Matanya terpejam rapat;
tubuhnya kurus; jubahnya kumuh penuh noda-noda
Saat lain darinya sedang
asyik memenuhi nafsu di hutan yang penuh dengan kesesatan
Ia tetap memilih
memanjatkan do’a
Saat para
binatang-binatang tengah sibuk bunuh-membunuh, makan-memakan
Ia masih tetap berdo’a
Saat langit malam dan
pelangi menggodanya, ia tetap dan masih tetap berdo’a
Dedaunan pun mengabariku
Aku dihantarkannya pada
gua yang penuh keheningan
Dan kutemui dia yang
tengah terselimuti keterasingan
Kusingkirkan gujirat
pada jubahnya
Kuhembuskan noda itu
pada dinding gua yang berlumut
Dan kuberi ia air dari
altar bahtera pemersatu samudera
Tubuhnya menjerit; namun
tidak pada jiwanya
Jiwanya mungkin lelah; namun
tidak pada keyakinannya
Mulutnya mungkin
berhenti berdo’a; namun tidak pada hatinya
Wajahnya mungkin
keriput; namun tidak pada mentalnya
Sekiranya api dapat
menghangatkannya
Sekiranya cahaya dapat
dengan ajaib menyeruak masuk menelanjanginya
Sekiranya alam ikut
berdo’a untuknya, menghatarkan kepadaNya, mengetuk dinding langit, mengguncang ‘arsy-Nya
Sungguh miris
Dari khalayak yang ada,
hanya satu yang masih tetap

Tidak ada komentar
Posting Komentar
Nama :
Usia :
Pekerjaan :
Lokasi :
Komentar :