ngomong-ngomong soal
banci, ternyata di balik setiap ucapannya yang rusak dan tingkahnya yang caur,
ia adalah pria yang pandai memasak dan mengurus urusan rumah.
Wanita
pasti selalu risih berada di dekatnya karena ia memiliki mulut ‘tanpa
saringan’. Apa saja ia ucapkan; entah kata kotor atau kata tak sopan. Meskipun
hal yang diucapkan bukan untuk menghina atau meledek orang lain, tetap saja
orang akan risih dengan sikapnya itu. Tapi jika kita mengenalnya lebih dekat,
ternyata ia orang yang sangat orang baik. Ia selalu ingin membuat orang di
sekitarnya nyaman.
Rezi Al-Fatan
Untuk menggambarkan
dirinya, cara termudah adalah dengan membayangkan suneo memakai kacamata,
maniak mobil, tidak menyukai pedas, jayus, dan ‘sok’ asyik. Pola
pikirnya mungkin masih seperti anak-anak berseragam putih merah dan sangat
sulit menariknya berpikir dewasa. Mengenai kesehariannya, ia selalu
menghabiskannya ‘berpacaran’ dengan laptop miliknya. Entah browsing, gaming,
atau lainnya. Postur tubuhnya yang kecil dari pria pada umumnya di usianya, ia
selalu saja menjadi bahan olok-olokan oleh kawan-kawannya. Tak jarangnya juga
ia menghindari tantangan atau tanggung jawab meskipun sebenarnya ia terbilang
orang yang penurut.
Reza sering mengolok-oloknya jika Rezi tidak akan manstrubasi ketika melihat
gambar wanita seksi. Tapi ia hanya akan melakukannya jika melihat gambar mobil
‘cantik’. Hahahaha. Membayangkannya saja geli, apa lagi jika itu nyata? Hmm…
Riyo Pratama
Coba anda bayangkan
seorang pria yang memiliki tinggi badan sekisar 170 cm, berat badan 70 kg,
rambut ikal, kumisan, tatapan tajam, sedikit bau, tapi fanatik garis keras film
Spongebob Squarepants. Hmm. Kelakukannya pun tidak jauh beda seperti Patrick;
laper bego, kenyang tolol.
Di lain sisi, ia suka dengan film-film bergenre sadis. Dan bayangkan sekali
lagi; seorang pecinta film sadis, namun takut darah dan takut hantu. Sebagai
seorang psikopat ia telah gagal.
Ia memiliki tawa yang lepas dan ceria. Sangat mudah tertawa jika mendengar atau
melihat hal konyol. Lebih dari itu, ia bahkan bisa tertawa lepas ketika kita
menghina dirinya dengan sesuatu yang konyol pula. Hmm. Bijak sekali.
I Gusti Ngurah Bagus
Wibawa
Lebih mudah mengingatnya
jika kita memanggilnya paus dari bali. Yah. Anda bisa menarik dua kesimpulan;
ia adalah orang bali, dan ia gemuk. Tepat.
Wataknya
sangat konyol dan menjengkelkan. Sebenarnya ia orang yang kreatif, namun karena
overkreatif, ia menjadi bocah aneh dan bodoh.
Sebenarnya
ia tidak serta merta bisa dikatakan bodoh. Hanya saja ia selalu kesulitan
merangkai kata-kata untuk mengeluarkan gagasannya. Ia selalu berbelit susah
menyampaikan apa yang ada di otaknya sendiri. Alhasil terkadang ia memilih
untuk ‘sok’ tidak tahu.
Ia sering mengatakan dirinya ateis. Tapi, syarat menjadi ateis adalah harus
pintar. Sebagai ateis ia telah gagal.
Hal yang paling menjengkelkan dari dirinya adalah ketika ia sedang bermain
laptop. Ia akan tidur memakan space banyak tanpa kesadaran
sedikit pun jika dirinya memakan lebih dari seperempat jatah ruang duduk kami.
Siti Nurhidayati
Pemilik nama tersebut
mengklaim nama panggilannya dengan sebutan ‘Dyah’. Tidak ada korelasi sedikit
pun antara nama asli dengan nama panggilannya. Tapi, yasudahlah. Dia/Dyah kan
wanita.
Berparas cantik dengan cara berpakaian seperti rainbow cake. Warna jilbab,
baju, sweter, celana, tas, dan sepatu selalu berbeda warna. Mungkin jika
warnanya pas tidak apa-apa. Namun, kenyataannya warna yang ia pilih
begitu nyentrik. Ditambah lagi dengan parfum menyengat yang selalu
ia kenakan. Tapi, yasudahlah. Dia/Dyah kan wanita.
Ia memiliki sikap yang manja dan selalu berketergantungan dengan orang lain.
Tak jarang pula ketika ia melakukan sebuah kesalahan, ia seperti menyalahi
orang lain. Dan tak dapat dihitung pula saat ia bertingkah egois.
Jika dari cara kerjanya, ia memiliki sikap panik ketika ada masalah. Ia pun
selalu membutuhkan orang lain ketika mengambil keputusan. Namun, di balik itu,
ia adalah orang yang tertutup dan selalu membesarkan perasaan ditimbang akal.
Sri Nuryanti
Gadis yang mencoba
natural dengan dirinya sendiri. Sekilas, ia memiliki watak yang sama dengan
Asiah. Namun, Asiah lebih tomboy dari segi apapun. Ia sebenarnya wanita yang
dapat dikatakan tidak manja. Namun, terkadang ia selalu bersikap seperti anak
kecil atau adik.
Ia bisa diajak berpikir objektif. Ia selalu berusaha memperbaiki kesalahan
setiap kali ada kesempatan. Ia yang paling berpengaruh bagi organisasi di
angkatannya. Terbuka untuk semua masukan dan membanting jauh hambatan-hambatan.
Mengenai sikap, ia tidak memiliki karakter unik. Ia sederhana. Hanya saja
terkadang suka mengajak bercanda seperti anak kecil.
Rini Isa Putri
Gadis yang nampak manis
karena badannya yang gemuk dan kacamatanya. Memiliki karakter yang tomboy.
Meskipun begitu, perasaannya tidaklah se-tomboy wataknya. Ia begitu mudah
tersinggung (kurasa) namun ia menutupinya karena ia tipikal orang yang lebih
mementingkan perasaan orang lain dibandingkan perasaan dirinya sendiri. Ia
selalu berusaha membuat orang di sekitarnya nyaman dengan dirinya.
Rusydah Atiqiah
Biasa dipanggil Uci.
Gadis yang terlampau polos dan lugu. Sangat mudah tertipu atau diperdaya oleh
orang lain. Ia senatural mungkin lebih menggunakan perasaannya. Ia sama sekali
tidak pernah atau bisa marah. Jika pun ia marah, mungkin akan lebih nampak
seram Patrick ditimbang kemarahannya. Ia sangat mudah iba terhadap orang lain.
Ia hampir tidak bisa menutupi apa yang ia rasakan. Terlalu sangat mudah untuk
ditebak.
Anisa Fitriani
Bentuk fisiknya hampir
sama dengan Rini; gemuk dengan tinggi yang sama. Ia adalah penerus keuangan
organisasi. Ia lebih pelit dalam urusan pengeluaran keuangan organisasi
ditimbang yang lainnya. Ia hampir hanya akan hadir ketika itu menyangkut
keuangan saja. Ia yang paling mudah bergaul dengan pria ditimbang yang lainnya.
Lebih memiliki keterbukaan.
Aroh Siti Rohmah
Jika berkenalan dengannya,
ia memiliki karakter yang santun, kalem, dan paling feminim. Hampir tidak
pernah ia berbicara tanpa diselingi dengan senyuman. Nada bicaranya pun lembut
dan tidak pernah meninggikan intonasi. Meskipun ia jarang hadir dalam pertemuan
rutin, tapi ia selalu hadir dalam kegiatan besar. Ia selalu memegang tanggung
jawabnya dengan baik tanpa banyak mengeluh.
Mungkin itu saja yang
bisa aku ceritakan tentang beberapa dari mereka. Sebenarnya masih terlampau
banyak yang bisa diceritakan.
Terima kasih
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Nama :
Usia :
Pekerjaan :
Lokasi :
Komentar :