Petapa

Aku pernah mengelus seorang petapa yang khusyuk pada do’anya
Matanya terpejam rapat; tubuhnya kurus; jubahnya kumuh penuh noda-noda

Saat lain darinya sedang asyik memenuhi nafsu di hutan yang penuh dengan kesesatan
Ia tetap memilih memanjatkan do’a
Saat para binatang-binatang tengah sibuk bunuh-membunuh, makan-memakan, Ia masih tetap berdo’a
Saat langit malam dan pelangi menggodanya, ia tetap dan masih tetap berdo’a

Dedaunan pun mengabariku
Aku dihantarkannya pada gua yang penuh keheningan
Dan kutemui dia yang tengah terselimuti keterasingan

Tubuhnya menjerit; namun tidak pada jiwanya
Jiwanya mungkin lelah; namun tidak pada keyakinannya
Mulutnya mungkin berhenti berdo’a; namun tidak pada hatinya
Wajahnya mungkin keriput; namun tidak pada tekadnya

Sekiranya api dapat menghangatkannya
Sekiranya cahaya dapat dengan ajaib menyeruak masuk menelanjanginya
Sekiranya alam ikut berdo’a untuknya, menghatarkan kepad-aNya, mengetuk dinding langit, mengguncang Istana-Nya

Miris...

Dari khalayak yang ada, hanya satu yang masih tetap


Komentar

Postingan Populer