Minggu, 01 November 2015

Petapa

Aku pernah mengelus seorang petapa yang khusyuk pada do’a-nya Matanya terpejam rapat; tubuhnya kurus; jubahnya kumuh penuh noda-no... thumbnail 1 summary
Aku pernah mengelus seorang petapa yang khusyuk pada do’a-nya
Matanya terpejam rapat; tubuhnya kurus; jubahnya kumuh penuh noda-noda

Saat lain darinya sedang asyik memenuhi nafsu di hutan yang penuh dengan kesesatan
Ia tetap memilih memanjatkan do’a
Saat para binatang-binatang tengah sibuk bunuh-membunuh, makan-memakan
Ia masih tetap berdo’a
Saat langit malam dan  pelangi menggodanya, ia tetap dan masih tetap berdo’a

Dedaunan pun mengabariku
Aku dihantarkannya pada gua yang penuh keheningan
Dan kutemui dia yang tengah terselimuti keterasingan

Kusingkirkan gujirat pada jubahnya
Kuhembuskan noda itu pada dinding gua yang berlumut
Dan kuberi ia air dari altar bahtera pemersatu samudera

Tubuhnya menjerit; namun tidak pada jiwanya
Jiwanya mungkin lelah; namun tidak pada keyakinannya
Mulutnya mungkin berhenti berdo’a; namun tidak pada hatinya
Wajahnya mungkin keriput; namun tidak pada mentalnya

Sekiranya api dapat menghangatkannya
Sekiranya cahaya dapat dengan ajaib menyeruak masuk menelanjanginya
Sekiranya alam ikut berdo’a untuknya, menghatarkan kepadaNya, mengetuk dinding langit, mengguncang ‘arsy-Nya

Sungguh miris

Dari khalayak yang ada, hanya satu yang masih tetap


Tidak ada komentar

Posting Komentar

Nama :
Usia :
Pekerjaan :
Lokasi :
Komentar :